Hati Senang

0-10 Seputar Hasan Dan Qabih – Jam’-ul-Jawami’

فَالْحُسْنُ وَ الْقُبْحُ بِمَعْنَى مَلَاءَمَةِ الطَّبْعِ وَ مُنَافَرَتِهِ وَ صِفَةِ الْكَمَالِ وَ النَّقْصِ عَقْلِيٌّ وَ بِمَعْنَى تَرَتُّبِ الْمَدْحِ وَ الذَّمِّ عَاجِلًا وَ الْعِقَابِ آجِلًا شَرْعِيٌّ خَلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ. Baik dan buruk dengan arti kesesuaiannya atau ketidaksesuaiannya terhadap tabiat (selera) dan dalam arti sifat terpuji (kamāl) atau sifat tercela (naqsh) adalah bersifat rasional (‘aqliy). Sedangkan (baik dan buruk) dengan pengertian adanya konsekuensi pujian dan cacian seketika (di dunia) dan konsekuensi (pahala dan)…

0-9 Kedudukan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma‘ Dan Qiyas – Jam’-ul-Jawami’

KEDUDUKAN AL-QUR’ĀN, SUNNAH, IJMĀ‘ DAN QIYĀS   Banyak istilah yang digunakan menggambarkan proposi dan posisi al-Qur’ān, Sunnah, ijmā‘ dan qiyās terhadap khithāb Allah s.w.t., di antaranya: 1. Al-Kāsyif atau sebagai penguak khithāb Allah s.w.t. 2. Ad-Dalīl atau petunjuk khithāb Allah s.w.t. 3. Al-Madhar-ul-Ḥukm atau berbagai penjelas khithāb Allah s.w.t. 4. Adillāt-ul-Aḥkām atau sebagai petunjuk hukum. Di mana istilah ini sering terpakai dalam disiplin ilmu ushūl. (161). Catatan: 1. Zaman azali…

1-6 Keterangan Bahwa Ayat Al-Qur’an Bermakna Umum … – Ar-Risalah Imam asy-Syafi’i

Keterangan Bahwa Ayat al-Qur’ān Bermakna Umum, yang Benar Adalah Bahwa Ayat al-Qur’ān Mencakup Umum dan Khusus. 188. Allah berfirman: إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang…

1-5 Penjelasan Kelima – Ar-Risalah Imam asy-Syafi’i

Penjelasan Kelima 104. Allah berfirman: “Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjid-il-Ḥarām. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (al-Baqarah: 150). 105. Allah mewajibkan kepada mereka untuk menghadap ke arah Masjid-il-Ḥarām di mana saja mereka berada. Syathrah dalam bahasa ‘Arab berarti arahnya. Apabila anda mengucapkan: “Aqshudu Syathra Kadzā,” maka diketahui bahwasanya anda ingin mengatakan: “Aku menuju arah begini”, maksudnya, menuju ke…

1-3&4 Penjelasan Ketiga Dan Keempat – Ar-Risalah Imam asy-Syafi’i

Penjelasan Ketiga 92. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (an-Nisā’: 103). 93. Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (al-Baqarah: 43). 94. Allah berfirman: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (al-Baqarah: 196). 95. Kemudian Allah menjelaskan melalui Nabi-Nya tentang jumlah shalat yang diwajibkan kepada mereka beserta waktu pelaksanaan dan sunnah-sunnahnya, tentang jumlah zakat dan waktu pelaksanaannya, tentang bagaimana menunaikan ibadah…

1-2 Penjelasan Kedua – Ar-Risalah Imam asy-Syafi’i

Penjelasan Kedua 84. Allah berfirman: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (al-Mā’idah: 6). 85. Allah berfirman: “(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (an-Nisā’: 43) 86. Kitab Suci Allah ini menjelaskan tentang cara berwudhu’ dan bukan beristinja’…

1-1 Penjelasan Pertama – Ar-Risalah Imam asy-Syafi’i

Penjelasan Pertama 73. Allah menjelaskan tentang orang yang berhaji tamattu‘ dalam firman-Nya: “Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi…

0-8 Al-Hakim – Jam’-ul-Jawami’

AL-ḤĀKIM Umat Islam secara keseluruhan menyepakati bahwa sumber segala macam hukum taklīf dan wadh‘i adalah dari Allah s.w.t. Baik dengan jalan menetapkan nash dalam al-Qur’ān, as-Sunnah, atau dengan perantara ulama ahli fiqh dan para mujtahid. Karena para mujtahid hanyalah menampakkan hukum, bukan mencetuskan hukum dari dirinya sendiri. Allah s.w.t. berfirman: إِنَّ الْحُكْمَ إِلَّا للهِ (الأنعام: 57) “Tidak ada hukum, kecuali hanyalah milik Allah s.w.t.” Hanya saja kemudian Mu‘tazilah dan Ahl-us-Sunnah…

0-7 Definisi Hukum – Jam’-ul-Jawami’

وَ الْحُكْمُ خِطَابُ اللهِ الْمُتَعَلَّقُ بِفِعْلِ الْمُتَكَلَّفِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مَكَلَّفٌ وَ مِنْ ثَمَّ لَا حُكْمَ إِلَّا للهِ. Hukum adalah titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan seorang mukallaf dari tinjuannya sebagai obyek taklīf. Karenanya tiada hukum kecuali datang dari Allah.   DEFINISI HUKUM Dalam mendefinisikan hukum, ulama ushul terpetakan menjadi dua kelompok. Kelompok mayoritas pakar hukum, di antaranya Imām as-Subkī, menyatakan bahwa pengertian hukum adalah: خِطَابُ اللهِ الْمُتَعَلَّقُ بِفِعْلِ الْمُكَلَّفِ
Lewat ke baris perkakas