Hati Senang

24 DZIKIR

 

Orang yang benar-benar mengingat Tuhan adalah orang yang mematuhi-Nya; barang siapa melupakan-Nya, berarti ia ingkar. Kepatuhan merupakan tanda jalan yang lurus, sedangkan keingkaran merupakan tanda kesesatan. Akar kedua keadaan itu adalah ingatan (dzikr) dan kealpaan. Jadikanlah hatimu sebagai titik pusat lidahmu, yang tidak akan bergerak kecuali jika hati memerintahkannya, akal menyetujuinya dan lidahmu sejalan dengan keyakinanmu. Tuhan yang Mahakuasa tahu apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu lahirkan.

Jadilah seperti seseorang yang telah memisahkan jiwanya dari raganya, atau seperti orang yang sedang menghadiri barisan pada Hari Perhitungan, tidak menarik dirimu dari kewājiban-kewājiban yang telah dibebankan oleh Allah atas dirimu dalam perintah-perintah dan larangan-laranganNya, janji dan ancaman-Nya. Jangan menyibukkan dirimu dengan urusanmu sendiri dan tanpa tugas-tugas yang tidak dibebankan oleh Allah atas dirimu.

Cucilah hatimu bersih-bersih dengan air kesedihan dan ketakutan; jadilah ingatan hanya kepada Allah sebagai bagian dari ingatan yang paling mulia dalam dirimu. Dia ingat kepadamu, tetapi Dia tidak membutuhkanmu. Ingatan-Nya kepadamu itu lebih mulia, lebih patut didambakan, lebih berharga, lebih sempurna dan lebih dulu ada daripada ingatanmu kepada-Nya.

Pengetahuan yang kamu peroleh melalui ingatan-Nya kepadamu menanamkan dalam dirimu kerendahan hati, kesederhanaan dan kesedihan akibat rasa berdosa, pada gilirannya akan  menjadi penyebab kesaksianmu akan kemuliaan dan kebaikan-Nya yang berlimpah. Yang terakhir itu selanjutnya akan mengecilkan arti kepatuhanmu di matamu sendiri, betapapun banyak jumlahnya sebagai akibat dari perkenan-Nya; dan kamu akan berbakti dengan tulus kepada-Nya. Tetapi kesadaran dan penilaian akan ingatan sendiri kepada-Nya akan menuntun kepada kesombongan, kecongkakan, kebodohan dan kekasaran dalam sifatmu, sebab hal itu berarti memberikan makna yang terlalu besar pada kepatuhanmu sementara kamu melupakan kasih sayang dan kemurahan-Nya yang melimpah. Itu akan membuatmu semakin jauh dari-Nya, dan yang akan kamu peroleh sejalan dengan berlalunya waktu hanyalah rasa terasing.

Adapun dua ingatan (dzikr): ingatan yang tulus, yang dengan itu hati menjadi tenteram; dan ingatan yang timbul dengan jalan dengan menghapuskan semua ingatan lain kecuali ingat kepada Allah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasūlullāh,”Aku tidak dapat bersikap adil dalam memuji-muji-Mu secara patut sebagaimana Engkau memuji diri-Mu Sendiri.” Rasūlullāh tidak menetapkan batasan untuk mengingat Allah, sebab beliau mengetahui bahwa ingatan Allah akan hamba-Nya lebih besar daripada ingatan hamba-Nya kepada-Nya. Dengan demikian benarlah bahwa siapa saja yang datang sesudah Nabi tidak boleh menetapkan batasan-batasan apa pun, dan barangsiapa ingin mengingat Allah hendaknya mengetahui bahwa selama Allah tidak ingat hamba-Nya dengan memberinya keberhasilan untuk mengingat-Nya, maka hamba itu tidak akan mampu mengingat-Nya.

Bagikan:

(29)

Hati Ahli Dunia dan Hati Kaum Arif

 

جَعَلَ اللهُ قُلُوْبَ أَهْلِ الدُّنْيَا مَحَلاًّ لِلْغَفْلَةِ وَ الْوَسْوَسِ، وَ قُلُوْبَ الْعَارِفِيْنَ مَكَانًا لِلذِّكْرِ وَ الاِسْتِئْنَاسِ.

Allah menjadikan hati ahli dunia sebagai tempat kelalaian dan bisikan, sementara hati kaum ‘arif sebagai tempat zikir dan kedekatan.

Jika kau duduk bersama ahli dunia, kelalaian mereka mengalir kepadamu dan bisikan mereka membungkus hatimu. Sebaliknya, jika kau duduk bersama kalangan ‘arif, cahaya mereka akan menerangimu dan rahasia mereka meliputi hatimu.

Jika bertanya tentang seseorang, tanyakan temannya

Karena setiap orang biasanya akan mengikuti temannya.

Saudaraku, jangan berguru kecuali kepada orang yang ucapannya membuatmu terjaga dan perilaku serta ahwalnya membangkitkan menuju Allah. Nabi s.a.w. bersabda: “Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan agama sahabatnya. Ketika itu, hendaknya setiap kalian memperhatikan dengan siapa bersahabat.” (64)

Allah s.w.t. berfirman: “Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama mereka yang jujur.” (65)

Saudaraku, jangan bersahabat kecuali dengan orang yang jujur. Jangan bergaul dan berteman kecuali dengan orang yang saleh. Berusahalah agar rasa takut menjadi penggerakmu menuju jalan ini sehingga semua rintangan lenyap dari hatimu.

 

(48)

Hingga Zikirmu kepada-Nya Melampaui Ingatanmu kepada Dirimu Sendiri

 

تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ حَتَّى يَكُوْنَ الْغَالِبُ ذِكْرَهُ عَلَى ذِكْرِكَ، فَإِنَّ الْخَلْقَ لَنْ يُغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا

Peliharalah sikap tawakal kepada Allah sehingga zikir mengingat-Nya mengalahkan ingatanmu pada dirimu. Sebab, makhluk tidak bisa menolongmu sama sekali dari Allah.

Jika kau telah mengetahui bahwa zikir merupakan pangkal segala kebahagiaan maka hampirilah Dia sepenuh dirimu. Tenggelamlah dalam zikir kepada-Nya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Penghuni surga tidak merasakan penyesalan sama sekali ketika memasuki surga kecuali atas waktu yang mereka lewatkan di dunia tanpa zikir kepada Allah.” (79)

Karena itu, wahai saudaraku, paculah dirimu untuk meraih keutamaan itu. Pergunakan semua kesempatan yang kau miliki untuk mendapatkan kedudukan yang mulia. Tegakkan tawakalmu sehingga zikir kepada Allah menguasai dirimu. Jadilah hamba-Nya, perhatikan larangan dan perintah-Nya, hisablah dirimu, serta rendahkanlah ia dengan selalu menegurnya.

 

(83)

Hadirkan Hati Saat Berzikir

 

الذِّكْرُ شُهُوْدُ الْمَذْكُوْرِ، وَ دَاوَمُ الْحُضُوْرِ، مَنْ لَمْ يَغْفُلْ عَنْ ذِكْرِكَ، فَلاَ تَغْفُلْ عَنْ ذِكْرِهِ، وَ مَنْ لَمْ يَغْفُلْ عَنْ بِرِّكَ، فَلاَ تَغْفُلْ عَنْ شُكْرِهِ

Zikir adalah menyaksikan yang dizikirkan dengan hati yang senantiasa hadir. Zat yang tidak pernah lalai mengingatmu tak boleh kau lupakan. Zat yang tidak pernah lupa berbuat baik kepadamu, tak boleh lupa kau syukuri.

Wahai salik, Syekh r.a. menjelaskan kepadamu makna zikir sekaligus mendorongmu untuk menetapinya. Syekh r.a. menyebutkan sejumlah manfaat zikir berikut sebab yang akan mengantarkanmu kepada-Nya.

Kesimpulannya, zikir lisan berujung pada penyaksian objek zikir ketika orang yang berzikir memasuki maqam ihsan. Karena Syekh termasuk golongan yang mencapai tingkatan sempurna, tingkatan yang disebutkan di sini adalah puncak zikir orang yang sudah sampai kepada-Nya. Zikir tingkatan pertama adalah zikir hati dan zikir kalangan yang telah sampai adalah zikir ruh. Perbedaan antara keduanya bagaikan kulit almond dan kulit dari kulitnya, serta biji almond dan inti dari bijinya.

Zikir lisan seperti lapisan tipis kulit terluar. Zikir hati laksana kulit lapisan kedua. Zikir ruh adalah buah yang terbungkus kulit, sementara zikir yang disebutkan oleh Syekh merupakan inti buah. Zikir ruh laksana biji terdalam pada buah almond.

Maqam ini disebutkan oleh penulis al-Ḥikam al-‘Athā’iyyah, Syekh Ibn ‘Atha’illah, dengan satu pernyataan yang singkat dan menakjubkan: “Jangan tinggalkan zikir dengan dalih hatimu tidak hadir bersama Allah. Sebab, kelalaianmu dari berzikir kepada-Nya lebih berbahaya daripada kelalaianmu ketika berzikir kepada-Nya. Teruslah berzikir, dan berharaplah semoga Dia menaikkanmu dari yang lalai menuju zikir yang sadar. Lalu dari zikir yang sadar menuju zikir yang dibarengi kehadiran hati. Kemudian dari zikir yang disertai kehadiran hati menuju zikir yang disertai perasaan lenyap dari segala sesuatu selain objek zikir (Allah). Perubahan seperti itu tidaklah sulit bagi Allah.”

Selanjutnya, Syekh r.a. menyebutkan sesuatu yang bisa mendorongmu untuk berzikir secara total. Ia mengatakan: Allah s.w.t. dengan keagungan dan kemuliaan-Nya tidak pernah lupa mengingatmu, jadi mengapa kau yang fakir dan hina lupa mengingat-Nya?! Sikapmu itu benar-benar menggambarkan pengabdian yang buruk dan kebodohan akan keagungan kedudukan-Nya! Dia tetap menganugerahkan nikmat kendati kau melupakan-Nya. Dia juga tidak pernah luput berbuat baik kepadamu sehingga mengapa kau tidak berusaha, mengerahkan jiwa dan ragamu untuk mengabdi kepada-Nya disertai syukur sepenuh hati?

Renungkanlah hikmah nan agung dan mulia ini yang diungkapkan oleh sang ‘arif, kemudian tanamkan dalam hatimu pemahaman itu. Sungguh ia telah berusaha menarikmu beserta seluruh kecenderunganmu kemudian menggiringmu dengan rantai kerinduan menuju Tuhan. Kau mesti sungguh-sungguh mengamalkan hikmah dan anjurannya. Setiap salik harus berlomba-lomba menggapai kedudukan mulia itu. Begitu banyak ayat dan hadits yang bertutur tentang keutamaan zikir. Dada manusia telah dipenuhi pemahaman mengenainya, dan tak terhitung lagi buku yang membahasnya. Karena itu, kami tidak akan berpanjang lebar menyebutkan sesuatu yang sudah sangat terang laksana siang. Apakah sesuatu yang teramat jelas masih membutuhkan dalil dan bukti?! Tentu kesehatan otak ini harus dipertanyakan jika masih mempertanyakan dalil bagi terangnya siang. Karena itu, wahai saudaraku, berzikirlah mengingat Allah, pemelihara semesta. Agar engkau bisa menetapinya, bersahabatlah dengan kalangan saleh.

 

(84)

Sadar Bersama Ahli Zikir

 

مَنْ جَالَسَ الذَّاكِرِيْنَ، اِنْتَبَهَ مِنْ غَفْلَتِهِ، وَ مَنْ خَدَمَ الصَّالِحِيْنَ، اِرْتَفَعَ لِخِدْمَتِهِ.

Jika kau duduk bersama ahli zikir, kau akan sadar dari lalaimu. Jika kau mengabdi kepada orang saleh, kau menjadi mulia karenanya.

Duduk dan bersahabatlah dengan para ahli zikir agar keterjagaan mereka mengalir dan membuatmu terjaga. Mengabdilah dengan tulus dan baik kepada orang-orang saleh sehingga pengabdian kepada mereka menaikkan kedudukanmu.

Syekh al-Suhrawardi berkata: “Suatu ketika aku dan paman berada di masjid al-Khafif. Ia terus berjalan dan berputar-putar di sisi masjid. Ketika kutanyakan kenapa, ia menjawab: “Aku mencari satu kelompok yang jika pandangan mereka tertuju kepada seseorang, itu akan serupa ramuan ajaib yang bisa mengubah tembaga menjadi emas. Apabila pandangan mereka dari kejauhan memiliki keistimewaan semacam itu, apalagi jika mereka diperhatikan dan dicintai, apalagi jika mereka dijadikan teman duduk dan sahabat, serta apalagi jika kita tunduk dan merendah kepada mereka. Sungguh kemuliaan mereka akan menarik kita ke dalamnya.”

Karena itu, Syekh Abul-Hasan al-Syadzili r.a. berkata: “Kura-kura bertelur dan membesarkan anak-anaknya dengan memandangi mereka dari kejauhan. Pandangannya benar-benar istimewa. Apabila hewan saja memiliki pandangan istimewa semacam itu maka apalagi pandangan seorang wali?! Apalagi pandangan orang yang sibuk mengabdi dan mencintai-Nya?!

Sahl al-Tustari r.a. berkata: “Allah menatap suatu kaum sebagai pembelaan dan penjagaan kepada mereka. Dia menatap suatu kaum yang berada dalam hati suatu kelompok. Maka, cintailah para wali Allah agar kalian berada dalam hati mereka. Jika begitu, ketika Allah menatap mereka, Dia juga melihatmu di dalam hati mereka sehingga kau pun mendapat curahan rahmat-Nya.”

Ku punya pimpinan yang mulia

Kakinya berada di atas dahiku

Jika aku tak termasuk golongannya

Mencintainya jadi kemuliaan bagiku.

Imam al-Syafi‘i bertutur:

Ku cintai orang saleh, tapi aku tak termasuk golongan mereka.

Hanya saja ku berharap, bersama mereka ku dapatkan syafaat

Sungguh ku benci orang yang berdagang maksiat

Meski daganganku dan dagangannya tiada beda.

Saudaraku, jika kau memahami hal itu, kau harus duduk dan melayani mereka. Dengan cara itu, kau akan meniti jalan yang paling mulia. Jika kau mendapat karunia itu, ikuti dan contohlah akhlak mereka. Tempuhilah jalan mereka, pasti kau akan mendapat anugerah seperti yang mereka raih.

 

(122)

Tuhan Hadir Saat Kau Tenggelam dalam Zikir

 

مَشَاهِدُ الْحُضُوْرِ اسْتِغْرَاقُ الْقَلْبِ فِي الذِّكْرِ.

Saat hati tenggelam dalam zikir, kau akan menyaksikan kehadiran-Nya.

Ketika kau menyaksikan objek zikir, berarti kau hadir bersama Allah. Ketenggelaman hati dalam zikir terwujud ketika hatimu didominasi penyaksian Zat yang kau zikirkan. Ketika hatimu didominasi penyaksian kepada Allah, lenyaplah segala sesuatu selain Dia. Satu-satunya yang tersisa dalam hatimu adalah Tuhan. Dalam kondisi seperti itu, hati tenggelam dalam zikir, tidak merasakan siapa pun selain Dia. Itulah puncak tingkatan zikir. Jika kau dapat mereguk nikmat tingkatan ini, berarti kau mulai menempuh jalan menuju kebahagiaan paling tinggi. Kau hidup seperti para wali yang mulia. Kau akan menikmati berbagai nikmat dan kehormatan yang didapatkan penduduk surga.

(131)

Zikir adalah Menyaksikan Hakikat dan Melenyapkan Tabiat

 

الذِّكْرُ مَا غَيَّبَكَ عَنْكَ بِوُجُوْدِهِ، وَ أَخَذَكَ مِنْكَ بِشُهُوْدِهِ.

Zikir adalah sesuatu yang melenyapkan dirimu dengan wujud-Nya serta menarikmu dari dirimu dengan penyaksian-Nya. Zikir adalah menyaksikan hakikat dan lenyapnya tabiat.

Jika dirimu lenyap akibat penyaksianmu kepada-Nya, berarti kau telah mencapai puncak tingkatan zikir. Saat itulah kau menyaksikan hakikat dan melenyapkan tabiat. Siapa pun yang telah menyaksikan hakikat, tabiatnya akan lenyap. Dan siapa pun yang tabiatnya telah lenyap, ia akan fana dari sifat-sifatnya dan unsur kemanusiaannya. Semua itu bersumber dari makna Lā ilāha illallāh dan perwujudan adab Muhammadur Rasūlullāh.

Saudaraku, tanamlah Lā ilāha illallāh di tanah hatimu dan siramilah dengan air sungai Muhammadur Rasūlullāh. Dengan begitu, kau akan sampai kepada Tuhan.

Saudaraku, kau harus diam, menyendiri, lapar, dan terjaga agar tanah tempatmu menaman Lā ilāha illallāh menjadi subur dan gembur. Jangan memperbanyak makan, tidur, dan berbicara karena semua itu akan menyesatkan hati dan menghancurkan fondasi bangunannya.

 

(143)

Tanda Allah Menghendaki Kebaikan untukmu

 

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا آنَسَهُ بِذِكْرِهِ، وَ وَفَّقَهُ لِشُكْرِهِ

Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, Dia jadikan hamba itu senang mengingat-Nya dan mendapat taufik untuk bersyukur kepada-Nya.

Orang yang benar-benar berzikir mengingat Allah akan melupakan segala sesuatu yang lain. Dalam hatinya hanya ada Allah. Dia memenuhi hatinya dan menyingkirkan segala sesuatu yang lain.

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Barang siapa yang sibuk dengan berzikir kepada-Ku sehingga lupa meminta, Aku akan memberinya sebaik-baik yang Kuberikan pada para peminta.

Apabila Allah menjadikan seseorang senang berzikir mengingat-Nya sehingga ia terus berzikir baik ketika sendiri maupun di keramaian, dan ia diberi kenikmatan dalam berzikir, lidahnya difasihkan untuk zikir, adakah kedudukan yang lebih baik dari itu?! Adakah nikmat lain yang mampu menandinginya?! Seorang salik tentu mengharapkan anugerah seperti itu, apalagi jika disertai taufik sehingga ia selalu bersyukur kepada-Nya. Semua anggota tubuhnya diarahkan untuk mentaati perintah dan larangan-Nya. Ini merupakan kebahagiaan sempurna yang hanya dapat diraih dengan karunia-Nya. Orang yang mendapatkannya hanyalah yang telah meraih pertolongan dari-Nya. Keselamatan dan kebahagiaan bagi mereka.

Saudaraku, manfaatkanlah waktumu untuk terus berzikir kepada-Nya. Kerahkan seluruh perhatianmu untuk menetapi perintah dan larangan-Nya. Jauhilah makhluk dan berusahalah untuk mengabdi kepada Sang Khalik.

 

Catatan:

64). H.R. Abū Dāūd (4/259), at-Tirmīdzī (4/589), dan Aḥmad (2/303).

65). At-Taubah: 119

79). H.R. ath-Thabrānī dalam al-Kabīr (20/93), al-Baihaqī dalam asy-Syu‘ab (1/392).

159). H.R. at-Tirmīdzī dan ‘Abdur-Razzāq.

Bagikan:

Bab II

Bagian ke 2.

 

Ilmu

 

Ilmu (751) merupakan dasar, referensi dan korektor bagi seluruh amal perbuatan.

Ilmu tanpa amal tidak akan ada faedahnya. Dan sebaliknya, amal tanpa ilmu tidak akan berdaya guna. Seorang penyair berkata:

Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya,

Akan diazab sebelum penyembah berhala disiksa.

Sebab, setiap orang yang beramal tanpa ilmu,

Semua amalnya ditolak dan tidak diterima.

Ilmu dan amal ibarat saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Seorang salik yang menempuh jalan iman, jalan makrifat kepada Allah dan jalan untuk sampai kepada ridha-Nya membutuhkan ilmu di setiap fase suluknya.

Di awal fase perjalanannya, dia harus memiliki ilmu tentang akidah, perbaikan ibadah dan pelurusan muamalah. Dan di tengah perjalanannya, dia membutuhkan ilmu tentang kondisi-kondisi hati, perbaikan akhlak, pensucian jiwa dan lainnya.

Oleh sebab itu, memperoleh ilmu adalah salah satu titik dasar terpenting dalam metode praktis tasawuf. Sebab, tasawuf tidak lain adalah pelaksanaan ajaran-ajaran Islam secara sempurna tanpa mengurangi salah satu aspek lahir dan batinnya.

Berikut ini penulis uraikan secara ringkas ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang menunjukkan tingginya kedudukan ilmu dan peranannya.

 

Keutamaan Ilmu dalam Perspektif al-Qur’an.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (18) (Fāthir [35]: 28).

Katakanlah: Apakah sama, orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?!” (az-Zumar [39]: 9).

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan” (al-Mujādilah [58]: 11).

 

Keutamaan Ilmu dalam Perspektif Hadis.

Diriwayatkan dari Abū Dardā’ bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ وَ إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانِ فِي الْمَاءِ وَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرِّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu, karena senang dengan yang dia tuntut. Dan sesungguhnya para penduduk langit dan bumi, bahkan ikan yang ada di air, memohonkan ampun untuk penuntut ilmu. Kelebihan seorang alim atas seorang ‘abid (ahli ibadah) adalah seperti kelebihan bulan atas bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari Abū Dzarr bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، لِأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكَعَةٍ وَ لِأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ

Wahai Abu Dzarr, engkau pergi untuk mempelajari satu ayat dari al-Qur’an lebih baik bagimu daripada engkau shalat seratus rakaat. Dan engkau pergi untuk belajar satu ilmu, baik engkau amalkan atau tidak, lebih baik bagimu daripada engkau shalat seribu rakaat.” (H.R. Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari ‘Utsmān ibn ‘Affān dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشَّهَدَاءُ

Pada Hari Kiamat ada tiga kelompok manusia yang akan memberikan syafa‘at (pertolongan), yakni: para nabi, para ulama (orang-orang yang berilmu), dan para syahid (orang-orang yang mati syahid).” (H.R. Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd dari Nabi s.a.w. beliau bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَقَّهَهُ فِي الدِّيْنِ وَ أَلْهَمَهُ رُشْدَهُ.

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan meberikan pemahaman mendalam tentang agama dan mengilhamkan kebaikan kepadanya.” (H.R. Bazzar dan Thabrani).

Diriwayatkan dari Abū Bakar dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مَتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَ لاَ تَكُنِ الْخَامِسَةَ فَتَهْلِكَ.

Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Janganlah engkau menjadi orang yang kelima, sehingga engkau akan binasa.” (‘Atha’ menambahkan: Ibnu Mas‘ud mengatakan kepada-Ku: “Engkau menambahkan yang kelima, yang itu bukan termasuk kami. Yang kelima itu adalah yang membenci ilmu dan orang yang berilmu.” (H.R. Thabrani).

 

Hukum Mempelajari Ilmu Pengetahuan.

Dari segi hukum syariatnya, ilmu dapat dibagi menjadi tiga kategori, yakni ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari, ilmu yang dilarang untuk dipelajari dan ilmu yang disunnahkan untuk dipelajari.

 

a. Ilmu-ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari.

Ilmu-ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari dibagi ke dalam dua kategori, yakni yang fardhu ‘ain dan yang fardhu kifāyah.

Ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori fardhu ‘ain adalah semua ilmu yang setiap mukallaf harus dipelajari sendiri.

Sebelum menguraikan kategori ilmu-ilmu yang tergolong fardhu ‘ain ini, terlebih dahulu kita harus memahami kaidah-kaidah dasar yang berkaitan dengannya. Di antaranya adalah kaidah: “Sesuatu yang menjadi bagian terpenting bagi sempurnanya sebuah kewajiban, maka ia menjadi wajib.”

Kaidah yang lain lagi ialah: “Ilmu itu mengikuti isinya.” Ilmu yang mengantarkan sesuatu kepada yang wajib, hukumnya menjadi wajib. Dan ilmu yang mengantarkan kepada yang sunnah menjadi sunnah.

Berpijak pada kaidah-kaidah ini, berikut penulis uraikan ilmu-ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap mukallaf:

Mempelajari akidah Ahli Sunnah beserta dalil-dalilnya secara global dalam setiap masalah keimanan, agar dia dapat keluar dari jerat taklid dan menjaga imannya dari pengaruh orang-orang kafir dan orang-orang sesat yang senantiasa menghembuskan keraguan terhadap imannya.

Mempelajari ilmu-ilmu yang menjadikan seorang mukallaf dapat menunaikan ibadah-ibadah yang diwajibkan kepadanya, seperti shalat, zakat, haji, puasa dan lainnya.

Orang yang melakukan berbagai muamalah, seperti jual-beli, sewa-menyewa, pernikahan, perceraian dan lainnya, wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, agar dapat menghindari yang haram dan konsisten terhadap aturan-aturan syariat.

Mempelajari kondisi-kondisi hati, seperti tawakkal, takut dan ridha. Sebab, seorang muslim akan berhadapan dengan kondisi-kondisi hati itu sepanjang umurnya.

Mempelajari semua akhlak yang baik dan akhlak yang tercela, agar dia dapat melaksanakan akhlak yang baik, seperti tawakkal kepada Allah, ridha kepada-Nya, pasrah kepada-Nya, rendah hati, penyantun dan lainnya, serta menghindari akhlak tercela, seperti sombong, dendam, kikir, dengki, riya’ dan lainnya. (762) Dengan demikian, dia dapat berjuang melawan hawa nafsunya dan meninggalkannya. Hukum berjuang melawan hawa nafsu adalah wajib bagi setiap mukallaf. Dan itu tidak mungkin dapat tercapai kecuali dengan adanya pengetahuan tentang akhlak-akhlak yang terpuji dan yang tercela, serta pengetahuan tentang teknik-teknik berjuang melawan hawa nafsunya, sebagaimana diaplikasikan oleh para pemuka sufi.

Oleh karena itu, Abū Ḥasan asy-Syādzilī berkata: “Barang siapa tidak menyelam dalam ilmu kami ini (tasawuf), maka dia akan mati dalam keadaan melakukan dosa besar, sedang dia tidak menyadarinya.”

Kita tahu bahwa dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji ada yang bersifat lahiriah, seperti zina dan meminum minuman keras, dan ada yang bersifat batin, seperti sombong dan kemunafikan. Oleh karena itu, Allah melarang kita dari keduanya, sebagaimana terekam dalam: “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (al-An‘ām: 151).

Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tampak akan bertobat, karena dia mengetahui bahayanya. Sedangkan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tidak tampak, kadang hidup dalam waktu yang lama tanpa berpikir untuk bertobat, karena dia tidak mengetahui hukumnya atau tidak merasakannya.

Sedangkan ilmu-ilmu yang tergolong dalam fardhu kifāyah adalah semua ilmu yang apabila telah dipelajari oleh sebagian orang, maka kewajiban bagi yang lainnya gugur. Dan apabila tidak seorang pun mempelajarinya, semua berdosa.

Ilmu-ilmu yang tergolong fardhu kifāyah adalah ilmu-ilmu yang kebaikan umat bergantung padanya, seperti mendalami ilmu fikih di atas kadar kebutuhan. (773) Demikian juga ilmu tafsir, hadis, usul fikih, akidah, ilmu hisab, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu persenjataan dan lainnya.

 

b. Ilmu-ilmu yang dilarang untuk dipelajari.

Mendalami aliran-aliran sesat, pemikiran-pemikiran yang meragukan dan akidah-akidah yang menyimpang, bukan dengan niat untuk membantah dan menghalau bahayanya. Adapun mempelajarinya untuk menjelaskan penyimpangannya dan membantah penyelewengannya dengan tujuan untuk memperbaiki akidah dan membela agama, maka hukumnya adalah fardhu kifāyah.

Mempelajari ilmu nujum untuk mengetahui tempat barang yang dicuri, harta karun, binatang yang hilang dan lainnya, adalah bagian dari perdukunan. Dan syariat telah melarang dan mengharamkannya. Sedangkan mempelajari ilmu nujum untuk tujuan studi ilmiah, serta untuk mengetahui waktu-waktu shalat dan kiblat, maka itu dibolehkan.

Mempelajari ilmu sihir. Tapi mempelajarinya untuk menjaga diri dari sihir hukumnya boleh, sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Aku mengetahui kejahatan bukan untuk kejahatan, tapi untuk menghindarinya,

Siapa yang tidak mengetahui kejahatan, maka dia akan terjerumus ke dalamnya.

 

c. Ilmu-ilmu yang sunnah untuk dipelajari.

Di antaranya, mempelajari keutamaan amal-amal jasmani dan amal-amal hati, mempelajari amal-amal yang sunnah dan yang makruh, mempelajari amal-amal fardhu kifāyah, mendalami ilmu-ilmu fikih dan cabang-cabangnya, mendalami akidah dan dalil-dalilnya secara detail dan lain sebagainya.

Dari uraian di atas, jelaslah hukum menuntut ilmu dan arti pentingnya di dalam Islam. Sikap para pemuka sufi terhadap ilmu merupakan perkara yang jelas dan tidak memerlukan penjelasan lagi. Mereka adalah ahli ilmu dan ahli makrifat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hati yang bersinar dan jiwa yang berseri-seri, dan orang-orang yang ingin mengaktualisasikan iman, Islam dan ihsan dalam diri mereka. setelah mereka memperoleh ilmu-ilmu yang fardhu ‘ain, mereka mengaplikasikannya dalam amal. Lalu mereka memperbaiki hati, mensucikan jiwa dan memurnikan niat untuk menghadap kepada Allah. Oleh karena itu, Allah memuliakan mereka dengan ridha-Nya, makrifat-Nya dan ampunan-Nya.

Catatan:


  1. 75). Pada cetakan pertama, penulis tidak mengkaji tentang ilmu dalam buku ini. Sebab, buku ini secara spesifik menjelaskan tentang rambu-rambu tasawuf dan hakikatnya, serta membantah tuduhan-tunduhan yang dialamatkan kepadanya. Oleh sebab itu, penulis tidak mengkaji tema akidah, ibadah dan mu‘amalah. Di sisi lain, ketika seorang muslim melakukan pensucian jiwa, penjernihan hati dan perbaikan batin dan lahir, maka sebelumnya dia harus sudah melakukan perbaikan iman, menunaikan semua ibadah wajib dan lurus dalam mu‘amalahnya. Semua itu tidak mungkin terwujud tanpa dibarengi dengan ilmu yang benar. Hal ini merupakan perkara aksiomatik. Sebab, keutamaan ilmu merupakan sesuatu yang sangat jelas, dan pensyaratan ilmu dalam melakukan perbaikan amal merupakan sesuatu yang disepakati. Penulis membahas tema ilmu dalam cetakan ini tidak lain adalah untuk mengokohkan penjelasan tentang kedudukan dan kemuliaannya, serta membantah orang-orang yang berasumsi bahwa kalangan tasawuf mengecilkan peran ilmu dan tidak menaruh perhatian terhadapnya. 
  2. 76). Lihat kembali pembahasan tentang arti penting tasawuf pada bab I. 
  3. 77). Oleh sebab itu, di setiap negara harus ada seorang mufti yang menjadi referensi dalam perkara agama, dan melaksanakan fardhu kifāyah ini agar gugur kewajiban bagi yang lain. 

Bagikan:

Bab II Bagian ke 4.
Dzikir

Hukum Mencium Tangan (catatan no. 121)

Banyak sekali pertanyaan seputar hukum mencium tangan, khususnya pada zaman sekarang, saat banyak orang mengikuti kehendak hawa nafsunya, dan lemah dalam melakukan penelitian ilmiah. Akan tetapi, orang yang dapat memilah kebenaran dan merujuk kepada hadis-hadis Nabi, atsar-atsar sahabat, dan pendapat para ulama, akan menemukan bahwa hukum mencium tangan para ulama, orang-orang saleh dan orangtua adalah boleh di dalam syariat. Bahkan dia merupakan ekspresi dari etika Islam untuk menghormati orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang memiliki keutamaan. Berikut ini beberapa dalil yang mendasari hal tersebut:

1. Dalil hadis

Diriwayatkan dari Shafwan ibn Assal, dia berkata:

“Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya: “Mari kita pergi bersama-sama menghadap Nabi Muhammad.” Lalu mereka berdua menghadap Nabi dan menanyakan sembilan ayat yang jelas kepada beliau…. Lalu kedua orang Yahudi tersebut mencium tangan dan kaki Nabi dan berkata: “Kami bersaksi bahwa engkau adalah Nabi Allah.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Abu Daud meriwayatkan dari Zari‘, salah seorang utusan ‘Abdul Qais yang menghadap kepada Nabi, bahwa dia berkata: “Kami bersegera turun dari binatang tunggangan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki Rasulullah.”

Baihaqi juga meriwayatkan hadis ini. Di antara penggalan hadis yang diriwayatkannya: “Kemudian datanglah Munzir al-Asyaj, lalu dia meraih tangan Nabi dan menciumnya. Dia adalah kepala utusan tersebut.”

Dalam Fatḥ al-Bārī Syarḥ Shaḥīh al-Bukhārī, Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan: “Abu Lubabah, Ka‘ab ibn Malik, dan sahabat mereka berdua mencium tangan Nabi ketika Allah menerima tobat mereka.” (vol. XI, hlm. 48)

2. Dalil atsar

Thabrani, Baihaqi, dan Hakim meriwayatkan dari asy-Sya‘bi, dia berkata: “Suatu ketika Zaid ibn Tsabit mengimami shalat jenazah, lalu orang-orang mendekatkan unta tunggangannya agar dia menungganginya. Lalu ‘Abdullah ibn ‘Abbas datang dan mengemudikan unta tunggangan Zaid. Zaid berkata: “Biarlah aku sendiri yang mengemudikannya, wahai anak paman Nabi.” Ibn ‘Abbas berkata: “Kami diperintahkan agar melakukan yang demikian kepada para ulama dan pembesar.” Lalu Zaid mencium tangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas sambil berkata: “Kami diperintahkan agar melakukan yang demikian kepada ahli bait Rasulullah.”

Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdur-Rahman ibn Ruzain, dia berkata: “Salamah ibn Akwa’ memperlihatkan telapak tangannya yang sangat besar seperti telapak kaki unta kepada kami, lalu kami menciumnya.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Shaḥīh al-Bukhārī, vol. XI, hlm. 48)

Diriwayatkan dari Tsabit bahwa dia pernah mencium tangan Anas ibn Malik. Tsabit juga mengatakan bahwa ‘Ali pernah mencium tangan dan kaki ‘Abbas. Tsabit meriwayatkan dari Malik al-Asyja‘i, dia berkata: “Aku mengatakan kepada Ibnu Abu Aufa: “Dekatkanlah kepadaku tanganmu yang telah membait Rasulullah.” Lalu Ibnu Abu Aufa mendekatkan tangannya dan aku menciumnya.”

Dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah, tentang penaklukan BaitulMaqdis di masa ‘Umar, Ibnu Katsir menyatakan: “Tatkala ‘Umar sampai di Syam, beliau disambut oleh Abu ‘Ubaidah dan para amir, seperti Khalid ibn Walid dan Yazid ibn Abu Sufyan. Abu ‘Ubaidah turun dari kendaraannya dan ‘Umar pun turun dari kendaraannya. Lalu Abu ‘Ubaidah memberi isyarat untuk mencium tangan ‘Umar. Dan ‘Umar pun bermaksud mencium kaki Abu ‘Ubaidah. Tapi Abu ‘Ubaidah menghalanginya. Sebaliknya ‘Umar pun menghalangi Abu ‘Ubaidah untuk mencium tangannya. (vol. VII, hlm. 55)

Dalam Ghidzā’ al-Albāb, as-Safarani (wafat 1188 H.) menyatakan: “Berpelukan, mencium tangan, dan mencium kepala adalah termasuk hal yang mubah sebagai wujud dari pemuliaan dan penghormatan, asalkan bebas dari unsur hawa nafsu.” (vol 1, hlm. 287).

Dalam Manāqib Ashḥāb al-Hadīts, Ibnu al-Jauzi menyatakan: “Hendaklah seorang murid bersikap rendah hati kepada orang alim. Dan di antara sikap rendah hati kepada orang alim adalah mencium tangannya. Salah seorang dari Sufyan ibn ‘Uyainah dan Fudhail ibn ‘Iyadh pernah mencium tangan Hasan ibn ‘Ali al-Ja‘fi, dan yang lain mencium kakinya.” (vol 1, hlm. 287).

Dalam Syarḥ al-Hidāyah, Abu Ma‘ali menyatakan: “Dibolehkan mencium tangan orang yang alim dan orang yang mulia sebagai wujud rasa hormat kepadanya. Sedangkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya, dalam sebuah riwayat disebutkan: “Barang siapa merendahkan hati kepada orang kaya karena kekayaannya, maka dia telah menghilangkan sepertiga agamanya.” Engkau telah mengetahui bahwa para sahabat mencium tangan Rasulullah, sebagaimana terekam dalam hadits Ibnu ‘Umar ketika mereka kembali dari perang Mu‘unah.”

Pendapat Ulama Empat Mazhab Seputar Hukum Mencium Tangan

1. Pendapat Hanafiah

Dalam Ḥāsyiyah, Ibnu ‘Abidin menyatakan: Boleh mencium tangan orang yang alim dan wara‘ dengan maksud untuk bertabarruk. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukumnya sunnah. Asy-Syarnablali berkata: “Engkau mengetahui bahwa hadis-hadis menganjurkan mencium tangan, sebagaimana dtunjukkan oleh al-‘Aini.” (vol. V, hlm 254).

Dalam Ḥāsyiyahnya, ath-Thahawi mengatakan: “Boleh mencium tangan orang alim dan pemimpin yang adil. Hal ini terdapat dalam hadis-hadis yang disebutkan oleh Badar al-‘Aini…. Dari semua yang telah kita sebutkan, diketahui bahwa hukum mencium tangan adalah mubah.” (hlm. 209)

2. Pendapat Malikiah

Imam Malik mengatakan: “Apabila mencium tangan seseorang adalah dengan maksud takabbur dan pengagungan, maka hukumnya makruh. Akan tetapi, apabila maksudnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah karena keberagamaannya, ilmunya, atau kemuliaannya, maka hukumnya boleh.” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Shaḥīh al-Bukhārī, vol. XI, hlm. 48)

3. Pendapat Syafi‘iah

Imam an-Nawawi mengatakan: “Hukum mencium tangan seseorang karena kezuhudannya, kesalehannya, ilmunya, atau kemuliaannya, tidak makruhnya, tapi mustahab atau sunnah. Akan tetapi, jika itu karena kekayaannya, kekuatannya, atau kedudukannya dalam pandangan orang, maka hukumnya makruh.” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Shaḥīh al-Bukhārī, vol. XI, hlm. 48)

4. Pendapat Hanbaliah

Dalam Ghidzā’ al-Albāb, as-Safarani menyebutkan bahwa al-Marwazi berkata: “Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad ibn Hanbal tentang hukum mencium tangan. Beliau menjawab: “Hukum mencium tangan seseorang karena keberagamaannya adalah boleh. Sebab, Abu ‘Ubaidah pernah mencium tangan ‘Umar ibn Khaththab. Akan tetapi, jika itu karena unsur duniawi, maka tidak boleh.” (vol 1, hlm. 287).

Sebaik-baik ungkapan penyair seputar mencium tangan adalah syair berikut:

Seolah saat aku mencium telapak tangannya berturut-turut
Aku tak mampu berterima kasih kepadanya, hingga mulutku terkunci

Penyair lain mengungkapkan:

Ciumlah tangan orang-orang terpilih dari ahli takwa
Dan jangan takut akan tuduhan musuh-musuh mereka
Wewangian Allah adalah ahli ibadah kepada-Nya
Dan harumnya dapat tercium dari tangan-tangan mereka.

Hukum Berdiri Untuk Para Ulama, Orang-orang Saleh, dan Orang Tua

Hukum berdiri untuk orang-orang yang memiliki keutamaan adalah boleh dan merupakan bagian dari etika Islam. Buku-buku fikih dari berbagai mazhab telah menerangkan hal itu.

1. Pendapat Syafi‘iah

Dalam Mughnī al-Muḥtāj, Muhammad asy-Syarbini mengatakan: “Hukum berdiri untuk orang yang memiliki keutamaan dari segi ilmu, kesalehan, kemuliaan, dan lainnya adalah sunnah, bukan ria.” (vol III, hlm. 135)

Imam an-Nawawi mengatakan bahwa hukum berdiri untuk orang yang datang adalah boleh . Dia mendasarkan pendapatnya dengan banyak hadis Nabi. Di antaranya:

a. Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa pada suatu hari Nabi s.a.w. sedang duduk. Lalu datanglah ayah beliau dari penyusuan. Beliau membentangkan kain beliau untuknya, dan dia duduk di atasnya. Setelah itu, datanglah ibu beliau dari penyusuan. Beliau membentangkan bagian dari kain beliau, dan dia duduk di atasnya. Setelah itu, datanglah saudara beliau. Setelah itu. Beliau berdiri dan mempersilakannya duduk bersama beliau.”

b. Imam Malik menuturkan kisah ‘Ikrimah ibn Abu Jahal saat dia lari ke Yaman pada hari penaklukan Mekkah, lalu istrinya menyusulnya dan membawanya kembali ke Mekkah dalam keadaan Islam. “Tatkala Nabi s.a.w. melihatnya, beliau meloncat ke arahnya karena saking gembiranya, dan melemparkan sorban beliau kepadanya.”

c. Nabi s.a.w. berdiri saat menyambut kedatangan Ja‘far dari Habasyah (Etiopia), lalu beliau bersabda: “Aku tidak tahu, apakah aku bergembira karena kedatangan Ja‘far atau karena telah ditaklukkannya Khaibar.”

d. ‘A’isyah berkata: “Zaid ibn Haritsah tiba di Madinah, dan ketika itu Nabi sedang berada di rumahku. Lalu Zaid mengetuk pintu. Nabi berdiri menyambut kedatangannya, lalu memeluk dan menciumnya.”

e. Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: “Dulu Nabi berbicara di hadapan kami. Jika beliau berdiri, kami berdiri untuk beliau, sampai kami melihat beliau masuk ke dalam rumah.”

2. Pendapat Hanafiah

Ibnu ‘Abidin menyatakan: “Pemberian hormat adalah boleh. Bahkan hukum berdiri menyambut orang yang datang adalah sunnah. Begitu juga halnya berdiri untuk orang yang alim dan orang yang sedang belajar kepadanya.”

Ibnu ‘Abidin juga berkata: “Hukum berdirinya orang yang sedang duduk di dalam masjid dan orang yang sedang membaca al-Qur’an untuk orang yang datang kepadanya sebagai wujud rasa hormat bukanlah makruh, asalkan orang tersebut layak dihormati. Di dalam kitab Musykil al-Atsar disebutkan bahwa hukum berdiri untuk selain Nabi bukanlah makruh. Ibnu Wahban mengatakan: “Di masa kita sekarang ini, hukum berdiri untuk orang yang layak dihormati adalah mustahab atau sunnah. Sebab, hal itu dapat menghilangkan sifat dengki, marah, dan permusuhan. Apalagi di tempat yang hal itu sudah menjadi tradisi.” (Ḥāsyiyah Ibn ‘Ābidīn, vol. V, hlm. 254)

3. Pendapat para pensyarah hadis

Abu Daud meriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri, dia berkata: “Ketika Bani Quraizhah memutuskan untuk tunduk kepada hukum Sa‘ad, Nabi s.a.w. mengirim utusan untuk memanggilnya. Sa‘ad datang dengan mengendarai keledai. Kemudian Nabi s.a.w. berkata kepada mereka: “Berdirilah untuk menyambut tuan kalian atau orang yang terbaik di antara kalian.” Lalu Sa‘ad duduk di samping Rasulullah.”

Ketika menerangkan hadis ini, Abu Sulaiman al-Khuthabi asy-Syafi‘i menyatakan: “Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa ungkapan seseorang kepada sahabatnya: “Hai tuanku”, tidak dilarang. Apalagi jika sahabatnya itu lebih baik dan lebih utama darinya. Yang makruh adalah menuankan orang yang melakukan maksiat. Dari hadis ini juga dapat disimpulkan bahwa hukum berdirinya orang-orang yang dipimpin kepada pemimpin yang adil adalah boleh. Dan hukum berdirinya para pelajar kepada orang alim adalah sunnah, bukan makruh. Yang makruh adalah berdiri untuk orang yang tidak memiliki sifat-sifat yang demikian.”

Abu Daud meriwayatkan dari Mu‘awiyah bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa suka orang-orang berdiri untuknya, maka nerakalah tempatnya.”

Ketika menerangkan hadis ini, Abu Sulaiman al-Khuthabi asy-Syafi‘i, menyatakan: “Yang dimaksud dalam hadis ini adalah orang yang mengharuskan orang lain agar berdiri untuknya karena kesombongan dan keangkuhan.” (Ma‘ālim as-Sunan, vol IX, hlm. 155-156).

Bagikan:

0030

ذِكْرُ اللهِ نُوْرُ الْإِيْمَانِ

Dzikir kepada Allah adalah cahaya iman.

0031

ذِكْرُ اللهِ مَطْرَدَةُ الشَّيْطَانِ

Dzikir kepada Allah adalah penyangkal syaitan.

0032

ذِكْرُ اللهِ شِيْمَةُ الْمُتَّقِيْنَ

Dzikir kepada Allah adalah tabiat kebiasaan orang-orang yang bertakwa.

0033

ذِكْرُ اللهِ جَلَاءُ الصُّدُوْرِ وَ طُمَأْنِيْنَةُ الْقُلُوْبِ

Dzikir kepada Allah adalah pengilap shadr (hati tahap pertama) dan penenang qalbu (hati tahap kedua).

Bagikan:

0027

ثَمَرَةُ الذِّكْرِ اِسْتِنَارَةُ الْقُلُوْبِ

Buahnya dzikir adalah tersulutnya qalbu (hati tahap kedua).

0028

خَيْرُ مَا اسْتَنْجَحْتَ بِهِ الْأُمُوْرُ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ

Sebaik-baik keuntungan dari segala urusan adalah dzikir kepada Allah s.w.t.

0029

دَوَامُ الذِّكْرِ يُنِيْرُ الْقَلْبَ وَ الْفِكْرَ

Berkesinambungan berdzikir itu menyulut cahaya qalbu dan pikir.

Bagikan:

0025

بِذِكْرِ اللهِ تُسْتَنْزَلُ الرَّحْمَةُ

Dengan berdzikir kepada Allah bakal menurunkan rahmah.

0026

بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَنْجَابُ الْغَفْلَةُ

Dengan berkesinambungan berdzikir kepada Allah bakal melenyapkan kelalaian.

Bagikan:

Syaikh Abu ‘Ali bersya‘ir:

ما إن ذكرتك إلا هم يزجرني
قلبي و سري و روحي عند ذكراكا
حتى كأن رقيبًا منك يهتف بي
إياك، ويحك و التذكار إياكا

Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu,
Melainkan hatiku, bāthinku serta ruhku mencela diriku.
Sehingga seolah-olah si Rāqib (malaikat pencatat amal) dari-Mu berbisik padaku,
“Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!”

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas