Hati Senang

1-2-7-2 Mengusap Dua Khuf – Masalah 3, 4, & 5 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah ketiga: Mengusap dua kaos kaki. Mengenai tempat yang diusap, para ulama telah sepakat bahwa yang boleh diusap adalah khuf, lalu mereka berbeda pendapat mengenai mengusap kaos kaki: 1. Sebagian ulama membolehkan hal itu. 2. Sebagian ulama yang lainnya melarang. Di antara ulama yang melarang adalah Imām Mālik, Syāfi‘ī, dan Abū Ḥanīfah, dan yang membolehkannya adalah Abū Yūsuf juga Muḥammad yang keduanya adalah murid Abū Ḥanīfah. Sebab perbedaan pendapat: Perbedaan…

1-2-7-1 Mengusap Dua Khuf – Masalah 1 & 2 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Mengusap Dua Khuf   Pembahasan masalah ini terkait dengan tujuh masalah:   Masalah pertama: Hukum mengusap dua khuf. Dalam kebolehan mengusap dua khuf (jenis khuf yang terbuat dari kulit hewan, yang menutupi ujung jemari kaki sampai mata kaki, ed) ini ada tiga pendapat: 1. Pendapat yang masyhur: Boleh secara mutlak, dan inilah yang dipegang oleh jumhur ulama di berbagai negeri. 2. Boleh hanya saat dalam bepergian. 3. Tidak boleh secara…

1-2-6 Masalah #12 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Keduabelas: Syarat (berturut-turut dalam praktek wudhū’). Para ulama berbeda pendapat tentang berturut-turut (muwālah) dalam amalan wudhū’: 1. Mālik berpendapat bahwa terturut-turut adalah fardhu hukumnya jika ingat dan sanggup menunaikannya, lalu kewajiban tersebut gugur ketika lupa, atau tidak lupa tapi tidak sanggup menunaikannya dengan syarat tidak terlalu lama masa jedanya. 2. Sementara Imām Syāfi‘ī dan Abū Ḥanīfah berpendapat bahwa terturut-turut tidak termasuk kewajiban dalam wudhū’. Sebab perbedaan pendapat: Isytirāk dan…

1-2-5 Masalah #10 & 11 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Kesepuluh: Tata cara membasuh kedua kaki. Para ulama bersepakat bahwa kedua kaki termasuk anggota wudhū’, lalu mereka berbeda pendapat dalam tata cara mensucikannya: 1. Sebagian ulama berpendapat mensucikannya adalah dengan membasuh, inilah pendadap jumhur. 2. Sebagian ulama yang lain berpendapat yang fardhu adalah mengusap. 3. Sebagian ulama lainnya berpendapat mensucikannya adalah bisa dengan kedua cara di atas; membasuh dan mengusap, dan kembali kepada pilihan mukallaf itu sendiri. Sebab perbedaan…

1-2-4 Masalah #8 & 9 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Kedelapan: Batasan mengusap serban. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengusap serban: 1. Aḥmad bin Ḥanbal, Abū Tsaur, al-Qāsim bin Salām, dan sekelompok ulama membolehkannya. 2. Sementara sekelompok ulama yang lain tidak membolehkannya, di antara mereka adalah Mālik, Syāfi‘ī, dan Abū Ḥanīfah. Sebab perbedaan pendapat: Perbedaan mereka dalam kewajiban mengamalkan atsar yang menjelaskan hal itu dari hadits al-Mughīrah dan yang lainnya: أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ

1-2-3 Masalah #6 & 7 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Keenam: Batasan mengusap kepala. Para ulama telah sepakat bahwa mengusap kepala termasuk kefardhuan wudhū’, lalu mereka berbeda pendapat tentang batasan yang dianggap cukup. 1. Mālik berpendapat sesungguhnya yang wajib adalah mengusap semuanya. 2. Sementara Syāfi‘ī, sebagian pengikuti Mālikī dan Abū Ḥanīfah berpendapat bahwa yang fardhu adalah mengusap sebagian. Di antara pengikut Imām Mālik ada yang membatasinya dengan 1/3, ada pula yang membatasinya dengan 2/3, lalu Abū Ḥanīfah membatasi dengan…

1-2-2 Masalah #4 & 5 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Keempat: Batasan membasuh muka. Para ulama telah sepakat bahwa membasuh muka secara umum termasuk rukun wudhū’, berdasarkan firman Allah: فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ. “Maka basuhlah mukamu.” (QS. al-Mā’idah [5]: 6). Mereka berbeda pendapat pada tiga masalah membasuh bagian antara jambang dengan telinga, membasuh jenggot yang terurai dan mereraikannya. Pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Mālik, bahwa kulit tidak berbulu antara jambang dan telinga termasuk wajah, dalam madzhab itu pun diungkapkan adanya…

1-2-1 Masalah #2 & 3 – Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah Kedua: Hukum (membasuh kedua tangan). Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membasuh kedua tangan sebelum memasukannya ke dalam tempat (kolam) air wudhū’, sebagian ulama berpendapat sesungguhnya hal itu termasuk sunnah wudhū’ secara mutlak walaupun ia meyakini bahwa tangannya bersih, ini pendapat di kalangan madzhab Mālikī dan Syāfi‘iyyah, yang lain berpendapat mustaḥabb (dianjurkan) bagi orang yang ragu apakah tangannya bersih, inilah pendapat yang diriwayatkan dari Mālik, ada juga yang berpendapat…

01-2 Tata Cara Berwudhu’ – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab II Tata Cara Berwudhū’Landasan tata cara wudhū’ adalah praktek yang dijelaskan dalam firman Allah s.w.t.: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَ امْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. al-Mā’idah [5]: 6).…
Lewat ke baris perkakas