skip to Main Content

Ucapan Sayyidina Ali Tentang Dzikir 0030 – 0033

0030

ذِكْرُ اللهِ نُوْرُ الْإِيْمَانِ

Dzikir kepada Allah adalah cahaya iman.

0031

ذِكْرُ اللهِ مَطْرَدَةُ الشَّيْطَانِ

Dzikir kepada Allah adalah penyangkal syaitan.

0032

ذِكْرُ اللهِ شِيْمَةُ الْمُتَّقِيْنَ

Dzikir kepada Allah adalah tabiat kebiasaan orang-orang yang bertakwa.

0033

ذِكْرُ اللهِ جَلَاءُ الصُّدُوْرِ وَ طُمَأْنِيْنَةُ الْقُلُوْبِ

Dzikir kepada Allah adalah pengilap shadr (hati tahap pertama) dan penenang qalbu (hati tahap kedua).

Ucapan Sayyidina Ali Tentang Dzikir 0027 – 0029

0027

ثَمَرَةُ الذِّكْرِ اِسْتِنَارَةُ الْقُلُوْبِ

Buahnya dzikir adalah tersulutnya qalbu (hati tahap kedua).

0028

خَيْرُ مَا اسْتَنْجَحْتَ بِهِ الْأُمُوْرُ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ

Sebaik-baik keuntungan dari segala urusan adalah dzikir kepada Allah s.w.t.

0029

دَوَامُ الذِّكْرِ يُنِيْرُ الْقَلْبَ وَ الْفِكْرَ

Berkesinambungan berdzikir itu menyulut cahaya qalbu dan pikir.

Ucapan Sayyidina Ali Tentang Dzikir 0025 & 0026

0025

بِذِكْرِ اللهِ تُسْتَنْزَلُ الرَّحْمَةُ

Dengan berdzikir kepada Allah bakal menurunkan rahmah.

0026

بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَنْجَابُ الْغَفْلَةُ

Dengan berkesinambungan berdzikir kepada Allah bakal melenyapkan kelalaian.

Syair Tentang Dzikir 0008

Dzun-Nūn bersya‘ir:

لا لأني أنساك أكثِرت ذكرا
كَ، ولكن بذاك يجري لساني

Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karena aku telah melupakan-Mu;
Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.

Syair Tentang Dzikir 0007

Syaikh Abu ‘Ali bersya‘ir:

ما إن ذكرتك إلا هم يزجرني
قلبي و سري و روحي عند ذكراكا
حتى كأن رقيبًا منك يهتف بي
إياك، ويحك و التذكار إياكا

Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu,
Melainkan hatiku, bāthinku serta ruhku mencela diriku.
Sehingga seolah-olah si Rāqib (malaikat pencatat amal) dari-Mu berbisik padaku,
“Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!”

Syair Tentang Dzikir 0006

Asy-Syiblī bersya‘ir:

ذكرتك، لا أني نسيتك لمحةً
و أيسر ما في الذكر ذكرٌ لساني
وكدت بلا وجود أموت من اله
وي وهام على القلب بالخفقان
فلما رآني الوجد أنك حاضري
شهدتك موجودًا بكل مكان
فخاطبت موجودًا بغير تكلم
و لاحظت معلومًا بغير عيان

Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat;
Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku.
Tanpa ghairah rindu aku mati karena cinta,
Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar,
Ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku,
Kusaksikan Diri-Mu di mana saja,
Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan,
Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.

Ucapan Sayyidina Ali Tentang Dzikir 0023 & 0024

0023

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُؤْنِسُكَ بِذِكْرِهِ فَقَدْ أَحَبَّكَ

Jika Anda melihat bahwa Allah telah mengakrabkan Anda kepada dzikir kepada-Nya, maka ketahuilah, bahwa Dia telah mencintai Anda.

0024

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُؤْنِسُكَ بِخَلْقِهِ، وَ يُوْحِشُكَ مِنْ ذِكْرِهِ فَقَدْ أَبْغَضَكَ

Jika Anda melihat bahwa Allah telah mengakrabkan Anda kepada makhluk-Nya, dan menjauhkan Anda dari berdzikir kepada-Nya, maka ketahuilah, bahwa Dia telah murka kepada Anda.

Ucapan Sayyidina Ali Tentang Dzikir 0020 – 0022

0020

اَلذِّكْرُ يَشْرَحُ الصَّدْرَ

Dzikir melapangkan shadr (hati tahap pertama).

0021

اَلذِّكْرُ جَلاَءُ الْبَصَائِرِ وَ نُوْرُ السَّرَائِرِ

Dzikir adalah pengilap bashirah (mata hati) dan cahaya rahasia-rahasia batin.

0022

اَلذِّكْرُ هِدَايَةُ الْعُقُوْلِ، وَ تَبْصِرَةُ النُّفُوْسِ

Dzikir adalah hidayat (bimbingan) akal, dan membuka mata hati nafsu.

Syair Tentang Dzikir 0005

Ibnu ‘Athā’ bersya‘ir:

أَرَى الذِّكْرَ أَصْنَافًا مِنَ الذِّكْرِ حَشْوَهَا
وِدَادٌ وَ شَوْقٌ يَبْعَثَانِ عَلَى الذِّكْرِ
فَذِكْرُ أَلِيْفُ النَّفْسِ مُمْتَزَجٌ بِهَا
يَحِلُّ مَحَلَّ الرُّوْحِ فِيْ طَرْفِهَا يُسْرَى
وَ ذِكْرٌ يُعَزَّى النَّفْسَ عَنْهَا لِأَنَّهُ
لَهَا مُتْلِفٌ مِنْ حَيْثُ تَدْرِيْ وَ لَا تَدْرِيْ
وَ ذِكْرٌ عَلَا مِنِّي الْمُفَارِقَ وَ الذُّرَى
يَجُلُّ عَنِ الْإِدْرَكِ بِالْوَهْمِ وَ الْفِكْرِ
يَرَاهُ لَحَاظُ الْعَيْنِ بِالْقَلْبِ رُؤْيَةً
فَيَجْفُوْ عَلَيْهِ أَنْ يُشَاهِدَ بِالذِّكْرِ

Aku tahu dzikir itu bermacam-macam, ia dipenuhi rasa cinta,
Rindu-dendam yang dapat menggugah ingatan.
Dzikir itu melemahkan nafsu, karena nafsu dicampuri dengannya,
Dzikir itu mempengaruhi jiwa, yang pada akhirnya menghilangkan duka cita.
Dan dzikir itu dapat menyebarkan nafsu, karena sesungguhnya dzikir,
Dapat menggulung nafsu, baik diketahui maupun tidak diketahui.
Dan dzikir itu mempunyai tanda-tanda, pengaruh, yaitu memisahkan hawa nafsu dan melenyapkannya,
Ia dapat meningkakatkan inteligensia melalui imaginasi dan perenungan.
Dengan dzikir dapat mengetahui Dia melalui kerlingan mata dan keyakinan dalam hati.
Dapat menyaksikan Dia, maka terputuslah/lenyaplah tabir atas diri-Nya.

Syair Tentang Dzikir 0004

Sarī as-Saqathī bersya‘ir:

ذَكْرَنَا وَ مَا كُنَّا لَنَنْسَى فَنْذْكُرُ
وَ لكِنْ نَسِيْمُ الْقُرْبِ يَبْدُوْ فَيَبْهُرُ
فَأَفْنَى بِهِ عَنِّيْ وَ أَبْقَى بِهِ لَهُ
إِذِ الْحَقُّ عَنْهُ مُخْبِرٌ وَ مُعْبِرُ

Kami mengingat-Nya (dzikir) dan tidaklah sekali-kali kami
Melupakan-Nya maka kami pun selalu menyebut-Nya.
Tetapi angin dingin sepoi-sepoi datang mengalahkan dzikirku,
Sehingga Dia lari dari ingatanku.
Maka lenyaplah Dia dari sisiku bersama kekekalan yang ada padanya,
Karena Dia Yang Maha Haq sebagaimana dikabarkan dan dinyatakan-Nya.”

Back To Top