skip to Main Content
1-1-2 3 Periode Penyempurnaan (Abad V-VI H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-2 3 Periode Penyempurnaan (Abad V-VI H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 2, Ushul Fiqh Setelah Dibukukan   Periode Penyempurnaan (Abad V-VI H.) Kelemahan politik di Baghdad, yang ditandai dengan lahirnya beberapa daulah kecil, membawa arti bagi perkembangan baru peradaban Islam. Peradaban Islam tidak lagi terpusat di Baghdad, tetapi juga di kota-kota seperti Cairo (Qahirah-Mesir), Bukhārā, Ghaznah, dan Marakusy (Moroco). Hal itu disebabkan karena adanya perhatian besar dari…

  • 10/19/2017
1-1-2 2 Periode Perkembangan (Abad IV H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-2 2 Periode Perkembangan (Abad IV H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 2, Ushul Fiqh Setelah Dibukukan   Periode Perkembangan (Abad IV H.) Abad IV H. merupakan abad permulaan lemahnya Khilafah ‘Abbāsiyyah, karena pada abad inilah Khilafah ‘Abbāsiyyah terpecah-pecah menjadi daulah-daulah kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang sultan. Tetapi kelemahan di bidang politik ini tidak mempengaruhi perkembangan semangat keilmuan di kalangan ulama-ulama ketika itu. Bahkan ada yang menyatakan…

  • 10/18/2017
1-1-2 1 Periode Awal (Abad III H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-2 1 Periode Awal (Abad III H.) – Ushul Fiqh Setelah Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 2, Ushul Fiqh Setelah Dibukukan   Salah satu hal yang mendorong perlunya Ushul Fiqh itu dibukukan ialah perkembangan wilayah Islam yang semakin luas, yang  menyebabkan orang-orang ‘Arab bercampur dengan bangsa setempat, dan menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang perlu diketahui hukumnya. Dalam pada itulah ulama-ulama Islam sangat membutuhkan adanya kaidah-kaidah hukum yang terbukukan, yang dapat dijadikannya sebagai…

  • 10/16/2017
1-1-1 3 Periode Tabi’in (Periode Ketiga) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-1 3 Periode Tabi’in (Periode Ketiga) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 1, Ushul Fiqh Sebelum Dibukukan   Periode Tabi‘in (Periode Ketiga) Benih-benih perselisihan yang sudah tumbuh pada periode sahabat ini, pada periode tabi‘in menjadi melebar, dan dalam pemikiran hukum Islam melahirkan dua aliran yaitu, aliran ar-ra’yu yang mendasarkan diri terutama pada pemikiran yang berdasarkan ijtihad, dan aliran hadits yang mendasarkan pemikiran hukumnya sekedar yang ada di dalam…

  • 10/01/2017
1-1-1 2 Periode Sahabat (Periode Kedua) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-1 2 Periode Sahabat (Periode Kedua) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 1, Ushul Fiqh Sebelum Dibukukan   Periode Sahabat (Periode Kedua) Masa ini dimulai sejak Nabi meninggal dunia (11 H.) dan berakhir sesudah 100 tahun kemudian. Dinamakan dengan periode sahabat adalah karena sahabatlah pemegang (penentu) dalam masalah perundang-undangan. Di antaranya ada yang hidup sampai puluhan terakhir dari abad ke-1 Hijriyyah seperti Anas bin Mālik yang wafat pada…

  • 09/11/2017
1-1-1 1 Periode Nabi Saw (Periode Pertama) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

1-1-1 1 Periode Nabi Saw (Periode Pertama) – Ushul Fiqih Sebelum Dibukukan | Sejarah & Pengantar Ushul Fiqh

BAHAGIAN PERTAMA Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh   BAB I SEJARAH ILMU USHUL FIQH Pasal 1, Ushul Fiqh Sebelum Dibukukan   Periode Nabi s.a.w. (Periode Pertama) Sumber utama perundang-undangan pada periode ini adalah al-Qur’ān. Namun, di samping itu dalam masalah yang tidak tegas nashnya ditemukan dalam al-Qur’ān, Rasūlullāh s.a.w. memberikan penjelasan dalam bentuk as-Sunnah (Hadits). Sebab, setiap terjadi permasalahan, Rasūlullāh yang menjadi rujukan untuk menentukan hukumnya. Sahabat belum berani berfatwa dan…

  • 09/02/2017
Back To Top