Hati Senang

2-1-1 Ad-Dalk (Menggosok-gosok Badan) – Bidayat-ul-Mujtahid

كِتَابُ الْغُسْلِ KITAB MANDI BESAR   Landasannya pokok masalah ini adalah firman Allah s.w.t.: “Dan jika kamu junub maka mandilah.” (Qs. al-Mā’idah [5]: 6). Pembahasan segala pokok utamanya, dilengkapi dengan pembahasan hukum, orang yang wajib mandi dan tentang air mutlak terangkum dalam tiga bab: Adapun mandi besar ini diwajibkan kepada setiap orang yang telah terbebani wajib shalat, dan ini tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal…

1-5-4,5 Thawaf & Membaca al-Qur’an – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Thawaf. 1. Imām Mālik dan Syāfi‘ī mensyaratkan wudhu’ dalam thawaf. 2. Sementara Imām Abū Ḥanīfah tidak mensyaratkannya. Sebab perbedaan pendapat adalah kategori hukum thawaf apakah serupa dengan shalat atau tidak? Sebab, telah tetap dari Nabi s.a.w.: “Bahwa beliau s.a.w. melarang perempuan haidh melakukan thawaf seperti shalat.” (86). Artinya thawaf menyerupai shalat dari sisi ini, dan dalam sebagian atsar thawaf dinamakan shalat. Adapun hujjah Abū Ḥanīfah adalah tidak setiap…

1-5-3 Tidur, Makan & Bersetubuhnya Orang Yang Junub – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah ketiga: Tidur, Makan dan Bersetubuhnya Orang yang Junub.   Para ulama berbeda pendapat tentang wajibnya wudhu’ bagi orang yang junub dalam beberapa keadaan: Pertama, jika hendak tidur sementara dia dalam keadaan junub: 1. Jumhur ulama berpendapat bahwa berwudhu’ adalah sesuatu yang dianjurkan jika itu bukannya wajib. 2. Sementara ahlu zhahir mewajibkannya karena adanya hadits yang tsabit dari Nabi s.a.w., yaitu hadits ‘Umar: أَنَّهُ تُصِيْبُهُ الْجَنَابَةُ مِنَ اللَّيْلِ، فَقَالَ لَهُ

1-5-1,2 Shalat & Menyentuh Mushhaf – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab V Beberapa Amalan yang Disyaratkan Berwudhu’   Masalah pertama: Shalat.   Dasar masalah ini adalah firman Allah s.w.t.: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat.” (Qs. al-Mā’idah [5]: 6). Dan sabdanya s.a.w.: لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُوْرٍ وَ لَا صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ. “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari hasil pengkhianatan.” (771). Kaum muslimin bersepakat bahwa…

3-17 Adzan – Fiqih Lima Madzhab

BAB 17 ADZĀN   Adzān secara lughawī (etimologi): Menginformasikan semata-mata. Sedangkan secara ishthilah (istilah – terminologi) adalah: Menginformasikan (memberitahukan) tentang waktu-waktu shalat dengan kata-kata tertentu. Adzān ini telah diperintahkan (dilakukan) sejak pada tahun pertama dari Hijrah Nabi ke Madīnah. Sedangkan diperintahkan (disyariatkan) menurut Syī‘ah adalah bahwa Malaikat Jibrīl yang membawa turun dari Allah kepada Rasūlullāh yang Mulia. Sedangkan menurut Sunni adalah ‘Abdullāh bin Zaid bermimpi ada orang yang mengajarinya, kemudian…

1-4-5,6,7 Masalah Kelima, Keenam & Ketujuh – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kelima: Memakan Sesuatu yang Dipanaskan Api (Dipanggang). Para ulama di kurun pertama berbeda pendapat tentang batalnya wudhu’ karena memakan sesuatu yang dipanaskan oleh api. Hal itu karena adanya perbedaan atsar tentang hal itu dari Rasūlullāh, akan tetapi jumhur ulama setelah kurun pertama di berbagai negeri telah menjatuhkan kewajiban tersebut, menurut mereka telah shahih diriwayatkan bahwa hal itu dilakukan oleh khalifah yang empat, demikian pula berdasarkan hadits Jābir, dia berkata:…

1-4-4 Menyentuh Kemaluan – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Menyentuh Kemaluan.   Para ulama berbeda pendapat dalam hukum menyentuh kemaluan: 1. Sebagian ada yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan dengan cara apa pun dapat membatalkan wudhu’, ini adalah pendapat Imām Syāfi‘ī dan para pengikutnya, Imām Aḥmad, juga Dāūd. 2. Ada pula yang berpendapat tidak membatalkan wudhu’, ini adalah pendapat Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya. 3. Sebagian ulama membedakan tergantung kepada sentuhan itu sendiri, lalu mereka berbeda pendapat lagi…

1-4-3 Menyentuh Perempuan – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah ketiga: Menyentuh Perempuan.   Para ulama berbeda pendapat tentang batalnya wudhu’ karena menyentuh perempuan dengan tangan atau anggota badan lainnya. 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa menyentuh perempuan secara langsung tanpa ada penghalang dapat membatalkan wudhu’, demikian pula menciumnya, karena mencium adalah menyentuh, baik persentuhan itu bersyahwat atau tidak, inilah pendapat yang dipegang oleh Imām Syāfi‘ī dan pengikutnya, hanya saja terkadang dia membedakan antara yang menyentuh dan yang disentuh, dia…

1-4-2 Tidur – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Tidur.   Para ulama berbeda pendapat mengenai tidur menjadi tiga pendapat: 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidur adalah hadats, sedikit atau banyak membatalkan wudhu’. 2. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidur bukanlah hadats sehingga tidak membatalkan wudhu’ kecuali jika yakin bahwa wudhu’nya batal (dengan sebab lain) menurut pendapat yang tidak menjadikan keraguan sebagai alasan maka batal, bahkan sebagian ulama salaf memerintahkan yang lainnya agar memperhatikan keadaannya saat tidur (apakah…
Lewat ke baris perkakas