Hati Senang

فَالْحُسْنُ وَ الْقُبْحُ بِمَعْنَى مَلَاءَمَةِ الطَّبْعِ وَ مُنَافَرَتِهِ وَ صِفَةِ الْكَمَالِ وَ النَّقْصِ عَقْلِيٌّ وَ بِمَعْنَى تَرَتُّبِ الْمَدْحِ وَ الذَّمِّ عَاجِلًا وَ الْعِقَابِ آجِلًا شَرْعِيٌّ خَلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ.

Baik dan buruk dengan arti kesesuaiannya atau ketidaksesuaiannya terhadap tabiat (selera) dan dalam arti sifat terpuji (kamāl) atau sifat tercela (naqsh) adalah bersifat rasional (‘aqliy). Sedangkan (baik dan buruk) dengan pengertian adanya konsekuensi pujian dan cacian seketika (di dunia) dan konsekuensi (pahala dan) siksa kelak (di akhirat), adalah bersifat syar‘i. Berbeda dengan pendapat Mu‘tazilah.

 

SEPUTAR ḤASAN DAN QABĪḤ

Golongan Asy‘ariyyah dan Mu‘tazilah menyepakati sebuah konsensus, bahwa akal dapat memahami ḥasan (baik) dan qabīḥ (buruk) dalam dua pemaknaan:

1. Ḥasan manakala diartikan sesuatu yang sesuai dengan tabiat (selera) manusia, seperti senang rasa manis, merdunya suara, dan menolong orang tenggelam. Dan manakala qabīḥ diartikan dengan sesuatu yang kontradiktif dan tidak disukai tabiat manusia, seperti tidak menyukai rasa pahit, suara kasar dan perampasan harta secara zhālim.

2. Ḥasan manakala diartikan sifat kesempurnaan, seperti berilmu dan jujur. Dan qabīḥ diartikan dengan sifat kekurangan, seperti bodoh dan berbohong. (201).

Silang pendapat terjadi manakala ḥasan diartikan sesuatu yang ketika dijalankan memiliki konsekuensi pujian di dunia dan pahala di akhirat dan qabīḥ diartikan kebalikannya.

1. Menurut Asy‘ariyyah, sumber penetapan dan pemahaman ḥasan (baik) dan qabīḥ (buruk) hanyalah syariat yang dibawa oleh seorang Rasūl. Segala apapun yang diperintahkan syara‘, seperti beriman, shalat dan haji adalah ḥasan, dan apapun yang dilarang syara‘, seperti berbuat kekufuran, dan perkara haram lainnya adalah qabīḥ. Akal tidak memiliki wewenang sama sekali dalam penetapan hukum. Sehingga seseorang tidak dituntut melakukan atau meninggalkan perkara yang menurut akalnya baik atau buruk, kecuali dakwah Rasūl telah sampai kepadanya. Dan konsekuensinya, siksa Allah s.w.t. tidak akan ditimpakan pada pelaku perbuatan yang menurut akalnya perbuatan tersebut qabīḥ (buruk), atau meninggalkan perbuatan yang menurut akalnya ḥasan (baik), sampai Allah s.w.t. mengutus seorang Rasūl.

2. Menurut Mu‘tazilah, dan beberapa kelompok pendukung, seperti Karāmiyyah, Khawārij, Syī‘ah Ja‘fariyyah, Barāhimiyyah dan Tsanawiyyah. Mereka mengatakan, sumber penetapan dan pemahaman ḥasan (baik) dan qabīḥ (buruk) adalah akal, dan tidak tergantung dengan adanya syara‘ (212). Tercela dan berdosanya seseorang sebelum terutusnya Rasūl ditetapkan oleh akal. (223) Anggapan mereka, syariat yang ditetapkan pada manusia merupakan sesuatu yang di dalamnya dapat dicerna dan dicapai oleh akal, dalam arti dapat ditelusuri bahwa di dalamnya pasti terkandung sebuah kemanfaatan atau kemudharatan. Kesimpulan mereka, apapun yang difahami oleh akal sebagai perkara yang baik atau buruk, maka syariat pun selaras dengan hal tersebut. Kedatangan Rasūl hanyalah sebagai penguat terhadap segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh akal. (234).

3. Pendapat ketiga yang diusung oleh As‘ad ‘Alī za-Zanjāniy dan Abul-Khithāb dari golongan Ḥanābilah berpendapat bahwa akal memiliki peran menghukumi ḥasan dan qabīḥ-nya sesuatu, akan tetapi tidak memiliki konsekuensi pahala dan dosa. Pendapat ketiga ini bisa dikatakan sebagai penengah antara pendapat pertama dan kedua. (245).

 

Catatan:


  1. 20). Dr. Wahbah az-Zuhaili, Ushūl-ul-Fiqhi Islāmī, vol. hal. 116. 
  2. 21). Ibid, hal. 118. 
  3. 22). Jalāl-ud-Dīn al-Maḥallī, Syarḥ-ul-Kawkab-is-Sāthi‘, vol. 1 hal. 21. 
  4. 23). Pemahamana akal ata ḥasan dan qabīḥ terklarifikasi menjadi tiga: Pertama, bersifat dharūri (pasti tanpa butuh analisa), seperti menganggap baik atas kejujuran yang bermanfaat dan menganggap buruk untuk kebohongan yang menimbulkan madharat. Kedua, bersifat nazharī (melalui analisa), seperti menganggap baik kebohongan yang bermanfaat dan menganggap buruk kejujuran yang menimbulkan madharat. Ketiga, melalui bantuan syara‘, dalam perkara yang sulit difahami akal, seperti baiknya berpuasa di hari terakhir bulan dan buruknya puasa di hari pertama bulan Syawwāl. Jalāl-ud-Dīn al-Maḥallī, Syarḥu Jam‘-ul-Jawāmi‘, vol. 1 hal. 59. 
  5. 24). Al-Jauharī, Ḥawāsyī Muḥammad al-Jauharī, hal. 7 

Bagikan:

KEDUDUKAN AL-QUR’ĀN, SUNNAH, IJMĀ‘ DAN QIYĀS

 

Banyak istilah yang digunakan menggambarkan proposi dan posisi al-Qur’ān, Sunnah, ijmā‘ dan qiyās terhadap khithāb Allah s.w.t., di antaranya:

1. Al-Kāsyif atau sebagai penguak khithāb Allah s.w.t.

2. Ad-Dalīl atau petunjuk khithāb Allah s.w.t.

3. Al-Madhar-ul-Ḥukm atau berbagai penjelas khithāb Allah s.w.t.

4. Adillāt-ul-Aḥkām atau sebagai petunjuk hukum. Di mana istilah ini sering terpakai dalam disiplin ilmu ushūl. (161).

Catatan:

1. Zaman azali adalah penisbatan kepada azal, yang memiliki arti tidak ada permulaan. Menurut sebuah pendapat, antara azali dengan qadīm (dahulu tanpa permulaan) secara sekilas memiliki makna sama, akan tetapi dalam realitasnya ada perbedaan tipis di antara keduanya. Yakni bahwa azali lebih umum dari qadīm, sebab azali mencakup dua hal, yakni wujūdi (eksistensi) dan ‘adami (ketiadaan), sedangkan qadīm terkhusus pada wujūdi, dalam pemaknaan tidak adanya permulaan bagi wujudnya sesuatu. (172).

2. Kalam nafsi adalah madlūl (makna yang ditunjukkan) oleh kalam lafzhi. Manakala kalam nafsi disebut sebagai hukum, maka kalam lafzhi berstatus sebagai penunjuk hukumnya (ad-dāll). (183) Pengertian tersebut senada dengan statemen Imām Ḥasan al-‘Athār: “Kata kalam dibatasi dengan kata nafsi, karena kalam lafzhi bukanlah sebuah hukum, akan tetapi hanyalah petunjuk atau porter dari sebuah hukum.” (194).

Catatan:


  1. 16). Ibid, 85 dan Ḥasan bin Muḥammad al-‘Athār, Ḥāsyiyat-ul-‘Athār, vol. I, hal. 71. 
  2. 17). Jalāl-ud-Dīn al-Maḥallī, Syarḥu Jam‘-ul-Jawāmi‘, vol. 1 hal. 48. 
  3. 18). Asy-Syirbinī, Taqrīr-usy-Syirbinī, hal. 47. 
  4. 19). Ḥasan bin Muḥammad al-‘Athār, Ḥāsyiyat-ul-‘Athār, vol. I, hal. 51. 

Bagikan:

Keterangan Bahwa Ayat al-Qur’ān Bermakna Umum, yang Benar Adalah Bahwa Ayat al-Qur’ān Mencakup Umum dan Khusus.

188. Allah berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki  dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (al-Ḥujurāt: 13).

189. Allah juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak perpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 183-184).

190. Allah juga berfirman: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (an-Nisā’: 103).

191. Imām asy-Syāfi‘ī mengatakan: “Maka sungguh jelas, dalam Kitāb Allah (al-Qur’ān), dua ayat ini, (al-Ḥujurāt: 13 dan al-Baqarah: 183-184), mengandung makna umum dan khusus.

192. Adapun makna umum, maka ia dapat ditemukan di dalam firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (al-Ḥujurāt: 13). Setiap manusia pada zaman Rasūlullāh s.a.w., bahkan sebelum zaman beliau atau sesudahnya, menerima khithāb ayat ini, apakah dia tercipta laki-laki maupun perempuan, hidup dalam lingkungan berbangsa-bangsa maupun bersuku-suku.

193. Sedangkan makna khususnya adalah: “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (al-Ḥujurāt: 13). Karena takwa (11) hanya khusus untuk hamba yang sudah baligh dari jenis Bani Ādam yang memahami (makna) takwa dan dia adalah seorang yang bertakwa, bukan makhluk-makhluk yang lain seperti binatang dan selainnya. Takwa tidak diperuntukkan manusia yang tidak mampu mengendalikan akalnya (orang gila) dan tidak pula anak-anak, (2) karena anak-anak belum mampu memahami takwa itu sendiri.

194. Oleh karena itu, manusia tidak boleh diberi sifat bertakwa atau pun kebalikannya kecuali orang-orang yang memahami (makna) takwa dan dia adalah seorang yang bertakwa. Atau diberi sifat kebalikan takwa karena ia bukan seorang yang bertakwa.

195. Ayat al-Qur’ān ini adalah dalil atas apa yang sudah saya jelaskan. Adapun dalam Sunnah, maka makna takwa telah ditunjukkan oleh sabda Rasūlullāh: “Pena diangkat (dari mencatat dosa) dari tiga kelompok: dari orang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia bāligh, dan dari orang gila sampai dia sembuh” (3).

196. Demikian pula kedudukan puasa dan shalat. Puasa dan shalat hanya diperuntukkan manusia (muslim) yang sudah baligh dan berakal, tidak untuk orang yang belum baligh dan orang yang sudah baligh namun tidak mampu menguasai akalnya (gila). Puasa dan shalat juga tidak diperuntukkan perempuan (muslim yang baligh dan berakal yang) menstruasi sewaktu menjalani hari-hari menstruasinya.

Catatan:


  1. 1). Takwa dalam taat, maksudnya adalah ikhlas, sedangkan takwa dalam maksiat maksudnya adalah meninggalkan dan menjauhinya. Karena itu dikatakan: “Hendaknya hamba itu bertakwa kepada selain Allah.” Ada pula yang mengatakan: “Hamba bertakwa dalam memelihara akhlak agama.” Sedang yang lain mengatakan: “(Takwa adalah) menjauhi segala hal yang dapat menjauhkan dirimu dari Allah,” atau “Meninggalkan dari mengikuti jalan-jalan hawa nafsu dan melawannya,” “Hendaknya kamu tidak melihat dirimu sedikit pun selain (karena) Allah,” “Hendaknya kamu tidak melihat dirimu lebih baik dari siapapun,” “Meninggalkan (segala sesuatu) selain Allah,” dan “Meneladani Nabi Muḥammad dalam perkataan dan perbuatan.” Lihat at-Ta‘rīfāt, hal. 29. Ada pula yang mengatakan: “(Takwa adalah) melakukan (amalan-amalan) ketaatan.” Lihat: Subul-us-Salām, 4/211. 

Bagikan:

Penjelasan Kelima

104. Allah berfirman: “Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjid-il-Ḥarām. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (al-Baqarah: 150).

105. Allah mewajibkan kepada mereka untuk menghadap ke arah Masjid-il-Ḥarām di mana saja mereka berada. Syathrah dalam bahasa ‘Arab berarti arahnya. Apabila anda mengucapkan: “Aqshudu Syathra Kadzā,” maka diketahui bahwasanya anda ingin mengatakan: “Aku menuju arah begini”, maksudnya, menuju ke arah ini. Begitu juga dengan kata: “Tilqa’ah,” yakni ke arahnya, yang berarti menghadap kepadanya dan ke arahnya. Dan masing-masing dari kata-kata tersebut memiliki pengertian yang sama meskipun dengan kosa-kata atau redaksi berbeda.

106. Khufāf bin Nudbah mengatakan: “Ingatlah wahai orang yang menjadi utusan seorang utusan. Ketahuilah bahwasanya risalah tidak akan memberikan manfaat di hadapan ‘Amr.

107. Sa‘īdah bin Ju‘ayyah mengatakan: “Aku berkata kepada Ibunda Zinbā’: “Hadapkanlah dada al-Is (unta berwarna putih) itu ke arah Bani Tamīm.”

108. Lāqith al-‘Iyādhī mengatakan: “Bayangan dari arah benteng yang menutupi kalian telah menimbulkan kengerian karena kezhaliman yang menutupi (menghinggapi diri) kalian.”

109. Seorang penyair mengatakan: “Sesungguhnya penderitaan itu adalah penyakit yang mengacau pikirannya, maka tutupnya (pemecahannya) adalah pandangan kedua mata yang ditundukkan.”

110. Imām asy-Syāfi‘ī mengatakan: “Yang dimaksud dengan menghadap adalah pandangan mata dan badannya ke arahnya.”

111. Semua penjelasan ini (dari al-Qur’ān dan Sunnah) dan ditambah dengan bait-bait syair mereka ini memberikan penjelasan bahwasanya arah sesuatu adalah tujuan dari sesuatu itu secara tepat jika dekat dengannya. Dan apabila berada jauh darinya, maka dengan berijtihad untuk menghadap ke arahnya. Dan semua itu dilakukan dengan semaksimal mungkin.

112. Allah berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (al-An‘ām: 97).

113. Allah berfirman: “(Dan Dia ciptaka) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (an-Nahl: 16).

114. Allah menciptakan tanda-tanda dan mendirikan Masjid-il-Ḥarām untuk mereka serta memerintahkan mereka untuk menghadap ke arahnya. Allah menyerukan kepada mereka untuk menghadap ke arah Masjid-il-Ḥarām melalui tanda-tanda yang telah diciptakan Allah bagi mereka dan akal yang mereka miliki untuk mengenali tanda-tanda tersebut. Semua ini merupakan bukti keagungan dan limpahan kenikmatan Allah.

115. Allah berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (ath-Thalaq: 2). Allah juga berfirman: “Dari saksi-saksi yang kamu ridhai.” (al-Baqarah: 282).

116. Keadilan itu adalah orang yang melakukan suatu ketaatan kepada-Nya. Barang siapa melakukan ketaatan itu, maka bisa dikatakan adil dan barang siapa melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya, maka bertentangan dengan keadilan.

117. Allah berfirman: “Janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang berihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadnya yang dibawa sampai ke Ka‘bah.” (al-Mā’idah: 95).

118. Perumpamaan (dalam masalah ini) pada dasarnya ditujukan kepada sesuatu yang paling dekat dengannya dari segi bentuk tulang yang menempel pada tubuh. Dan beberapa kelompok sahabat Rasūlullāh yang membahas tentang berburu telah bersepakat mengenai sesuatu yang paling dekat atau mirip dengan tubuh. Karena itu, kami berpendapat bahwa binatang buruan apa pun yang telah dibunuh dan memiliki kedekatan bentuk dengan binatang lainnya, maka kami menebusnya dengannya.

119. Binatang ini tidak bisa diganti dengan nilainya meskipun mempunyai kesetaraan dengan nilai binatangnya kecuali orang yang dipaksa. Dengan demikian, maka pengertian eksplisit dari suatu kata lebih umum dan harus lebih didahulukan. Inilah salah satu bentuk ijtihad yang harus dilakukan seorang hakim atau kepala negara dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang memiliki kesamaan.

120. Pengetahuan semacam ini merupakan bukti dari pernyataan kami sebelumnya yang menyebutkan bahwa tidak seorang pun mengatakan sesuatu ini halal dan ini haram kecuali berdasarkan ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksudkan adalah yang bersumber dari Kitāb Suci, Sunnah, Ijma‘, atau pun Qiyās (analogi).

121. Yang aku maksudkan dengan analogi atau Qiyās dalam pembahasan ini adalah di dalamnya terdapat ketetapan hukum yang dapat menunjukkan kebenaran qiblat, keadilan, dan persamaan atau perumpamaan.

122. Qiyās adalah menetapkan suatu hukum berdasarkan pentunjuk-petunjuk yang sesuai dengan riwayat atau informasi yang digali dari Kitāb Suci atau pun Sunnah. Dengan alasan bahwa keduanya adalah ilmu kebenaran yang harus dipelajari sebagaimana keharusan umat Islam mencari dan menetapkan arah qiblat, mengetahui tentang keadilan, dan perumpamaan atau persamaan.

123. Kesesuaian itu dapat diterima dari dua sisi.

124. Salah satunya; bahwasanya Allah atau pun utusan-Nya telah mengharamkan sesuatu berdasarkan nash (teks) yang disebutkan atau menghalalkannya karena pengertian yang tersirat di dalamnya. Apabila ada suatu kasus yang memiliki pengertian yang sama akan tetapi tidak disebutkan secara jelas atau pasti dalam Kitāb Suci dan tidak pula dalam Sunnah, maka kami menghalalkan atau pun mengharamkannya karena masuk dalam pengertian halal atau pun haram.

125. Atau kita mendapati suatu perkara darinya dan sesuatu yang lain dari selainnya, akan tetapi kita tidak mendapatkan sesuatu yang lebih dekat dengan salah satu dari keduanya maka kami akan mengikutkan atau mempersamakan hukumnya dengan sesuatu yang paling dekat kemiripannya dengannya. Hal ini sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam ash-Shaid.

126. Imām asy-Syāfi‘ī mengatakan: “Dalam ilmu pengetahuan terdapat dua perkara: Perkara yang disepakati dan perkara yang masih diperdebatkan.” Keduanya telah dibahas dalam pembahasan lain selain ini.

127. Di antara totalitas pengetahuan mengenai Kitāb Suci-Nya adalah pengetahuan yang menyatakan bahwa semua ulama bersepakat bahwa Kitāb Suci al-Qur’ān diturunkan dengan menggunakan bahasa ‘Arab.

128. Mengetahui tentang nasikh dan mansukh dalam Kitāb Suci Allah, hukum wajib dalam Kitāb-Nya, sopan santun, kebenaran, dan perkara yang diperbolehkan.

129. Mengetahui tempat-tempat atau pembahasan yang dijelaskan Allah melalui Rasūlullāh mengenai hukum-hukum wajib yang dijelaskan dalam Kitāb-Nya dengan segala kewajiban yang dikehendaki-Nya untuk dilaksanakan semua orang dan berserah diri pada keputusan-Nya.

130. Kemudian mengetahui beberapa perumpamaan untuk dikembangkan agar dapat meningkatkan ketaatan kepada-Nya, yang menjelaskan untuk menghindarkan diri dari perbuatan maksiat terhadap-Nya, tidak melalaikan-Nya dan berpaling dari keberuntungan serta menambah keutamaan-keutamaan.

131. Mereka yang berilmu pengetahuan berkewajiban untuk tidak mengatakan sesuatu kecuali yang mereka ketahui.

132. Terkadang seseorang apabila berpegang teguh atau komitmen dengan beberapa perkara yang diucapkannya maka tentunya lebih baik baginya untuk menjaga komitmen tersebut dan lebih dekat menuju jalan keselamatannya dengan izin Allah berbicara tentang ilmu pengetahuan.

133. Ada di antara mereka yang berpendapat bahwasanya di dalam al-Qur’ān terdapat bahasa ‘Arab dan non-‘Arab.

134. Sedangkan al-Qur’ān sendiri menyatakan bawah tidak ada sesuatu bahasa pun dalam Kitāb Suci Allah kecuali berbahasa ‘Arab.

135. Pernyataan semacam ini telah dilontarkan oleh orang-orang sebelumnya karena meniru-niru tanpa memberikan alasan dan hanya menyisakan kerumitan kepada orang yang tidak tercela. Semoga Allah mengampuni kita dan mereka semua.

136. Taklīd merupakan tindakan yang paling tercela. Semoga Allah mengampuni kita dan mereka semua.

Bagikan:

Penjelasan Ketiga

92. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (an-Nisā’: 103).

93. Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (al-Baqarah: 43).

94. Allah berfirman: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (al-Baqarah: 196).

95. Kemudian Allah menjelaskan melalui Nabi-Nya tentang jumlah shalat yang diwajibkan kepada mereka beserta waktu pelaksanaan dan sunnah-sunnahnya, tentang jumlah zakat dan waktu pelaksanaannya, tentang bagaimana menunaikan ibadah haji dan ‘umrah dari segi keharusan dan kegugurannya serta sunnah-sunnahnya yang disepakati dan diperselisihkan. Mengenai hal ini terdapat banyak contoh dalam al-Qur’ān dan Sunnah.

 

Penjelasan Keempat

96. Imām asy-Syāfi‘ī mengatakan: “Semua perkara yang dianjurkan Rasūlullāh s.a.w. dan tidak disebutkan Allah dalam al-Qur’ān, dan sebagaimana yang kami kemukakan dalam buku kami yang menyebutkan bahwasanya Allah tidak mewajibkan kepada hamba-hambaNya untuk mempelajari Kitāb Suci dan al-Ḥikmah, menunjukkan bahwa ḥikmah merupakan anjuran Rasūlullāh.

97. Apa yang kami kemukakan mengenai kewajiban yang diamanatkan Allah kepada makhluk-Nya untuk taat kepada utusan-Nya dan menjelaskan kedudukan beliau dalam kaitannya dengan agama-Nya memberikan petunjuk bahwa al-Bayān atau penjelasan mengenai kewajiban-kewajiban yang disebutkan dalam Kitāb Suci dapat diketahui dengan salah satu dari beberapa dimensi berikut.

98. Di antaranya adalah perkara atau kewajiban yang disebutkan dalam Kitāb Suci dengan sangat jelas dan tidak membutuhkan penjelasan lain selain al-Qur’ān.

99. Adapula dimensi di mana perkara tersebut disebutkan dengan sangat jelas mengenai kewajibannya dan mengharuskan ketaatan kepada utusan-Nya, sehingga Rasūlullāh s.a.w. pun dapat menjelaskan bagaimana pelaksanaan kewajiban dari Allah tersebut, kepada siapa diwajibkan, kapan dilaksanakan, kapan kewajiban tersebut gugur, dan kapan kewajiban tersebut tetap harus dilaksanakan.

100. Adapula dimensi di mana kewajiban tersebut dijelaskan melalui sunnah Rasūl-Nya tanpa ada teks dari al-Qur’ān yang menyebutkannya.

101. Segala sesuatunya itu terdapat penjelasannya dalam Kitāb Suci-Nya.

102. Semua orang yang menerima kewajiban-kewajiban dari Allah yang disebutkan dalam Kitāb Suci-Nya maka ia pun harus menerima kewajiban yang dicanangkan Rasūlullāh karena Allah mewajibkan kepada makhluk-Nya untuk taat kepada utusan-Nya, dan hendaknya mereka menerima keputusan hukum yang ditetapkan beliau. Dengan demikian, maka orang yang menerima kewajiban hukum yang ditetapkan Rasūlullāh, maka sama artinya ia menerima kewajiban tersebut dari Allah. Dengan alasan bahwa Allah mewajibkan taat kepada beliau.

103. Dengan begitu, maka dapat dikatakan adanya kesepakatan mengenai Kitāb Suci Allah dan Sunnah Rasūl-Nya bahwasanya masing-masing dari keduanya adalah berasal dari Allah semata meskipun memiliki perbedaan-perbedaan beberapa faktor yang melingkupi keduanya. Sebagaimana Allah berhak menghalalkan, mengharamkan, mewajibkan, dan menentukan berbagai perbedaan sekehendak-Nya, dan Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya itu, akan tetapi mereka itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Bagikan:

Penjelasan Kedua

84. Allah berfirman: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (al-Mā’idah: 6).

85. Allah berfirman: “(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (an-Nisā’: 43)

86. Kitab Suci Allah ini menjelaskan tentang cara berwudhu’ dan bukan beristinja’ dengan menggunakan batu dan tentang tata cara mandi junub.

87. Kemudian menjelaskan standar minimal seseorang harus membasuh muka dan anggota tubuh lainnya sebanyak satu kali satu kali. Perintah ini mengandung kemungkinan lebih dari itu, sehingga Rasulullah menjelaskan bahwa boleh membasuh anggota tubuh dalam berwudhu’ sebanyak satu kali dan boleh juga tiga kali. Hal ini memberikan pengertian bahwa membasuh anggota tubuh dengan jumlah terkecilnya, sudah sah, yaitu satu kali. Jika membasuh satu kali sudah mencukupi atau sah, maka perintah untuk membasuh sebanyak tiga kali ini adalah pilihan.

88. Sunnah menunjukkan bahwa boleh beristinja’ dengan menggunakan tiga buah batu. Rasūlullāh s.a.w. juga menjelaskan anggota tubuh yang harus terkena air wudhu’ dan yang harus dibasuh. Beliau menunjukkan bahwasanya kedua tumit dan kedua siku merupakan anggota tubuh yang harus dibasuh. Sebab pengertian ayat al-Qur’ān yang menjelaskan tentangnya mengandung kemungkinan bahwa keduanya hanyalah batasan dalam membasuh dan mungkin juga masuk dalam basuhan. Ketika Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka,” maka menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah membasuh dan bukan mengusap.

89. Allah berfirman: “Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya memperoleh seperenam.” (an-Nisā’: 11).

90. Allah berfirman: “Dan bagimu (suami-istri) seperdua hari harta yang ditinggalkan oleh istri-isrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (an-Nisā’: 12).

91. Penjelasan dalam ayat ini tidak membutuhkan keterangan lain. Kemudian Allah menjelaskan bahwa perintah dalam ayat tersebut bisa dilaksanakan setelah melaksanakan wasiat dan membayarkan hutang si mayat. Kemudian datang satu hadits yang menunjukkan bahwa wasiat tersebut tidak boleh lebih dari sepertiga dari jumlah harta.

Bagikan:

Penjelasan Pertama

73. Allah menjelaskan tentang orang yang berhaji tamattu‘ dalam firman-Nya: “Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjid-il-Ḥarām (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah).” (al-Baqarah: 196).

74. Ketika ayat ini diturunkan, maka jelaslah bahwasanya puasa selama 3 hari dilaksanakan ketika menunaikan ibadah haji dan 7 hari ketika pulang ke kampung halaman sehingga jumlahnya mencapai 10 hari penuh.

75. Allah berfirman: “Itulah sepuluh (hari) yang sempurna,” (al-Baqarah: 196). Redaksi ayat ini memberikan pengertian ada kemungkinan bahwa 10 hari itu hanya sebagai tambahan penjelasan. Dan bisa juga mengandung pengertian bahwa Allah memberitahukan kepada mereka puasa selama 3 hari jika disatukan atau ditambahkan dengan puasa 7 hari akan menjadi puasa 10 hari penuh.

76. Allah berfirman: “Dan telah Kami janjikan kepada Mūsā (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh(malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (al-A‘rāf: 142).

77. Ketika ayat ini diturunkan, maka jelaslah bahwa 30 malam ditambah dengan 10 malam lainnya menjadi 40 malam.

78. Firman Allah: “Empat puluh malam.” (al-A‘rāf: 142) mempunyai pengertian lain sebagaimana yang terjadi pada ayat sebelumnya, yaitu bisa jadi redaksi ayat ini memberikan pengertian apabila 30 malam disatukan atau ditambah dengan 10 malam lainnya akan berjumlah 40 malam. Dan bisa juga hanya sebagai penjelasan tambahan.

79. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 183-184).

80. Allah berfirman: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ān sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 185).

81. Dalam ayat di atas, Allah mewajibkan mereka berpuasa dan kemudian menjelaskan bahwa puasa tersebut dilakukan dalam satu bulan. Bulan adalah waktu antara dua hilal, yang terkadang memuat 30 hari dan terkadang 29 hari.

82. Petunjuk yang terdapat dalam ayat ini adalah sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam dua ayat sebelumnya. Dalam dua ayat sebelumnya dijelaskan tambahan yang menjelaskan jumlah bilangan secara keseluruhan.

83. Kesamaan hukum dalam menambahkan penjelasan jumlah bilangan dalam 7 dan 3 dengan 30 malam dan 10 malam lainnya terfokus pada kesamaan dalam menambah penjelasannya karena mereka senantiasa mengenali dua bilangan ini dan totalitasnya sebagaimana mereka senantiasa mengenali bulan Ramadhān.

Bagikan:

AL-ḤĀKIM

Umat Islam secara keseluruhan menyepakati bahwa sumber segala macam hukum taklīf dan wadh‘i adalah dari Allah s.w.t. Baik dengan jalan menetapkan nash dalam al-Qur’ān, as-Sunnah, atau dengan perantara ulama ahli fiqh dan para mujtahid. Karena para mujtahid hanyalah menampakkan hukum, bukan mencetuskan hukum dari dirinya sendiri. Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّ الْحُكْمَ إِلَّا للهِ (الأنعام: 57)

Tidak ada hukum, kecuali hanyalah milik Allah s.w.t.”

Hanya saja kemudian Mu‘tazilah dan Ahl-us-Sunnah berbeda pendapat mengenai penunjuk dan mekanisme memahami hukum-hukum Allah s.w.t. sebelum terutusnya Rasūl. Dalam arti, mereka memperdebatkan diterimanya akal sebagai media penunjuk memahami hukum Allah s.w.t. tanpa melalui mekanisme naql (wahyu). Asy‘ariyyah berpendapat, penunjuk hukum hanyalah para Rasūl, dan tidak ada peluang memahami hukum melalui akal. Sehingga di masa sebelum terutusnya Rasul, perbuatan manusia tidak terikat hukum dari Allah s.w.t., perbuatan hukum tidak terkena vonis haram, dan keimanan tidak menjadi sebuah kewajiban. Berbeda dengan Mu‘tazilah, mereka mengatakan bahwa akal memungkinkan memahami hukum Allah s.w.t. dalam perbuatan manusia. Dan perbuatan tersebut akan terikat dengan hukum sesuai dengan ketetapan yang disimpulkan akal, berisi sifat baik dan buruk, baik secara dzātiyyah, faktor-faktor lain, maupun karena aspek sudut pandang. Statemen mereka, sebenarnya syariat menyingkap atas perkara yang telah difahami akal sebelumnya. Perbedaan pendapat di atas berakar dari pemhahasan ḥasan (baik) qabīḥ (buruk) yang akan dijelaskan nanti. (151).

Catatan:


  1. 15). Dr. Wahbah az-Zuhaili, Ushūl-ul-Fiqhi Islāmī, vol. hal. 115. 

Bagikan:

وَ الْحُكْمُ خِطَابُ اللهِ الْمُتَعَلَّقُ بِفِعْلِ الْمُتَكَلَّفِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مَكَلَّفٌ وَ مِنْ ثَمَّ لَا حُكْمَ إِلَّا للهِ.

Hukum adalah titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan seorang mukallaf dari tinjuannya sebagai obyek taklīf. Karenanya tiada hukum kecuali datang dari Allah.

 

DEFINISI HUKUM

Dalam mendefinisikan hukum, ulama ushul terpetakan menjadi dua kelompok. Kelompok mayoritas pakar hukum, di antaranya Imām as-Subkī, menyatakan bahwa pengertian hukum adalah:

خِطَابُ اللهِ الْمُتَعَلَّقُ بِفِعْلِ الْمُكَلَّفِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مُكَلَّفٌ.

Titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf dari sisi bahwa dia adalah orang yang mendapat pembebanan.” (121).

Pengertian khithāb (titah) yaitu kalam Allah s.w.t. yang telah ada sejak zaman azali. Berpijak dari definisi di atas, maka khithāb wadh‘ī bukan termasuk bagian dari hukum. Kelompok kedua, di antaranya Imām Ibnu Ḥājib mendefinisikan hukum sebagai berikut:

خِطَابُ اللهِ الْمُتَعَلَّقُ بِفِعْلِ الْمُكَلَّفِ بِالْاِقْتِضَاءِ أَوِ التَّخْيِيْرِ أَوِ الْوَضْعِ.

Titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf dengan tuntutan, pembebasan pilihan atau peletakan.”

Berpijak dari definisi ini, Imām Ibnu Ḥājib menyatakan, hukum terbagi dua hukum taklīfi dan wadh‘i. Karena definisi tersebut menegaskan bahwa hukum wadh‘i termasuk bagian dari hukum. (132).

Maksud “perbuatan mukallaf” dalam definisi di atas memiliki cakupan makna cukup luas, meliputi:

Perbuatan hati, baik berupa keyakinan, seperti meyakini Allah s.w.t. adalah Dzāt Yang Maha Tunggal, atau selain keyakinan, seperti niat.

1. Perbuatan berbentuk ucapan, seperti mengucapkan takbīrat-ul-iḥrām pada saat memulai shalat.

2. Perbuatan badan, seperti pelaksanaan ritual haji. (143).

Catatan:


  1. 12). Menurut pendapat Ashaḥ, kalam tersebut dapat disebut khithāb secara hakikat. Sedangkan menurut muqābil ashah, penyebutan kalam sebagai khithāb merupakan penyebutan secara majaz, sebagaimana keterangan yang akan datang – Ibid, hal. 48 dan Ḥasan bin Muḥammad al-‘Athār, Ḥāsyiyat-ul-‘Athār, vol. I, hal. 67. 
  2.  13). Jalāl-ud-Dīn al-Maḥallī, Syarḥu Jam‘-ul-Jawāmi‘, vol. 1 hal. 52-53. 
  3.  14). Syaikh al-Banānī, Ḥāsyiyatu ‘alā Syarḥi Jam‘-il-Jawāmi‘, hal. 49. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas