Hati Senang

2-3-5 Penutup – Memilih Takdir Allah

PENUTUP. Di akhir pembahasan ini akan kami tegaskan bahwa peristiwa-peristiwa yang mengalami al-Badā’ itu, dibagi dua: Pertama: Terjadi peristiwa yang dikabarkan Nabi s.a.w., atau oleh wāshī r.a. yang diberitakan sebelum terjadi peristiwa itu, sampai akhirnya terjadi al-Badā’ padanya, baik yang terdapat pada syariat kaum terdahulu, maupun di dalam syariat Islam. Kedua: Perkara yang diberitakan oleh Nabi s.a.w. atau wāshī-nya r.a., setelah terjadi al-Badā’ padanya , tidak diberitakan sebelumnya. Di antara…

2-3-4-6,7,8 Pertanyaan Keenam, Ketujuh, & Kedelapan – Memilih Takdir Allah (6,7,8/8)

PERTANYAAN KEENAM. Apa faedah dan pengaruh pemberitaan ini bila pemberitaan itu sendiri tidak pernah terjadi? JAWAB: Tujuan dari pemberitaan itu adalah untuk menegaskan al-Badā’ dalam pembuktiannya. Sesungguhnya andaikata Nabi s.a.w. memberitakan sesuatu, kemudian berita itu tidak terjadi, maka Nabi atau wāshī menerangkan hal itu dengan menyebutkan, bahwa hal itu tidak terajdi karena ada amal baik, seperti sedekah dan sebagainya. Demikian juga pada diri anda. Dikarenakan amal yang baik, anda akan…

2-3-4-5 Pertanyaan Kelima – Memilih Takdir Allah (5/8)

PERTANYAAN KELIMA. Sesungguhnya dari riwayat-riwayat itu, ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama: perkara-perkara yang definitif, yang tidak terjadi al-Badā’ padanya; Kedua: perkara-perkara atau masalah yang kondisional, yang terjadi al-Badā’ padanya. Al-‘Ayyāsyī telah meriwayatkan dari al-Fadhil bahwa ia berkata: Aku mendengar Abū Ja‘far r.a. mengatakan: “Di antara perkara itu ada yang definitif dan tidak mustahil, dan ada perkara yang kondisional di sisi Allah yang ditetapkan dan dihapus menurut kehendak-Nya, yang…

2-3-4-4 Pertanyaan Keempat – Memilih Takdir Allah (4/8)

PERTANYAAN KEEMPAT. Apakah diberitakannya sesuatu oleh Nabi s.a.w., namun kemudian berita itu tidak terjadi, merupakan kedustaan dan omong kosong saja, yang pada akhirnya berarti lemahnya akidah orang-orang Mu’min yang berkaitan dengan para Imām dan para pemimpin mereka?   JAWAB: Sesungguhnya, memang berita-berita yang mengalami al-Badā’ dapat menjerumuskan para Nabi ke dalam tuduhan kedustaan dan omong kosong yang tak sesuai dengan kenyataan, bila Nabi tidak menjelaskan kebenaran ucapannya dan menyebutkan syarat…

2-3-4-3 Pertanyaan Ketiga – Memilih Takdir Allah (3/8)

PERTANYAAN KETIGA. Bagaimana mungkin Nabi s.a.w. atau Wāshī r.a. memberitakan sesuatu dengan gambaran yang tegas dan pasti, padahal masih ada kemungkinan terjadi al-Badā’? JAWAB: Berita-berita ghaib yang diriwayatkan dari mereka itu terbagi dua: Pertama: berita ghaib yang tidak terjadi al-Badā’ padanya. Dengan demikian pemberitaan mengenainya bersifat qath‘ī (pasti). Ini tidak perlu kita bahas. Yang perlu adalah yang menyangkut pemberitaan ghaib yang terjadi al-Badā’ padanya, yaitu bagian Kedua: berita-berita dalam bagian…

2-3-4-2 Pertanyaan Kedua – Memilih Takdir Allah (2/8)

PERTANYAAN KEDUA. Tidak diragukan, bahwa apabila Nabi s.a.w. atau Imām r.a. memberitakan sesuatu, kemudian terjadi al-Badā’ dalam peristiwa itu, maka sudah seharusnya berita tadi disandarkan kepada sesuatu yang menjadi sumber berita itu sendiri. Maka apa yang menjadi sandaran Nabi dan Imam dalam menyampaikan berita tersebut? JAWAB: Apabila anda memahami hakikat al-Badā’ yang telah kami jelaskan dalam kaitannya dengan itsbāt (ketetapan), dan memahami jawaban terhadap pertanyaan pertama bahwa al-Badā’ adalah hasil…

2-3-4-1 Pertanyaan Pertama – Memilih Takdir Allah (1/8)

PERTANYAAN DAN JAWABAN. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan kepada para pembaca yang budiman, yang harus dijawab. Pertanyaan ini kami ajukan satu per satu, kemudian kami jawab pula satu per satu. PERTANYAAN PERTAMA: Bagaimana mungkin al-Badā’ bisa dinisbatkan kepada Allah s.w.t., padahal al-Badā’ berarti “penampakan sesuatu yang sebelumnya tersamar (azh-Zhuhūru Ba’d-al-Khafā’)?” JAWAB: Inilah salah satu pertanyaan yang menyudutkan Syī‘ah Imāmiyyah karena keyakinannya terhadap al-Badā’. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangatlah…

2-3-3 Penjelasan Tentang Sifat Berita Ghaib – Memilih Takdir Allah

PENJELASAN TENTANG SIFAT BERITA GHAIB. Tidak diragukan, bahwa sebagian atau semua peristiwa telah diketahui oleh para Nabi yang mulia, terutama hal-hal yang terdapat dalam al-Qur’ān. Di sini, muncul dua pertanyaan: Pertama: mengapa berita semacam itu tidak terjadi dalam kenyataan? Kedua: bagaimana sikap Nabi terhadap pemberitaan hal-hal yang kemudian ternyata tidak terjadi? JAWAB: Adapun yang Pertama, sebagaimana telah diriwayatkan mengenai penafsiran terhadap riwayat-riwayat ini, bahwa tidak terjadinya berita ghaib itu dalam…

2-3-2 Penjelasan Secara Garis Besar – Memilih Takdir Allah

PENJELASAN SECARA GARIS BESAR. 1. Di dalam al-Qur’ān, Allah s.w.t. telah memberitakan kasus disembelihnya Ismā‘īl oleh tangan ayahnya, Ibrāhīm, seperti yang difirmankan oleh-Nya: “Maka tatkala ia sampai (pada umur mampu) berusaha bersama-sama Ibrāhīm, Ibrāhīm berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah, apa pendapatmu? Ia menjawab: Hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, In syā’ Allāh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya…

2-3-1 Berita Ghaib (Dalam al-Qur’an & Hadits) Yang Tidak Terjadi – Memilih Takdir Allah

BAGIAN KEDUA: PEMBUKTIAN AL-BADĀ’. BAB III. BERITA GHAIB (DALAM AL-QUR’ĀN DAN HADITS) YANG TIDAK TERJADI. Pada bab sebelum ini, telah kami jelaskan berbagai hakikat konsep al-Badā’dengan makna seperti yang telah diterangkan. Al-Badā’ yang dimaksud oleh para Imām adalah juga dengan makna seperti yang kami jelaskan pada bab terdahulu. Hal lain yang berhubungan dengan al-Badā’adalah tentang penafsiran atas beberapa masalah gaib yang telah diberitakan oleh para Nabi dan para Imām akan…
Lewat ke baris perkakas