2-1-9 Pembagian Sifatnya Allah S.W.T. – Kajian Tijan ad-Durari

Pembagian Sifatnya Allah s.w.t. Menurut keterangan yang tertera di dalam kitab salaf (kuning) sifat Allah s.w.t. ada 20. Dibagi berapakah sifatnya Allah yang ada 20 itu? Jawaban: Dibagi menjadi empat: nafsiyyah, salbiyyah, ma‘ānī dan ma‘nawiyyah.   Referensi: تهذيب شرح السنوسيه أم البراهين. ص. 30: وَ تُقْسِمُ الصِّفَاتُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: نَفْسِيَّةٌ وَ سَلْبِيَّةٌ وَ مَعَانِيْ وَ مَعْنَوِيَّةٌ. وَ سُمِّيَتْ نَفْسِيَّةً لِأَنَّ الْوَصْفَ بِهَا دَلَّ عَلَى نَفْسِ الذَّاتِ دُوْنَ مَعْنَى زَائِدٍ

2-1-8 Lafazh “an ya’rifa” – Kajian Tijan ad-Durari

8. Lafazh “an ya‘rifa”. Apa maksud dari lafazh “an ya‘rifa” dalam redaksi matan di atas? Jawaban: Mengenal Allah s.w.t. secara mantap sekira tidak ada keraguan di dalamnya dan berpijak pada suatu dalil.   Referensi: شرح تجان الدراري. ص. 2: وَ الْمَعْرِفَةُ هُوَ إِدْرَاكُ جَازِمٍ بِحَيْثُ لَيْسَ مَعَهُ تَرَدُّدٌ، مُوَافِقٌ لِمَا فِي الْوَاقِعِ، نَاشِئٌ عَنْ دَلِيْلٍ. وَ يَجِبُ شَرْعًا عَلَى مَنْ ذُكِرَ وُجُوْبًا عَيْنِيًّا مَعْرِفَةُ كُلِّ عَقِيْدَةٍ بِدَلِيْلِهَا الْإِجْمَالِيِّ، وَ أَمَّا

2-1-7 Pengertian Wajib, Mustahil Dan Ja’iz – Kajian Tijan ad-Durari

7. Pengertian Wājib, Mustaḥīl Dan Jā’iz. Seperti apa yang sudah kita ketahui bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat wājib, sifat mustaḥīl, dan sifat jā’iz. Apa maksud dari sifat-sifat tersebut? Jawaban: Wājib adalah sesuatu yang tidak mungkin ketiadaannya seperti dzatnya Allah s.w.t. Mustaḥīl adalah sesuatu yang tidak mungkin wujudnya seperti sesuatu yang menyekutui Allah s.w.t. (syarik). Sedangkan Jā’iz adalah sesuatu yang mungkin wujud dan tiadanya seperti menyiksanya Allah kepada orang yang taat…

2-1-6 Pengertian Dalil Ijmali & Tafshili – Kajian Tijan ad-Durari

6. Pengertian Dalil Ijmālī Dan Tafshīlī. Apa pengertian dari dalil ijmālī dan dalil tafshīlī serta bagaimana prakteknya? Jawaban: Dalil ijmālī adalah dalil yang tidak mampu menjelaskan dan tidak mampu menolak syubhat-syubhat yang ada. Praktek dalil ijmālī: Jika ada yang bertanya kepadamu, apa dalil dari wujudnya Allah s.w.t.? Maka jawablah: Alam, tapi tidak mengetahui dari sisi mana kalau alam itu sebagai bukti wujudnya Allah s.w.t. Atau mengetahui namun tidak mampu menghilangkan…

2-1-5 Cukup Dalil Ijmali (global) – Kajian Tijan ad-Durari

5. Cukup Dalil Ijmālī. Untuk mengetahui Allah s.w.t. apakah kita dituntut dengan dalil ijmālī (global) atau harus dengan dalil tafshīlī (terperinci)? Jawaban: Cukup dengan dalil ijmālī saja.   Referensi: حصون الحميدية. ص. 7: وَ أَمَّا مَعْرِفَةُ أَدِلَّةِ التَّفْصِيْلِيَّةِ فَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ، إِذَا قَامَ بِهَا بَعْضُ الْأُمَّةِ سَقَطَ الطَّلَبُ عَنِ الْبَاقِيْنَ. “Mengetahui dalil-dalil secara terperinci hukumnya fardhu kifayah, jika sudah ada sebagian yang mengetahuinya maka gugurlah tuntutan itu kepada sebagian yang…

2-1-4 Alasan Diwajibkan Mempelajari Ilmu Kalam – Kajian Tijan ad-Durari

4. Alasan Diwajibkan Mempelajari Ilmu Kalam. Bagi setiap orang Islam dan mukallaf dituntut dan diwajibkan untuk mengetahui sifat wajib, mustahil dan ja’iznya Allah s.w.t. Apa alasannya? Jawaban: Karena untuk menyatakan keimanan seseorang.   Referensi: أم البراهين. ص. 53: ش: يَعْنِيْ أَنَّهُ يَجِبُ شَرْعًا عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ وَ هُوَ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ أَنْ يَعْرِفَ مَا ذُكِرَ لِأَنَّهُ بِمَعْرِفَةِ ذلِكَ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا مُحَقَّقًا لِإِيْمَانِهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ فِيْ دِيْنِهِ. “Maksud dari wajib secara syar‘i…

2-1-3 Orang Bertaklid Masih Mu’min – Kajian Tijan ad-Durari

3. Orang Bertaklid Masih Mu’min. Dalam permasalahan fiqh (furū‘iyyah) orang awam diharuskan bertaklid. Apakah orang yang bertaklid dalam masalah akidah bisa dikatakan mu’min? Jawaban: Masih dikatakan mu’min karena imannya tetap sah.   Referensi: حصون الحميدية. ص. 7: وَ الصَّحِيْحُ أَنَّ مَنْ قَلَّدَ غَيْرَهُ في الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ بِأَنْ يَعْتَقِدَهَا اِعْتِقَادًا جَازِمًا لَا يَقْبَلُ الشَّكَّ وَ التَّرَدُّدَ يَكُوْنُ إِيْمَانُهُ صَحِيْحًا. “Menurut pendapat yang shahih bahwa orang yang bertaqlid pada orang lain dalam…

022 Ridha Dan Mahabbah – Jam’-ul-Jawaami’

وَ الرِّضَا وَ الْمَحَبَّةُ غَيْرُ الْمَشِيْئَةِ وَ الْإِرَادَةِ “فَلَا يَرْضَى لِعَبَادِهِ الْكُفْرِ”، “وَ لَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ”. هُوَ الرَّزَّاقُ، وَ الرِّزْقُ مَا يُنْتَفَعُ بِهِ وَ لَوْ حَرَامًا. Ridhā (kerelaan) dan maḥabbah (kecintaan) berbeda dengan kemauan dan kehendak. “Maka Allah tidak ridhā pada hamba-Nya dengan kekufuran”, “Andai Tuhanmu menghendaki pastilah mereka tidak akan melakukannya.” Allah adalah Pemberi rizqi. Rizqi adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan, meski haram.   RIDHĀ DAN MAḤABBAH…

021 Orang Yang Beruntung Dan Celaka – Jam’-ul-Jawaami’

السَّعِيْدُ مَنْ كَتَبَهُ فِي الْأَزَلِ سَعِيْدًا وَ الشَّقِيُّ عَكْسُهُ ثُمَّ لَا يَتَبَدِّلَانِ وَ مَنْ عَلِمَ مَوْتَهُ مُؤْمِنًا فَلَيْسَ بِشَقِّيٍّ وَ أَبُوْ بَكْرٍ مَا زَالَ بَعَيْنِ الرِّضَا. Orang beruntung adalah orang yang dicatat Allah di sejak azaliy sebagai orang yang beruntung. Orang celaka adalah sebaliknya. Kemudian, dua nasib itu tidak akan bertukar saling bergantian. Barang siapa yang Allah ketahui matinya dalam keadaan beriman, maka dia bukanlah orang yang celaka. Abū Bakar…