Hati Senang

BAB V1

MASALAH UMUM

 

Dapat ditambahkan di sini, dari semua permasalahan yang telah dibahas pada bab-bab yang telah lalu, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam asas-asas akidah kita, dalam pembahasan-pembahasaan landasan agama Islam, bahwa aqidah kita juga mencakupi beberapa kekhasan lain yang akan kita jelaskan dalam bab ini:

 

Rasionalitas Baik-Buruk

Kita meyakini bahwa akal kita mengetahui berbagai macam kebaikan dan keburukan. Ini berkat potensi penentuan baik buruk yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia.

Benar, manusia dengan akal yang dimilikinya mampu untuk menentukan sebagian perkara baik-buruk semenjak pra diturunkannya syariat langit. Sejak dahulu kala, manusia telah memahami tentang baiknya berlaku adil dan berbuat baik, buruknya berlaku zhalim dan berperilaku jahat, serta baiknya banyak sifat-sifat akhlaki mulia, seperti kejujuran, berlaku amanah, berani, dermawan, dan semisalnya. Manusia juga mengetahui buruknya berbohong, berkhianat, berbuat kikir, dan sebagainya.

Akan tetapi, akal manusia tidak mampu untuk mengetahui kebaikan maupun keburukan semua hal. Itu dikarenakan keterbatasan ilmu mereka dalam banyak kesempatan. Oleh karena itulah Allah SWT mengutus para nabi a.s. dan menurunkan berbagai Kitāb Samāwī sebagai penyempurna perkara tersebut. Tujuan utama Allah SWT dalam hal ini adalah, pertama, untuk memberikan penegasan atas pengetahuan akal dan, kedua, untuk menyinari sisi-sisi kegelapan di mana akal tidak mampu untuk meraihnya.

Jika kita mengingkari secara menyeluruh kemampuan akal dalam menentukan berbagai hakikat yang ada, niscaya kita tidak akan mampu untuk menetapkan (membuktikan) keberadaan Allah, mengenal-Nya, dan menerima legalitas dakwah para nabi. Dan tentu saja, penerimaan atas ajaran-ajaran syariat tidak mungkin dapat diterapkan, kecuali terlebih dahulu akal kita menerima asas tauhid dan kenabian. Jelas sekali, penerimaan akan dua hal itu tidak dapat hanya dibatasi pada argumentasi yang bersifat teks keagamaan saja.

 

Keadilan Tuhan

Oleh karena itu, kita meyakini konsep keadilan Ilahi. Kita pun mengatakan bahwa mustahil bagi Allah SWT untuk berlaku zhalim kepada hamba-Nya, menyiksa atau mengampuni mereka tanpa alasan yang jelas. Tentu mustahil pula bagi Allah SWT untuk mengingkari janji-Nya atau memilih seseorang yang suka melakukan kejahatan, banyak berbuat kesalahan, dan suka berbohong sebagai nabi dan rasul.

Benar, mustahil pula bagi Allah SWT untuk membiarkan hamba-hambaNya yang diciptakan agar meraih kebahagiaan mengatur kehidupannya sendiri tanpa seorang pemberi petunjuk dan seorang pemimpin. Sebab, hal tersebut merupakan perbuatan buruk yang tidak mungkin dilakukan oleh SWT.

 

Kebebasan Manusia

Dari argumen di atas kita meyakini bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam keadaan bebas; di mana perilaku manusia didasari oleh kehendak dan pilihannya sendiri. Jika manusia mengalami keterpaksaan dalam berperilaku, maka merupakan sebentuk kezhaliman yang menghukumi manusia sebagai pelaku keburukan, dan merupakan perbuatan sia-sia untuk memberikan ganjaran kepada manusia yang melakukan kebaikan. Sementara semua itu mustahil dilakukan oleh Allah SWT.

Secara ringkas dapat kita katakan bahwa keimanan terhadap rasionalitas baik buruk dan kemandirian akal pikiran manusia dalam menentukan berbagai hakikat merupakan tonggak utama dalam agama, syariat, iman kepada kenabian para nabi dan kitab-kitab samāwī. Akan tetapi – sebagaimana telah di singgung sebelumnya – lantaran keterbatasan pengetahuan manusia, tidak mungkinlah bahwa hanya dengan berbekal akalnya, manusia akan mampu menggapai berbagai hakikat yang dapat menghantarkannya pada kebahagiaan dan kesempurnaan. Maka dari itu, manusia memerlukan kehadiran para nabi dan kitab-kitab samāwī.

 

Akal Merupakan Argumen Hukum Fiqih

Berdasarkan apa yang telah disebutkan di atas, maka kita dapat memahami bahwa dalil akal termasuk salah satu sandaran utama agama. Yang dimaksud dengan argumen dan dalīl akal adalah bahwa akal mengetahui sesuatu dengan pasti dan yakin serta memberikan pendapatnya dalam masalah tersebut. Dapat dicontohkan, jikalau (misalnya) mengharamkan perbuatan zhalim, khianat, berbohong, membunuh, mencuri, dan melanggar hak-hak orang lain tidak kita dapatkan dalilnya dalam al-Qur’ān maupun hadits, maka kita akan mengharapkan hal-hal itu berdasarkan pada dalīl akal.

Di samping, kita juga meyakini bahwa Allah SWT, Dzāt yang Mahatahu lagi Mahabijak, telah mengharamkan hal-hal di atas dan tidak meridhai kita melakukannya. Dengan demikian hal itu menjadi argumen (ḥujjah) Allah SWT bagi diri kita.

Ayat-ayat al-Qur’ān dipenuhi oleh pernyataan-pernyataan yang menjelaskan pentingnya akal dan argumen-argumen akal. Untuk mengajak manusia berjalan di atas rel tauhid, al-Qur’ān menyeru para pemilik akal (ulil albāb) untuk merenungkan ayat-ayat Allah SWT, baik yang berada di bumi maupun di langit al-Qur’ān menyatakan:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Āli ‘Imrān: 190)

Di sisi lain, akal dianggap sebagai tujuan dalam menjelaskan ayat-ayat Allah, di mana Ia merupakan tambahan atas pengetahuan manusia.

Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (Al-An‘ām: 65)

Di sisi lain pula, segenap manusia diseru untuk memilah-milah antara yang baik dan yang buruk dengan menggunakan potensi yang dimiliki oleh kekuatan berpikir, dengan ungkapan:

Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkannya? (al-An‘ām: 50)

Dan yang terakhir:

Sesungguhnya binatang (makhlūq) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apapun. (al-Anfāl: 22)

Ditambah lagi dengan banyak ayat-ayat lain yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Dengan adanya berbagai penekanan atas peran akal semacam itu, lantas masih mungkinkah bagi kita untuk berpura-pura tidak mengetahuinya ataupun tidak meletakkan perkara itu sebagaimana semestinya?

 

Kembali pada Permasalahan Keadilan Ilahi

Dalam pembahasan lalu telah di singgung bahwa kita meyakini akan keadilan Ilahi; Allah SWT tiada akan pernah menzhalimi hamba-hambaNya. Sebab, kezhaliman itu merupakan perbuatan yang buruk, dan Allah Mahasuci dari segala bentuk keburukan. Allah SWT berfirman:

Dan Tuhanmu tiada menganiaya seorang juapun. (Al-Kahfi: 49)

Apabila terjadi penyiksaan atas sebagian manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak, maka hal itu dikarenakan:

Maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (At-Taubah: 70)

Ungkapan semacam ini diserukan pula kepada segenap penghuni alam, bukan hanya kepada manusia saja:

Dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya. (Āli ‘Imrān: 108)

Yang jelas, ayat-ayat di atas sangat menekankan hukum yang berasal dari akal dan menyeru untuk menuju kepadanya.

 

Penafian taklīf Bimā lā yuthāq:

Kita meyakini berdasarkan apa yang telah kita bahas bahwa Allah SWT tiada akan pernah membebani manusia dengan sesuatu yang mereka tiada mampu untuk memikulnya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah: 286)

 

Hikmah di Balik Semua Peristiwa Menyedihkan:

Dengan dasar apa yang telah disebutkan diatas, kita meyakini bahwa semua kejadian menyedihkan yang terjadi di dunia (seperti gempa bumi, bencana alam, dan gangguan penyakit) terkadang memang merupakan ‘adzab, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Lūth:

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lūth Itu yang di atas ke bawah (Kami balikan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Hūd: 82)

Sebagaimana juga yang telah menimpa kaum Saba’ yang semena-mena:

Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit. (As-Saba’: 16)

Namun, terkadang hal itu juga berfungsi sebagai penggugah hati manusia agar kembali kepada jalan yang benar:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rūm: 41)

Dengan demikian, kejadian semacam ini termasuk dalam kategori bentuk kasih sayang Allah SWT.

Adapun bentuk bencana lain yang terkadang menimpa manusia, itu merupakan akibat dari apa yang telah disembunyikan manusia dalam dirinya dikarenakan kebodohannya:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (ar-Ra‘d: 11)

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan Apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. (an-Nisā’: 79)

Bagikan:

Pewarisan Ilmu Nabi SAW kepada Para Imam

Kita meyakini bahwa berdasarkan perintah Nabi Saw yang terdapat dalam beberapa riwayat Mutawātir tentang al-Qur’ān dan Ahl-ul-Bait a.s., kita tidak dapat melepaskan diri dari kedua hal (ini al-Qur’ān dan Ahl-ul-Bait a.s.), sehingga kita peroleh petunjuk. Juga, karena kita meyakini bahwa para imam itu ma‘shūm, maka semua perkataan, perbuatan, dan sikap diam (taqrīr) mereka merupakan hujjah bagi kita semua. Oleh karena itu, salah satu sumber fiqih kita setelah al-Qur’ān dan sunnah Rasūl Saw adalah ucapan, perilaku, dan taqrīr para Imām.

Hendaknya, kita memperlihatkan point berikut ini, yang menyatakan bahwa berdasarkan beberapa riwayat yang akurat, para imam berkata:

“Apa yang mereka katakan adalah berasal dari para Ayah (leluhur) mereka dari Rasūl Saw.”

Ya, sebenarnya riwayat mereka berasal dari Nabi Saw. Dan kita mengetahui bahwa riwayat yang berasal dari orang yang dapat dipercaya (tsiqah) dan dipercaya oleh Rasūl Saw diterima oleh semua ulama Islam.

Imām Muḥammad bin ‘Alī Al-Bāqir a.s. berkata kepada Jābir (bin ‘Abdillāh al-Anshārī):

“Wahai Jābir, jikalau kami menyampaikan hadits berdasarkan pendapat dan hawa nafsu kami, maka kita akan termasuk orang-orang yang hancur. Akan tetapi kami menyampaikan hadits kepada kalian dari apa yang telah kami simpan dari Rasūlullāh Saw.”

Dalam hadis lain yang berasal dari Imām Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq a.s. disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada beliau dan beliau pun menjawab pertanyaan tersebut. Namun, orang tersebut, melalui diskusi dan perdebatan, berusaha untuk mengubah pandangan Imām a.s. Kemudian, Imām a.s. berkata kepadanya:

“Tinggalkanlah pembahasan ini, karena aku telah menjawab pertanyaan berdasarkan hadits yang berasal dari Rasūl Saw (maksudnya, tidak ada alasan untuk dibahas kembali).”

Poin penting yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa kita memiliki sumber-sumber hadits yang mu‘tabar berikut ini: kitab al-Kāfī, Tahdzīb, Istibshār dan Man Lā Yaḥdhuru Faqīh. Menurut kita, ke-mu‘tabar-an sumber-sumber tersebut tidaklah berarti bahwa kita dapat begitu saja menerima riwayat yang tercantum dalam sumber-sumber tersebut tanpa meneliti terlebih dahulu para periwayat yang ada pada seluruh mata rantai sanad hadits tersebut. Riwayat yang dapat kita terima adalah riwayat yang seluruh para periwayatnya termasuk dalam kategori percaya (tsiqah) dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, kita tidak dapat menerima riwayat-riwayat dalam sumber-sumber tersebut yang tidak memenuhi syarat dan tidak memenuhi standar hadits yang shaḥīḥ.

Selain itu, mungkin terdapat riwayat di mana dari sudut pandang silsilah sanad-nya (mata rantai periwayatnya) tidaklah bermasalah, tetapi terdapat sesuatu lain yang menyebabkan para ulama tidak menggunakan riwayat-riwayat tersebut, bahkan berpaling darinya. Riwayat ini dianggap tidak mu’tabar menurut pandangan kita dan riwayat seperti ini dinamakan sebagai riwayat mu‘radz ‘anha.

Dengan demikian, menjadi jelaslah bagi kita bahwa orang-orang yang ingin mengetahui aqidah Syī‘ah dengan hanya bersandar pada satu riwayat atau beberapa riwayat yang terdapat pada sumber-sumber tersebut, tanpa mengadakan penelitian terlebih dahulu berkenaan dengan silsilah sanad-nya, sebenarnya telah terjatuh ke dalam jurang kesalahan.

Dengan kata lain, dalam beberapa madzhab Islam, terdapat beberapa sumber yang dinamakan dengan Shuḥah, di mana kesahihan riwayat-riwayat yang terdapat dalam sumber-sumber tersebut telah dijamin oleh penulisnya dan yang lain pun menganggapnya sebagai Shaḥīḥ.

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sumber-sumber hadits mu‘tabar Syī‘ah. Kita mengakui bahwa kitab-kitab tersebut merupakan hasil karya para ulama besar dan terpercaya, tetapi berhubungan dengan kesalahan riwayat-riwayat yang terdapat dalam sumber-sumber tersebut, tentu bergantung pada penelitian para pakar hadits dan riwayat-riwayat tersebut.

Sebenarnya, jika kita memperlihatkan semua poin di atas, maka akan terjawablah semua pertanyaan yang berhubungan dengan madzhab Syī‘ah. Begitu pula, kalau dia lalai terhadap poin-poin di atas, itu akan menjadi penyebab timbulnya banyak kesalahan dalam memahami aqidah Syī‘ah.

Singkat kata, setelah al-Qur’ān dan hadis Nabi Saw, hadits para imam pun merupakan hujjah bagi kita, dengan syarat, hadis tersebut benar-benar berasal dari para Ma‘shūm a.s.

Bagikan:

Pengangkatan Imām ‘Alī a.s. oleh Nabi Saw

Kita meyakini bahwa Rasūl Saw telah berkali-kali, dalam berbagai kesempatan yang berbeda, memperkenalkan Imām ‘Alī as sebagai pengganti beliau. Salah satunya adalah di Ghadir Khum di dekat Zuhfah setelah melaksanakan Haji Wada, di antara ribuan orang yang telah menunaikan haji. Beliau menyampaikan khutbah sebagai berikut:

“Wahai manusia! Bukankah aku lebih utama atas diri kalian ketimbang diri kalian sendiri?”

Mereka menjawab: “Benar.”

Lantas beliau bersabda:

“Barang siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka ‘Alī adalah walinya.”

Karena tujuan kita dalam menerangkan aqidah ini bukanlah untuk menyampaikan argumentasi secara terperinci, serta membahasnya dengan penuh ketegangan, maka cukuplah hadits di atas menunjukkan bahwa ia tidak dapat dengan mudah dilewatkan begitu saja, atau ditafsirkan secara sederhana; (karena) Rasūl Saw telah menyampaikannya secara resmi dengan penuh penekanan.

Bukankah maksud dari hadits tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Atsīr dalam kitabnya Al-Kāmil ketika Rasūlullāh Saw memulai dakwahnya Setelah turun ayat:

Wa andzir ‘asyiratak-al-Aqrabīna

Beliau mengumpulkan keluarganya dan menyampaikan Islam kepada mereka, seraya bersabda:

“Siapakah di antara kalian yang akan menolongku dalam urusan ini, maka dia akan menjadi saudaraku, wasih-ku, dan khalifahku di antara kamu sekalian.”

Tak seorangpun yang menjawab ajakan Nabi Saw, kecuali Imām ‘Alī a.s., yang berkata:

“Aku, wahai Nabi Allah, yang akan menjadi wasir dan penolongmu dalam urusan ini.”

Lalu, Rasūl Saw berpaling kearah beliau seraya bersabda:

“Inilah saudaraku, washi-ku, dan khalifahku aku diantara kamu sekalian.”

Bukankah inilah persoalan yang ingin disampaikan dan ditekankan kembali oleh Nabi Saw pada saat-saat terakhir kehidupan beliau? Berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Bukhārī, Nabi Saw memberikan perintah kepada mereka seraya berkata:

“Berikan kepadaku sesuatu agar aku dapat menuliskan surat untuk kalian, sehingga kalian tidak akan tersesat.”

Dalam lanjutan hadits di atas disebutkan bahwa sebagian sahabat menentang perintah Rasūl Saw itu, bahkan melontarkan ucapan yang tidak sepantasnya diucapkan di hadapan Rasūlullāh Saw dan menjadi penyebab tidak terwujudnya upaya penulisan hal itu.

Kami kembali mengingatkan bahwa tujuan kami di sini adalah menerangkan persoalan akidah dengan argumentasi-argumentasi yang sangat singkat, bukan dengan argumentasi-argumentasi yang panjang. Sebab, apabila yang terakhir ini kami lakukan, maka bentuk pembahasan buku ini tentu akan menjadi lain.

 

Penetapan Masing-masing Imām terhadap Penerusnya

Kita meyakini bahwa setiap Imām di antara dua belas Imām menjadi Imām setelah ditetapkan oleh Imām sebelumnya. Imām pertama adalah Imām ‘Alī Bin Abī Thālib a.s., lalu putra beliau, Imām Ḥasan a.s. Setelah Imām Ḥasan a.s., kemudian Imām Ḥusain bin ‘Alī a.s., penghulu orang yang telah syahid. Setelah Imām Ḥusain bin ‘Alī a.s., lalu Imām ‘Alī bin Ḥusain a.s. Pasca Imām ‘Alī bin Ḥusain a.s., imamah kemudian beralih kepada Imām Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir a.s. Setelah Imām Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir a.s., imamah dilanjutkan oleh Imām Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq a.s. Setelah Imām Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq a.s., kemudian Imām Mūsā bin Ja far a.s. Pasca imamah Imām Mūsā bin Ja‘far a.s., lantas Imām ‘Alī bin Mūsā Ar-Ridhā a.s. Setelah Imām ‘Alī bin Mūsā Ar-Ridhā a.s., lalu Imām Muḥammad bin ‘Alī At-Taqī a.s. Setelah Imām Muḥammad bin ‘Alī At-Taqī a.s., kemudian Imām ‘Alī bin Muḥammad an-Naqī a.s. Setelah Imām ‘Alī bin Muḥammad an-Naqī a.s., lalu Imām Ḥasan bin ‘Alī a.s. Dan Imām yang terakhir adalah Imām Muḥammad bin Ḥasan al-Mahdī a.s., di mana kita semua meyakini bahwa beliau ini masih hidup hingga sekarang.

Kita mengetahui bahwa keyakinan terhadap Imām Mahdī, yaitu orang yang akan memenuhi alam ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezhaliman dan dosa-dosa, bukanlah hanya keyakinan kita saja. Bahkan, semua orang Islam meyakini akan kemunculan Imām Mahdī ini; sebagian ulama Ahl-us-Sunnah telah menulis kitab tentang kemutawatiran hadits yang berkenaan dengan Imām Mahdī ini.

Dalam sebuah risalah yang terbit beberapa tahun yang lalu, yang dikeluarkan oleh Rābithah Al-Alami Al-Islāmī dalam rangka menjawab pertanyaan seputar Imām Mahdī, terdapat penekanan tentang kepastian munculnya Imām Mahdī. Di situ juga dinukil riwayat-riwayat tentang Imām Mahdī yang berasal dari berbagai kitab yang diakui keotentikannya. Kendati mereka meyakini bahwa Imām Mahdī baru akan terlahir di akhir zaman, tetapi kita percaya bahwa Imām Mahdī tersebut adalah Imam ke-12 dan sekarang masih hidup. Beliau akan muncul (kembali) setelah mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membersihkan bumi ini dari seluruh bentuk kezhaliman dan menegakkan keadilan.

 

‘Alī a.s., Sahabat Nabi yang Paling Utama

Kita meyakini bahwa Imām ‘Alī a.s. adalah sahabat yang paling utama serta merupakan orang yang memiliki derajat tertinggi setelah Rasūlullāh Saw. Kendati demikian, kita mengharamkan segala jenis penuhanan (ghuluw) dan sikap yang berlebih-lebihan terhadap sosok Imām ‘Alī a.s. Dan kita pun meyakini bahwa orang yang menyadarkan Maqām kebutuhan (ulūhiyyah) dengan menganggap Imām ‘Alī a.s. sebagai Tuhan atau sejenisnya patut dihukumi sebagai kafir dan dianggap setelah keluar dari barisan Islam (dan kaum muslimin).

Kita terlepas dari diri keyakinan mereka yang seperti itu. Namun, pada bola disayangkan bahwa kadangkala nama mereka itu digandengkan (atau dihubung-hubungkan) dengan nama Syī‘ah, sehingga penyebab kesalahan (pandangan dan sikap) dalam hal ini. Padahal, para ulama Syī‘ah, dalam karya-karyanya, telah menganggap mereka itu keluar dari agama Islam.

 

Sahabat dalam Pandangan Akal dan Sejarah

Kita meyakini bahwa di antara para sahabat Rasūlullāh Saw terdapat orang-orang Agung yang memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi serta berkepribadian mulia, sebagaimana al-Qur’ān pun telah menjelaskan tentang keutamaan mereka ini. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita dapat menganggap seluruh sahabat itu ma‘shūm dan menyimpulkan bahwa semua perilaku sahabat itu benar dan tanpa cela. Sebab, dalam al-Qur’ān sendiri terdapat ayat ayat yang menerangkan tentang orang-orang munafik (dalam Surat at-Taubah, an-Nūr, dan al-Munāfiqūn). Mereka ini ada di antara para sahabat, bahkan secara nyata para sahabat tersebut termasuk di antara orang-orang munafik yang sangat dicela al-Qur’ān.

Setelah zaman Rasūl Saw, ada sebagian sahabat yang menyalakan api peperangan di antara kaum muslimin, lalu mereka batalkan niatnya terhadap imam dan khalifah mereka, yang menyebabkan pertumpahan darah ribuan kaum muslimin. Apakah dengan semua itu kita dapat tetap beranggapan bahwa mereka itu seluruhnya suci dan terbebas dari semua kesalahan?

Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita dapat membenarkan perilaku kedua kelompok (dalam Perang Jamal dan Perang Shiffīn), yang telah menyalakan api peperangan dan perpecahan di antara kaum muslimin? Ini merupakan hal yang saling bertentangan dan tidak dapat kita terima. Untuk mencari kebenaran atas perilaku para sahabat ini, sebagian kalangan telah menyadarkan permasalahan ini kepada persoalan ijtihad, dengan mengatakan bahwa salah satu di antara kedua kelompok itu benar dan yang lain salah. Namun, karena mereka beramal sesuai dengan hasil ijtihad mereka, maka mereka semua telah dimaafkan di sisi Allah SWT, bahkan beroleh pahala. Sungguh, kita sangat sulit untuk menerima hal ini.

Bagaimana mungkin, hanya dengan balasan istirahat saja mereka dapat membatalkan bakiak terhadap pengganti Rasūl Saw, yang selalu menyalahkan api peperangan serta menumpahkan darah ribuan orang yang tidak berdosa. Kalau pertumpahan darah itu dapat dicarikan pembenarannya dengan ijtihad, lantas perbuatan apalagi yang tidak dapat dicarikan pembenarannya dengan itu.

Dengan lebih jelas dapat kita katakan bahwa kita meyakini, semua manusia bergantung pada amal perbuatannya, yang termasuk para sahabat Rasūlullāh Saw, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’ān:

Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa di sisi Allah. (Al-Ḥujarāt: 13)

Ayat ini juga mencangkup mereka. Oleh karena itu, kita harus menjelaskan terlebih dahulu kondisi mereka dengan amal perbuatannya, selalu menghukumi mereka secara logis serta kita katakan: “Mereka yang pada zaman Rasūl Saw yang termasuk sahabatnya ikhlas, lalu setelah Rasūl Saw wafat mereka tetap bekerja keras untuk membela Islam, tetap setia pada janji mereka terhadap al-Qur’ān, maka mereka dapat kita anggap sebagai sahabat yang baik yang harus kita hormati.”

Adapun mereka yang di zaman Rasūl Saw termasuk dalam barisan kaum munafik dan telah melakukan hal-hal yang membuat Rasūl Saw sedih, atau setelah Rasūl Saw wafat mereka berubah menjadi jahat serta melakukan perkara-perkara yang merugikan Islam dan kaum muslimin, maka kita tidak akan pernah menyukai mereka.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’ān:

Engkau tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dalam pertolongan yang datang daripada-Nya. (al-Mujādalah: 22)

Menurut keyakinan kita, orang-orang yang telah mengganggu Rasūl Saw, baik di zaman beliau masih hidup maupun setelah beliau wafat, tidak berhak untuk mendapatkan pujian.

Namun, kita tidak dapat melupakan bahwa terdapat sekelompok sahabat yang telah berjuang bagi kemajuan Islam, dan Allah SWT pun telah menguji mereka. Begitu pula, orang-orang setelah mereka, yang akan dilahirkan hingga akhir dunia, yang meneruskan jalan dan program para sahabat yang benar; mereka berhak mendapatkan segala jenis pujian.

Dalam al-Qur’ān Allah SWT berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhājirīn dan Anshār dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun berdoa kepada Allah. (Al-Taubah: 100)

Ini ringkasan aqidah kita tentang para sahabat

Bagikan:

BAB V

KEPEMIMPINAN PASCA RASŪL

(IMĀMAH)

 

Keberlangsungan Konsep Kepemimpinan

Kita meyakini, hikmah Ilahi menuntut untuk diutusnya para nabi yang berfungsi sebagai pemberi petunjuk bagi umat manusia. Dan hikmah Ilahi ini pula yang menuntut agar pada setiap zaman terdapat seorang Imām, setelah pengutusan seorang nabi.

Keberadaan Imām tersebut berfungsi sebagai penjaga syariat dan agama dari berbagai bentuk penyimpangan dan perubahan, sekaligus sebagai pemenuh semua kebutuhan masyarakat pada setiap zaman dan menyeru mereka agar menuju kepada Allah SWT, dengan cara mengamalkan semua ajaran agama. Apabila hal itu tidak dilaksanakan, niscaya tujuan penciptaan manusia yaitu untuk menuju kesempurnaan dan kebahagiaan sejati tidak akan pernah terwujud. Tentu hal ini akan menyebabkan kesesatan umat manusia dari jalur petunjuk (hidāyah) dan hilangnya syariat-syariat para nabi dari fungsi aslinya, sehingga manusia akan terjerumus dalam kebingungan. Oleh karena itu, kita meyakini bahwa pasca pengutusan Nabi Saw mestilah terdapat seorang Imām pada setiap zaman:

Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah: 119)

Ayat di atas tidak dikhususkan pada zaman tertentu saja. Seruan untuk mengikuti orang-orang yang benar merupakan bukti akan keberadaan seorang Imām suci (ma’shūm) pada setiap zaman. Ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh banyak ahli tafsir dari kalangan Ahl-us-Sunnah maupun Syī‘ah.

 

Hakikat Kepemimpinan

Kita meyakini bahwa kepemimpinan (imāmah) bukan hanya sekedar kedudukan lahirnya yang berkait dengan kekuasaan dan pemerintahan saja, akan tetapi ia merupakan kedudukan maknawi dan berkapasitas spiritual yang luhur. Fungsi utama seorang Imām adalah untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia dalam perkara-perkara agama maupun yang berkait dengan perkara duniawinya, apabila dalam bidang administrasi dan pemerintahan. Imām juga berfungsi sebagai penjaga syariat dari pelecehan dan penyimpangan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, agar supaya tujuan pengutusan Nabi Saw dapat terwujud dengan baik.

Kedudukan Luhur inilah yang juga pernah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kekasih-Nya, Ibrāhīm Al-Khalīl a.s. Beliau mendapatkannya setelah melalui jenjang kenabian, kerasulan, dan lulus dari semua bentuk cobaan.

Lantas, Ibrāhīm a.s. memohon kepada Allah SWT agar Anugerah tersebut juga diberikan kepada sebagian anak cucu beliau. Maka, permohonan tersebut ditolak untuk sebagian anak cucu beliau, dikarenakan kedudukan itu tiada akan pernah diraih oleh para pelaku kezhaliman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrāhīm diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrāhīm menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu Imām bagi seluruh manusia.” Ibrāhīm berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunan saya.” Allah berfirman: “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 124)

Jelaslah bahwa janji Allah SWT tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan lahiriyah belaka. Apabila kepemimpinan tidak diartikan sebagaimana telah kita sebutkan, niscaya ayat yang memiliki makna Luhur itu tidak akan memiliki arti yang jelas.

Kita meyakini, para nabi Ulul Azmi memiliki kedudukan sebagai imam, sekaligus sebagai pemimpin maknawi, materi, lahiriah, dan batiniah atas segenap umat manusia. Terutama, Nabi Muḥammad Saw yang dianugerahi kepemimpinan Ilahi semenjak awal pengutusan beliau sebagai Nabi. Peran yang diemban beliau bukan hanya sebagai pembawa ajaran-ajaran Ilahi kepada umat manusia, namun juga sebagai pemimpin mereka.

Kita meyakini, garis kepemimpinan pasca Nabi Muḥammad Saw akan terus berlangsung dan dilanjutkan oleh para manusia suci dari keturunan beliau.

Berdasarkan apa yang telah kita sampaikan mengenai imāmah, menjadi jelaslah bahwa untuk mencapai kedudukan Luhur itu diperlukan berbagai syarat yang sangat berat; dari sisi ketakwaan (taqwā sampai mencapai derajat keterjagaan dari dosa); dari sisi keilmuan yang mencakup segala pengetahuan, ajaran-ajaran agama, pengenalan atas manusia, dan segala kebutuhan yang harus dipenuhi pada setiap waktu dan tempat.

Cobalah Anda renungkan tentang hal ini!

 

Kemaksuman para Imām

Kita meyakini, seorang Imām memiliki kesamaan dengan nabi; dia harus memiliki sifat keterjagaan dari segala bentuk kesalahan dan dosa. Hal itu selain dikarenakan penafsiran atas ayat yang telah disebutkan di atas juga lantaran pribadi yang tidak memiliki keterjagaan semacam itu tidak akan memperoleh kepercayaan penuh, sehingga perkara-perkara yang berkaitan dengan asas-asas agama (ushūl-ud-dīn) maupun cabang-cabang (furū’-ud-dīn) tidak akan dapat diperoleh darinya. Atas dasar itu, kita meyakini bahwa semua hal yang berkaitan dengan ungkapan, perilaku, maupun ketetapan seorang Imām merupakan sebuah argumentasi syariat (ḥujjah syar‘iyyah).

 

Tugas Imām dalam Menjaga Syariat

Kita meyakini bahwa seorang imam tidak akan pernah membawakan syariat baru. Seorang imam hanya bertugas untuk membawakan syariat Islam serta menjaganya. Dia juga harus berusaha untuk mengajarkan dan menyebarkannya kepada umat, sekaligus mengarahkan mereka agar berpegang teguh pada al-Qur’ān dan as-Sunnah.

 

Imām dan Pengetahuan Keagamaan

Kita meyakini, bahwa seorang Imām harus memiliki keilmuan dan ingatan sempurna atas semua asas, cabang, hukum, perundang-undangan agama Islam, maupun penafsiran atas al-Qur’ān. Keilmuan Ilahi ini diwarisi dari Rasūlullāh Saw, sehingga seorang Imām mampu beroleh kepercayaan penuh umat serta diyakini dalam pemahaman hakikat ajaran Islam.

 

Penetapan Imām

Kita yakin, imam (Khalīfat-ur-Rasūl) harus ditentukan secara jelas oleh Rasūl Saw melalui ketentuan (nash) beliau sendiri, sebagaimana penetapan seorang Imām terhadap Imām setelahnya. Dengan penjelasan lain, imam haruslah dipilih oleh Allah SWT melalui Nabi Saw. Sebagaimana, pengangkatan Nabi Saw sebagaimana ayat yang berkaitan dengan pengangkatan Ibrāhīm sebagai Imām:

Sesungguhnya aku akan menjadikanmu Imām bagi seluruh manusia.

Batasan ketaqwaan yang disebutkan diatas adalah sampainya seseorang pada tingkatan suci dari kesalahan dan dosa (‘ishmah). Adapun penjelasan tentang tingkat posisi ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang imam, maka ilmunya harus sampai pada derajat melingkupi segala hukum dan ajaran-ajaran Ilahi, tanpa sedikitpun kesalahan. Dalam hal ini, tiada seorangpun yang dapat menguraikan (menjelaskan)nya selain Allah SWT dan Rasūl-Nya. Maka, orang yang menentukan pribadi yang memenuhi kriteria dan memiliki sifat keterjagaan dari kesalahan dan dosa tersebut haruslah Rasūlullāh Saw

Atas dasar itu, kita meyakini bahwa kepemimpinan para Imām Suci tidak akan sempurna jika hanya didasari oleh pemilihan masyarakat.

 

Para Imām Ditetapkan oleh Nabi Saw

Kita percaya bahwa Nabi Saw telah menentukan orang yang menjadi Imām setelah beliau. Dalam sebuah kesempatan, Rasūl Saw telah mengutarakan persoalan ini secara umum, yang disebutkan dalam sebuah hadits yang terkenal sebagai Hadits Tsaqalain. Dalam kitab Shaḥīḥ Muslim disebutkan bahwa Rasūl Saw, pada suatu hari, telah berkotbah di daerah Khum, sebuah wilayah yang terletak antara Makkah dan Madīnah beliau bersabda:

“Aku sebentar lagi akan meninggalkan kalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua barang berharga di antara kalian. Pertama adalah kitab Allah, yang padanya terdapat petunjuk dan cahaya dan Ahl-ul-Bait-Ku. Aku mengingatkan kalian tentang Ahl-ul-Baitku.”

Makna seperti ini pun dapat kita temui dalam Kitāb Shaḥīḥ Tirmidzī. Dengan jelas di situ disebutkan:

“Apabila kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat.”

Hadits seperti ini pula terdapat dalam kitab Sunan Dāramī, Khashā’ish Nasā’ī, Musnad Aḥmad, dan banyak sumber-sumber Islam yang masyhur lainnya.

Benar, tiada alasan untuk ragu, karena hadits ini dikategorikan sebagai Hadits Mutawātir dan tak seorang muslim pun yang dapat mengingkarinya. Dari riwayat tersebut dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Rasūl Saw tidak hanya sekali saja menyampaikan hadits tersebut, bahkan berkali-kali dan dalam kesempatan yang berbeda-beda.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua Ahl-ul-Bait Nabi Saw dapat memiliki kedudukan tinggi dan bergandengan dengan al-Qur’ān seperti ini. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan Ahl-ul-Bait Nabi Saw di sini adalah khusus untuk para Imām saja (hanya pada sebagian riwayat lemah dan meragukan saja ungkapan “sunnahku” menggantikan “Ahl-ul-Baitku”).

Kita juga akan tersadar pada hadis Masyhūr lainnya yang terdapat dalam sumber-sumber terkenal, seperti Shaḥīḥ Bukharī, Shaḥīḥ Muslim, Shaḥīḥ Tirmidzī, Shaḥīḥ Abī Dāūd, Musnad Ibni Ḥanbal dan sumber-sumber lainnya, di mana Rasūlullāh Saw bersabda:

“Agama akan senantiasa tegak hingga tiba hari kiamat atau sampai selesainya masa kepemimpinan 12 Imām atas kamu sekalian, di mana mereka semuanya adalah (berasal) dari Quraisy.”

Kita meyakini, hanya penafsiran yang terdapat dalam aqidah Syī‘ah saja, sekaitan dengan 12 Imām, yang dapat diterima akal. Apakah ada penafsiran lain dari hadits ini? Cobalah anda renungkan!

Bagikan:

KETIGA PULUH SATU

Kecerdikan Burung Abu Numrah Menggunakan Duri

Burung kecil yang disebut Abu Numrah pada musim tertentu membuat sarang di atas pohon. Ketika ia melihat seekor ular besar mendatangi sarangnya dengan mulut terbuka hendak menelannya, maka dalam keadaan bingung ia mencari akal sehingga menemukan duri, lalu diambilnya duri itu dan dimasukkan ke dalam mulut ular. Maka ular melingkar dan menggelepar-gelepar hingga mati.

Tidakkah engkau perhatikan, kalau aku tidak mengabarkan hal itu kepadamu, maka engkau atau orang lain tidak akan ingat bahwa duri memiliki manfaat, atau burung yang kecil atau yang besar memiliki kecerdikan. Amatilah hal ini dan banyak hal lainnya yang mengandung manfaat yang tidak engkau ketahui melalui orang yang menyampaikan atau kabar yang engkau dengar.

 

KETIGA PULUH DUA

Lebah, Madu dan Sarangnya

Perhatikanlah lebah dan kumpulannya dalam membuat madu, tersedianya rumah yang berbentuk persegi enam dan yang engkau lihat dalam hal itu berupa kecerdasan. Jika engkau mengamati pekerjaannya, engkau akan melihat ketakjuban. Jika engkau lihat yang dikerjakannya, engkau temukan keagungan dan kemuliaan perannya bagi manusia. Jika engkau kembali pada pembuatnya yang tidak mengetahui dirinya (191), apalagi terhadap yang lainnya, maka di dalam hal ini terdapat bukti yang amat jelas bahwa kebaikan dan keteraturan dalam penciptaan ini bukanlah pada lebah itu sendiri, melainkan pada yang menciptakannya dan menundukkannya bagi manusia.

 

KETIGA PULUH TIGA

Belalang dan Kerendahannya

Perhatikanlah belalang, apa yang melemahkan dan yang menguatkannya. Jika engkau perhatikan penciptaanya, engkau melihatnya sebagai sesuatu yang paling lemah. Padahal jika kawanannya menyerang suatu negeri, maka tidak ada seorang pun yang dapat melindungi dirinya dari serangannya. Ketahuilah, bahwa raja dari raja-raja di bumi, kalau mengumpulkan bala tentaranya untuk melindungi negerinya dari serangan belalang, maka mereka tidak akan mampu melakukan itu. Bukankah ini termasuk bukti kekuasaan Pencipta yang membangkitkan makhluk yang paling lemah penciptaannya menjadi makhluk yang paling kuat sehingga tidak ada orang yang dapat mencegahnya.

 

KETIGA PULUH EMPAT

Banyaknya Belalang

Perhatikanlah belalang itu, bagaimana disebarkan ke permukaan bumi seperti aliran sungai. Kawanan belalang itu menutupi lembah, bukit, padang sahara dan padang rumput, sehingga karena banyaknya menghalangi cahaya matahari. Kalau saja hal ini dilakukan dengan tangan, maka kapan dapat mengumpulkan dalam jumlahnya yang banyak ini? Dan dalam berapa tahun hal itu dapat diselesaikan? Maka ini menunjukkan pada kemampuan yang tidak ada sesuatu pun yang dapat melakukannya.

 

KETIGA PULUH LIMA

Ikan

Amatilah penciptaan ikan dan bentuk yang ditakdirkan padanya. Ikan diciptakan tanpa kaki karena tidak perlu berjalan dan tempat tinggalnya di dalam air. Ikan pun tidak memiliki paru-paru karena tidak dapat bernapas dan tenggelam di dalam air. Sebagai ganti kaki, diciptakan baginya sirip yang keras pada kedua sisinya, sebagaimana ujung dayung diletakkan di kedua sisi perahu. Tubuhnya ditutupi dengan sisik yang kuat yang terjalin seperti baju besi untuk menjaganya dari bahaya. Ikan juga diberi kelebihan pada indera penciuman karena penglihatannya lemah dan air menutupinya. Ikan dapat mencium makanan dari jarak yang jauh, lalu mencari dan mengikutinya. Jika tidak, maka bagaimana ikan itu dapat mengetahui tempat makanannya? Ketahuilah bahwa di dalam mulutnya terdapat saluran ke lubang telinganya (insang). Ikan menyedot air dengan mulutnya dan menyalurkannya ke kedua telinganya sehingga mengisap oksigen darinya, sebagaimana hewan lainnya yang mengisapnya dari udara.

 

KETIGA PULUH ENAM

Banyaknya Anak Ikan dan Sebabnya

Kini pikirkanlah mengenai banyaknya anak ikan dan pengkhususannya dengan hal itu. Engkau lihat di dalam perut seekor ikan terdapat telur yang banyaknya tidak terhingga. Sebabnya adalah ikan disediakan untuk makanan hewan lain, karena kebanyakan hewan memakan ikan hingga binatang buas yang hidup di pohon-pohon yang menyelam ke air untuk memburunya. Jika mendapati ikan, maka binatang pemangsa ikan menerkamnya. Binatang buas memangsa ikan, burung memangsa ikan, manusia memakan ikan, dan ikan pun memangsa ikan. Di dalam hal itu terdapat keteraturan sehingga ikan diciptakan dalam jumlah yang banyak.

 

KETIGA PULUH TUJUH

Keluasan Perencanaan Pencipta dan Keterbatasan Pengetahuan Makhluk

Jika engkau ingin tahu keluasan perencanaan Pencipta dan keterbatasan pengetahuan makhluk, perhatikanlah apa yang ada di laut berupa berbagai jenis ikan, binatang-binatang air dan kerang-kerang yang jumlahnya tidak terhingga. Selain itu tidak diketahui pula manfaatnya kecuali sedikit saja yang diperoleh manusia seperti celupan merah yang tidak diketahui manusia campurannya. Anjing laut berkeliling di tepi pantai sehingga mendapatkan siput, lalu memakannya sehingga darahnya melumuri moncongnya. Maka manusia melihat keindahannya, lalu mengambilnya sebagai celupan. (202) Dan hal-hal lainnya yang ditemukan manusia dari generasi demi generasi dan zaman demi zaman. (213)

(Al-Mufadhdhal berkata: ) Tibalah waktu tengah hari. Maka tuanku a.s. berdiri untuk menunaikan salat. Beliau berkata kepadaku: “Datanglah besok pagi-pagi sekali in syā’ Allāh.” Maka aku pun kembali. Berlimpahlah kebahagiaanku dengan apa yang telah beliau ajarkan kepadaku dan senang dengan apa yang berikan kepadaku.. Tak henti-hentinya aku memuji Allah atas apa yang diberikan kepadaku. Maka pada malam harinya aku tidur dengan gembira dan sukacita.

Catatan:


  1. 19). Yakni, ia tidak memiliki akal yang digunakan untuk memikirkan sesuatu yang lain selain memikirkan perkara yang khusus itu saja. Maka tampaklah bahwa pengkhususan pada perkara ini merupakan ilham dari Pengatur Yang Maha Bijaksana atau tabiat yang diberikan padanya dalam hubungannya dengan maslahat yang khusus, sementara binatang ini tidak menyadari maslahat tersebut. Barang kali ini menegaskan apa yang dikatakan bahwa binatang-binatang kecil tidak dikenali secara mendalam. (Dari Ta‘līqāt-ul-Biḥār). 
  2.  20). Tampak dari ungkapan Imam a.s. kesamaan anak bukit dan siput. Kemungkinan yang dimaksud adalah bahwa celupan siput memahamkan kepada manusia untuk membuat warna merah untuk celupan karena di dalam keduanya terdapat kesamaan. 
  3. 21). Yang menakjubkan bukanlah penciptaan semut, cacing dan berbagai jenis ikan yang tidak dikenal, yang bermacam bentuk dan bermacam-macam hikmahnya. Yang menakjubkan bukanlah yang menunjukkan pada hikmah dalam masing-masing ciptaan setelah menciptakannya. Semata-mata keheranan adalah terhadap orang yang mengingkari Pencipta langit, bumi dan yang ada di antara keduanya beserta keteguhan dan keteraturan penciptaan serta keindahan susunannya. Kalau orang yang ingkar itu memandang dirinya dengan penciptaan yang unik dan bentuk yang sempurna, niscaya itu merupakan bukti paling besar atas keberadaan-Nya dan keesaan-Nya. (Al-Imām ash-Shādiq, karya Muzhaffar, juz 1, hlm. 177). 

Bagikan:

KEDUA PULUH DUA

Ayam Betina, Kegembiraannya untuk Mengerami Telur dan Penetasan.

Perhatikanlah ayam betina, bagaimana ia timbul gairahnya untuk mengerami telur dan menetaskannya. Ia tidak bertelur sekaligus dan tidak memiliki sarang tempat pijakan. Melainkan ia bertelur di mana saja, mengembangkan bulu-bulunya, berkotek dan tidak makan. Sehingga ia mengumpulkan telurnya, lalu mengerami dan menetaskannya. Tidaklah hal itu dilakukan melainkan untuk meneruskan keturunannya. Siapa yang menjadikannya meneruskan keturunan, padahal ia tidak memiliki akal dan pikiran, kalau tidak diciptakan demikian?

 

KEDUA PULUH TIGA

Bentuk Telur dan Keteraturannya

Perhatikanlah bentuk telur dan isinya berupa kuning telur yang kental dan cairan yang halus. Sebagiannya menjadi anak dan sebagian lainnya menjadi makanannya hingga telur itu menetas. Perhatikanlah keteraturan di dalamnya, di mana ketika anak itu terbentuk di dalam kulit telur yang terjaga, diberikan bersamanya di dalam rongga telur itu makanan yang cukup hingga waktu keluar darinya. Seperti orang yang tertahan di dalam penjara yang tidak ada orang yang menemuinya, maka diberikan untuknya makanan yang cukup hingga waktu ia keluar darinya.

 

KEDUA PULUH EMPAT

Tembolok Burung

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai tembolok burung dan ukurannya. Padanya terdapat saluran makanan menuju usus yang kecil, sehingga tidak tersalur makanan ke dalamnya kecuali sedikit demi sedikit. Kalau burung itu tidak memakan biji yang kedua sebelum biji yang pertama sampai pada usus, maka lama baginya dan kapan ia mendapatkan makanannya? Ia hanya dapat mengambilnya dengan sangat hati-hati. Karena itu, diberikan baginya tembolok sebagai tempat penyimpanan makanan untuk menyimpan dengan segera makanan yang diperolehnya. Kemudian, makanan ini disalurkan ke usus dengan perlahan. Di dalam tembolok juga terdapat lubang yang lain. Karena burung harus memberi makan anak-anaknya, maka makanan itu dikeluarkan lagi dengan cara yang sangat mudah

 

KEDUA PULUH LIMA

Keanekaragaman Warna Burung dan Sebabnya

(Al-Mufadhdhal berkata: ) Aku berkata: “Kaum atheis mengira bahwa perbedaan warna dan bentuk burung hanyalah disebabkan perkawinan campuran. Sedangkan perbedaan ukurannya terjadi secara kebetulan.

Beliau a.s. berkata: “Wahai Mufadhdhal, perhiasan yang engkau lihat pada burung-burung merak, masing-masing jenis memiliki warna dan rupa yang sama, seperti digambar dengan pensil warna. Bagaimana percampuran yang terjadi secara kebetulan dapat membuat bentuk yang sama. Kalau itu terjadi secara kebetulan, maka tidak akan ada kesamaan antara satu dengan lainnya.”

 

KEDUA PULUH ENAM

Bulu Burung dan Penjelasannya

Perhatikanlah bulu burung, dan bagaimanakah keadaannya? Engkau akan melihatnya terjalin seperti tenunan baju dari benang-benang yang halus. Sebagiannya tersusun pada sebagian lainnya seperti jalinan benang pada benang yang lain dan rambut pada rambut yang lain. Kemudian engkau lihat jalinan itu, jika engkau bentangkan, terbuka sedikit demi sedikit dan tidak kusut untuk memasukkan udara ke sela-selanya. Jika terbang, burung itu menjadi ramping. Engkau lihat di tengah-tengah bulu terdapat batang yang keras dan kuat. Batang itu menjadi pangkal jalinan bulu. Barang itu berupa pipa yang berada di tengah bulu-bulu, dan di dalamnya terdapat rongga agar burung itu menjadi ringan ketika terbang.

 

KEDUA PULUH TUJUH

Burung Berkaki Panjang dan Keteraturannya

Wahai Mufadhdhal, apakah engkau pernah melihat burung yang memiliki kaki yang panjang? Tahukah engkau apa manfaat ia memiliki kaki yang panjang? Hal itu disebabkan kebanyakan burung tersebut hidup dari genangan air. Engkau lihat burung itu dengan kedua kakinya yang panjang seperti pengintai di atas menara pengawas. Ia memperhatikan apa yang berenang di dalam air. Apabila ia melihat sesuatu yang dapat dimakan, ia melangkah dengan perlahan, lalu menangkapnya. Kalau saja ia memiliki kaki yang pendek, ketika ia melangkah seperti pemburu untuk menangkapnya, maka perutnya akan menyentuh air sehingga menimbulkan riak dan membuat sesuatu itu ketakutan, lalu menjauh darinya. Maka diciptakan baginya dua kaki yang panjang untuk memenuhi keperluannya dan tidak membuat takut mangsanya.

Perhatikanlah aspek-aspek keteraturan dalam penciptaan burung. Maka engkau dapati setiap burung yang memiliki kaki yang panjang, juga memiliki leher yang panjang. Hal itu adalah agar ia dapat mengambil makanannya dari atas tanah. Kalau ia memiliki kaki yang panjang sementara lehernya pendek, maka ia tidak akan dapat mengambil apa pun yang ada di atas tanah. Kadang-kadang selain diberi leher yang panjang, juga diberi paruh yang panjang. Hal tersebut adalah untuk menambah kemudahan baginya. Tidakkah engkau perhatikan bahwa engkau tidak pernah mengamati sesuatu pun dari penciptaan kecuali engkau mendapatinya berada pada tujuan kebaikan dan keteraturan.

 

KEDUA PULUH DELAPAN

Burung-burung Kecil dan Caranya Mencari Makan

Perhatikanlah burung-burung kecil. Bagaimana burung-burung itu mencari makan di siang hari. Burung-burung itu tidak mendapatkan makanannya yang telah tersedia, melainkan memperolehnya dengan usaha dan pencarian. Demikian pula makhluk lainnya. Maka Maha Suci Allah Yang memberikan kadar rezeki dan cara pembagiannya. Tidak dijadikan rezeki yang tidak ada kadarnya, sehingga makhluk yang dijadikan berhajat padanya tidak dengan mudah. Sehingga tidak ada kebaikan dalam hal itu. Karena kalau makanannya sudah tersedia, maka binatang-binatang itu mendatanginya dan terus-menerus memakannya hingga rusaklah pencernaannya, lalu mati. Manusia pun tidak terus-menerus makan, karena hal itu akan menyebabkan bahaya, hingga akan banyak menimbulkan kerusakan dan kekejian.

 

KEDUA PULUH SEMBILAN

Kehidupan Burung Hantu dan Kelelawar

Apakah engkau tahu, apa makanan burung jenis ini yang hanya keluar di malam hari, seperti burung hantu dan kelelawar?

Aku menjawab: “Tidak, wahai tuanku.”

Beliau a.s. berkata: Makanannya adalah binatang-binatang yang bertebaran di udara seperti nyamuk, kupu-kupu, belalang dan lebah. Binatang-binatang itu bertebaran di udara, tanpa memiliki tempat tertentu. Perhatikanlah hal itu, jika engkau meletakkan lampu di atap atau halaman rumah, maka binatang-binatang tersebut berkumpul mengerubunginya. Dari mana binatang-binatang itu datang selain dari tempat yang dekat? Jika seseorang mengatakan bahwa binatang-binatang itu datang dari padang pasir, maka jawabnya adalah bagaimana binatang-binatang itu datang pada saat itu juga dari tempat yang jauh, dan bagaimana dari tempat yang jauh itu dapat melihat cahaya lampu di rumah dan mendatanginya. Padahal binatang-binatang itu berdesak-desakan di dekat lampu. Hal itu menunjukkan bahwa binatang itu bertebaran di udara di mana-mana. Ketiga jenis burung malam di atas mencarinya ketika keluar dan memangsanya.

Perhatikanlah, bagaimana disediakan rezeki bagi burung-burung ini yang tidak keluar kecuali pada malam hari berupa binatang-binatang kecil yang bertebaran di udara. Kajilah makna yang dikandung di dalam penciptaan binatang-binatang kecil ini yang bertebaran, yang disangka oleh orang-orang yang ragu bahwa itu hanya kesia-siaan.

 

KETIGA PULUH

Bentuk Kelelawar

Kelelawar diciptakan dalam bentuk yang menakjubkan di antara bentuk-bentuk burung dan binatang berkaki empat. Bentuk kelelawar mendekati bentuk binatang berkaki empat. Ia memiliki dua daun telinga, gigi dan bulu. Kelelawar dapat melahirkan anak, menyusui dan bisa kencing. Ia dapat berjalan dengan empat kaki. Sifat-sifat ini tidak terdapat pada burung. Kemudian, ia juga keluar pada malam hari dan memangsa binatang yang bertebaran di udara berupa kupu-kupu dan sebagainya. Ada orang yang mengatakan bahwa kelelawar tidak makan selain keringat. Pendapat itu terbantah dari dua aspek. Pertama: Keluarnya kotoran ada air kencing yang tidak akan terjadi selain dari makanan. Kedua: Binatang itu memiliki gigi, kalau tidak memakan sesuatu apa pun, maka gigi itu tidak akan ada artinya. Padahal tidak ada penciptaan yang tidak memiliki makna. Kebutuhannya adalah jelas, hingga kotorannya mendatangkan manfaat. Besarnya kebutuhan pada bentuknya yang menakjubkan menunjukkan kekuasaan Pencipta s.w.t.; Yang membagikannya kepada yang Dia kehendaki untuk kebaikannya.

Bagikan:

Kecerdasan Binatang: Rusa, Rubah dan Ikan Lumba-Lumba

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah mengenai kecerdasan yang diberikan kepada binatang untuk kebaikannya, dalam bawaan dan penciptaan, sebagai karunia dari Allah SWT. Hal itu dimaksudkan agar tidak dihilangkan kenikmatan Allah SWT dari makhluk-Nya, tidak dengan akal dan pikiran. Rusa yang memakan ular akan merasa sangat kehausan, tetapi ia menghindari untuk minum air karena takut racun menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga membuatnya mati. Kalau ia minum, maka ia mati pada saat itu juga.

Perhatikanlah, tabiat ini diberikan kepada binatang tersebut yang dapat menahan rasa haus yang mencekik karena takut bahaya kalau ia minum. Hal itu hampir tidak dapat diketahui oleh manusia yang berakal sekalipun.

Ketika serigala kesulitan mendapatkan makan, maka ia berpura-pura mati dan menggembungkan perutnya, sehingga burung mengiranya bangkai, lalu mendekatinya. Ketika burung itu mendekat, maka segera serigala itu menerkamnya dan merenggutnya. Maka siapa yang menolong serigala yang tidak punya pikiran untuk melakukan tipuan ini selain Yang telah memberikan rezeki kepadanya dengan cara ini dan sebagainya. Ketika serigala itu menjadi lemah dibanding kebanyakan binatang buas yang kuat dalam menyerang buruan, maka ia ditolong dengan diberi kecerdikan, kecerdasan dan tipu daya untuk kelangsungan hidupnya.

Adapun ikan lumba-lumba mencari burung sebagai buruannya. Kecerdasannya dalam hal ini adalah dengan menangkap ikan dan mematikannya, lalu dijadikan umpan dengan membiarkannya terapung di atas permukaan air. Lumba-lumba itu sendiri bersembunyi di bawahnya sambil mengaduk air di sekitarnya supaya dirinya tidak tampak. Ketika datang burung yang hendak memangsa ikan yang sedang mengambang di permukaan air itu, maka lumba-lumba itu menerkamnya dan memangsanya.

Perhatikanlah kecerdasan ini, bagaimana dijadikan sebagai bawaan pada binatang ini untuk kebaikannya.

 

Ular Besar dan Awan

(Al-Mufadhdhal berkata:) Aku berkata: “Wahai Tuanku, jelaskan kepadaku mengenai ular besar dan awan.”

Beliau a.s menjawab:

Awan seolah-olah sebagai pelindung. Tetapi kemudian awan itu menyambar ketika ular itu menemuinya, sebagaimana magnet menyambar besi. Ular itu tidak menampakkan kepalanya ke permukaan tanah karena takut terhadap awan, dan tidak mengeluarkannya kecuali ketika hari sangat panas, ketika langit sangat cerah sehingga tidak ada padanya setitik awan pun. Maka mengapa awan tunduk pada ular besar itu yang mengintipnya dan menyambar ketika mendapatinya?

Beliau mengatakan: “Itu adalah untuk melindungi manusia dari keburukannya.” (181)

 

Rayap, Semut, Lalat dan Laba-laba serta Tabiat Masing-masing

(Al- Mufadhdhal berkata:) Aku berkata: “Wahai tuanku, engkau telah menjelaskan kepadaku mengenai iḥwāl binatang yang mengandung pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Maka kini jelaskanlah kepadaku mengenai semut, rayap dan burung.”

Beliau a.s menjawab:

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah rupa rayap yang kecil, apakah engkau mendapati padanya kekurangan dari kebaikannya. Maka dari manakah ketentuan dan kebaikan dalam penciptaan rayap? Selain dari pengaturan yang berlaku pada makhluk yang kecil maupun yang besar.

Perhatikanlah semut dan kumpulannya dalam mengumpulkan dan menyiapkan makanan. Engkau lihat sekumpulan semut ketika memindahkan biji ke sarangnya seperti sekumpulan manusia yang memindahkan makanan atau benda lainnya. Bahkan di dalam itu semut memiliki kesungguhan dan kecepatan  yang tidak dimiliki oleh manusia. Engkau melihat semut-semut itu saling membantu untuk memindahkan makanan sebagaimana saling membantu dalam pekerjaan, kemudian mengerubungi (mengerumuni) biji itu dan membaginya menjadi beberapa bagian agar biji itu tidak tumbuh sehingga merugikannya. Jika makanan itu terkena embun, maka mereka mengeluarkan dari sarangnya dan membentangkannya hingga kering. Semut tidak akan membuat lubang kecuali pada tempat yang lebih tinggi dari tanah agar tidak teraliri air hingga menenggelamkannya. Ini dilakukan tanpa menggunakan akal, tidak pula menggunakan pikiran. Melainkan demikianlah ia diciptakan sebagai kebaikan dari Allah SWT.

Perhatikanlah pula apa yang disebut lalat singa (suatu jenis laba) dan apa yang diberikan padanya berupa kecerdikan dan kehalusan dalam hidupnya. Engkau lihat, ketika merasakan ada lalat mendekat, ia meninggalkannya dalam waktu yang lama sehingga seakan-akan ia mati tanpa bergerak. Ketika melihat lalat itu tenang dan lalai, maka ia merayap dengan perlahan hingga mendekati dan menerkamnya, lalu merenggutnya. Ketika merenggutnya, ia mendekapnya dengan seluruh tubuhnya karena takut akan terlepas. Ia terus-menerus mendekapnya hingga dirasakan mangsanya itu sudah melemah. Kemudian melepaskannya dan memangsanya. Ia hidup dengan cara itu.

Adapun laba-laba, ia menganyam sarangnya. Maka ia menjadikannya sebagai jaring perangkap lalat. Kemudian ia bersembunyi di bagian tengahnya. Apabila ada lalat hinggap, ia menerkamnya dan menggigitnya berkali-kali. Dengan cara itulah ia hidup.

Kalau lalat singa meniru perburuan anjing dan harimau, maka laba-laba menggunakan jaring dan tali untuk berburu.

Perhatikanlah binatang yang kecil dan lemah ini, bagaimana dijadikan pada tabiatnya apa yang tidak dapat dilakukan manusia kecuali dengan kecerdikan dan penggunaan alat-alat yang dimilikinya. Maka janganlah engkau memandang hina terhadap sesuatu, karena padanya terdapat pelajaran yang jelas, seperti rayap, semut dan sebagainya. Makna yang indah dimisalkan dengan sesuatu yang hina. Maka tidaklah hal itu berkurang keindahannya sebagaimana tidak berkurangnya nilai dinar, yakni dari emas, yang ditimbang dengan sejumlah besi.

 

KEDUA PULUH SATU

Tubuh Burung dan Bentuknya

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah tubuh burung dan bentuknya. Karena burung ditakdirkan untuk dapat terbang di udara, tubuhnya menjadi ringan dan mengerut. Dicukupkannya dengan hanya mempunyai dua kaki, empat jari. Saluran kencing dan anusnya menjadi satu. Kemudian burung itu diciptakan dengan memiliki dada yang lancip untuk memudahkan membelah udara seperti bentuk kapal laut untuk membelah air dan mengalirkannya. Dijadikan pada kedua sayap dan ekornya bulu-bulu yang panjang dan kuat untuk dibentangkan ketika terbang. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan bulu agar udara masuk dan mengangkatnya.

Ditakdirkan pula makanannya berupa biji-bijian dan daging yang ditelannya tanpa dikunyah. Ini adalah kekurangan dibanding penciptaan manusia. Diciptakan baginya paruh yang keras untuk meraih makanannya, yang tidak akan patah dengan memakan biji dan tidak pecah dengan memakan daging.

Karena tidak memiliki gigi, untuk dapat menelan biji dan daging dengan baik, maka burung diberi kelebihan panas pada perutnya yang dapat melumatkan makanan sehingga tidak perlu mengunyahnya. Perhatikanlah bahwa biji anggur dan sebagainya keluar dari perut manusia dalam bentuknya semula. Tetapi di dalam perut burung, biji itu dilumatkan sehingga tidak tampak bekasnya.

Kemudian, burung dijadikan sebagai binatang petelur, tidak melahirkan anak. Hal itu agar tidak memberatkannya ketika terbang. Karena kalau mengandung anaknya dalam perutnya maka burung itu tidak akan dapat terbang sebelum pulih kembali kekuatan tubuhnya, karena berat untuk dapat bangkit dan terbang. Maka segala sesuatu dijadikan dalam bentuk yang ditakdirkannya. Kemudian, burung yang terbang di udara mengerami hingga menetas telurnya dalam jangka waktu satu minggu, dua minggu dan ada yang sampai tiga minggu sehingga keluar anaknya dari dalam telur itu. Kemudian ia menungguinya. Lalu meniupkan udara pada perut anaknya agar temboloknya mengembang untuk makanan. Kemudian induknya membesarkan dan memberinya makan sehingga dapat terus hidup. Maka siapa yang mengharuskannya mengambil makanan dan biji-bijian, dan mengeluarkannya setelah memperolehnya, lalu memberikan makan itu kepada anak-anaknya? Apa makna yang dikandung dalam kepayahan ini? Padahal ia tidak memiliki akal dan pikiran, dan tidak mengharapkan dari anaknya seperti yang diharapkan manusia berupa penghormatan dan balasan. Hal itu dilakukan burung karena semata-mata kasih-sayangnya kepada anak-anaknya, kadang-kadang tidak ada yang mengetahui dan memikirkannya. Hal itu untuk kelanjutan keturunan dan kelanggengan karunia dari Allah s.w.t.

 

Catatan:


  1.  18). Yang jelas adalah bahwa ini merupakan perkara aneh yang dikenal di kalangan ‘Arab di zaman awal. Hal itu diungkapkan di dalam syair klasik, seperti yang disebutkan di dalam qashīdah penyair zaman ‘Abbāsiyyah, Ismā‘īl bin Muḥammad, yang dikenal dengan julukan Sayyid al-Ḥumayriy, wafat tahun 173 H. Di dalam qashīdah tersebut disebutkan salah satu keutamaan Imām ‘Alī a.s.: Ketahuilah, wahai kaumku, ada keanehan pada sepatu Abul-Ḥusain dan ular. Musuh dari golongan jin adalah hamba yang jauh dari tujuan kebenaran. Warna tak disukai hitam berkilau, taring besi biru beracun. Diberikan padanya sepatu, lalu berlari kencang karena mengigit kakinya dengan taring. Elang menyambarnya dari langit. dan yang menyerupai elang. Kemudian mendekat dan membunuhnya, Lalu menjatuhkannya ke bumi di bawah awan. 

Bagikan:

KEEMPATBELAS.

 

Jerapah dan Bentuknya.

Pikirkanlah rupa jerapah, keragaman anggota-anggota tubuhnya dan kesamaannya dengan anggota tubuh binatang lain. Kepalanya seperti kepala kuda, lehernya seperti leher unta, kukunya Seperti kuku sapi dan kulitnya seperti kulit harimau.

Karena ketidaktahuannya kepada Allah SWT, ada manusia yang mengira bahwa itu terjadi akibat perkawinan silang dengan beberapa jantan. Mereka mengatakan bahwa hal itu disebabkan beberapa jenis binatang darat ketika hendak mengeluarkan spermanya, menjantani binatang ternak. Dan hasilnya adalah binatang ini yang merupakan gabungan dari berbagai jenis binatang lain. Ini merupakan kebodohan orang yang mengatakannya, dan sedikit pengetahuan terhadap Pencipta Yang Maha Suci. Tidaklah satu jenis binatang dapat menjantani jenis binatang lain dari kelas yang berbeda, seperti kuda tidak bisa menjantani unta, dan sebaliknya unta pun tidak dapat menjantani sapi. Satu jenis binatang hanya dapat menjantani binatang lain dalam satu kelas. Misalnya, kuda dapat menjantani keledai, maka anaknya menjadi baghal  (keledai hasil kawin silang), serigala dapat menjantani anjing hutan, maka anaknya menjadi sim (anjing hutan hasil kawin silang). Namun binatang yang dilahirkan dari induk yang berbeda spesies, anggota-anggota tubuhnya tidak merupakan gabungan dari anggota-anggota tubuh kedua induknya, sebagaimana yang ada pada jerapah anggota-anggota tubuhnya merupakan gabungan dari anggota-anggota tubuh kuda, unta dan sapi. Anggota-anggota tubuh binatang hasil kawin silang merupakan campuran antara anggota-anggota tubuh induknya, seperti yang engkau lihat pada baghal. Engkau perhatikan kepala, daun telinga, bokong, ekor dan kukunya merupakan pertengahan antara anggota-anggota tubuh kuda dan keledai. Suaranya, misalnya, merupakan campuran antara ringkikan kuda dan ringkikan keledai. Ini merupakan bukti bahwa jerapah bukanlah dijantani oleh beberapa jenis binatang, sebagaimana dugaan orang-orang bodoh itu. Melainkan itu adalah suatu makhluk yang menakjubkan di antara makhluk-makhluk Allah lainnya sebagai bukti atas kekuasaan-Nya yang tidak ada sesuatu pun dapat mengunggulinya, dan agar diketahui bahwa Dia adalah Pencipta seluruh jenis binatang. Dia menggabungkan anggota-anggota tubuh pada satu jenis binatang yang dikehendaki-Nya, dan memisahkannya pada jenis binatang yang dikehendaki-Nya pula. Dia menambahkan anggota tubuh pada penciptaan yang dikehendaki-Nya dan mengurangi dari apa yang dikehendaki-Nya.

Adapun leher jerapah yang panjang dan manfaat yang ditimbulkannya adalah karena makanannya berada di ujung pohon-pohon yang tinggi. Ia memerlukan leher yang panjang agar dapat menggapai pucuk-pucuk pohon itu sehingga dapat mengambil buahnya.

 

Monyet dan Bentuknya, serta Perbedaannya dengan Manusia

Perhatikanlah rupa monyet dan kemiripannya dengan manusia dalam banyak anggota tubuhnya, seperti kepala, wajah, bahu, dan dada. Demikian pula isi perutnya dengan isi perut manusia. Selain itu, monyet diberi kelebihan dari binatang lainnya dengan memiliki pikiran dan kecerdasan agar dapat memahami isyarat dari pemeliharanya, dan meniru perbuatan manusia yang dilihatnya, sehingga monyet menyerupai manusia dalam bentuk dan tabiatnya. Hal itu menjadi pelajaran bagi manusia atas dirinya, sehingga ia menyadari bahwa wataknya sama dengan watak binatang, sebagaimana kemiripan dalam bentuknya. Andaikan tidak ada kelebihan yang dimiliki manusia berupa pikiran, akal dan kemampuan berbicara, maka ia sama saja dengan binatang. Selain itu, pada monyet ada hal yang membedakannya dengan manusia, seperti moncong, ekor dan bulu yang menutupi seluruh tubuhnya. Tetapi hal ini tidak menjadi halangan bagi monyet untuk menyamai manusia kalau saja ia diberi pikiran, akal dan kemampuan berbicara seperti manusia. Semata-mata hal yang membedakannya dari manusia – pada hakikatnya – adalah kekurangan akal, pikiran dan kemampuannya berbicara.

 

Tubuh Binatang Dipenuhi Bulu

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah karunia Allah pada binatang. Bagaimana tubuhnya ditutupi bulu untuk menjaganya dari hawa dingin, dan kuku serta kulit yang tebal untuk melindungi ujung bawah kakinya, karena binatang tidak memiliki tangan dan jari-jemari yang dapat memintal dan menenun. Maka dalam penciptaanya, dijadikan baginya pelindung tubuh yang dapat bertahan lama, yang tidak perlu diganti dan diperbaharui.

Adapun manusia, ia memiliki kecerdasan dan tangan untuk dapat bekerja, ia dapat memintal dan menenun serta membuat baju untuk dirinya, dan dapat menggantinya setiap saat. Hal itu memilik hikmah dalam tinjauan berbagai aspek. Di antaranya, ia dapat mengisi waktunya dengan kesibukan pembuatan pakaian dan apa-apa yang dihasilkan dari kemampuannya. Selain itu, ia dapat memakai dan menanggalkan pakaiannya kapan saja ia mau. Ia pun dapat membuat berbagai bentuk pakaian untuk dirinya yang memiliki keindahan sehingga ia dapat merasa senang dengan pakaiannya itu dan mengganti-gantinya. Demikian pula ia dapat membuat bermacam sepatu dan sandal yang dapat melindungi kedua kakinya. Di dalam hal itu pun terdapat sumber penghidupan bagi orang yang bekerja di bidang itu dan menjadikannya sebagai usaha dan mata pencaharian sehingga dapat menghidupi diri dan keluarganya.

Jadi, bulu berfungsi sebagai pakaian bagi binatang, sedangkan kuku berfungsi sebagai sepatu.

 

Bersembunyi Binatang Ketika Hendak Mati

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai penciptaan yang menakjubkan pada binatang. Binatang-binatang mengasingkan diri ketika hendak mati, sebagaimana manusia menguburkan orang yang sudah meninggal. Jika tidak, maka di manakah bangkai-bangkai binatang buas dan binatang liar? Tidak ditemukan sedikit pun. Tidaklah binatang-binatang itu sedikit jumlahnya sehingga habis dengan dibunuh. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa jumlah binatang lebih banyak daripada jumlah manusia.

Perhatikanlah yang engkau lihat di padang rumput dan gunung-gunung, kawanan rusa, banteng, keledai, binatang liar, kambing hutan, menjangan serta berbagai binatang buas seperti singa, anjing hutan, serigala, harimau dan sebagainya. Demikian pula kawanan burung seperti gagak, elang, bangau, pipit dan burung-burung lainnya. Semuanya tidak ditemukan bangkainya kecuali satu dua yang dibunuh pemburu atau yang diterkam binatang buas. Jadi, binatang-binatang itu mengasingkan diri ketika merasakan hendak mati di tempat-tempat yang tersembunyi, lalu mati di tempat itu. Jika tidak demikian, maka padang rumput akan dipenuhi dengan bangkai-bangkai binatang sehingga menyebabkan polusi udara karena baunya dan menimbulkan berbagai penyakit.

Perhatikanlah hal ini dengan apa yang sampai kepada manusia. Mereka melakukan tamtsīl (17) pertama yang dipermisalkan kepada mereka, bagaimana hal itu dijadikan pelajaran dan pengingat terhadap binatang dan sebagainya. Sehingga manusia selamat dari keburukan yang mungkin menimpa mereka berupa penyakit dan kerusakan.

Bagikan:

KEDELAPAN

Ketundukan Binatang pada Manusia dan Sebabnya.

Tidaklah engkau perhatikan keledai, bagaimana binatang itu tunduk untuk menarik alat penumbuk tepung dan memikul beban? Bagaimana unta, yang tidak dapat ditahan oleh beberapa orang kalau membangkang, dapat tunduk kepada anak kecil? Bagaimana sapi jantan patuh pada pemiliknya sehingga diletakkan bajak pada pundaknya? Bagaimana kuda patuh untuk menyenangkan penunggangnya? Sekawanan kambing sehingga hanya digembalakan oleh satu orang? Walaupun kambing-kambing itu tersebar dan masing-masing menempati suatu tempat, maka ia tidak perlu mengikutinya. Demikian pula kelompok-kelompok binatang lainnya yang ditundukkan pada manusia, seperti itu keadaannya. Padahal binatang-binatang itu tidak memiliki akal dan pikiran. Karena, kalau binatang-binatang itu mampu berpikir dalam berbagai hal, niscaya diciptakan untuk mengacaukan manusia dalam banyak keperluannya sehingga unta menghindar dari penuntunnya dan kuda lari dari pemiliknya, kawanan kambing meninggalkan penggembalaannya, dan sebagainya.

 

KESEMBILAN

Binatang Buas tidak Memiliki Akal dan Pikiran, dan Hikmatnya.

Demikian pula kalau binatang buas memiliki akal dan pikiran sehingga berkumpul dengan manusia, maka akan membinasakan mereka. Maka siapa yang akan menghadapi singa, serigala, harimau dan beruang, kalau binatang-binatang saling tolong dan saling bantu melawan manusia? Tidakkah engkau perhatikan, bagaimana hal itu tercegah pada binatang-binatang tersebut dan ditakuti kedatangannya? Binatang-binatang itu pun takut pada tempat-tempat tinggal manusia dan menjauhinya. Kemudian, binatang itu tidak tampak dan tidak berkeliaran untuk mencari makan kecuali di malam hari. Kendati binatang-binatang itu memiliki kemampuan menerkam, tetapi takut kepada manusia, bahkan terpaksa tunduk dan terhindar dari mereka. Kalau tidak demikian keadaannya, niscaya binatang-binatang itu akan menyerang rumah-rumah manusia dan mengurung mereka.

 

KESEPULUH

Kasih Sayang dan Perlindungan Anjing kepada Manusia.

Kemudian, dijadikan di antara binatang-binatang buas itu yang mengasihi, melindungi dan menjaga pemiliknya. Anjing biasanya pergi ke samping atau halaman rumah dalam kegelapan malam untuk menjaga rumah dan menghilangkan ketakutan pemiliknya. Hal itu dilakukannya sebagai kecintaannya kepada pemiliknya hingga merelakan dirinya mati dalam menjaga jiwa dan harta pemiliknya. Anjing mencintai pemiliknya sedemikian rupa hingga mampu bersabar dari rasa lapar dan berlaku kasar. Mengapa anjing diciptakan dengan kasih sayang dan kecintaan seperti ini? Tiada lain karena anjing menjadi penjaga bagi manusia. Ia memiliki tubuh yang kekar dengan taring, cakar dan gonggongan yang menakutkan untuk mempertakuti pencuri dan menjauhkannya dari tempat-tempat yang dilindungi dan dijaganya.

 

KESEBELAS

Rupa, Mulut dan Ekor Binatang Ternak.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah rupa binatang ternak, bagaimana keadaannya? Engkau akan lihat dua mata yang menatap ke depan untuk melihat apa yang ada di hadapannya agar tidak menabrak dinding atau terperosok ke dalam lubang. Engkau lihat mulutnya terbelah di bagian bawah moncongnya. Kalaulah mulutnya terbelah seperti tempat mulut manusia pada bagian atas dagu, maka tidak akan dapat meraih sesuatu dari atas tanah. Tidakkah engkau perhatikan bahwa manusia memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Namun manusia memasukkan makanan ke mulutnya dengan tangannya sebagai kemuliaan atas binatang. Karena binatang tidak memiliki tangan untuk mengambil makanan, maka ada yang diberi belalai di bagian bawah kepalanya untuk meraih makanan kemudian melembutkannya. Dan ada pula yang diberi bibir untuk mengambil makanan yang dekat dan yang jauh.

Perhatikanlah ekornya dan manfaat yang dihasilkannya. Ekor itu sebagai penutup dubur dan alat kelaminnya. Dan di antara manfaatnya adalah jika tampak dubur dan terbuka bagian dalamnya yang kotor, maka lalat dan nyamuk akan berkumpul di tempat itu. Maka ekor itu berfungsi untuk mengusir lalat dari tempat tersebut. Dan manfaat lainnya adalah bahwa binatang ternak beristirahat dengan menggerak-gerakkan ekornya ke kanan dan ke kiri. Karena, binatang ternak berdiri di atas keempat kakinya, dan kedua kaki depannya digunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak terbalik dan terjatuh. Maka menggerak-gerakkan ekor memberikan ketenangan baginya. Di dalam hal itu pun terdapat berbagai hikmah yang tidak dijangkau pikiran. Diketahui fungsinya ketika diperlukan. Selain itu, binatang ternak suka berkubang di dalam lumpur. Maka tidak ada yang dapat membangkitkannya selain dengan memegang ekornya. Pada bulu ekor pun terdapat banyak manfaat bagi manusia yang dapat dipergunakan untuk keperluan mereka.

Kemudian, punggungnya dijadikan berbentuk bidang yang bertumpu di atas empat kaki agar dapat ditunggangi. Dijadikan pula kelamin tampak di bagian belakang agar jantannya dapat dengan mudah mengawininya. Kalau saja kelaminnya terletak di bawah perutnya seperti manusia, maka tidak mungkin jantannya dapat mengawininya. Tidakkah engkau perhatikan bahwa si jantan tidak dapat mengawininya secara berhadap-hadapan sebagaimana yang dilakukan manusia.

 

KEDUABELAS.

Gajah dan Belalainya.

Perhatikanlah belalai gajah dan keindahan susunannya. Belalai itu berfungsi sebagai tangan untuk mengambil makanan dan air, lalu memasukkannya ke mulutnya. Kalau saja tidak ada belalai, maka gajah tidak akan dapat mengambil apa pun dari tanah, karena ia tidak memiliki leher yang menjulur seperti yang dimiliki binatang-binatang lainnya. Ketiadaan leher diganti dengan bibir yang panjang. Dengan belalai itu gajah dapat mengambil apa saja yang dibutuhkannya. Maka siapa lagi yang mengganti tempat anggota tubuh yang hilang selain Yang Maha Pengasih kepada makhluk-Nya? Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi secara kebetulan – sebagaimana yang dikatakan orang-orang yang sesat? Jika seseorang mengatakan: Mengapa gajah tidak diciptakan seperti binatang-binatang lain yang memiliki leher yang menjulur? Jawabnya adalah bahwa gajah memiliki kepala dan dua telinga yang besar. Kalaulah ia memiliki leher yang menjulur, maka hal itu akan melelahkannya. Maka dijadikanlah kepalanya menempel pada badannya agar tidak terjadi apa yang kami sebutkan. Dan sebagai ganti leher, diciptakanlah untuknya belalai untuk meraih makanannya. Ketiadaan leher diganti dengan sesuatu yang lain yang dapat memenuhi kebutuhannya.

 

KETIGABELAS.

Kelamin Gajah Betina.

Kini perhatikanlah, bagaimana kelamin gajah betina berada di bawah perutnya? Jika gajah itu terangsang untuk kawin, maka kelaminnya muncul sehingga memungkinkan si jantan mengawininya. Kajilah, bagaimana dijadikan kelamin gajah betina berbeda dari kelamin binatang ternak. Kemudian, dijadikan tabiat ini untuk melanjutkan keturunan dan kelestariannya.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas