Hati Senang

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِأَدَاءِ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ، وَ اكْتِسَابِ أَكْمَلِ السَّعَادَاتِ،

Segala puji bagi Allah, Dzat yang memberi taufiq kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya untuk menunaikan berbagai ketaatan yang paling utama, dan berusaha meraih berbagai kebahagiaan yang paling sempurna.

وَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْمُتَّصِفُ بِجَمِيْعِ الْكَمَالَاتِ،

Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah, yang bersifat dengan segala kesempurnaan.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رُسُوْلُهُ أَفْضَلُ الْمَخْلُوْقَاتِ

Dan aku bersaksi sesungguhnya Baginda kita, Nabi Muḥammad s.a.w. adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, adalah beliau seutama-utama makhluk.

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْأَنْجُمِ النِّيْرَاتِ،

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau, dan kepada para keluarga beliau, dan para sahabat beliau, sang bintang gemintang yang bersinaran.

صَلَاةً وَ سَلَامًا دَائِمَيْنِ مَا دَامَتِ الْأَرْضُ وَ السَّموَاتِ.

Dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang senantiasa tercurah selama bumi dan tujuh lapis langit [masih] tetap ada.

(أما بعد) فَيَقُوْلُ الْعَبْدُ الْفَقِيْرُ الْمُضْطِرُّ لِرَحْمَةِ رَبِّهِ الْحَلِيْمِ الْخَبِيْرِ، لِكَثْرَةِ التَّقْصِيْرِ وَ الْمَسَاوِيْ،

(Adapun setelah itu), maka berkata seorang hamba yang fakir, lagi sangat butuh kepada rahmat Tuhannya, Yang Maha Welas Asih lagi Maha Mengawasi, karena banyak [melakukan] kecerobohan dan berbagai dosa.

أَبُوْ عَبْدِ الْمُعْطِي مُحَمَّدٌ نَوَوِي بْنُ عُمَرَ الْجَاوِيُّ،

yaitu Syaikh Abū ‘Abd-il-Mu‘thī Muḥammad Nawawī bin ‘Umar berkebangsaan Jawa.

 

الشَّافِعِيُّ مَذْهَبًا اَلْبَنْتَنِيُّ إِقْلِيْمًا التَّنَارِيُّ مَنْشَأً وَ دَارًا

Imam Syāfi‘ī sebagai [anutan] madzhab-nya, Banten sebagai wilayah tinggalnya, Tanara sebagai tempat tumbuh kembang hidupnya dan rumahnya.

غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَهُ، وَ سَتَرَ فِي الدَّارَيْنِ عُيُوْبَهُ

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, dan menutupi aib-aib beliau di dua negeri [dunia dan akhirat].

(هذِهِ) تَقْيِيْدَاتٌ نَافِعَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْمُخْتَصَرِ الْمُلَقَّبِ بِسَفِيْنَةِ النَّجَا فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَ الْفِقْهِ لِلشَّيْخِ الْعَالِمِ الْفَاضِلِ سَالِمٍ بْنِ سُمَيْرٍ الْحَضْرَمِيِّ، إِقْلِيْمًا وَ الْبَتَاوِيِّ وَفَاةً نَوَّرَ اللهُ ضَرِيْحَهُ

[Beliau berkata]: “Kitab ini merupakan catatan-catatan pelengkap yang bermanfaat, in syā’ Allāh, atas kitab ringkas, yang berjudul Safīnat-un-Najā [perahu keselamatan], yang berisi ilmu Ushūluddīn [pokok-pokok agama, tauhid] dan ilmu Fiqh, karya Syaikh al-‘Ᾱlim al-Fādhil Sālim bin Sumair al-Hadhramī, Hadramaut [Yaman selatan], wilayah asalnya, dan Betawi [Jakarta] tempat wafatnya. Semoga Allah menerangi kuburan beliau.

تُتَمِّمُ مَسَائِلَهُ وَ تَفُكُّ مُشْكِلَهُ وَ تُفَصِّلُ مُجْمَلَهُ

[Kitab syarah ini] menyempurnakan beberapa masalah kitab ringkas tersebut, dan memecahkan persoalan yang belum jelas dalam kitab tersebut, dan mendetilkan hal yang masih umum dalam kitab tersebut.

وَضَعْتُهَا لِتَكُوْنَ تَذْكِرَةً لِنَفْسِيْ، وَ لِلْقَاصِرِيْنَ مِثْلِيْ مِنْ أَبْنَاءِ جِنْسِيْ،

Aku [Syaikh Nawawī al-Bantanī] menyusun kitab ini agar kitab syarah ini menjadi sebagai pengingat bagi diriku, dan bagi orang-orang yang ceroboh sepertiku, dari anak-anak sejenisku [manusia].

وَ سَمَّيْتُهَا: (كَاشِفَةُ السَّجَا فِيْ شَرْحِ سَفِيْنَةُ النَّجَا)

Aku menamai kita syarah ini dengan Kāsyifat-us-Sajā fī Syarḥi Safīnat-un-Najā (Tirai penutup yang tersingkap dalam mensyarahi kitab Safīnat-un-Najā [Perahu Keselamatan])

وَ أَوْضَحْتُهُ بِالتَّرَاجِمِ بِالْفَصْلِ وَ غَيْرِهِ اقْتِدَاءً بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى فِيْ كَوْنِهِ مُتَرَجَّمًا مُفَصَّلًا سُوْرَةً سُوْرَةً

Dan aku memperjelas kitab syarah ini dengan berbagai penjelasan dengan dipisah-pisahkan pemisahan [fasal] dan selainnya, karena mengikuti kitābullāh ta‘ālā dalam keberadaannya sebagai sesuatu yang ditafsirkan dan terpisah-pisahkan, surah demi surah.

وَ لِأَنَّهُ أَبْعَثُ عَلَى الدَّرْسِ وَ التَّحْصِيْلِ مِنْهُ وَ أَقْحَمْتُ فِيْهِ فَصْلَ الصِّيَامِ، إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لِيَزِيْدَ النَّفْعَ عَلَى الْعَوَامِّ، بِعَوْنِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ،

Dan karena sesungguhnya hal itu dapat lebih mendorong untuk mempelajari dan memperoleh [ilmu] dari kitab syarah ini. Dan aku berupaya maksimal mengupas di kitab ini akan fasal puasa. In syā’ Allāh ta‘ālā agar dapat menambah kemanfaatan bagi orang-orang awam, dengan pertolongan Allah, Sang Merajai yang Maha Mengetahui.

وَ جَعَلْتُهُ كَهَيْئَةِ الْمَتَنِ مَعَ الشَّرْحِ فِي الْمَشَابَكَةِ لِتَوَافِقِ صُوْرَةُ الْفَرْعِ صُوْرَةَ الْأَصْلِ فَإِنَّ شَرْطَ الْمُرَافَقَةِ الْمُوَافَقَةُ

Dan aku membentuk kitab ini sama seperti bentuk matan [teks aslinya] disertai dengan penjelasan dalam hal saling berjalinan [satu sama lain], agar tersesuaikan bentuk turunan [syarah] dengan bentuk asalnya [matan], karena sesungguhnya syarat pertemanan adalah saling kecocokan.

نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى أَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى إِكْمَالِهَا وَ يُيَسِّرَ الْأَسْبَابَ فِي افْتِتَاحِهَا وَ اخْتِتَامِهَا،

Kami mohon kepada Allah s.w.t., agar Dia berkenan menolong kami untuk menyempurnakan kitab ini dan memudahkan berbagai sebab dalam memulai [penulisan] kitab syarah ini dan mengakhirinya.

وَ مَا حَمَلَنِيْ عَلَى جَمْعِهَا إِلَّا رَجَاءُ دَعْوَةِ رَجُلٍ صَالِحٍ يَنْتَفِعُ مِنْهَا بِمَسْأَلَةٍ فَيَعُوْدَ نَفْعُهَا عَلَيَّ فِيْ قَبْرِيْ

Dan tidak ada yang membawaku untuk menghimpun kitab ini, kecuali mengharapkan doa orang shaleh yang meraih manfaat dari kitab syarah ini terhadap suatu masalah, sehingga akan kembali kemanfaatannya itu kepada diriku di dalam kuburanku,

لِحَدِيْثِ: “إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ”

Berdasarkan hadits (KS-011): “Apabila anak Adam telah wafat, maka terputus amalnya, kecuali tiga hal, yaitu (1). shadaqah jāriyah [sedekah yang terus mengalirkan pahala], atau (2). ilmu yang bermanfaat, atau (3). anak shalih yang senantiasa berdoa untuknya.

وَ أَنَا وَ إِنْ كُنْتُ لَسْتُ أَهْلًا لِهذَا الشَّأْنِ وَ الْحَالُ قَصَدْتُ التَّشَبَّهَ بِالرِّجَالِ لِأَفُوْزَ بِصُحْبَتِيْ إِيَّاهُمْ

Dan aku, meskipun diriku bukanlah orang yang layak untuk hal positif dan perilaku baik ini, namun aku bermaksud menyerupakan diri dengan orang-orang pilihan tersebut, agar aku dapat beruntung dengan sebab persahabatanku dengan mereka.

لِمَا وَرَدَ فِي الْخَبَرِ: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ،

Berdasarkan keterangan yang teriwayatkan dalam suatu hadits (KS-022): “Siapa saja yang menyerupakan diri dengan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

وَ أَرَدْتُ الْغَوْصَ فِيْ مَحَبَّتِهِمْ لِأَحْشُرَ مَعَهُمْ لِحَدِيْثِ الْبُخَارِيِّ: “يُحْشَرُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ”

Dan aku ingin bertotalitas (menyelam) dalam mencintai mereka, agar aku dikumpulkan bersama mereka [pada hari kiamat], berdasarkan hadits Imam Bukhārī (KS-033): “Seseorang akan dihimpun bersama orang yang dicintainya.

وَ يَنْبَغِيْ لِمَنْ وَقَّفَ عَلَى هَفْوَةٍ أَنْ يُصْلِحَهَا بَعْدَ التَّأَمُّلِ

Dan seyogyanya bagi siapa saja yang telah mengetahui atas suatu kekeliruan [pada kitab syarah ini], hendaknya ia memperbaikinya setelah melakukan perenungan.

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُبْدِلَ حَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ الْأَحْوَالِ

Kami memohon kepda Allah ta‘ālā, agar Dia berkenan menukar perilaku kami kepada perilaku-perilaku yang terbaik,

وَ أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ تَسْعَى إِلَيْهِ النَّاسُ لِأَخْذِ الْعِلْمِ لَا لِحُظُوْظِ الدُّنْيَا الْفَانِيَةِ

Dan semoga Dia berkenan menjadikan kami termasuk orang, yang manusia berjalan menuju diri-Nya untuk mengambil ilmu, bukan untuk mengambil bagian-bagian duniawi yang fana,

وَ أَنْ يُمَتِّعَنَا بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ فِي الدَّارِ الْبَاقِيَةِ.

Dan semoga Dia berkenan memberi kenikmatan kepada kami, dengan dapat melihat kepada Dzat-Nya Yang Mulia, di negeri nan abadi.

Bagikan:

(فَصْلٌ): فِيْ بَيَانِ دَعَائِمِ الْإِسْلَامِ وَ أَسَاسِهَا وَ أَجْزَائِهَا

(FASAL)

Tentang penjelasan tiang-tiang penyangga agama Islam, asas-asasnya dan bagian-bagiannya.

 

RUKUN ISLAM YANG PERTAMA DAN KEDUA

 

(أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ خَمْسَةٌ) فَلَا يَنْبَغِيْ بِغَيْرِهَا فَإِضَافَةُ الْأَرْكَانِ مِنْ إِضَافَةِ الْأَجْزَاءِ إِلَى الْكُلِّ

(Rukun-rukun Islam itu ada lima), maka Islam tidak dapat terbangun dengan selainnya. Adapun idhāfah lafazh al-Arkān tergolong idhāfah al-Ajzāi ilal-Kulli [penyandaran bagian-bagian dari sesuatu kepada keseluruhannya].

أَيِ الدَّعَائِمُ وَ الْأَسَاسُ وَ الْأَجْزَاءُ الَّتِيْ يُتَرَكَّبُ الْإِسْلَامُ مِنْهَا خَمْسَةٌ فَلَا يَكُوْنَ مِنْ غَيْرِهَا،

Maksudnya adalah tiang-tiang penyangga, asas-asas dan bagian-bagian yang agama Islam disusun darinya itu ada lima, maka tidak ada dari selainnya.

قَالَ الْبَاجُوْرِيْ: الْإِسْلَامُ لُغَةً مُطْلَقُ الْاِنْقِيَادِ أَيْ سَوَاءٌ كَانَ لِلْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْ لِغَيْرِهَا، وَ شَرْعًا: الْاِنْقِيَادُ لِلْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ،

Telah berkata Syaikh al-Bājūrī: “Islam menurut bahasa adalah kepatuhan secara mutlak, yakni sama saja kepatuhan itu kepada hukum-hukum syarī‘at atau kepada selainnya. Dan menurut syarī‘at adalah kepatuhan kepada hukum-hukum syarī‘at.

وَ قِيْلَ الْإِسْلَامُ هُوَ الْعَمَلُ. اِنْتَهَى.

Dan dikatakan [oleh satu pendapat]: “Islam adalah amal [beribadah].” Selesai al-Bājūrī.

أَوَّلُهَا (شَهَادَةُ) أَيْ تَيَقُّنُ (أَنْ لَا إِلهَ) أَيْ لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ مَوْجُوْدٌ (إِلَّا اللهُ)

Rukun yang pertama adalah (bersaksi) yakni meyakini (bahwa tidak ada tuhan) yakni tidaklah zat yang disembah dengan haq itu wujud (kecuali Allah).

وَ هُوَ مُتَّصِفٌ بِكُلِّ كَمَالٍ لَا نِهَايَةَ لَهُ وَ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا هُوَ

Dan Allah adalah Zat yang bersifatkan dengan segala kesempurnaan yang tidak ada batas akhir bagi-Nya, dan tidak ada yang mengetahui hal itu, kecuali hanya Dia.

وَ مُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ وَ مُنْفَرِدٌ بِالْمِلْكِ وَ التَّدْبِيْرِ، وَاحِدٌ فِيْ ذَاتِهِ وَ صِفَاتِهِ وَ أَفْعَالِهِ.

Dan Zat yang tersucikan dari segala kekurangan, dan Zat yang bersendirian dalam penguasaan dan pengetahuan. Zat Yang Maha Esa dalam Zat-Nya, sifat-sifatNya dan berbagai perbuatan-Nya.

(وَ أَنَّ مُحَمَّدًا)بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ (رَسُوْلُ اللهِ)

(Dan bahwa Nabi Muḥammad) bin ‘Abdillāh bin ‘Abd-il-Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manāf (adalah utusan Allah).

وَ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيْ بَعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ عَلَى قَوْلَيْنِ،

Kalangan ulama berbeda pendapat mengenai pengutusan Nabi s.a.w. kepada para malaikat, atas dua pendapat,

وَ جَزَمَ الْحَلِيْمِيُّ وَ الْبَيْهَقِيُّ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مَبْعُوْثًا إِلَيْهِمْ،

1). Imām al-Ḥalīmī dan Imām al-Baihaqī mengukuhkan pendapat bahwasanya Nabi s.a.w. tidak diutus kepada para malaikat.

وَ رَجَّحَ السُّيُوْطِيُّ وَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِيُّ أَنَّهُ كَانَ مَبْعُوْثًا إِلَيْهِمْ،

2). Dan Imām as-Suyūthī dan Syaikh Taqiyyuddīn as-Subkī memastikan unggul pendapat bahwasanya Nabi s.a.w. diutus kepada para malaikat.

وَ زَادَ السُّبْكِيُّ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مُرْسِلٌ إِلَى جَمِيْعِ الْأَنْبِيَاءِ وَ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ

Dan Syaikh as-Subkī menambahkan: “Sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w. diutus kepada seluruh para nabi dan umat-umat terdahulu.”

وَ أَنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: بُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً شَامِلٌ لَهُمْ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ

Dan sesungguhnya sabda Nabi s.a.w. (KS-221): “Aku diutus kepada manusia seluruhnya”, hal itu mencakup kepada para manusia, mulai dari Nabi Ᾱdam sampai direalisasikan hari kiamat.

وَ رَجَّحَهُ الْبَارِزِيُّ وَ زَادَ أَنَّهُ مُرْسَلٌ إِلَى جَمِيْعِ الْحَيَوَانَاتِ وَ الْجَمَادَاتِ مِنْ رَمَلٍ وَ حَجَرٍ وَ مَدَرٍ،

Dan Syaikh al-Bārizī memastikan unggul pendapat itu, dan beliau menambahkan: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. diutus kepada seluruh hewan-hewan dan benda-benda mati, yaitu kerikil, bebatuan dan lumpur.”

وَ زِيْدَ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ مُرْسَلٌ إِلَى نَفْسِهِ، ذَكَرَ ذلِكَ فِيْ تَزْيِيْنِ الْأَرَائِكِ،

Dan ditambahkan atas pendapat itu, bahwasanya Nabi s.a.w. diutus kepada diri beliau sendiri. Dituturkan hal itu di dalam kitab Tazyīn-ul-Arā’ik.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: وَ أُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً.

Nabi s.a.w. bersabda (KS-232): “Dan aku diutus kepada makhluk seluruhnya.

[فَائِدَةٌ] قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ: وَ قَدْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّ مِنْ تَمَامِ الْإِيْمَانِ أَنْ يَعْتَقِدَ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ لَمْ يَجْتَمِعْ فِيْ أَحَدٍ مِنَ الْمَحَاسِنِ الظَّاهِرَةِ وَ الْبَاطِنَةِ مِثْلُ مَا اجْتَمَعَ فِيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

(FAIDAH). Berkata Syaikh al-Bājūrī: “Dan sungguh sebagian ulama telah menuturkan bahwa termasuk kesempurnaan iman adalah seorang manusia harus meyakini bahwasanya tidaklah akan terhimpun di diri seorang pun, dari berbagai kebagusan-kebagusan lahiriyah dan bathiniyah sesuatu yang menyamai dengan apa yang terhimpun di diri Nabi s.a.w.”

 

(وَ) ثَانِيْهَا (إِقَامُ الصَّلَاةِ)

(Dan) rukun yang kedua adalah (mendirikan shalat).

وَ هِيَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ الظَّاهِرَةِ وَ بَعْدَهَا الصَّوْمُ ثُمَّ الْحَجُّ ثُمَّ الزَّكَاةُ

Dan shalat adalah seutama-utamanya ibadah-ibadah fisik lahiriyah, dan setelah shalat adalah puasa, kemudian haji, kemudian zakat.

فَفَرْضُهَا أَفْضَلُ الْفَرَائِضِ وَ نَفْلُهَا أَفْضَلُ النَّوَافِلِ

Maka shalat fardhu adalah seutama-utamanya ibadah-ibadah fardhu, dan shalat sunnah adalah seutama-utamanya ibadah-ibadah sunnah.

وَ لَا يُعَذَّرُ أَحَدٌ فِيْ تَرْكِهَا مَا دَامَ عَاقِلًا.

Dan tidak diberikan dispensasi seorang pun dalam hal meninggalkan shalat, selama ia masih berfungsi akalnya.

وَ أَمَّا الْعِبَادَاتُ الْبَدَنِيَّةُ الْقَلْبِيَّةُ كَالْإِيْمَانِ وَ الْمَعْرِفَةِ وَ التَّفَكُّرِ وَ التَّوَكُّلِ وَ الصَّبْرُ وَ الرَّجَاءُ وَ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَ الْقَدَرِ وَ مَحَبَّةِ اللهِ تَعَالَى وَ التَّوْبَةِ وَ التَّطَهُّرِ مِنَ الرَّذَائِلِ كَالطَّمْعِ وَ نَحْوِهِ

Adapun ibadah-ibadah fisik bathiniyah, seperti beriman, mengenal Allah, berfikir, tawakkal, sabar, ridha dengan qadha’ dan qadar, mencintai Allah ta‘ālā, taubat, mensucikan diri dari berbagai sifat hina, seperti sifat thama‘ dan semacamnya.

فَهِيَ أَفْضَلُ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ الظَّاهِرَةِ حَتَّى مِنَ الصَّلَاةِ

maka semua hal itu merupakan ibadah paling utama dibandingkan berbagai ibadah fisik lahiriyah, sekalipun dibandingkan dengan shalat.

فَقَدْ وَرَدَ: تَفَكُّرُ سَاعَةٍ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةً

Karena sungguh telah datang [hadits] (KS-243): “Berfikir sesaat itu lebih utama dibandingkan ibadah selama 60 tahun.”

وَ أَفْضَلُ الْجَمِيْعِ الْإِيْمَانُ

Namun yang paling utama dari keseluruhan itu adalah berkeimanan.

 

[فَائِدَةٌ] قَالَ جُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ: إِنَّ التَّفَكُّرَ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجَهٍ: إِمَّا فِيْ آيَاتِ اللهِ وَ يَلْزَمُهُ التَّوَجُّهُ إِلَيْهِ وَ الْيَقِيْنُ بِهِ،

(FAIDAH). Mayoritas ulama berkata: “Sesungguhnya berfikir terdiri atas 5 bentuk. Adakalanya [berfikir] mengenai tanda-tanda [keagungan] Allah, dan hal itu meniscayakan terhadap memusatkan hati hanya kepada Allah dan meyakini kepada kuasa-Nya, dan yakin dengan-Nya.

أَوْ فِيْ نِعْمَةِ اللهِ وَ يَتَوَلَّدُ عَنْهُ الْمَحَبَّةُ،

Atau [berfikir] mengenai nikmat Allah, dan akan lahir darinya, rasa cinta [kepada Allah].

أَوْ فِيْ وَعْدِ اللهِ وَ يَتَوَلَّدُ عَنْهُ الرَّغْبَةُ،

Atau [berfikir] mengenai janji Allah, dan akan lahir darinya, rasa suka [ber-ibadah kepada-Nya].

أَوْ فِيْ وَعِيْدِ اللهِ وَ يَتَوَلَّدُ عَنْهُ الرَّهْبَةُ،

Atau [berfikir] mengenai ancaman Allah, dan akan lahir darinya, rasa gentar [terhadap ancaman Allah].

أَوْ فِيْ تَقْصِيْرِ النَّفْسِ عَنِ الطَّاعَةِ وَ يَتَوَلَّدُ عَنْهُ الْحَيَاءُ بِالْفَتْحِ وَ الْمَدِّ وَ هُوَ الْاِنْقِبَاضُ وَ الْاِنْزِوَاءُ.

Atau [berfikir] tentang kecerobohan diri sendiri [jauh] dari ketaatan, dan akan lahir darinya, rasa malu. Kalimat al-Ḥayā’u dengan dibaca fatḥah huruf yā’-nya dan dibaca panjang, al-Ḥayā adalah rasa tertekan dan rasa terpojokkan”

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَطَاءِ اللهِ: مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَ تَرْكِ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلَّاتِ.

Syaikh Aḥmad bin ‘Athā’illāh berkata: “Di antara tanda-tanda matinya hati adalah tidak merasa sedih atas perkara yang terluput darimu, yaitu berbagai ketaatan, dan meninggalkan penyesalan atas perkara yang telah engkau kerjakan, yaitu terwujudkan berbagai kesalahan. (KS-254).”

وَ قَالَ أَيْضًا: الْحُزْنُ عَلَى فُقْدَانِ الطَّاعَاتِ فِي الْحَالِ مَعَ عَدَمِ النُّهُوْضِ أَيِ الْاِرْتِفَاعِ إِلَيْهَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ عَلَامَاتِ الْاِغْتِرَارِ.

Dan beliau pun berkata: “Bersedih atas ketiadaan berbagai ketaatan di saat itu juga, disertai dengan ketiadaan membangkitkan diri, yakni bersemangat tinngi, untuk [melakukan] berbagai ketaatan itu, di masa yang akan datang, adalah termasuk di antara tanda-tanda terperdaya [oleh syetan].” (KS-265).

[فَائِدَةٌ] قَالَ بَعْضُهُمْ: مَحَبَّةُ اللهِ عَلَى عَشَرَةِ مَعَانٍ مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ.

(FAIDAH) Sebagian ulama berkata: “Mencintai Allah terdiri atas 10 makna, dari sisi [pribadi] seorang hamba.

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَحْمُوْدٌ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ وَ بِكُلِّ صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ.

Makna yang pertama adalah seorang hamba harus meyakini bahwa Allah ta‘ālā adalah Dzat terpuji dari setiap sisi [bentuk keterpujian], dan di setiap sifat dari berbagai sifat-Nya.

ثَانِيْهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّهُ مُحْسِنٌ إِلَى عِبَادِهِ مُنْعِمٌ مُتَفَضِّلٌ عَلَيْهِمْ.

Makna yang kedua adalah seorang hamba terus meyakini bahwa Allah adalah Dzat pemberi kebaikan kepada para hamba-Nya, pemberi karunia, lagi pemberi keutamaan kepada mereka.

ثَالِثُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ الْإِحْسَانَ مِنْهُ إِلَى الْعَبْدِ أَكْبَرُ وَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يُقَابَلَ بِقَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ مِنْهُ وَ إِنْ حَسُنَ وَ كَثُرَ.

Makna yang ketiga adalah seorang hamba harus meyakini bahwa kebaikan dari Allah kepada seorang hamba itu lebih besar dan lebih agung, daripada balasan sepadan si hamba, dengan ucapan atau perbuatan dari dirinya, meskipun bagus dan banyak.

رَابِعُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ قِلَّةَ قَضَايَاهُ عَلَيْهِ وَ قِلَّةَ تَكَالِيْفِهِ.

Makna yang keempat adalah seorang hamba harus meyakini perihal sedikitnya berbagai ketentuan hukum Allah atas dirinya dan sedikitnya pembebanan kewajiban dari-Nya.

خَامِسُهَا: أَنْ يَكُوْنَ فِيْ عَامَّةِ أَوْقَاتِهِ خَائِفًا وَجَلًا مِنْ إِعْرَاضِهِ تَعَالَى عَنْهُ وَ سَلَبَ مَا أَكْرَمَهُ بِهِ مِنْ مَعْرِفَةِ وَ تَوْحِيْدِ وَ غَيْرِهِمَا.

Makna yang kelima adalah seorang hamba ada disepenuh waktu-waktunya dalam khawatir dan takut, dari berpalingnya Allah ta‘ālā dari dirinya, dan tercabut sesuatu yang telah Allah memuliakan dirinya dengan sesuatu itu, berupa ma‘rifat, dan tauhid, dan selainnya.

سَادِسُهَا: أَنْ يَرَى أَنَّهُ فِيْ جَمِيْعِ أَحْوَالِهِ وَ آمَالِهِ مُفْتَقِرًا إِلَيْهِ لَا غِنَى لَهُ عَنْهُ.

Makna yang keenam adalah seorang hamba melihat bahwasanya dirinya di semua keadaan dirinya dan harapan-harapannya adalah butuh kepada Allah, tidak merasa kaya [tidak butuh] baginya terhadap Allah.

سَابِعُهَا: أَنْ يُدِيْمَ ذِكْرَهُ بِأَحْسَنِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنْهُ.

Makna yang ketujuh adalah seorang hamba harus berkesenantiasaan untuk mengingat Allah dengan sesuatu yang terbaik yang Allah sudah menakdirkan kepadanya akan hal itu.

ثَامِنُهَا: أَنْ يَحْرِصَ عَلَى إِقَامَةِ فَرَائِضِهِ وَ أَنْ يَتَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِنَوَافِلِهِ بِقَدْرِ طَاقَتِهِ.

Makna yang kedelapan adalah seorang hamba harus berambisi untuk melaksanakan berbagai kefardhuan Allah, dan ia melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan berbagai ibadah sunnah, sesuai kadar kemampuannya.

تَاسِعُهَا: أَنْ يَسُرَّ أَيْ يَفْرَحَ بِمَا سَمِعَ مِنْ غَيْرِهِ مِنْ ثَنَاءٍ عَلَيْهِ أَوْ تَقَرُّبٍ إِلَيْهِ وَ جِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ سِرًّا وَ عَلَانِيَّةً نَفْسًا وَ مَالًا وَ وَلَدًا.

Makna yang kesembilan adalah ia merasa senang, yakni ia merasa gembira dengan sesuatu yang ia dengar mengenai apa yang terjadi pada orang lain, berupa pujian kepada Allah, atau berupa pendekatan diri kepada Allah, dan berjihad di jalan Allah, secara diam-diam dan terang-terangan, dengan jiwa, harta dan anaknya.

عَاشِرُهَا: إِنْ سَمِعَ مِنْ أَحَدٍ ذِكْرَ اللهِ أَعَانَهُ.

Makna yang kesepuluh adalah jika ia mendengar dari seseorang perihal upaya dzikir kepada Allah, maka ia akan membantu orang itu.”

 

[تَنْبِيْهٌ] الصَّلَاةُ وَ الزَّكَاةُ وَ الْحَيَاةُ إِذَا لَمْ تُضَفْ تُكْتَبُ بِالْوَاوِ عَلَى الْأَشْهَرِ اتِّبَاعًا لِلْمَدُصْحَفِ

(PERINGATAN) Lafazh ash-Shalātu, az-Zakātu, dan al-Ḥayātu apabila tidak di-idhāfah-kan, maka ditulis dengan huruf wāwu, menurut pendapat yang paling masyhur, karena mengikuti terhadap mushḥaf [al-Qur’ān].

وَ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكْتُبُهَا بِالْأَلِفِ،

Namun di antara para ulama ada seorang ulama yang menuliskannya dengan huruf alif [bukan wāwu].

أَمَّا إِذَا أُضِيْفَتْ فَلَا يَجُوْزُ كِتَابَتُهَا إِلَّا بِالْأَلِفِ سَوَاءٌ أُضِيْفَتْ إِلَى ظَاهِرٍ أَوْ مُضْمَرٍ كَمَا قَالَهُ ابْنُ الْمَلْقَنِ.

Adapun apabila di-idhāfah-kan, maka tidak diperbolehkan menuliskannya kecuali dengan huruf alif.

Sama saja di-idhāfah-kan kepada isim zhāhir atau isim dhamīr, sebagaimana Syaikh Ibn-ul-Malqan mengatakannya.

Catatan:


  1. KS-22: Terdapat di Shaḥīḥ Bukhārī, hadits ke 419 (Kitab as-Shalāt, Bab Qaul-in-Nabiyy s.a.w. Ju‘ilat lī al-Ardhu Masjidan wa Thahūran) dari Jābir bin ‘Abdullāh. Terdapat di Sunan Nasā’ī hadits ke 429 (Kitab a-Ghusli wat-Tayammum, Bab At-Tayammumi bish-Sha‘īd), dari Jābir bin ‘Abdullāh. Terdapat di dalam Musnad Aḥmad, hadits ke 2606, dari Ibnu ‘Abbās. Terdapat di Sunan Dārimī hadits ke 1337 (Kitab ash-Shalāt, Bab Al-Ardhu kulluhu Thāhiratun ma Khal-al-Maqbarata wal-Ḥammām), dari Jābir bin ‘Abdullāh. Terdapat di dalam kitab Al-Jāmi‘-ush-Shaghīr, juz I, huruf bā’, halaman 126, baris ke 4-5, HR. Ibnu Sa‘d [dari Khālid bin Sa‘dan], dan Juz II, huruf fā’, halaman 76, baris ke 16-17, HR. Thabrānī [dari as-Saib bin Yazīd]. 
  2. KS-23: Terdapat di dalam Shaḥīḥ Muslim hadits ke 812 (Kitab al-Masājidi wa mawādhi‘-ish-Shalāt) dari Abū Hurairah. Terdapat di dalam Sunan Tirmidzī hadits ke 1559 (Kitab as-Siyari ‘an Rasūlillāh, Bab Mā Jā’a Fil-Ghanīmah), dari Abū Hurairah. Terdapat di dalam Musnad Aḥmad, hadits ke 8969, dari Abū Hurairah. Terdapat di dalam kitab Al-Jāmi‘-ush-Shaghīr, juz II, huruf fā’, halaman 76, baris ke 15-16, HR. Muslim dan Tirmidzī [dari Abū Hurairah]. 
  3. KS-24: Di dalam Iḥyā’u ‘Ulūmiddīn, Juz IV, halaman hal. 409, baris ke 1 [dari bawah], HR. Ibnu Ḥibbān, dari Abū Hurairah: تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ Di dalam kitab Miftāḥu Dār-us-Sa‘ādah, Imām Ibnu Qayyim al-Jauziyyah [691-751 H], Juz I, halaman 180, disebutkan: عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةً. Di dalam kitab Al-Jāmi‘-ush-Shaghīr, juz II, huruf thā’, halaman 54, baris ke 17-18, HR. Dailamī [dari Ibnu ‘Abbās], disebutkan: طَلَبُ الْعِلْمِ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ وَ طَلَبُ الْعِلْمِ يَوْمًا خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَشْهُرِ. Dan huruf fā’, halaman 77, baris ke 6-7, HR. Abū Syaikh [dari Abū Hurairah], disebutkan: فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةً Terdapat di kitab Syaraḥ Nashā’iḥ-ul-‘Ibād, Syaikh Nawawī Bantanī, Terjemahan Pustaka Mampir, Bab al-Khumāsī, Maqālah ke-15, halaman 133. 
  4. KS-25: Di dalam kitab Syu‘ab-ul-Īmān, Imām Baihaqī [384-458 H.], Juz I, halaman 640, hadits ke 724, Dzun-Nūn berkata: مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ الْأُنْسُ مَعَ الْخَلْقِ وَ الْوَحْشَةُ فِي الْخَلْوَةِ مَعَ اللهِ وَ افْتِقَادُ حَلَاوَةِ الذِّكْرِ الْمَقْسُوْمِ. Terdapat di dalam Syaraḥ al-Ḥikam, Muḥammad bin Ibrāhīm Ibnu ‘Ibād/‘Abbād ar-Randī, Juz 1, halaman 42, baris ke 16-17. Terdapat di dalam Syaraḥ al-Ḥikam, Syaikh ‘Abdullāh asy-Syarqawī, Juz I, halaman 42, bari ke 1-3. 
  5. KS-26: Terdapat di dalam Syaraḥ al-Ḥikam, Muḥammad bin Ibrāhīm Ibnu ‘Ibād/‘Abbād ar-Randī, Juz 1, halaman 62-63. Terdapat di dalam Syaraḥ al-Ḥikam, Syaikh ‘Abdullāh asy-Syarqawī, Juz I, halaman 62-63. 

Bagikan:

MEMBAHAS TENTANG BERSUCI

(THAHARAH).

 

Imām Syāfi‘ī berkata: Allah s.w.t. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu…..” (al-Mā’idah [5]: 6).

Imām Syāfi‘ī berkata: Allah s.w.t. yang Maha Suci dan Maha Tinggi, Dialah yang mencitptakan air bagi makhluk-Nya, manusia tidak memiliki kemampuan sedikitpun dalam penciptaannya. Dia telah menyebutkan air secara umum, maka di dalamnya termasuk juga air hujan, air sungai, air sumur, air yang keluar dari celah-celah bukit, air laut, baik yang asin maupun yang tawar. Semua jenis air itu dapat dipergunakan untuk bersuci bagi yang hendak berwudhu’ atau mandi. Makna lahir dari ayat di atas mengisyaratkan bahwa semua jenis air adalah suci, baik air laut maupun air yang lain.

Imām Syāfi‘ī berkata: Telah diriwayatkan dari Abū Hurairah, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, kami pernah berlayar, sementara kami hanya memiliki sedikit persediaan air. Apabila kami berwudhu’ dengannya, kami akan kehausan, maka apakah kami boleh berwudhu’ dengan air laut?” Nabi s.a.w. menjawab:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ.

Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” (91)

Imām Syāfi‘ī berkata: Dari Abū Hurairah, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَطْهَرْهُ الْبَحْرُ فَلَا طَهَرَهُ اللهُ.

Barang siapa tidak dapat disucikan dengan air laut, maka Allah tidak menyucikannya.” (102).

Imām Syāfi‘ī berkata: Setiap air tetap suci selama belum dicampuri najis. Tidak ada yang membersihkan dan menyucikan kecuali air atau tanah, baik air embun, salju yang dicairkan, air yang dipanaskan atau tidak dipanaskan, karena air memiliki sifat untuk menyucikan dan api tidak dapat merubahnya menjadi najis. Saya tidak memandang makruh menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari untuk bersuci, hanya saja tidak baik dari sisi kesehatan, karena hal itu dapat menyebabkan penyakit belang (kusta).

Catatan:


  1. (9). HR. Nasā’ī dalam pembahasan tentang air, bab “Wudhu’ dengan Air Laut”, hal. 176, juz 1. 
  2. (10). HR. Ibnu Mājah, pembahasan tentang bersuci dan kesunnahannya, bab “Wudhu’ dengan Air Laut”, hadits 309. 

Bagikan:

كِتَابُ الطَّهَارَةِ

[KITAB BERSUCI]

 

Lafazh “KITĀB” diambil dari mashdar KATBI, artinya mengumpulkan. Orang ‘Arab mengatakan: “takattaba banū fulānin” jika orang-orang Banu Fulan sedang berkumpul-kumpul. Sama dengan kata-kata katibat-ur-ramali, itu artinya kumpulan pasir atau tumpukan pasir.

Lafaz THAHĀRAH, arti menurut lughat yaitu bersih. Jika kamu mengatakan thahharat-uts-tsauba, itu artinya: Aku membersihkan pakaian. Adapun menurut syara‘. Thahārah ialah usaha menghilangkan hadats atau najis atau apa saja yang sama dengan hadats atau najis, atau suatu pekerjaan yang sama dengan usaha-usaha menghilangkan hadats dan najis, seperti basuhan-basuhan yang ketiga atau kedua, mandi-mandi yang disunnatkan, memperbarui wudhu’, tayammum dan lain sebagainya. Termasuk segala pekerjaan yang tidak boleh menghilangkan hadats atau najis, tetapi mempunyai arti yang sama dengan usaha menghilangkan hadats dan najis.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(الْمَاءُ الَّتِيْ يَجُوْزُ بِهَا التَّطْهِيْرُ سَبْعُ مِيَاهٍ: مَاءُ السَّمَاءِ، وَ مَاءُ الْبَحْرِ، وَ مَاءُ النَّهْرِ، وَ مَاءُ الْبِئْرِ، وَ مَاءُ الْعَيْنِ، وَ مَاءُ الثَّلْجِ، وَ مَاءُ الْبَرَدِ)

[Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh macam: yaitu:

  1. Air hujan.
  2. Air laut,
  3. Air sungai.
  4. Air sumur.
  5. Air sumber (mata air).
  6. Air es (salju).
  7. Air barad (embun)].

Dalil yang membolehkannya bersuci dengan menggunakan air hujan ialah firman Allah s.w.t.:

…وَ يُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ…..

“…..dan Allah telah menurunkan kepadamu air (hujan) dari langit untuk menyucikan dirimu (dengan air itu).” (al-Anfāl [8]: 11).

Dan di sana masih ada banyak lagi ayat-ayat yang lain.

Dalil yang membolehkannya bersuci dengan menggunakan air laut, yaitu sabda Nabi Muḥammad s.a.w. ketika beliau dimintai keterangan mengenai air laut. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ.

Laut itu airnya mensucikan dan bangkainya halal dimakan.”

Hadits tersebut dianggap shaḥīḥ oleh Ibnu Ḥibbān, Ibn-us-Sakan, at-Tirmidzī dan Imām Bukhārī.

Dalil yang membolehkannya bersuci dengan menggunakan air sumur ialah Haditsnya Sahl r.a.:

قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّكَ تَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَ فِيْهَا مَا يُنْجِي النَّاسُ وَ الْحَائِضُ وَ الْجُنُبُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): الْمَاءُ طَهُوْرٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.

“Para Sahabat mengajukan pertanyaan kepada Rasūlullāh s.a.w. : Hai Rasūlullāh! Sungguh engkau telah berwudhu’ dengan air sumur Budhā‘ah, padahal di sumur itu airnya telah dipakai mencuci oleh orang banyak, ada perempuan-perempuan yang sedang haidh dan ada pula orang-orang yang junub? Rasūlullāh s.a.w. menjawab: Air itu suci dan mensucikan, tidak satu pun benda yang dapat menajiskan air itu.”

Hadits ini dianggap ḥasan oleh at-Tirmidzī dan dianggap shaḥīḥ oleh Imām Aḥmad dan lainnya.

Adapun air sungai dan air sumber, maka halnya sama dengan air sumur.

Dalil diperolehkannya bersuci menggunakan air es dan air barad ialah Haditsnya Abū Hurairah r.a. (nama aslinya ‘Abd-ur-Raḥmān bin Shahrin, menurut qaul yang ashaḥḥ). Abū Hurairah berkata: Adalah Rasūlullāh s.a.w. apabila telah bertakbir untuk shalatnya, sebelum membaca al-Fātiḥah beliau berhenti sejenak. Kemudian aku bertanya: Ya Rasūlullāh! Apa yang engkau baca? Rasūlullāh s.a.w. menjawab: Aku membaca:

اللهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ. اللهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اللهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَ الْبَرَدِ.

Ya Allah! Jauhilah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana engkau telah menjauhkan barat dari timur. Ya Allah! Bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan seperti dibersihkannya pakaian dari kotoran. Ya Allah! Cucilah diriku dari semua kesalahan dengan es dan air barad.

(Riwayat Bukhārī dan Muslim).

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقسَامٍ: طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ وَ هُوَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ).

[Kemudian air itu ada empat macam:

1. AIR THĀHIR MUTHAHHIR GHAIRU MAKRŪH, yaitu air yang suci serta mensucikan kepada yang lain dan tidak makruh apabila digunakan, yaitu yang dinamakan air mutlak!].

Air yang boleh menghilangkan hadats dan menghilangkan najis yaitu air mutlak. Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan air mutlak. Ada yang mengatakan: Air Mutlak itu ialah air yang sepi dari qayd-qayd (ikatan-ikatan) dan sepi dari penambahan kata yang perlu (tidak pernah lepas).

Definisi ini adalah definisi yang shaḥīḥ, diterangkan di dalam kitab ar-Raudhah dan kitab al-Muḥarrar, dan telah dinash oleh Imām Syāfi‘ī. Katanya “sepi dari qayd-qayd”, mengecualikan hal yang serupa dengan yang tersebut di dalam firman Allah min mā’in dāfiq (air yang tersendat-sendat keluarnya), dan firman Allah min mā’in mahīn (air yang hina).

Kata pengarang “penambahan kata yang perlu” mengecualikan hal serupa dengan air mawar.

Kata pengarang “penambahan kata yang perlu” juga mengecualikan penambahan kata yang tidak perlu, kadang boleh lepas. Seperti perkataan “AIR SUNGAI” dan lain sebagainya. Penambahan SUNGAI ini tidak dapat melepaskan air sungai itu dari keberadaannya yang boleh menghilangkan hadats dan menghilangkan najis, karena ia masih disebut AIR MUTLAK.

Sebagian Ulama ada yang berkata: Yang disebut air mutlak ialah air yang tetap menurut semula asal kejadiannya. Ada lagi yang mengatakan: Air mutlak ialah apa saja yang boleh disebut air. Sebab dikatakannya air mutlak ialah karena setiap diucapkan, tentu menggunakan arti air yang telah disebutkan itu. Demikianlah apa yang telah diterangkan oleh Ibnu Shalāḥ dan diikuti oleh Imām Nawawī di dalam kitabnya Syaraḥ al-Muhadzdzab.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ: وَ هُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ)

[2. Yaitu AIR THĀHIR MUTHAHHIR MAKRŪH. Maksudnya air suci yang boleh mensucikan terhadap lainnya dan makruh umpama digunakan. Yaitu air yang dijemur di tempat yang panas].

Apa yang dikatakan oleh pengarang ini adalah macam yang kedua dari bahagian air yang banyaknya ada empat macam. Yaitu air musyammas, artinya air yang dijemur di tempat yang panas. Air musyammas ini suci jika tidak bertemu dengan najis, dan boleh mensucikan, artinya boleh menghilangkan hadats dan menghilangkan najis, sebab masih tetap disebut air mutlak. Apakah makruh menggunakannya? Ada khilāf di antara para Ulama. Qaul yang ashaḥḥ (yang lebih diberatkan) bagi Imām Rāfi‘ī, hukumnya makrūh. Qaul inilah yang dipastikan oleh pengarang. Hukum makruh ini, yang dibuat ḥujjah (alasan) oleh Imām Rāfi‘ī ialah karena Rasūlullāh s.a.w. pernah melarang ‘Ā’isyah menggunakan air musyammas dan beliau bersabda: Air musyammas itu boleh mengakibatkan penyakit belang.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās r.a., bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ بِمَاءٍ مُشَمَّسٍ فَأَصَابَهُ وَضَحٌ فَلَا يُلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ.

Barang siapa mandi dengan air musyammas lalu terkena penyakit belang, janganlah menyalahkan kecuali kepada dirinya sendiri.

Sahabat ‘Umar r.a. tidak suka menggunakan air musyammas dan berkata: Air musyammas itu menimbulkan penyakit belang.

Kemudian menurut qaul Imām Rāfi‘ī ini, kemakruhan menggunakan air musyammas tersebut mempunyai dua syarat:

Syarat yang pertama: Terjemurnya harus di dalam bejana yang tahan pukul, seperti wadah tembaga, besi dan timah. Sebab panas matahari jika sudah memancar pada wadah logam tersebut, boleh mengluarkan buih yang beserta karat-karat naik ke permukaan air. Dan dari buih yang beserta karat-karat itulah timbulnya penyakit belang. Peristiwa seperti itu tidak akan terjadi pada yang terbuat dari emas atau perak, karena (logam) kedua tersebut sangat bening (tidak menerima karat). Tetapi menggunakan yang terbuat dari emas dan perak hukumnya haram menurut apa yang akan diterangkan nanti.

Jadi, andaikata orang menuangkan air musyammas dari emas atau perak ke dalam wadah yang diperbolehkan memakainya, air itu tidak makruh, sebab tidak ada buih logam yang dikhawatirkan. Juga tidak makruh menggunakan air yang dijemur di dalam wadah tembikar (tanah) dan lain-lain, sebab tidak ada alasan kemakruhannya.

Syarat yang kedua: Menjemurnya harus di daerah yang sangat panas, tidak di daerah yang dingin atau daerah sederhana panasnya. Sebab pengaruh sinar matahari di daerah dingin dan sederhana ini adalah lemah. Tidak ada perbedaan antara disengajakan atau tidaknya jemurnya itu, sebab apa yang dikhawatirkan tetap wujud. Tidak makruh menggunakan air musyammas di dalam kolam kecil atau kolam besar, tanpa ada khilāf.

Apakah makruhnya bersifat syar‘ī (hukum agama) ataukah irsyādī (menunjukkan yang baik dan yang benar)? Ada dua wajah; dan wajah yang ashaḥḥ menurut Syaraḥ al-Muḥadzdzab, makruhnya makruh Syar‘ī. Jadi kalau menurut qaul yang ini, orang yang meninggalkan, akan mendapat pahala sebab meninggalkannya itu. Wajah yang kedua, makruhnya bersifat Irsyādī. Jadi, kalau menurut qaul yang kedua ini, orang yang meninggalkan tidak diberi pahala, sebab kemakruhannya ditinjau dari segi kesehatan.

Ada yang mengatakan bahwa air musyammas itu tidak makruh secara mutlak. Imām Rāfi‘ī memandang qaul ini sebagai qaul-nya imam-imam yang tiga, yaitu Abū Ḥanīfah, Mālik dan Imām Aḥmad bin Ḥanbal. Imām Nawawī berkata di dalam tambahannya pada kitab Ar-Raudhah, bahwa qaul ini adalah qaul yang rājiḥ dipandang dari segi dalil dan kebanyakan para Ulama bermazhab pada qaul ini. Hukum makruh tidak mempunyai dalil yang boleh dianggap benar. Dan kalau kita menghukumkan makruh, makruhnya adalah makruh tanzīh, tidak boleh menolak keabsahan bersuci dan penggunaannya khusus pada badan. Kemakruhan ini boleh hilang dengan jalan didinginkan, menurut qaul yang ashaḥ. Qaul yang ketiga, boleh dimintakan keterangan dokter. Wallāhu a‘lam.

Apa yang dianggap shaḥīḥ oleh Imām Nawawī, yaitu hilangnya kemakruhkan sebab didinginkan, justru di dalam Syaraḥ ash-Shaghīr, Imām Rāfi‘ī menganggap shaḥīḥ tetapnya hukum makruh. Dan di dalam Syaraḥ al-Muḥadzdzab, Imām Nawawī berkata: Yang betul tidak makruh. Haditsnya ‘Ā’isyah di atas adalah dha‘īf (lemah) dari kesepakatan para Ulama Ahli Hadits, malah sebagian Muḥadditsīn ada yang menganggap Hadits itu Maudhū‘ (palsu). Demikian juga Hadits yang diriwayatkan oleh Imām Syāfi‘ī dari ‘Umar bin al-Khaththāb bahwa air musyammas boleh menimbulkan penyakit belang, adalah dha‘īf juga. Karena kesepakatan ‘Ulamā’ Muḥadditsīn dalam men-dha‘īf-kan Ibrāhīm bin Muḥammad (salah seorang rawi). Dan Hadits-nya Ibnu ‘Abbās tidak terkenal. Wallāhu a‘lam.

Apa yang telah disebutkan oleh Imām Nawawī mengenai atsar-nya ‘Umar, tidak dapat diterima. Dakwaan Imām Nawawī bahwa ‘Ulamā’ Maḥadditsīn telah bersepakat men-dha‘īf-kan Ibrāhīm – salah seorang rawi dari atsar tersebut- juga tidak dapat dibenarkan, sebab Imām Syāfi‘ī menganggap Ibrāhīm dapat diandalkan dan dipercaya. Anggapan Syāfi‘ī yang demikian itu cukup untuk mengesahkan sesuatu Hadits. Dan lagi tidak hanya satu Ḥāfizh yang menganggap tsiqah (dipercayai) kepada Ibrāhīm. Atsar tersebut juga diriwayatkan oleh Imām ad-Dāraquthnī dengan isnād lain yang shaḥīḥ.

Imām Nawawī berkata di dalam tambahannya pada kitab ar-Raudhah: Makruh bersuci dengan air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Wallāhu a‘lam. Alasannya, karena air tersebut tidak dapat merata ke seluruh anggota badan. Imām Nawawī (sehubungan dengan sumurnya kaum Tsamūd) berkata: Sumur itu dilarang digunakan oleh Rasūlullāh s.a.w. Jadi paling ringan, makruh menggunakan air sumur tersebut.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ طَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ: وَ هُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ)

[3. Yaitu AIR THĀHIR GHAIRU MUTHAHHIR. Maksud-nya suci yang tidak boleh mensucikan kepada yang lain, yaitu air musta‘mal].

Ini adalah macam yang ketiga di antara bermacam-macamnya air. Yaitu air yang sudah digunakan untuk menghilankan hadats atau menghilangkan najis, kalau memang tidak berubah dan tidak bertambah timbangannya setelah digunakan. Jadi airnya suci, karena sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

خَلَقَ اللهُ الْمَاءَ طُهُوْرًا لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا غَيَّرَ طَعْمَهُ أَوْ رِيْحَهُ.

Allah menciptakan air itu suci mensucikan. Tidak ada satu perkara yang boleh mennajiskan air itu, kecuali perkara itu boleh merubah rasanya atau baunya.”

Di dalam riwayatnya Ibnu Mājah ada tambahan: atau warnanya. Hadits riwayat Ibnu Mājah ini dha‘īf. Yang pasti ialah rasa dan baunya saja.

Apakah air musta‘mal itu juga suci mensucikan dan boleh menghilangkan hadats atau menghilangkan najis? Ada khilāf. Madzhab yang kuat berpendapat tidak boleh mensucikan. Sebab para sahabat Nabi yang demikian perhatiannya terhadap agama (ibadah), tidak pernah menampung air untuk digunakan wudhu’ lagi. Andaikata menampung seperti itu boleh, tentu mereka akan melakukannya.

Para Ulama Syāfi‘ī saling berselisih pendapat mengenai ‘illat (alasan) tidak diperbolehkannya menggunakan untuk wudhu’ lagi. Qaul yang shaḥīḥ, alasannya air tersebut sudah digunakan untuk mengerjakan fardhu. Ada yang mengatakan: Alasannya air tersebut sudah digunakan untuk mengerjakan ibadah. Adanya khilāf ini akan terasa bedanya pada dua masalah:

Masalah yang pertama: Air yang digunakan untuk bersuci sunnat, seperti untuk memperbarui wudhu’, atau mandi sunnat, atau basuhan yang kedua atau yang ketiga kali. Kalau menurut qaul yang shaḥīḥ, air tersebut boleh mensucikan, artinya boleh digunakan untuk berwudhu’, sebab belum digunakan untuk yang fardhu. Kalau menurut qaul yang dha‘īf, tidak boleh mensucikan, sebab sudah digunakan untuk beribadah.

Tidak ada perselisihan mengenai soal basuhan yang keempat itu boleh mensucikan menurut kedua ‘illat. Sebab air dari basuhan yang keempat tidak digunakan untuk fardhu, tidak diperintahkan oleh agama. Air dari bekas basuhan yang pertama tidak boleh mensucikan lagi menurut kedua ‘illat tersebut. Sebab basuhan yang pertama adalah untuk mengerjakan fardhu dan juga ibadah.

Masalah yang kedua, air yang dipakai mandi haidh oleh perempuan Nashrani atau Yahudi supaya dirinya halal dijima‘ oleh suaminya yang muslim. Apakah boleh mensucikan ataukah tidak? Masalah ini kita jadikan cabangnya masalah: Seandainya perempuan Nashrani tersebut masuk Islam, apakah wajib mengulangi mandinya atau tidak? Dalam masalah ini ada khilāf. Kalau kita hukumkan tidak wajib mengulangi mandinya, maka air yang dipakai mandi tadi tidak boleh mensucikan. Kalau kita hukumkan wajib mengulangi mandi, yaitu menurut qaul yang shaḥīḥ, maka air yang digunakan sewaktu masih kafir, mempunyai wajah dua yang masing-masing didasarkan pada dua ‘illat di atas. Kalau kita menetapkan yang menjadi ‘illat karena sudah digunakan untuk mengerjakan fardhu, air yang dipakai mandi tadi tidak boleh mensucikan. Kalau kita menetapkan yang menjadi ‘illat itu karena sudah digunakan untuk mengerjakan ibadah, air tadi boleh mensucikan, sebab perempuan kafir bukan termasuk Ahli Ibadah.

Perlu diketahui, bahwa perempuan gila apabila haidh dan kemudian dimandikan oleh suaminya, hukumnya adalah sama dengan perempuan Nashrani dalam masalah-masalah yang sudah diterangkan di muka. Masalah ini masalah yang bagus, yang disebut-sebut oleh Imām Rāfi‘ī di dalam bab sifatnya “wudhu’”. Masalah ini tidak disebut oleh Imām Nawawī di dalam kitab ar-Raudhah.

Perlu diketahui, bahwa air yang dipakai wudhu’ oleh anak kecil tidak boleh mensucikan. Demikian juga air yang dipakai wudhu’ oleh orang yang mengerjakan shalat sunnat, dan air yang digunakan oleh orang yang tidak meng-i‘tiqād-kan akan wajib-nya niat, menurut qaul yang shaḥīḥ dalam masalah-masalah ini.

Kemudian, selagi air masih mengalir meratai pada seluruh agggota badan, hukum musta‘mal tidak berlaku. Seandainya air itu mengalir dari anggota orang yang berwudhu’ kepada anggota orang lain, air tersebut menjadi musta‘mal, meskipun kalau air itu berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain, boleh menjadi musta‘mal.

Seandainya air yang mengalir itu dari satu anggota ke bagian lain dari anggota itu, misalnya air yang mengalir dari tapak tangan menuju ke lengan tangan, atau sebaliknya, yaitu dari lengan tangan ke tapak tangan, beralihnya seperti itu tidak mengapa, walaupun dibantu oleh angin. Masalah ini masalah yang bagus yang disebut-sebut oleh Imām Rāfi‘ī di akhir bab yang kedua dari Bab Tayammum dan masalah ini oleh Imām Nawawī ditinggalkan. Hanya saja di dalam tambahannya pada kitab ar-Raudhah bab Air, Imām Nawawī menerangkan bahwa seandainya air itu lepas (jatuh menitis) dari anggota orang yang junub lalu menimpa pada sebagian anggotanya yang lain, dalam masalah ini terdapat dua wajah. Qaul yang ashaḥḥ menurut al-Mawardī dan ar-Ruyānī, tidak mengapa dan tidak menjadi musta‘mal. Qaul yang rājiḥ menurut Ulama Khurasan, menjadi musta‘mal.

Imām Ḥarāmain berkata: Apabila beralihnya itu disengaja, airnya menjadi musta‘mal. Kalau tidak disengaja, tidak menjadi musta‘mal. Di dalam kitab at-Taḥqīq, Imām Nawawī menganggap shaḥīḥ adanya air itu musta‘mal. Ibnu Rif‘ah menganggap shaḥīḥ, air itu tidak musta‘mal.

Seandainya orang yang junub memasukkan tubuhnya ke dalam air yang sedikit – kurang dari dua qullah – tetapi air tersebut dapat meratai seluruh anggota badannya, kemudian ia berniat, janabahnya jadi terangkat tanpa ada khilāf. Dan airnya menjadi musta‘mal untuk orang selain di dan untuk dia sendiri tidak musta‘mal. Demikian itu diterangkan oleh al-Khawārizmī, sampai beliau berkata: Sekiranya orang tersebut hadats lagi ketika masih di dalam air, hadats yang kedua itu terangkat lagi selama dia masih berada di dalam air itu.

Sekiranya belum sampai sempurna ia membenamkan (menyelamkan) diri ke dalam air, ia sudah berniat, maka janābah-nya yang terangkat ialah dari sebagian anggotanya yang terkena air itu, tanpa ada khilāf, dan airnya tidak menjadi musta‘mal. Bahkan orang itu boleh menyempurnakan benamannya (selamannya) dan janābah-nya baru terangkat dari sisa anggotanya, menurut qaul shaḥīḥ yang sudah dinashkan. Wallāhu a‘lam.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ الْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ)

[Demikian juga air yang berubah sebab adanya sesuatu yang mencampuri berupa benda yang suci].

Kalimat ini adalah termasuk pelengkap macam air yang ketiga. Jadi kalimat tersebut mengandung arti begini: Air yang berubah oleh sesuatu yang mencampuri berupa benda yang suci, itu juga dihukumkan suci yang tidak mensucikan, sama dengan air musta‘mal. Ketentuan mengenai air yang berubah ini ialah setiap perubahan yang menghilangkan nama air mutlak itu boleh menghilangkan sifat suci mensucikan. Jika tidak menghilangkan nama air mutlak, maka tidak hilanglah sifat suci mensucikan itu.

Apabila berubahnya air tersebut hanya sedikit, menurut qaul ashaḥḥ, tetap suci mensucikan, sebab nama air mutlak masih tetap.

Kata pengarang “sebab adanya sesuatu yang mencampur”, itu mengecualikan perubahan air yang disebabkan oleh sesuatu yang mendampingi (sekira-kira sesuatu itu dapat dipisahkan), walaupun berubahnya banyak. Karena air yang berubah oleh sesuatu yang mendampingi itu tetap mensucikan. Misalnya air yang berubah sebab minyak atau sebab lilin. Hukum ini adalah hukum yang shaḥīḥ. Sebab nama air mutlak masih tetap.

Untuk tetapnya nama air thāhir ghairu muthahhir, disyaratkan adanya sesuatu yang masuk ke dalam air harus berupa benda yang mudah untuk dapat dipisahkannya. Misalnya kunyit, kapur dan lain-lain. Kalau berubahnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak mudah untuk dipisahkannya, seperti tanah liat, kiambang, tanad kapur, atar dan lain-lain, yang ada di kolam yang ditempati air atau di tempat-tempat yang dilalui oleh air, dan juga air yang berubah karena lama tergenang, maka air yang demikian itu suci dan mensucikan, karena sulit untuk dipisahkan, dan lagi pula namanya masih tetap dipanggil air.

Dalam masalah berubahnya air itu cukup dengan salah satu dari tiga sifat ini, yaitu rasa, warna dan bau. Demikian menurut qaul yang shaḥīḥ. Di dalam sebuah Hadits yang dha‘īf, disyaratkan ketiga-tiganya harus berubah.

Tidak ada perbedaan antara berubah yang dapat dilihat dan berubah yang tidak dapat dilihat. Misalnya ketika air bercampur dengan benda yang sama sifat-sifatnya dengan air itu, seperti air mawar yang sudah hilang baunya, air yang keluar dari tumbuh-tumbuhan dan air musta‘mal. Apabila hal ini terjadi, maka kita kira-kirakan andaikan benda yang masuk ke dalam air tersebut boleh merubah airnya, sekira-kira perubahannya dapat dilihat dengan mata atau dirasakan oleh indra perasa dan kita perkirakan boleh menghilangkan sifat mensucikannya, maka kita menghukumkan hilangnya sifat mensucikan dari air yang kemasukan benda yang sama sifat-sifatnya dengan air tersebut. Jika umpama kita kira-kirakan seperti itu tidak boleh menghilangkan sifat mensucikannya, kita pun tidak menghukumkan hilangnya sifat mensucikan.

Andaikan air tersebut berubah sebab tanah yang dimasukkan ke dalamnya dengan sengaja, maka air tersebut tetap suci mensucikan menurut qaul yang shaḥīḥ. Air yang berubah sebab garam, mempunyai banyak wajah. Wajah yang ashaḥḥ, garam boleh menghilangkan sifat mensucikan, jika garamnya garam gunung. Jika garam air, tidak.

Andaikata air itu berubah sebab daun-daun yang rontok dengan sendirinya, maka kalau daun tersebut belum hancur di dalamnya, airnya tetap suci mensucikan menurut qaul yang azhhar. Kalau daun tersebut sudah hancur dan bercampur dengan air, mempunyai beberapa wajah. Wajah yang ashaḥḥ, tetap suci mensucikan, karena sulitnya menjaga air dari kerontokan daun-daun itu. Kalau daun-daun tersebut dengan sengaja dimasukkan ke dalam air dan airnya berubah sebab daun-daun itu, menurut mazhab yang kuat, airnya tidak boleh mensucikan, baik waktu dimasukkan daunnya dalam keadaan utuh atau sudah ditumbuk. Wallāhu a‘lam.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ مَاءٌ نَجِسٌ، وَ هُوَ الَّذِيْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ، وَ هُوَ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ، أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ).

[4. AIR NAJIS. Yaitu air yang kemasukan benda najis dan air itu kurang dari dua qullah, atau ada qullah tetapi berubah].

Apa yang diterangkan oleh pengarang ini adalah macam air yang keempat. Sebagaimana pula pengarang menerangkan bahwa air juga dibagi menjadi dua. Air yang sedikit dan air yang banyak.

Adapun air yang sedikit, boleh menjadi najis apabila bertemu dengan najis yang dapat memberikan bekas. Baik berubah maupun tidak, seperti apa yang telah dimutlakkan oleh pengarang. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ خَبَثًا.

Apabila air sudah mencapai dua qullah, maka ia tidak mengandung kekotoran.”

Sebagian riwayat mengatakan: “tidak mengandung najis”.

Hadits ini beserta mafhumnya menunjukkan bahwa apabila air kurang dari dua qullah, ia menerima bekas dari adanya najis.

Kata-kata “najis yang dapat memberikan bekas”, itu mengecualikan najis yang tidak dapat memberikan bekas. Imām Nawawī di dalam kitab ar-Raudhah berkata: Misalnya bangkai yang tidak mempunyai darah yang mengalir (seperti lalat, lipas dan lain-lain). Misalnya lagi, najis yang tidak dapat dilihat oleh mata karena kejadiannya sudah umum dan merata. Dan seperti, ketika lalat hinggap di atas benda najis lalu jatuh ke dalam air. Demikian juga percikan air kencing yang tidak terlihat oleh mata. Jadi semua najis ini ma‘fuw (dimaafkan). Demikian juga ketika mulutnya kucing terkena najis (umpama karena makan tikus), lalu menghilang, dan diperkirakan mulutnya menjadi suci karena minum air lain, lalu datang lagi dan menjilat air yang sedikit, air yang sedikit dalam masalah-masalah ini tidak najis.

Dan dikecualikan lagi, rambut najis yang sedikit. Jadi air sedikit tidak boleh menjadi najis sebab kemasukan rambut najis yang hanya sedikit ini. Demikian ini telah diterangkan oleh Imām Nawawī dengan sejelas-jelasnya di dalam Awānī (bab yang menerangkan wadah) sebagai tambahan, dan beliau menukil masalah-masalah ini dari para Ulama Syāfi‘ī.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ لَا يَخْتَصُّ بِشَعَرِ الْآدَمِيِّ فِي الْأَصَحِّ).

[Rambut ini, tidak khusus rambutnya anak Ādam (manusia), menurut qaul yang ashaḥḥ].

 

Keterangan ini dicabangkan pada masalah najisnya rambut manusia. Lalu Syaikh Abū Syuja‘ berkata lagi:

 

(وَ يُعْرَفُ الْيَسِيْرُ بِالْعُرْفِ).

Imām Ḥarāmain berkata: Mungkin saja yang dimaksud di sini, yaitu rambut yang gugur (rontok).Tetapi Imām Nawawī di dalam Syaraḥ al-Muḥadzdzab berkata: Dimaafkan rambut sehelai, dua atau tiga.

Juga dikecualikan lagi, binatang yang pada duburnya ada najis lalu mencebur ke dalam air, maka yang demikian ini tidak boleh menajiskan air itu menurut qaul yang ashaḥḥ, sebab sulit untuk dielakkan. Masalah ini diterangkan oleh Imām Rāfi‘ī di dalam syarat-syaratnya shalat. Lain dengan masalah orang yang cebok dengan menggunakan batu, lalu mencebur ke dalam air yang sedikit. Orang ini boleh menajiskan air tanpa ada khilāf. Demikian itu dikatakan oleh Imām Nawawī di dalam Syaraḥ al-Muḥadzdzab, sebab, orang yang cebok dengan menggunakan batu atau semisalnya itu mudah untuk mengelakkannya.

Dan juga dikecualikan lagi, bila anak kecil yang makan sesuatu yang najis, lalu menghilang dan dimungkinkan mulutnya sudah menjadi suci, seperti umpama kucing yang telah lalu contohnya, maka mulutnya tersebut juga tidak boleh menajiskan air yang sedikit. Demikian itu diterangkan oleh Ibn-ush-Shalāḥ. Masalah-masalah ini adalah masalah-masalah yang bagus.

 

Imām Mālik raḥimahullāh ta‘ālā berkata: Air yang sedikit, adalah tidak menjadi najis jika tidak berubah, sama dengan air yang banyak. Kata Imām Mālik ini termasuk juga satu wajah di dalam madzhab kita, dan dipilih oleh ar-Ruyānī. Di dalam qaul qadīm ada keterangan bahwa air yang mengalir tidak menjadi najis tidak berubah. Qaul ini telah dipilih oleh sekelompok Ulama, seperti Imām Ghazalī dan al-Baidhawī di dalam kitabnya yang bernama Ghāyat-ul-Quswā. Kata Imām Mālik ini kuat jika dilihat dari segi dalil. Sebab dalilnya terkandung di dalam sabda Nabi:

خَلَقَ اللهُ الْمَاءَ طَهُوْرًا.

Allah menjadikan air itu suci mensucikan.”

Ini adalah dalīl nuthqī (dalil yang diucapkan), sedangkan dalīl nuthqī itu adalah lebih kuat daripada dalīl mafhūm (dalil yang difahami) yang terdapat dalam sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: “Apabila air itu menjadi dua qullah….. hingga akhir Hadits.

Adapun air yang banyak ialah air yang mencapai dua qullah ke atas, ia tidak najis jika tidak berubah dengan sebab adanya najis. Karena sabda Nabi Muḥammad s.a.w. di atas: “Allah menjadikan air itu suci dan mensucikan” sebab ijma‘-nya para Ulama sudah menetapkan najisnya air sebab berubah.

Kemudian, tidak ada perbedaan antara berubah yang sedikit dengan berubah yang banyak. Baik yang berubah rasanya, atau warnanya atau baunya. Hukum seperti ini tidak ada khilāf di dalam bab ini. Lain dengan apa yang sudah diterangkan di muka, yaitu masalah berubahnya air sebab sesuatu yang mencampurinya, yang berupa benda suci. Dan sama saja antara najis yang bertemu dengan air itu bercampur dengan airnya atau hanya mendampingi. Di dalam sebuah wajah yang syadz (yang tidak boleh dipegang) bahwa najis yang mendampingi air tidak menajiskan air itu.

Kata pengarang “yang kemasukan najis di dalamnya,” yang mengecualikan andaikata air tersebut hanya tertulari bau busuk dari najis yang dibuang di pinggirnya. Air yang demikian itu tidak najis, sebab tidak bertemu langsung dengan najisnya.

Kata pengaran “lalu berubah”, mengecualikan andaikata air yang banyak tersebut tidak berubah dengan adanya najis, dan kadang-kadang najisnya hanya sedikit lagi hancur di dalam air, air yang demikian ini tidak najis. Dan seluruh air boleh digunakan menurut madzhab yang shaḥīḥ. Di dalam satu wajah ditetapkan ukuran najisnya.

Andaikata ada najis terjatuh ke dalam air, dan najis itu sama sifat-sifatnya dengan air, seperti air kencing yang sudah hilang baunya, maka kita harus mengira-ngirakan seperti apa yang sudah diterangkan di dalam masalah benda-benda yang suci.

Andaikata ada najis yang berupa benda keras terjatuh ke dalam air yang banyak, maka terdapat dua qaul dan qaul yang azhhār, boleh dia mengambil air tersebut dari sisi mana saja yang dikehendaki dan tidak harus menjauhi dari benda najisnya. Karena pada dasarnya air tersebut semuanya suci. Qaul lain, wajib menjauhi dari benda najisnya sekira-kira jauhnya sudah ada dua qullah.

Andaikata sebagian dari air yang banyak tersebut sudah berubah sebab najis, menurut qaul yang ashaḥḥ bagi Imām Rāfi‘ī di dalam Syaraḥ al-Kabīr, semua air banyak tersebut najis. Di dalam tambahan pada kitab ar-Raudhah, yang ashaḥḥ begini: Apabila air yang masih tersisa (yang tidak berubah) itu kurang dari dua qullah, maka airnya najis semua. Dan apabila ada dua qullah, airnya suci semua. Yang demikian ini dianggap rājiḥ oleh Imām Rāfi‘ī di dalam Syaraḥ ash-Shaghīr. Wallāhu a‘lam.

Cabang Permasalahan.

Di dalam tambahan pada kitab ar-Raudhah, Imām Nawawī menyebut keterangannya begini: Apabila ada najis terjatuh ke dalam air, lalu orang ragu, apakah air itu ada dua qullah atau tidak? Menurut al-Mawardī dan lain-lain, air itu najis, sebab di dalamnya ternyata ada najisnya. Menurut Imām Ḥarāmain, ada beberapa kemungkinan. Yang dipilih, dan bahkan yang benar, air itu suci, sebab asalnya air itu suci. Adanya najis belum tentu boleh menajiskan air. Wallāhu a‘lam.

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ الْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رَطْلٍ بِالْعِرَاقِيِّ تَقْرِيْبًا فِي الْأَصَحِّ).

[Air dua qullah beratnya sama dengan lima ratus paun Baghdād, menurut qaul yang ashaḥḥ].

 

Ketentuan ini berdasarkan sebuah Hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin ‘Umar r.a., beliau berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ بِقِلَالِ هَجَرَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.

Air apabila sudah mencapai dua qullah, dengan ukuran qullahnya desa Hajar, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu apa pun.”

Imām Syāfi‘ī berkata: Guruku, Ibnu Juraij berkata: Aku mengerti ukuran qullah Ḥajar. Satu qullah Ḥajar itu boleh memuat dua qirbah (11) air, atau dua qirbah air lebih sedikit. Dari keterangan Ibnu Juraij ini, Imām Syāfi‘ī berhati-hati dan menetapkan arti kata-kata lebih sedikit dalam kalimat di atas adalah setengah qirbah air. Satu qirbah biasanya tidak lebih dari seratus paun. Jadi kalau begitu, jumlah seluruhnya dua qullah sama dengan lima qirbah. Lima qirbah sama dengan lima ratus paun ‘Irāq.

Apakah ukuran lima ratus paun tersebut hanya dalam kiraan kurang lebih ataukah kepastian? Menurut qaul yang ashaḥḥ, hanya dalam kiraan kurang lebih. Jadi menurut qaul ini, tidak mengapa andaikata kurang sedikit sekira-kira tidak kentara terpautnya andaikata air tersebut berubah sebab adanya sesuatu yang dapat merubahkan.

Contohnya begini: Andaikata kita masukkan suatu benda yang dapat merubahkan sebanyak kira-kira sepaun ke dalam air yang banyaknya lima ratus paun, maka benda tersebut tidak dapat memberikan bekas apa-apa. Andaikata air yang sebanyak lima ratus paun itu kita kurangi dua atau tiga paun, lalu kita masukkan suatu benda yang dapat merubahkan kira-kira sebanyak satu paun dan ternyata tidak membawa pengaruh apa-apa. Andaikata kita kurangi lima paun dari air yang sebanyak lima ratus paun itu dan ternyata setelah kita masuki benda yang dapat merubahkan ada reaksinya, bolehlah kita menetapkan bahwa pengurangan lima paun itu boleh membawa pengaruh atau memberi bekas.

Menurut qaul yang mengatakan harus genap lima ratus paun secara pasti, jadi jika kurang sedikit saja, boleh membahayakan. Sama dengan masalah nisabnya zakat. Sebagian Ulama ada yang mengatakan: Boleh dimaafkan andaikata kurang dari dua paun. Ada lagi yang mengatakan: Tidak mengapa kurang tiga paun atau yang semisalnya.

Air dua qullah itu, kalau mengikut ukuran bejana bujur sangkar yaitu panjang, lebar dan tingginya sama dengan satu seperempat dzira‘ (hasta). Tetapi ukurannya jika menggunakan paun Damaskus kira-kira ada seratus delapan paun dan lebih dua pertiga paun, menurut qaul-nya Imām Rāfi‘ī; jika menggunakan paun Baghdād, ada seratus tiga puluh dirham. Wallāhu a‘lam.

Catatan:


  1. Tempat mengisi air yang terbuat dari kulit – penterjemah. 

Bagikan:

KITĀB-UTH-THAHĀRAH

 

Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan kitab menurut bahasa ialah “himpunan” (jam‘un). Dan menurut istilah ialah:

اِسْمُ الْجُمْلَةِ مَخْصُوْصَةٌ مِنَ الْعِلْمِ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى أَبْوَابٍ وَ فُصُوْلٍ غَالِبًا.

Artinya: “Nama bagi kumpulan dari ilmu pengetahuan yang kebiasaannya terdiri dari beberapa bab dan pasal.

Sedang kata thahārah menurut bahasa ialah:

ِالنِّظَافَةُ وَ الْخُلُوْصُ مِنَ الْأَدْنَاس.

Artinya: “Suci dan bersih dari segala macam noda.”

Baik noda yang ḥissī yakni yang dapat dicapai oleh indra maupun yang maknawi yakni yang tidak dapat dicapai oleh indra seperti kekurangan. Dan thahārah menurut syara‘, para ulama berbeda-beda memberikan definisinya. Ibnu Ḥajar dalam kitabnya yang bernama “Tuḥfah” dan Syaikh Ramlī dalam kitabnya yang bernama “Nihāyah” menerangkan bahwa thahārah menurut syara‘ mempunyai dua arti. Arti yang pertama:

زَوَالُ الْمَنْعِ النَّاشِئِ مِنَ الْحَدَثِ و النَّجِسِ.

Artinya: “Hilangnya penghalang yang disebabkan oleh hadats dan najis.”

Dan arti kedua ialah:

الْفِعْلُ الْمَوْضُوْعُ لِإِفَادَةِ ذلِكَ أَوْ بَعْضِ آثَارِهِ.

Artinya: “Perbuatan yang dilakukan untuk memberi faedah menghilangkan penghalang atau sebagian dari akibatnya (pengaruhnya).”

Karena itu, Imām Nawawī memberikan definisi thahārah sesuai dengan arti yang kedua ini, katanya:

إِنَّهَا رَفْعُ حَدَثٍ أَوْ إِزَالَةُ نَجَسٍ أَوْ مَا فِيْ مَعْنَاهَا أَوْ عَلَى صُوْرَتِهِ.

Artinya: “Thahārah itu ialah mengangkat hadats atau menghilangkan najis atau yang semakna dengan keduanya atau yang serupa dengan keduanya.”

‘Alī Syabramilsī berkata: “Yang dimaksudkan dengan yang semakna dengan mengangkat hadats seperti tayammum dan yang semakna dengan menghilangkan najis seperti menyamak kulit bangkai dan perubahan tuak menjadi cuka tanpa melalui usaha manusia. Dan yang diserupakan dengan mengangkat hadats seperti semua macam mandi sunat, memperbaiki wudhu’, basuhan yang kedua dan yang ketiga, baik dalam wudhu’ maupun dalam mandi. Yang diserupakan dengan menghilangkan najis yaitu sesudah basuhan pertama dari membasuh tempat najis selain dari najis mughallazhah.

Syaikh Ramlī dalam kitabnya yang bernama “Nihāyah” membagi thahārah menjadi dua macam; pertama thahārah ‘ainiyyah dan kedua thahārah ḥukmiyyah. Thahārah ‘ainiyyah ialah wajib membasuh dengan tidak melampaui tempat yang wajib dibasuh seperti najis dan thahārah ḥukmiyyah ialah wajib membasuh melampaui dari tempat yang wajib dibasuh seperti wudhu’.

Kemudian thahārah ini ada mempunyai empat wasā’il (alat) dan empat maqāshid (perubahan). Empat alat ini ialah (1) air, (2) najis, (3) ijitihad dan (4) tempat air (tempayan air). Dan di dalam kitab “Khasiyah Barmawi” diterangkan alat thahārah yang empat ialah (1) air, (2) tanah, (3) batu dan (4) najis. Tempat air dan ijtihad tidak termasuk alat thahārah tetapi hanya alat dari alat thahārah saja. Maqāshid thahārah yang empat ialah (1) wudhu’, (2) mandi, (3) tayammun, dan (4) menghilangkan najis.

Ketahuilah bahwa hukum syara‘ itu terdiri dari empat macam: ‘ibādah, mu‘āmalah (perdata), munākaḥāt (perkawinan) dan jināyāt (pidana). Karena itu sudah menjadi kebiasaan Imām Syāfi‘ī membagi materi fikih menjadi empat bagian juga. Bagian pertama Kitab ‘Ibādah, bagian kedua Kitab Mu‘āmalah, bagian ketiga Kitab Munākaḥāt dan bagian keempat Kitab Jināyāt. Pembagian ini disesuaikan dengan empat kekuatan yang ada pada setiap manusia. Pertama Quwwat-un-Nāthiqah yaitu kekuatan tanggap (idrāk) dan akal. Kedua, Quwwat-usy-Syahwiyyat-il-Bāthiniyyah yaitu keinginan perlu untuk makan dan minum. Ketiga, Quwwat-usy-Syahwiyyat-il-Farjiyyah yaitu kekuatan keinginan kelamin untuk bersenggama. Keempat, Quwwat-ul-Ghadhabiyyah yakni kekuatan marah (emosi) yang menyebabkan terjadi permusuhan dan pembunuhan.

Demikianlah Allah mengutus Nabi dan Rasūl kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan dunia dan akhiratnya dan kebaikan ini baru diperoleh apabila keempat kekuatan yang ada pada manusia itu dapat dikendalikan. Dengan petunjuk Allah dan karunia-Nya manusia dapat mengendalikan segala kekuatan yang ada padanya. ‘Ibādah untuk mengendalikan Quwwat-un-Nāthiqah, mu‘āmalah untuk mengendalikan Quwwat-usy-Syahwatiyyah Bāthiniyyah, munākaḥāt untuk mengendalikan Syahwat-ul-Farjiyyah dan jināyāt untuk mengendalikan Quwwat-ul-Ghadhabiyyah. Karena itu yang dibahas dalam ilmu fikih yang berhubungan dengan pengendalian Quwwat-un-Nāthiqah dinamakan ‘ibādah, yang berhubungan dengan pengendalian Quwwat-usy-Syahwatiyyah dinamakan mu‘āmalah, yang berhubungan dengan pengendalian Quwwat-ul-Farjiyyah dinamakan munākaḥāt dan yang berhubungan dengan pengendalian Quwwat-ul-Ghadhabiyyah dinamakan jināyāt.

Imām Syāfi‘ī mendahulukan pembahasan tentang ‘ibādah karena mengingat pentingnya hubungan dengan Allah, kemudian diiringi dengan mu‘āmalah karena sangat diperlukan manusia, kemudian bagian mu‘āmalah diiringi lagi dengan bagian munākaḥāt, karena kepentingannya kurang dari yang terdahulu. Bagian munākaḥat diiringi dengan bagian jināyāt karena masalah jināyāt sedikit terjadi kalau dibandingkan dengan yang terdahulu.

Dalam bagian ibadah, Kitāb-ush-Shalāt dibicarakan lebih dahulu, baru Kitāb-uz-Zakāt, Kitāb-ush-Shaum dan Kitāb-ul-Ḥajj. Karena disesuaikan dengan urutan yang tercantum dalam hadits yang shaḥīḥ dan masyhur yang berbunyi:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ.

Artinya: “Islam itu dibangun atas lima perkara.”

(HR. Aḥmad, Bukhārī, Muslim, Tirmidzī dan Nasā’ī dari Ibnu ‘Umar)

Uraian mengenai dua kalimah syahadat ditinggalkan karena akan dibicarakan pada kitab tersendiri. Dalam uraian mengenai Kitāb-ush-Shalāt dimulai dengan uraian mengenai thahārah, karena mengingat hadits yang berbunyi:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطَّهُوْرُ.

Artinya: “Kunci shalat itu adalah thahārah.”

(HR. Ḥākim dan Ibnu Mājah dari ‘Alī bin Abī Thālib).

Dan lagi thahārah merupakan salah satu syarat shalat dan syarat itu didahulukan dari masyrūth (shalat) dari segi tingkatannya maka seyogyanya didahulukan pula uraiannya dari shalat dan urutannya. Dalam uraian mengenai wasīlah thahārah yang empat perkara; kami mulai dengan membicarakan air karena air adalah alat yang pertama dalam bersuci. Dalam uraian mengenai air karena ayat al-Qur’ān menyatakan air yang bersih dapat dipergunakan untuk bersuci dengan bahasa lain dinamakan air yang mutlak dan juga karena mengambil berkah atau karena dalil yang akan dikemukakan. Tidaklah mengapa dalil didahulukan dari madlūl kalau dalil itu bersifat umum, kedudukannya lebih didahulukan seperti yang dikemukakan. Demikianlah disebutkan dalam kitab “Tuḥfah” dan “Nihāyah”. Justru itu, ayat yang menjadi dalil didahulukan karena mengambil berkahnya dan sekaligus menjadi dalil uraian yang akan datang. Allah berfirman:

وَ أَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا.

Artinya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (al-Furqān: 48).

 

Ketahuilah bahwa air itu terbagi kepada empat macam: (1) air mutlak yang tidak makruh memakainya, (2) air mutlak yang makruh memakainya, (3) air musta‘mal dan (4) air mutanajis.

Bagikan:

PASAL 1

AIR MUTLAK

(Bagian 1 dari 2)

 

Tidak boleh dan tidak sah mengangkat hadats dan menghilangkan najis dan yang semakna dengan mengangkat hadats dan menghilangkan najis melainkan dengan air mutlak. Yakni dengan air murni ialah zat cair yang dinamakan air yang tidak bercampur seperti air hujan, air embun, air laut, air sungai, air telaga, air sumur sekalipun air tadi berubah warnanya umpamanya merah atau hitam. Artinya ia masih dinamakan air mutlak sekalipun air tadi berubah warna dengan warna yang disebutkan tadi, karena segala perubahan warna hanya sementara karena itu, ia masih dapat dikatakan air yang tidak berubah, ini hanya dikenal oleh orang yang tahu tentang keadaan air itu. Demikian juga air yang keluar dari jari-jari Rasulullah s.a.w. yang lebih baik dari air biasa, juga uap air [yang suci lagi mensucikan yang direbus. Dan air yang keluar dari perut ulat air (gangga/plankton)] karena ulat air [gangga/plankton setara dengan tumbuhan, maka air yang keluar darinya disebut zulal (embun)] bukan termasuk binatang, sekalipun serupa dengan binatang, demikianlah yang diterangkan dalam kitab “Fatḥ-ul-Jawād”. Dan juga air yang menjadi beku seperti garam, air banyak yang berubah disebabkan oleh sesuatu yang tidak merusaknya seperti tercampur dengan lumpur, kembang, atau berdampingan [bercampur] dengan sesuatu yang suci, maka semua itu dinamakan air mutlak.

Ketahuilah tidak sah berwudhu’ yang fardhu, mandi wajib, mandi sunat, menghilangkan najis dengan benda cair seperti cuka atau benda beku lainnya seperti tanah dalam bertayammum, tanah dalam menghilangkan najis mughalazhah melainkan dengan air yang dicampur dengan tanah, dan juga seperti batu dalam beristinja’, semua obat yang dipergunakan untuk menyamak kulit bangkai, cahaya matahari, angin dan api. Juga tidak boleh dengan air yang bukan mutlak yaitu sesuatu zat yang tidak dinamakan air, yang bercampur sehingga tidak dinamakan air oleh orang yang tahu tentang keadaan air. Melainkan yang tercantum baik dengan cara idhāfah (disandarkan) seperti air mawar, air kelapa, air tebu atau menjadi sifat seperti yang terpencar dari alat kelamin yakni air mani, air musta‘mal (air yang sudah terpakai) air mutanajis (air yang menjadi najis) atau ditambah dengan huruf alif dan lain seperti kata al-mā’ dalam sabda Nabi s.a.w.:

نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ.

Artinya: “Ya (Wajib atasnya mandi) apabila ia melihat air (air mani).

(HR. Bukhārī, dan Muslim dari Ummu Salamah).

Dari uraian di atas, jelaslah air musta‘mal yang sedikit tidak termasuk air mutlak, seperti diakui oleh Imām Nawawī dalam penelitiannya dan pendapat itu disetujui pula oleh Ibnu Ḥajar dalam kitabnya yang bernama “Tuḥfah” dan Syaikh Ramlī di dalam kitabnya “Nihāyah”. Demikian pula air yang sedikit yang kena najis, tidak termasuk air mutlak seperti yang telah disetujui oleh kedua (ulama) di atas, karena orang yang tahu tentang keadaan air yang musta‘mal dan air mutanājis, tidak menamakannya air, melainkan dinamakan air musta‘mal dan mutanājis.

Adapun dalil al-Qur’ān yang menerangkan bahwa air adalah alat dalam mengangkat hadats dan menyuruh mempergunakan tanah di kala tidak ditemukan air dalam firman-Nya yang berbunyi:

فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوْا…..

Artinya: “……lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah….” (al-Mā’idah: 6).

Maka jika kiranya hadats dapat diangkat dengan yang lain dari air niscaya tidak diwajibkan bertanyammum. Dan dalil menghilangkan najis dengan air karena Rasūlullāh menyuruh membasuh air kencing Zil-Khuwaisarah at-Tamīmī di kala kencing dalam masjid beliau bersabda:

صَبُّوْا عَلَيْهِ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ.

Artinya: “Tumpahkan di atas air kencing itu satu timba air.

Wajib membasuh air kencing dengan air sesuai dengan perintah Nabi s.a.w., maka jika yang lain dari air dapat dipergunakan menghilangkan najis tentu tidak wajib membasuh air kencing dengan air.

Para ulama berbeda pendapat tentang sebab diperintahkan mengangkat hadats dan menghilangkan najis dengan mempergunakan air tidak boleh dengan yang lain. Imām Ḥarāmain mengatakan yang demikian itu adalah [amrun ta‘abbudiy, yaitu perkara yang tiada terakal maknanya]. Dan Ulama yang lainnya mengatakan yang demikian itu [ta’qul il- ma’na] yaitu, sesuatu yang dapat dipikirkan maksudnya. Karena air adalah jirim (molekul) yang halus yang tidak terdapat pada benda yang lain. Karena halusnya dapat dipergunakan untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis maka benda yang lain tidak dapat dikiaskan dengan air. Tentang kedua pendapat di atas, Syaikh Ramlī dalam kitabnya yang bernama “Nihāyah”, tidak memperkuat salah satu dari dua pendapat di atas. Namun oleh Ibnu Ḥajar dalam kitabnya yang bernama “Syaraḥ Libāb” memperkuat pendapat kedua.

Ḥadats menurut bahasa dapat diartikan:

الشَّيْءُ الْحَادِثُ

Artinya: “Sesuatu yang baru.”

Dan kata ḥadats menurut syara‘ ada mempunyai tiga arti yang akan diterangkan dalam Bāb-ul-Ḥadats, yang di antaranya:

أَنَّهُ أَمْرٌ اعْتِبَارِيٌّ يَقُوْمُ بِالْأَعْضَاءِ يَمْنَعُ صِحَّةَ نَحْوِ الصَّلَاةِ حَيْثُ لَا مُرَخَّصٌ.

Artinya: “Ḥadats itu suatu yang dianggap ada oleh syara‘, yang adanya di anggota badan, lagi mencegah akan sahnya umpamanya shalat yang sekiranya tidak ada yang meringankannya.”

Hadats yang dimaksudkan di sini tidak terangkat melainkan dengan air, baik hadats ashghar yaitu yang lebih kecil seperti membatalkan wudhu’ dan tempatnya pada seluruh anggota wudhu’. Atau hadats mutawāsith yaitu hadats pertengahan yang mewajibkan mandi seperti karena bersenggama dan keluar mani. Atau hadats akbar yaitu hadats besar yang mewajibkan mandi seperti haid dan nifas (melahirkan). Dan tempat hadats mutawāsith dan hadats akbar itu pada seluruh tubuh.

‘Ali Syibramilsi berkata: Dinamakan yang membatalkan wudhu’ itu hadats ashghar, karena sedikit hal-hal yang diharamkan kalau dibandingkan dengan yang diharamkan dalam janabat dan haid. Dinamai hadats yang disebabkan haid itu hadats akbar karena banyak hal-hal yang diharamkan kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Dan dinamai hadats yang disebabkan janabat itu hadats mutawāsith karena hal-hal yang diharamkan lebih banyak kalau dibandingkan dengan yang diharamkan dalam hadats ashghar. Dan kurang dari yang diharamkan dalam haid seperti membaca al-Qur’ān dan tinggal dalam masjid, diharamkan karena hadats mutawāsith dan kedua perbuatan itu tidak diharamkan bagi orang yang berhadats ashghar. Hadats akbar seperti haid dan nifas diharamkan terhadap apa yang diharamkan dalam hadats asghar dan hadats mutawāsith, ditambah lagi yang diharamkan seperti puasa dan talak dan yang serupa itu yang akan diterangkan nanti.

Najis menurut bahasa yaitu kotor dan menurut istilah syara‘ ialah:

مُسْتَقْذَرٌ يَمْنَعُ صِحَّةَ نَحْوِ الصَّلَاةِ حَيْثُ لَا مُرَخَّصَ.

Artinya: “Kotoran yang mencegah sah seperti shalat sekira tidak ada yang dapat meringankannya.”

Dan inilah sebagian dari definisi najis dan yang lainnya akan dibicarakan kemudian.

Air mutlak itu mempunyai tiga sifat: (1) tha‘mun (rasa) (2) launun (warna) dan (3) rīḥun (bau). Dan kalau dikatakan air itu berubah maka yang dimaksudkan ialah berubah sifatnya, yakni rasa, warna atau bau. Air mutlak itu terkadang berubah rasanya atau warnanya atau baunya sebab dimasuki oleh sesuatu benda dan benda yang masuk ke dalam air itu kadang-kadang mukhālith dan kadang-kadang mujāwir. Arti mukhālith ialah bercampur dan air mujāwir ialah berhampiran dengan benda lain, dan inilah menurut arti bahasa.

Adapun menurut istilah, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan:

الْمُخَالِطُ مَا لَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ عَنِ الْمَاءِ.

Artinya: “Al-Mukhālith itu apa yang tidak dapat diceraikan dari air.”

Dan sebagian lagi mengatakan:

الْمُخَالِطُ مَا لَا يُمَيِّزُ فِيْ رَأْسِ الْعَيْنِ.

Artinya: “Al-Mukhālith itu barang yang tidak dapat dibedakan dari air menurut pandangan mata.

Dan sebagian lagi mengatakan apa yang dinamakan mukhālith dan mujāwir itu menurut ‘uruf (adat) seperti yang disebutkan dalam kitab “Tuḥfah” dan “Nihāyah”.

Bagikan:

PASAL

AIR MUTLAK YANG MAKRUH MEMAKAINYA

 

Air yang makruh memakainya menurut hukum syara‘ atau juga dinamakan kahariyāt-ut-tanzīh (makruh ringan) ada delapan macam: (1) Air yang sangat panas. (2) Air yang sangat dingin. Dimakruhkan memakainya karena tidak mungkin air yang seperti itu dapat diratakan di anggota tubuh atau karena akan memudharatkan tubuh, baik dipakai untuk berwudhu’ atau mandi atau untuk keperluan lainnya. Dikecualikan dari air yang sangat panas dan sangat dingin ialah air yang sedang yang tidak begitu panas dan tidak begitu dingin, tidak makruh memakainya sekalipun dipanaskan dengan najis mughālazhah. (3) Air yang terjemur. (4) Air di negeri Tsamūd selain dari air sumur Naqah. (5) Air di negeri kaum Lūth. (6) Air telaga Barhut. (7) Air di daerah Babel, dan (8) Air di telaga Zarwān. Makruh mempergunakan tanah di daerah-daerah tersebut untuk bertayammum karena air dan tanah di daerah yang dihuni oleh kaum lagi dimurkai Allah makruh untuk memakainya baik untuk berwudhu’ maupun untuk bertayammum.

Inilah delapan macam air yang makruh memakainya seperti yang tersebut dalam kitab “Tuḥfah” dan “Nihāyah”. Khathīb Syarbainī menambahkan lagi dalam kitabnya: “Mughnī” dimakruhkan memakai air dalam telaga di mana pernah dimasukkan alat sihir yang menyihir Nabi s.a.w.

Air yang terjemur tidak makruh memakainya melainkan telah tercapai lima syarat:

1). Air yang terjemur pada daerah yang sangat panas seperti daerah Tuhamah Yaman dan Tuhamah Ḥijaz, maka tidak makruh memakai air yang terjemur di daerah dingin seperti Syam dan daerah yang sedang seperti Mesir, karena pengaruh cahaya matahari pada kedua daerah ini kurang.

2). Terjemur pada musim panas, tidak makruh memakai air yang terjemur pada musim dingin, sekalipun di daerah yang sangat panas.

3). Terjemur di dalam tempayan besi atau tembaga atau tempayan yang seumpama itu yang kena (dapat dirusak dengan) tukul (alat pemukul kecil) selain dari tempat emas, perak, kayu atau kulit dan yang terjemur di dalam telaga atau kolam. Terkecuali telaga atau kolam yang ada di pegunungan besi. Dan juga tidak makruh memakai air yang terjemur di dalam tempayan emas dan perak karena halus molekulnya, sekalipun ada tembaganya. Dan tidak makruh memakai air yang terjemur di dalam tempayan besi atau tembaga yang disoder dengan emas atau perak, jika soderannya tebal sehingga soderannya mencegah keluar molekul (jirim) tempayan itu seperti yang disebutkan di dalam kitab “Tuḥfah” dan “Nihāyah”. Lain halnya air yang terjemur di dalam tempayan emas dan perak yang disoder atau dicampur dengan besi atau tembaga atau lainnnya, maka makruh memakainya.

4). Dipakai pada saat panasnya tidak makruh memakainya sesudah dingin.

5). Dipakai untuk menyirami tubuh seperti untuk berwudhu’ atau untuk mandi atau tayammum, baik pada tubuh yang hidup atau pada tubuh yang mati atau pada tubuh orang yang kena penyakit lepra atau tubuh binatang seperti kuda. Karena air yang terjemur dalam pelbagai bentuk di atas akan menyebabkan penyakit lepra, karena itulah dimakruhkan memakainya, karena takut terkena penyakit lepra bagi yang tidak menderita lepra atau takut bertambah penyakitnya bagi yang menderita penyakit lepra. Karena itulah disebutkan dalam hadits yang shaḥīḥ, Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيْبُكَ.

Artinya: “Tinggalkan yang menyebabkan keraguan kepada yang tidak meragukan.

(HR. Tirmidzī dan Nasā’ī dari Ḥasan bin ‘Alī).

Maka memakai air yang terjemur ini menimbulkan keraguan karena takut penyakit lepra.

Para dokter ahli berkata: Cahaya matahari yang sangat panas dapat menceraikan molekul tempayan dan naik ke atas air dan apabila bertemu dengan tubuh pada saat panasnya dapat masuk ke dalam kulit melalui pori-pori kulit dan masuk ke dalam pembuluh darah yang dapat menahan aliran darah sehingga dapat menimbulkan penyakit lepra. Tetapi air yang seperti ini tidak makruh memakainya untuk keperluan lain umpamanya untuk mencuci tanah, membasuh tempayan atau mencuci kain atau membasuh makanan yang keras atau untuk keperluan lain yang tidak ada hubungannya dengan kekuatiran timbulnya penyakit lepra.

Tidak boleh bertayammum kalau ada air yang terjemur, tetapi kalau menurut perkiraan air yang terjemur akan membahayakan kesehatan menurut keterangan doktor ahli yang dapat dipercaya, atau menurut pengetahuan pemakainya, maka haramlah memakai air itu dan ia boleh bertayammum. Yang lebih utama ia tidak mempergunakan air yang terjemur pada awal waktu, kalau ia yakin akan memperoleh air pada akhir waktu, demikianlah yang disebutkan dalam kitab “Nihāyah”. Di dalam kitab “Tuḥfah” disebutkan tidak makruh berwudhu’ dan mandi dengan air zamzam dan tidak haram menghilangkan najis dengan air zamzam, tetapi lebih baik jangan menghilangkan najis dengan air zamzam. Air zamzam lebih mulia dari air telaga Kautsar, karena dada Nabi s.a.w. dibasuh dengan air zamzam dan dada Rasūlullāh s.a.w. tidak dibasuh melainkan dengan yang lebih afdhal, tetapi air yang keluar dari jari-jari Rasūlullāh s.a.w. lebih afdhal dari air zamzam.

Bagikan:

BAHAGIAN PERTAMA

BERSUCI

 

BAB I

AIR – BAGIAN 1

 

Hukum Air Sedikit dan Air Banyak yang Terkena Najis.

1.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص)، فِي الْبَحْرِ: (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ) أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ، وَ اللَّفْظُ لَهُ: وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَ رَوَاهُ مَالِكٌ وَ الشَّافِعِيُّ وَ أَحْمَدُ.

Abū Hurairah r.a. berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda tentang air laut: “Airnya suci, bangkainya halal (dimakan).

(H.R. Empat Imām Ahli Hadits, dan Ibnu Abī Syaibah).

Lafal hadits menurut riwayat Ibnu Abī Syaibah. Juga diriwatatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Tirmidzī, Mālik, Syāfi‘ī dan Aḥmad.

 

Pengertian hadits secara global

Hadits ini adalah pokok pembahasan bersuci, mengandung banyak hukum dan kaidah-kaidah yang penting. Kita ketahui bahwa dalam laut terdapat hewan yang kadang mati. Sedang bangkai adalah najis. Oleh karena itu, Rasūlullāh s.a.w. memberitahu bahwa hukum bangkai laut tersebut berbeda dengan bangkai lain, agar orang-orang tidak beranggapan bahwa air laut bisa najis karena bangkai yang terdapat di dalamnya, dan bahwa bangkainya juga tidak najis.

Hadits tersebut sebagai jawaban seorang yang bertanya: “Wahai Rasūlullāh. Sesungguhnya kami mengarungi laut, kami tidak membawa air kecuali sedikit. Bila kami berwudhu’ dengannya, kami akan haus. Bolehkah kami berwudhu’ dengan air laut?” Rasūlullāh s.a.w. memberitahukan bahwa air laut adalah suci dan mensucikan (bisa digunakan wudhu’, mandi dan menghilangkan najis).

Dalam jawaban tersebut, Rasūl menambah suatu hukum yang tidak ditanyakan, padahal lebih berhak untuk ditanyakan karena hukumnya juga jarang dimengerti orang. Ingat bangkai ikan atau hewan laut adalah halal.

 

Uraian Lafal Hadits

Kalimat al-Kitāb: Menurut bahasa adalah mengumpulkan atau menghimpun. Menurut istilah adalah nama suatu himpunan yang mengandung beberapa masalah ilmu, termasuk bab, pasal dan masalah lain pada umumnya.

Thahārah (الطَّهَارَةُ) : Menurut pengertian bahasa adalah bersih dari kotoran. Menurut istilah adalah sifat hukum yang mewajibkan hilangnya hadats atau hadits.

Al-Bāb (الْبَابُ) : Menurut bahasa adalah pintu yang dipakai masuk atau keluar. Di sini ia digunakan sebagai kalimat majāz, yaitu memasuki beberapa masalah tertentu diumpamakan masuk ke tempat (suatu kampung atau suatu kota). Jadi bab adalah nama himpunan beberapa masalah ilmu. Antara pintu dan bāb terdapat persamaan tertentu.

Al-Miyāh (الْمِيَاهُ) : Jama‘ kalimat Mā’un (مَاءٌ). Asalnya mauhun (مَوْهٌ). Oleh karena itu, bila di-jama‘-kan, maka ditambah huruf hā’, Sebab jama‘ itu mengembalikan kalimat pada asalnya.

Air adalah suatu jenis, baik sedikit atau banyak. Yaitu suatu benda halus yang bening yang berwarna menurut tempatnya (kelihatannya saja berwarna, pada hakikatnya airnya tidak berubah).

Kami mengarungi lautan. Maksudnya adalah kami mengarungi air laut yang asin. Sebab pertanyaan ‘Arab Badui tadi mengarah ke situ. Jadi karena air laut yang dijumpainya adalah asin, baunya tidak enak sedang kami membawa air tawar sedikit.

Kami haus: “Karena tidak terdapat air tawar.” Bolehkah kami berwudhu’ dengannya? Apakah air laut itu suci sehingga kami bisa berwudhu’ dengannya? Para penanya tidak mau berwudhu’ dengan air laut itu, karena rasanya asin, baunya tidak enak. Air yang demikian ini biasanya tidak boleh diminum. Mereka beranggapan bahwa air yang tidak boleh diminum, tidak boleh digunakan berwudhu’.

Air laut bisa digunakan berwudhu’ atau menghilangkan najis, yakni suci dan mensucikan. Kalimat al-Mā’ disebut menunjukkan bahwa dhamīr dalam kalimat “Huw-ath-thahāratu mā’uhu adalah kembali kepada kalimat al-Baḥru. Maksudnya di situ adalah air laut.

Menurut ilmu nahwu, kalimat huwa adalah mubtada’ sedang kalimat ath-thahūr adalah mubtada’ yang kedua. Sedang wa mā’uhu adalah khabar mubtada’ yang kedua. Jadi jumlah kalimat ath-Thahūru mā’uhu menjadi khabar bagi mubtada’ yang pertama. Mubtada’ dan khabar di situ adalah sama ma‘rifat-nya me-ma‘rifat-kan dua bagian dalam jumlah tersebut adalah termasuk salah satu jalan qashr (memendekkan kalimat yang punya arti banyak). Ia diberi nama qashr-ush-shifati ‘alal-maushūf atau qashru ta‘yīn. Sebab seorang yang bertanya masih bingung apakah wudhu’ dengan air laut diperbolehkan ataukah tidak? Lalu Rasūl men-ta‘yīn (menentukan) bahwa boleh berwudhu’ dengan air laut. Beliau bersabda: “Air laut boleh digunakan wudhu’ juga boleh digunakan menghilangkan najis.

“Bangkainya halal” maksudnya untuk hewan-hewan laut yang mati tanpa disembelih. Sebelum kalimat Al-ḥillu maitatuhu tidak diberi huruf ‘athaf, sebab setara dua jumlah (antara huw-ath-thahūru mā’uhu dengan al-ḥillu maitatuhu) terdapat persamaan hukum. Sedang ‘athaf menunjukkan perbedaan hukum.

 

Kesimpulan hadits.

  1. Bagi seorang yang tidak mengerti dianjurkan bertanya kepada ulama.
  1. Boleh mengarungi laut sekalipun bukan untuk beribadah sebab penanya mengarungi laut hanya untuk mengail atau berburu ikan.
  1. Takut haus diperbolehkan tidak memakai air yang digunakan untuk minum bila hendak bersuci (wudhu’ atau lainnya). Sebab Rasūl telah memperbolehkan penanya untuk menyimpan air minumnya dan tidak usah berwudhu’ dengan air itu.
  1. Air laut adalah suci dan bisa dipakai wudhu’, mandi atau menghilangkan najis.
  1. Ikan tidak perlu disembelih. Sebab Rasūlullāh s.a.w. telah menghalalkan bangkainya. Begitu juga seluruh hewan air.
  1. Halal makan bangkai hewan laut, sekalipun binatang yang melata yang tidak bisa hidup kecuali di laut.
  1. Boleh menjawab lebih dari pertanyaan itu agar faedahnya lebih lengkap dan memberitahu ilmu yang tidak ditanyakan.

 

Perawi Hadits

Abū Hurairah bernama ‘Abd-ur-Raḥmān bin Shakhir al-Yamānī ad-Dausī. Beliau masuk Islam pada tahun ke tujuh Hijriyyah. Meriwayatkan hadits sebanyak 5374 hadits dan termasuk sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 59 H., berusia 78 tahun dan dimakamkan di Madinah.

Imam yang mengeluarkan Hadits di atas adalah: empat imam ahli hadits, Abū Dāūd, Nasā’ī, Tirmidzī, dan Ibnu Mājah. Sudah diterangkan riwayat hidup mereka dalam kata pengantar.

Ibnu Abī Syaibah bernama Abū Bakar ‘Abdullāh bin Abī Syaibah, penyusun kitab Musnad. Dia termasuk guru Imām Bukhārī, Abū Dāūd, dan Ibnu Mājah. Adz-Dzahabī berkata: “Dia adalah al-Ḥāfizh yang tidak ada tandingannya dan orang jujur yang cerdik.”

Ibnu Khuzaimah adalah penghafal hadits yang terkenal dan menjadi imam para imam ahli hadits. Nama lengkapnya Syaikh-ul-Islām Abū Bakar Muḥammad bin Isḥāq bin Khuzaimah. Puncak tokoh hadits dan paling hafal hadits pada masanya di Khurasan.

Mālik bin Anas bin Mālik bin Anas al-Asbūnī al-Ḥimyarī Abū ‘Abdillāh al-Madanī, salah satu tokoh ulama Islam, imamnya para imam, tokoh ulama Madinah. Imām Syāfi‘ī belajar kepadanya dan memperoleh ilmu yang banyak daripadanya. Asy-Syāfi‘ī berkata: “Mālik adalah hujjah Allah yang Maha Tinggi kepada makhluk-Nya setelah tābi‘īn.

Imām Mālik meriwayatkan hadits dari Nāfi‘, budak yang dimerdekakan oleh Ibnu ‘Umar, az-Zuhrī dan beberapa ulama tābi‘īn dan tābi‘īt tābi‘īn. Lahir pada tahun 95 H. dan wafat pada tahun 199 H. Beliau berusia 83 tahun dan dimakamkan di Baqi‘.

Asy-Syāfi‘ī adalah Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Idrīs bin al-‘Abbās bin ‘Utsmān al-Quraisyī al-Muththalibī al-Ḥijāzī al-Makkī. Nasab beliau bertemu dengan Rasūlullāh s.a.w. pada ‘Abdu Manaf. Lahir pada tahun 150 H. di Ghuzzah (sebagian ulama mengatakan: Beliau lahir di Asqalan).

Beliau hidup dalam keadaan yatim di bawah asuhan ibunya, kehidupannya amat kekurangan dan kesempitan. Di waktu kecilnya selalu berdampingan dengan para ulama, beliau berangkat dari Makkah ke Madinah dan berdampingan dengan Imam Malik, lalu melanjutkan ke ‘Iraq.

Nama harum beliau telah sampai ke seluruh penjuru, kemudian beliau ke Mesir pada tahun 199 H., dan wafat pada tahun 204 di Mesir, Usianya 54 tahun.

 

  1. وَ عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: (إِنَّ الْمَاءَ طُهُوْرٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ) أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ وَ صَحَّحَهُ أَحْمَدُ.

Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a. berkata: “Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya air itu suci dan mensucikan (bisa digunakan wudhu’, mandi besar atau menghilangkan najis), tidak dinajiskan oleh sesuatu.

(HR. Tiga Imām Ahli Hadits dan di-shaḥīḥ-kan oleh Imām Aḥmad).

 

Pengertian Hadits Secara Global

Air tidak najis karena sesuatu yang jatuh padanya. Hadits tersebut disabdakan berkenaan dengan sumur Budhā‘ah, sumur yang sering dimasuki kain pembersih darah haid kaum wanita, daging-daging anjing dan barang-barang yang berbau tidak enak.

Pada waktu dulu, orang-orang melemparkan barang-barang tersebut di belakang rumah, lantas ada air yang mengalir karena hujan atau lainnya yang membawanya ke sumur tersebut.

Para sahabat bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w. tentang sumur itu, agar mereka mengetahui bagaimana hukum air di dalamnya, suci ataukah najis. Beliau menjawab bahwa air tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu.

 

Uraian Lafal Hadits

(طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ) : Suci yang mensucikan (bisa digunakan menghilangkan najis, mandi besar atau berwudhu’).

(لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ) : Maksudnya, air tetap suci selama tidak berubah. Bila berubah, maka air menjadi najis sesuai dengan ijma‘ ‘ulamā’. Kalimat tersebut adalah umum di-takhsis. Sebab, bila air tersebut berubah, maka tidak dapat digunakan wudhu’ atau menghilangkan najis. Jadi, tidak suci dan tidak dapat mensucikan. Lafal Syai’un (شَيْءٌ) menjadi fā‘il lafal yunajjisuhu.

(صَحَّحَهُ) : Hadits tersebut shaḥīḥ. Sedang definisi ḥadīts shaḥīḥ telah diterangkan dalam kata pengantar.

 

Kesimpulan Hadits.

Ulama berbeda pendapat tentang air yang tercampur najis dan tidak merubah salah satu sifatnya. Imām Mālik berpendapat bahwa air tersebut suci dan bisa digunakan wudhu’ atau mandi, baik sedikit atau banyak karena menjalankan pengertian hadits di atas. Air dikatakan tidak suci dan tidak mensucikan bila salah satu sifatnya berubah.

Ulama mazhab Syāfi‘ī, Ḥanafī dan Ḥanbalī berpendapat bahwa air dibagi menjadi dua: 1. Air sedikit yang berbahaya bila kejatuhan najis secara mutlak. 2. Air banyak yang tidak mengganggu kesucian air bila kejatuhan najis kecuali bila berubah salah satu sifatnya, baik warna, rasa atau baunya.

Mereka berbeda pendapat tentang air sedikit dan banyak, berapa ukurannya. Menurut ulama madzhab Syāfi‘ī dan Ḥanbalī, bahwa air sedikit adalah air yang kurang dua qullah. Sedang air banyak adalah air yang dua qullah atau lebih. (1).

Mereka berpedoman dengan hadis dua qullah yakni hadits yang menerangkan bahwa air bila mencapai dua qullah, maka tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu. Hadits ini dijadikan sebagai keterangan pada hadits di atas yang masih umum.

Ulama madzhab Ḥanafī berpendapat bahwa air dua qullah adalah air di suatu tempat bila yang sisi tempat tersebut digerakkan maka air di sisi lain tidak bergerak. Bila bergerak maka dianggap air sedikit.

 

Perawi Hadits

Tiga Imam ahli hadits yang men-takhrīj-nya. Mereka adalah Aḥmad, Bukhārī dan Muslim. Sudah diterangkan riwayat hidup mereka dalam kata pengatar.

  1. وَ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: (إِنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ أَوْ طَعْمِهِ أَوْ لَوْنِهِ) أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجِهْ، وَ ضَعَّفَهُ أَبُوْ حَاتِمٍ. وَ الْبَيْهَقِيُّ (الْمَاءُ طَهُوْرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيْهِ.

Abū Umāmah al-Bāhilī r.a., berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya air tidak dinajiskan oleh sesuatu (yang masuk padanya) kecuali yang telah berubah bau, rasa atau warnanya.

(HR. Ibnu Mājah dan di-dha‘īf-kan oleh Abū Ḥātim).

Menurut riwayat Baihaqī sebagai berikut:

Air adalah suci mensucikan (bisa digunakan untuk wudhu’ dan mandi atau menghilangkan najis) kecuali bila berubah bau, rasa, atau warna karena ada najis yang masuk kepadanya.

 

Pengertian Hadits Secara Global.

Air banyak (yang lebih dari dua kullah) akan najis bila kemasukan najis yang bisa merubah salah satu sifatnya, yaitu rasa, bau atau warna. Dan, air tetap dikatakan suci dan mensucikan bila najis yang masuk kepadanya tidak merubah salah satu sifat tiga air tersebut.

 

Uraian Lafal Hadits

(غَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ أَوْ طَعْمِهِ أَوْ لَوْنِهِ) : Maksudnya adalah berubah salah satu sifatnya bukan seluruhnya karena kemasukan najis. Dari kalimat tersebut bisa dimengerti, bila air berubah karena kemasukan sesuatu yang suci seperti air mawar, maka tidak najis. Bahkan air tetap suci tapi tidak boleh digunakan untuk mandi atau wudhu’. Biasanya digunakan makan atau minum atau lainnya.

(تَحْدُثُ فِيْهِ) : Najis jatuh ke dalamnya.

(ضَعَّفَهُ) : Hadits tersebut dha‘īf, karena hadits tersebut riwayat Rusydīn bin Sa‘d. Dia adalah lelaki saleh, kemudian mengalami kelupaan sebagaimana orang-orang saleh yang lain, lalu para ulama ahli hadits tidak menganggapnya sebagai perawi yang terpercaya.

 

Kesimpulan Hadits

Secara ijma‘ Ulama berpendapat bahwa air bila kejatuhan najis, lalu merubah salah satu sifatnya baik warna, bau atau rasanya, maka air tersebut najis.

 

Perawi Hadits

Abū Umāmah yaitu Shadā bin ‘Ujlān al-Bāhilī adalah sahabat yang terkenal. Dia telah meriwayatkan 250 hadits. Beliau bertempat tinggal di Mesir, kemudian pindah ke Ḥimshā. Wafat pada tahun 81 H. Dia adalah sahabat yang paling terakhir meninggal dunia di Syam.

 

Yang Mengeluarkan Hadits

Abū Ḥātim ar-Rāzī al-Imām al-Ḥāfizh Muḥammad bin Idrīs bin al-Mundzir al-Ḥanzhalī adalah salah seorang ulama yang terkenal. Lahir pada tahu 195 H. Imām Nasā’ī berkata bahwa dia adalah terpercaya. Wafat pada tahun 277 H. Usianya 82 tahun.

Al-Baihaqī yaitu al-Ḥāfizh al-‘Allāmah Syaikh Khurāsān Abū Bakar Aḥmad bin al-Ḥusain mempunyai banyak karangan yang sulit mencari tandingannya. Buku karangannya mencapai seribu juz. Dia adalah orang yang wara‘ (sangat berhati-hati terhadap barang haram), bertakwa, zuhud. Beliau berangkat ke Ḥijāz dan ‘Irāq. Baihaq adalah kota dekat Naisābūr. Lahir pada tahun 384 H. Wafat pada tahun 454 H.

Bagikan:

BAHAGIAN PERTAMA

BERSUCI

 

BAB I

AIR – BAGIAN 2

 

Batasan Air Banyak dan Pemeriksaan Dua Qullah

4. وَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): (إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ) وَ فِيْ لَفْظٍ: (لَمْ يَنْجُسْ) أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَ صَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَ الْحَاكِمُ وَ ابْنُ حِبَّانَ.

‘Abdullāh bin ‘Umar r.a. berkata bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Bila air telah mencapai dua qullah, maka tidak mengandung najis.” Menurut sebagian riwayat dengan kalimat: “Tidak najis.

(HR. Empat Imām Ahli Hadits dan Ibnu Khuzaimah, al-Ḥākim, dan Ibnu Ḥibbān men-shaḥīḥ-kannya).

 

Pengertian Hadits Secara Global

Seringkali Rasūlullāh s.a.w. menjawab pertanyaan orang yang bertanya kepadanya dengan jawaban yang tepat, agar menjadi pelita petunjuk untuk waktu yang lama. Hal itu termasuk kalimat-kalimat beliau yang senantiasa padat, sedikit kata tapi banyak arti yang dikandung dan sebagai tanda kenabiannya. Beliau pernah ditanya tentang air di kolam, di tanah lapang, dan lembah-lembah. Biasanya tempat seperti ini tidak dijumpai air di kendi satu atau dua. Lantas beliau memberitahu bahwa air bila mencapai dua qullah, tidak mengandung najis atau tidak najis bila ada sesuatu yang jatuh kepadanya. Tapi air itu bisa mempertahankan kesuciannya.

 

Uraian Lafazh Hadits

(قُلَّتَيْنِ) : Kalimat qullatain adalah bentuk tatsniah dari kalimat (قُلَّةٌ). Yaitu guci besar penduduk Ḥajar. Isinya kira-kira lima ratus kati ‘Irāq = empat ratus empat puluh enam kati Mesir ditambah tiga pertujuh kati = 93 gantang ditambah tiga mud = lima bejana Ḥijāz atau boleh dikata ukuran air enam puluh senti meter persegi.

(لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ) : Tidak mengandung najis.

(لَمْ يَنْجُسْ) : Tidak najis.

 

Kesimpulan Hadits

  1. Air yang telah diminum oleh binatang buas dan binatang melata biasanya tidak terlepas dari najis. Sebab, kebiasaan binatang buas itu bila menemukan air, mereka lalu masuk lalu kencing. Terkadang anggota tubuhnya tidak bebas dari kotoran dan air kencing atau tahinya.
  1. Asy-Syāfi‘ī dan Imām Aḥmad berpedoman pada hadits di atas. Mereka menyatakan bahwa air banyak adalah yang telah mencapai dua qullah. Ia tidak dinajiskan oleh suatu najis yang jatuh kepadanya selama warna, bau dan rasanya tidak berubah.

 

Perawi Hadits

‘Abdullāh bin ‘Umar al-Adawī bernama Abū ‘Abd-ir-Raḥmān al-Makkī. Beliau masuk Islam sejak kecil di Makkah, lalu berhijrah ke Madinah bersama ayahnya. Beliau ikut perang Khandaq dan Bai‘at-ur-Ridhwān. Meriwayatkan 1630 Hadits. Anak-anak beliau yang bernama Sālim, Ḥamzah dan ‘Ubaidullāh meriwayatkan hadits darinya. Bersikap zuhud, berhati-hati terhadap barang syubhat atau haram, wara‘, banyak ilmu dan banyak pengikutnya. Wafat pada tahun 94 H. di Makkah kemudian dimakamkan di sana.

 

Pentakhrij Hadits

Al-Ḥākim adalah tokoh ulama ahli taḥqīq bernama Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin ‘Abdullāh an-Naisābūrī terkenal dengan Ibn-ul-Bai‘. Lahir pada tahun 321 H. Beliau berusia dua puluh tahun pergi ke ‘Irāq, lalu menunaikan ibadah haji, lantas mondar-mandir di kota Khurāsān dan daerah di belakang sungai di sana.

Beliau mendengar hadits dari dua ribu guru. Imām Dāruquthnī dan al-Baihaqī dan beberapa orang lain berguru kepadanya. Beliau mempunyai karangan amat banyak, bertakwa dan tangguh dalam memegang agama. Di antara karangannya adalah kitab al-Mustadrak dan sejarah kota Naisābūr. Wafat pada tahun 405 H.

Ibnu Ḥibbān yaitu al-Ḥāfizh al-‘Allāmah Abū Ḥātim Muḥammad bin Ḥibbān bin Aḥmad al-Bustī termasuk ahli fiqih dan senantiasa menghafal hadits. Beliau termasuk ulama terkemuka di kota Samarkand.

Al-Ḥākim berguru kepadanya, lalu berkata bahwa Ibnu Ḥibbān termasuk ulama ahli fiqih, nasihat dan bahasa. Beliau tokoh yang berakal jenius. Wafat pada tahun 354 H. Usianya delapan puluh tahun.

 

5. وَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ص) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ (ص): (لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَ هُوَ جُنُبٌ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَ لِلْبُخَارِيْ: (لَا يَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِيْ لَا يَجْرِيْ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ) وَ لِمُسْلِمٍ: (مِنْهُ)، وَ لِأَبِيْ دَاوُدَ: (وَ لَا يَغْتَسِلْ فِيْهِ مِنَ الْجَنَايَةِ).

Abū Hurairah r.a. berkata bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Seseorang di antaramu yang sedang junub, janganlah mandi di air yang tenang.

(HR. Muslim).

 

Menurut riwayat Bukhārī sebagai berikut: “Seseorang di antaramu, janganlah sekali-kali kencing di air yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalamnya,” dan menurut riwayat Muslim: “darinya”.

Menurut riwayat Abū Dāūd: “Dan jangan mandi besar di dalamnya.

 

Pengertian Hadits Secara Global

Hadits itu merupakan dasar kebersihan yang dianjurkan oleh Rasūlullāh sebagai pengajar syariat yang amat bijaksana. Beliau melarang orang junub mandi di air tenang yang tidak mengalir. Sebab, air tersebut dikhawatirkan akan berubah.

Maksud larangan tersebut adalah membersihkan diri. Jangan bertaqarrub kepada Allah Yang Maha Tinggi dengan sesuatu yang kotor. Hadits di atas bisa diambil kesimpulan larangan kencing dan mandi di dalamnya secara bersamaan. Adapun larangan kencing dapat diambil pengertian dari riwayat Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. melarang kencing di air yang tenang, lalu beliau melarang pula mandi besar dalam air yang tidak mengalir.

Larangan itu hanya makruh bila airnya banyak. Bila airnya sedikit haram.

 

Uraian Lafazh Hadits

(الْمَاءُ الدَّائِمُ) : Air yang tenang.

(الْجُنُبُ) : Seorang yang junub. Lafal junub (الْجُنُبُ) bisa digunakan untuk mufrad atau jama‘.

(ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ) : Lafal (ثُمَّ) dibaca rafa‘, menjadi khabar mubtada’ yang dibuang. Takdīr-nya (ثُمَّ هُوَ يَغْتَسِلُ). Jumlah kalimat tersebut menjadi ‘illat larangan.

Maksudnya: Seseorang di antaramu jangan kencing di air yang tenang. Larangan tersebut dikarenakan di mandi atau berwudhu’ di situ.

Lafal (ثُمَّ) mempunyai arti menyayangkan. Seolah Rasūl bersabda: “Bagaimana dia mandi di air tersebut, padahal dia membutuhkannya untuk mandi atau lainnya. Jadi maksudnya kamu jangan mandi setelah kencing di situ.

(وَ لِمُسْلِمٍ مِنْهُ) : Seseorang di antaramu jangan kencing di air yang tidak mengalir, kemudian mengambil air untuk mandi, lantas mandi di atasnya.

(وَ لَا يَغْتَسِلْ) : Kalimat (يَغْتَسِلُ) dibaca rafa‘. Ia adalah nafi tapi punya arti nahi. Kalimat tersebut lebih tepat. Maksudnya bila air tersebut mengalir, maka tidak dilarang kencing di situ, sekalipun yang lebih utama tidak usah mengerjakannya.

 

Kesimpulan Hadits

  1. Seorang junub tidak diperkenankan mandi di air yang tenang.
  1. Air tidak najis karena dimasuki orang junub yang mandi besar di dalamnya, tapi hukum mensucikannya telah dicabut. Jadi, dapat dipakai selain menghilangkan hadats atau najis.
  1. Larangan kencing di air yang tenang karena bisa merusak air.
  1. Ketetapan hukum bahwa air kencing adalah najis.

 

6. وَ عَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ (ص) قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ (ص): (أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوِ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ، وَ لْيَغْتَرِفَا جَمِيْعًا). أَخْرَجُهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَ النَّسَائِيُّ وَ إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ.

Dari seorang lelaki yang bersahabat dengan Nabi s.a.w. berkata: “Rasūlullāh s.a.w. melarang seorang perempuan mandi besar dengan air sisa mandi lelaki. Atau sebaliknya seorang lelaki mandi besar dengan sisa air mandi perempuan. Dan hendaklah mereka berdua mencibuk bersamaan.

(HR. Abū Dāūd dan Nasā’ī dengan sanad yang shaḥīḥ).

 

Pengertian Hadits Secara Global

Hadits tersebut menunjukkan larangan bagi lelaki atau perempuan bersuci dengan sisa air bersuci yang lain. Mereka berdua boleh bersuci bersamaan dengan satu bejana.

 

Uraian Lafal Hadits

(رَجُلٌ صَحِبَ النَّبِيَّ) : Tidak dikenal siapa nama lelaki tersebut. Jadi, kesamaran nama sahabat tidak berbahaya. Sebab, seluruh sahabat Rasūl adalah adil.

(بِفَضْلِ الرَّجُلِ) : Dengan air sisa mandi besar lelaki.

(بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ) : Dengan sisa air mandi besar perempuan.

(وَ لْيَغْتَرِفَا) : Hendaklah mereka berdua menyauk. Yakni mengambil air dengan tangan. Jadi huruf wāw untuk ‘athaf pada lafal nahā (نَهَى). Ma‘thūf dibuang. Taqdīr-nya Rasūl bersabda: “Hendaklah mereka berdua menyauk bersamaan.” Lām di situ untuk amar (perintah).

 

Kesimpulan Hadits

  1. Larangan bagi wanita mandi dengan air sisa mandi jinabat lelaki.
  1. Lelaki dilarang mandi dengan air sisa mandi jinabat perempuan.
  1. Seorang lelaki dan perempuan boleh mandi dalam satu bejana air dengan menyauknya.
  1. Larangan itu hanya untuk kebersihan.

 

7. وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ (ر): (أَنَّ النَّبِيَّ (ص) كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُوْنَةَ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمُ، وَ لِأَصْحَابِ السُّنَنِ: (اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ (ص) فِيْ جَفْنَةٍ فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا، فَقَالَتْ: إِنِّيْ كُنْتُ جُنُبًا. فَقَالَ: إِنَّ الْمَاءَ لَا يَجْنُبُ). وَ صَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

Dari Ibnu ‘Abbās r.a. bahwa Nabi s.a.w. mandi dengan air sisa mandi (besar) Maimūnah.

(HR. Muslim).

Menurut riwayat penyusun kitab Sunan.

Sebagian istri-istri Nabi s.a.w. mandi jinabat dengan air di bejana besar, lalu beliau datang untuk mandi jinabat pula. Sang istri berkata: “Sesungguhnya kau junub. Rasūl bersabda: “Sesungguhnya air tidak junub (tidak najis sebab orang junub mandi).

(Hadits tersebut di-shaḥīḥ-kan oleh Tirmidzī dan Ibnu Khuzaimah).

 

Pengertian Hadits Secara Global

Hadits tersebut mengandung pengertian bahwa orang laki-laki boleh bersuci dengan sisa air bersuci orang perempuan. Dan, selama orang laki-laki bersuci dengan sisa air bersuci orang perempuan diperbolehkan, maka menurut qiyas, orang perempuan bersuci dengan sisa air bersuci laki-laki juga diperbolehkan. Jadi, air sisa bersuci lelaki atau perempuan adalah suci dan bisa menghilangkan hadas serta najis. Sebab, air sisa tersebut tidak najis. Oleh karena itu, Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Sesungguhnya air tidak junub. (Air itu tidak najis sebab dipakai mandi orang yang junub).” Hal itu sebagai pernyataan ketetapan hukum. Dan merupakan sebagian kemudahan ajaran agama Islam serta hukum-hukumnya.”

 

Uraian Lafal Hadits

(بِفَضْلِ مَيْمُوْنَةَ) : Dengan sisa air mandi jinabat Maimūnah. Nama lengkapnya Maimūnah putri al-Ḥārits al-Hilāliyah. Nama aslinya Barrah, lalu diganti oleh Rasūl dengan nama Maimūnah. Dia adalah bibi ‘Abdullāh bin ‘Abbās. Dikawin Rasūl pada tahun tujuh Hijriyyah, dan setelah itu, beliau tidak kawin lagi. Ibnu ‘Abbās, Yazīd bin al-Ashamm dan beberapa orang meriwayatkan hadits darinya. Beliau meninggal dunia pada tahun 51 H. di Wādī Saraf.

(فِيْ جَفْنَةٍ) : Bejana besar. Jama‘ lafal Jafnah (جَفْنَةٌ) adalah Jifān (جِفَانٌ) dan lafal Jafanātun (جَفَنَاتٌ). Menurut tata bahasa ‘Arab, ia berhubungan dengan kalimat yang dibuang. Dan menjadi ḥāl dari fā‘il ightasala (اِغْتَسَلَ). Taqdīr-nya: Mudkhilatan yadahā fī jafnatin taghtarifu minhā (مُدْخِلَةً يَدَهَا فِيْ جَفْنَةٍ تَغْتَرِفُ مِنْهَا).

(أَصْحَابُ السُّنَنِ) : Abū Dāūd, Nasā’ī, Tirmidzī, dan Ibnu Mājah. Riwayat hidup mereka telah diterangkan dalam halaman yang lalu.

(إِنِّيْ كُنْتُ جُنُبًا) : Junub adalah orang yang berkewajiban mandi besar karena bersetubuh atau keluar mani. Jadi artinya, Maimūnah mandi besar dari air di bejana besar.

 

Kesimpulan Hadits

  1. Boleh mandi jinabat dengan air sisa mandi jinabat orang perempuan begitu juga sebaliknya.
  1. Sisa air tersebut adalah suci dan bisa digunakan menghilangkan hadats atau najis. Sebab, air tersebut tidak najis.
  1. Boleh bertanya kepada orang yang lebih utama untuk memperjelaskan hukum.
  1. Wajib mandi jinabat.

 

Perawi Hadits

Ibnu ‘Abbās bernama ‘Abdullāh bin ‘Abbās al-Hāsyimī. Beliau keponakan Rasūlullāh s.a.w., sahabatnya, tokoh ulama, seorang ahli fiqih dan penafsir al-Qur’ān. Beliau meriwayatkan 1600 Hadits.

‘Umar bin al-Khaththāb memanggilnya dan bermusyawarah dengannya bila menemukan sesuatu yang rumit. Ghawwāsh berkata: “Beliau dilahirkan sekitar tiga tahun sebelum hijrah dan meninggal dunia di Thā’if pada tahun 68 H.”

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas