1-4-4 Menyentuh Kemaluan – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Menyentuh Kemaluan.   Para ulama berbeda pendapat dalam hukum menyentuh kemaluan: 1. Sebagian ada yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan dengan cara apa pun dapat membatalkan wudhu’, ini adalah pendapat Imām Syāfi‘ī dan para pengikutnya, Imām Aḥmad, juga Dāūd. 2. Ada pula yang berpendapat tidak membatalkan wudhu’, ini adalah pendapat Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya. 3. Sebagian ulama membedakan tergantung kepada sentuhan itu sendiri, lalu mereka berbeda pendapat lagi…

1-4-3 Menyentuh Perempuan – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah ketiga: Menyentuh Perempuan.   Para ulama berbeda pendapat tentang batalnya wudhu’ karena menyentuh perempuan dengan tangan atau anggota badan lainnya. 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa menyentuh perempuan secara langsung tanpa ada penghalang dapat membatalkan wudhu’, demikian pula menciumnya, karena mencium adalah menyentuh, baik persentuhan itu bersyahwat atau tidak, inilah pendapat yang dipegang oleh Imām Syāfi‘ī dan pengikutnya, hanya saja terkadang dia membedakan antara yang menyentuh dan yang disentuh, dia…

1-4-2 Tidur – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Tidur.   Para ulama berbeda pendapat mengenai tidur menjadi tiga pendapat: 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidur adalah hadats, sedikit atau banyak membatalkan wudhu’. 2. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidur bukanlah hadats sehingga tidak membatalkan wudhu’ kecuali jika yakin bahwa wudhu’nya batal (dengan sebab lain) menurut pendapat yang tidak menjadikan keraguan sebagai alasan maka batal, bahkan sebagian ulama salaf memerintahkan yang lainnya agar memperhatikan keadaannya saat tidur (apakah…

1-4-1 Najis Yang Keluar Dari Tubuh – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab IV Hal-hal yang Membatalkan Wudhu’   Landasan bab ini adalah firman Allah s.w.t.: أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ. “Atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan.” (Qs. al-Mā’idah [5]: 6). Dan sabda Nabi s.a.w.: لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.Allah tidak menerima shalat orang yang berhadats sehingga dia berwudhu’.” (561) Dalam masalah ini para ulama sepakat batalnya wudhu’ karena…

1-3-6 Hukum Berwudhu’ Dengan Air Perasan Kurma – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keenam: Hukum berwudhu’ dengan air perasan kurma.   Abū Ḥanīfah di tengah-tengah kebanyakan pengikutnya, dan para ulama berbagai negeri, beliau tetap saja berpendapat bolehnya berwudhu’ dengan perasan kurma dalam perjalanan dengan dalil hadits Ibnu ‘Abbās: أَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ خَرَجَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ (ص) لَيْلَةَ الْجِنِّ، فَسَأَلَهُ رَسُوْلُ اللهِ (ص)، فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنْ مَاءٍ؟ فَقَالَ: مَعِيْ نَبِيْذٌ فِيْ إِدَاوَةٍ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): أَصْبُبْ، فَتَوَضَّأَ بِهِ وَ قَالَ: شَرَابٌ

1-3-5 Hukum Sisa Air Bersuci – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Hukum sisa air setelah bersucinya laki-laki atau perempuan   Para ulama berbeda pendapat tentang air sisa bersuci dalam lima pendapat: 1. Air sisa thaharah adalah suci secara mutlak, ini adalah madzhab Imām Mālik, Syāfi‘ī, dan Abū Ḥanīfah. 2. Seorang lelaki bisa bersuci dengan sisa bersuci seorang perempuan selama bukan karena junub atau haidh. 3. Seorang lelaki bisa bersuci dengan sisa bersuci seorang perempuan selama bukan karena junub atau…

1-3-4 Hukum Sisa Air Minum – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Hukum sisa air minum.   Para ulama sepakat bahwa air sisa minum kaum muslimin dan binatang ternak adalah suci, lalu mereka berbeda pendapat pada selain keduanya: 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap sisa-sisa hewan adalah suci. 2. Sebagian ulama lainnya memberikan pengecualian hanya kepada babi. Kedua pendapat ini diriwayatkan dari Mālik. 3. Ulama yang lain memberikan pengecualian kepada anjing dan babi, ini adalah pendapat Syāfi‘ī. 4. Ada juga…

1-3-3 Air Musta’mal (yang sudah terpakai) – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah ketiga: Air musta‘mal (yang sudah terpakai).   Mengenai air musta‘mal yang digunakan dalam thaharah para ulama berbeda pendapat: 1. Sebagian ulama membolehkan bersuci dengannya dalam berbagai keadaan, ini adalah pendapat Syāfi‘ī dan Abū Ḥanīfah. 2. Sebagian ulama lain memakruhkannya, akan tetapi tidak membolehkan tayammum selama air tersebut didapatkan, ini adalah pendapat Imām Mālik dan pengikutnya. 3. Sebagian ulama lainnya tidak melihat adanya perbedaan antara air musta‘mal dengan air mutlak,…

1-3-2 Air Yang Berubah – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Air yang berubah.   Air yang tercampur minyak ja‘faran atau segala macam benda suci yang biasanya bisa dipisahkan, jika semua itu bisa merubah salah satu sifat air maka airnya tetap suci menurut semua ulama, akan tetapi tidak menyucikan menurut Mālik dan Syāfi‘ī, dan menyucikan menurut Abū Ḥanīfah selama perubahannya bukan dengan dimasak. Sebab perbedaan pendapat: Tidak jelasnya cakupan air mutlak untuk air yang tercampur hal-hal seperti ini (maksudnya…