Hati Senang

وَ الرِّضَا وَ الْمَحَبَّةُ غَيْرُ الْمَشِيْئَةِ وَ الْإِرَادَةِ “فَلَا يَرْضَى لِعَبَادِهِ الْكُفْرِ”، “وَ لَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ”.

هُوَ الرَّزَّاقُ، وَ الرِّزْقُ مَا يُنْتَفَعُ بِهِ وَ لَوْ حَرَامًا.

Ridhā (kerelaan) dan maḥabbah (kecintaan) berbeda dengan kemauan dan kehendak. “Maka Allah tidak ridhā pada hamba-Nya dengan kekufuran”, “Andai Tuhanmu menghendaki pastilah mereka tidak akan melakukannya.”

Allah adalah Pemberi rizqi. Rizqi adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan, meski haram.

 

RIDHĀ DAN MAḤABBAH

Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama’ ahl-us-sunnah mengenai samakah antara ridhā (kerelaan) atau maḥabbah (kecintaan) dengan masyī’ah (kemauan) dan irādah (kehendak). (501).

Pendapat pertama, bahwa ridhā, maḥabbah, masyī’ah dan irādah adalah semakna. Pendapat ini dipedomani mayoritas ulama’, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Āmudiy, dan direkomendasikan oleh Syaikh Abū Isḥāq asy-Syirāziy.

Pendapat kedua, bahwa antara ridhā atau maḥabbah, dengan masyī’ah atau irādah terdapat perbedaan. Pendapat ini direkomendasikan oleh Jam‘-ul-Jawāmi‘. Pendapat ini mendasarkan pandangannya pada sejumlah argumentasi. Di antaranya adalah firman Allah:

وَ لَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ (الزمر: 7)

Allah tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hambaNya.” (QS. Az-Zumar: 7).

وَ اللهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (البقرة: 205)

Dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (al-Baqarah: 205).

Allah tidak ridhā akan kekufuran. Allah juga tidak menyukai kerusakan. Akan tetapi Allah tetap berkemauan dan berkehendak demikian, sebagaimana firman Allah:

وَ لَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَ مَا يَفْتَرُوْنَ. (الأنعام: 112)

Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya.” (QS. Al-An‘ām: 112).

Pendapat pertama menyanggah, bahwa yang dikehendaki dengan “hamba-hambaNya” adalah orang-orang mu’min. Karenanya Allah memuliakan mereka dengan penyandaran kemampuan, seperti dalam ayat berikut:

إِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ. (الإسراء: 65)

Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu (syaithān) tidak dapat berkuasa atas mereka.” (al-Isrā’: 65).

Imām as-Suyūthī menambahkan, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās tentang penafsiran Sūrat-uz-Zumar ayat 7 di atas, bahwa Allah tidak meridhai untuk kekafiran bagi hamba-hambaNya, yakni orang-orang yang Dia kehendaki untu disucikan hati mereka dengan ucapan Lā ilāha illallāh. Maka yang dikehendaki dengan “para hamba-Nya” pada Sūrat-uz-Zumar ayat 7 adalah para hamba yang ikhlash. (512)

Berpijak pada pendapat yang menyatakan adanya perbedaan, bahwa ridhā lebih khusus, karena ridhā adalah irādah (kehendak) tanpa memperjelas. Sebagian ulama’ membagi irādah dalam dua pembagian (523):

1. Irādah amr wa tasyrī‘ (kehendak berupa perintah dan pensyariatan). Ini berhubungan dengan ketaatan dan kemaksiatan, baik terjadi ataupun tidak. Terkait dengan irādah bentuk ini, sebuah ayat mengisyaratkan:

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ. (البقرة: 185)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

2. Irādah qadhā’ wa taqdīr (kehendak berupa kepastian dan ketentuan). Ini mencakup segala hal yang terjadi, baik ketaatan ataupun kemaksiatan.

Terkait dengan irādah bentuk ini, sebuah ayat mengisyaratkannya:

فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَ مَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (al-An‘ām: 125).

Selanjutnya, kesamaan makna antara irādah dan masyī’ah adalah sebagaimana pandangan mayoritas ulama’. Ada pula yang membedakan di antara keduanya. Bahwa irādah adalah kehendak yang dapat dilihat Malaikat, karena muatannya tercatat dalam Lauḥ-ul-Maḥfūzh. Sedangkan masyī’ah adalah kehendak yang tidak dapat dilihat. (534).

 

Catatan:

 


  1. 50). Antara ridhā dan maḥabbah terdapat tarāduf (sinonim, kesamaan makna). Begitu pula antara masyī’ah dan irādah, adalah dua hal yang sinonim. Akan dipaparkan kemudian pendapat sebagian pakar yang membedakan di antara ridhā dan maḥabbah, serta antara masyī’ah dan irādah
  2. 51). Jalāl as-Suyūthī, Syarḥ-ul-Kawkab-is-Sāthi‘, vol II, hal. 537. 
  3. 52). Ibid, hal. 537-538. 
  4. 53). Ibid, hal. 538. 

Bagikan:

السَّعِيْدُ مَنْ كَتَبَهُ فِي الْأَزَلِ سَعِيْدًا وَ الشَّقِيُّ عَكْسُهُ ثُمَّ لَا يَتَبَدِّلَانِ وَ مَنْ عَلِمَ مَوْتَهُ مُؤْمِنًا فَلَيْسَ بِشَقِّيٍّ وَ أَبُوْ بَكْرٍ مَا زَالَ بَعَيْنِ الرِّضَا.

Orang beruntung adalah orang yang dicatat Allah di sejak azaliy sebagai orang yang beruntung. Orang celaka adalah sebaliknya. Kemudian, dua nasib itu tidak akan bertukar saling bergantian. Barang siapa yang Allah ketahui matinya dalam keadaan beriman, maka dia bukanlah orang yang celaka. Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. senantiasa berada dalam keridhaan Allah.

 

ORANG YANG BERUNTUNG DAN CELAKA.

Permasalahan ini termasuk di antara permasalahan yang diperselisihkan antar kalangan Asy‘ariyyah dan Ḥanafiyyah. Kalangan Asy‘ariyyah menyatakan, orang beruntung adalah orang yang dicatat Allah sejak azaliy sebagai orang yang beruntung. Dan sebaliknya, orang celaka adalah orang yang dicatat Allah sejak azaliy sebagai orang yang celaka. Kemudian, dua nasib itu tidak akan bertukar saling bergantian. Dari pengertian dan ketentuan ini, ada beberapa penjelasan, sebagaimana poin-poin berikut:

1. “Dicatat sebagai orang yang beruntung”, maksudnya adalah Allah mengetahui bahwa orang tersebut akan mati dalam keadaan beriman, meskipun sebelumnya orang tersebut pernah menganut agama kafir, maka dengan beriman, dosa-dosanya diampuni. Begitu pula: “dicatat sebagai orang yang celaka”, maksudnya adalah Allah mengetahui bahwa orang tersebut akan mati dalam keadaan tidak beriman, meskipun sebelumnya orang tersebut pernah menganut Islam, maka ‘amal kebaikannya dilebur.

2. “Sejak azaliy”; azaliy adalah suatu kondisi di mana Allah belum menciptakan sesuatu apapun. Dari batasan ini, disimpulkan bahwa nasib “beruntung” dan “celaka” tidak akan bertukar saling bergantian jika “pecatatan”-nya sejak azaliy, yakni hanya Allah-lah yang tahu. Berbeda halnya jika “pecatatan” nasib beruntung atau celaka tersebut pada selain azaliy, semisal pada Lauḥ-ul-Maḥfūzh (491), maka “catatan” tersebut masih bisa berubah atau bertukar saling bergantian. Allah berfirman:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أَمُّ الْكِتَاب. (الرعد” 39).

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umm-ul-Kitāb (pengetahuan di sisi Allah).” (QS. Ar-Ra‘d: 39).

Imām al-Asy‘ariy menyatakan bahwa Shaḥābat Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. senantiasa berada dalam keridhaan Allah, meskipun tidak menyandang perdikat iman sebelum membenarkan Rasūlullāh s.a.w. Karena tidak ada riwayat kekufuran yang pernah beliau anut, sebagaimana riwayat hidup shabahat lain sebelum beriman.

Catatan:


  1. 49). Ungkapan di atas diberlakukan menurut pendapat masyhur bahwa apa yang ada di Lauḥ-ul-Maḥfūzh bisa dihapus atau ditetapkan. Hal ini berpijak pada penafsiran umm-ul-kitāb sebagai pengetahuan Allah yang qadim. Adapun jika umm-ul-kitāb ditafsirkan sebagai Lauḥ-ul-Maḥfūzh, berpijak pada bahwa apa yang ada dalam Lauḥ-ul-Muḥfūzh pasti sesuai dengan pengetahuan di sisi Allah, maka tidak ada pergantian apapun dalam Lauḥ-ul-Mahfūzh. Sedang penghapusan dan penetapan sebagaimana dalam ayat, diarahkan pada semisal lembar catatan Malaikat Ḥafazhah (Malaikat Penjaga). Syaikh al-Banānī, Ḥāsyiyatu ‘alā Syarḥi Jam‘-il-Jawāmi‘, vol. II, hal, 413. 

Bagikan:

SAAT ISRĀ’ MI‘RĀJ, APAKAH RASŪLULLĀH S.A.W. MELIHAT ALLAH

Tentang hal ini, para shahabat berbeda pendapat. Pendapat shaḥīḥ, bahwa Rasūl memang benar melihat Allah. Pendapat ini dikemukakan Ibnu ‘Abbās, Abū Dzarr, al-Ḥasan dan lainnya r.a., sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qādhī ‘Iyādh, dan dibenarkan oleh an-Nawawī (481). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Ḥākim, dari Ibnu ‘Abbās r.a., bahwa beliau berkata: “Nabi Muḥammad s.a.w. telah melihat Tuhannya”. ‘Ikrimah r.a. berkata kepada Ibnu ‘Abbās: “melihat pada Tuhannya?” Ibnu ‘Abbās menjawab: “Ya, Allah telah menjadikan kalam (keistimewaan berbicara dengan Allah)” pada Nabi Mūsā; Dia menjadikan kekasih pada Nabi Ibrāhīm; dan Dia menjadikan melihat (yakni keistimewaan melihat Allah) pada Nabi Muḥammad.”

Di sisi lain, Sayyidah ‘Ā’isyah r.a. mengingkari bahwa Rasūlullāh melihat Tuhannnya saat Isrā’ Mi‘rāj. Dalam hadits riwayat Muslim dari ‘Ā’isyah, bahwa beliau berkata: “Orang yang menceritakan padamu bahwa Nabi Muḥammad melihat Tuhannya, maka ia telah berbohong”. Diriwayatkan dari Abū Dzarr: “Aku bertanya pada Rasūlullāh s.a.w.: “Apakah anda melihat Tuhan anda?” Rasūl menjawab: “Aku terhalang cahaya, bagaimana aku dapat melihat-Nya?

Catatan:


  1. 48). Syaikh al-Banānī, Ḥāsyiyatu ‘alā Syarḥi Jam‘-il-Jawāmi‘, vol II, hal.  412. Berita semacam yang disampaikan oleh para shahabat ini tidak diungkapkan kecuali atas dasar tauqīf (pengajaran/pemberitaan dari Rasūlullāh). 

Bagikan:

MELIHAT ALLAH DALAM KEADAAN TERJAGA.

Dalam permasalahan mungkin tidaknya hal ini terjadi, ada dua pendapat dari Imām al-Asy‘ariy.

Pendapat pertama, bahwa melihat Allah saat terjaga adalah mungkin terjadi. Pendapat ini di-shaḥīḥ-kan oleh al-Qādhī ‘Iyādh. Karena Nabi Mūsā a.s. pernah meminta agar dapat melihat Allah. Sedangkan Nabi Musa tidaklah bodoh dalam masalah-masalah yang mungkin dan tidak mungkin terjadi.

Pendapat kedua, bahwa melihat Allah saat terjaga itu tidak mungkin terjadi. Karena kaum Nabi Mūsā pernah memintanya, lalu mereka disiksa. Sebagaimana firman Allah yang mengisahkan permintaan mereka:

فَقَالُوْا: أَرِنَا اللهُ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ. (النساء: 153).

Mereka (ahli kitab) berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezhalimannya.” (QS. An-Nisā’: 153).

Argumentasi dari ayat ini disanggah, bahwa siksaan yang menimpa mereka adalah disebabkan keingkaran dan sikap mempersulit yang mereka lakukan, dengan meminta diperlihatakan dzāt Allah, bukan karena ketidakmungkinan terjadi.

Kemudian berpijak pada pendapat pertama, apakah hal ini pernah terjadi? Ada perselisihan pandangan tentang hal ini. Pendapat yang benar adalah bahwa ini tidak akan terjadi pada selain Rasūlullāh s.a.w. Dalam hadits riwayat Imām Muslim disebutkan:

تَعَلَّمُوْا أنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ حَتَّى يَمُوْتَ. (رواه مسلم).

Ketahuilah, bahwasanya seseorang di antara kalian tidak akan melihat Tuhannya ‘azza wa jalla hingga mati.” (HR. Muslim).

 

MELIHAT ALLAH DALAM MIMPI.

Terdapat dua pendapat tentang mungkinkah melihat Allah dalam mimpi?

Pendapat pertama, bahwa hal itu mungkin terjadi. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama’. Al-Qādhī ‘Iyādh bahkan meriwayatkan adanya ijma‘ ulama’ tentang hal ini.

Pendapat kedua, bahwa hal ini tidak mungkin terjadi. Pendapat ini dipedomani oleh al-Qādhī Abū Bakar. Hal ini karena dalam tidur ada banyak khayalan dan permisalan. Hal semacam ini adalah mustahil atas Allah yang qadīm. Argumentasi di atas disanggah, bahwa dalam tidur, hal-hal tersebut tidaklah mustahil.

Bagikan:

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. و اخْتُلِفَ هَلْ تَجُوْزُ الرُّؤْيَةُ فِي الدَّنْيَا وَ فِي الْمَنَامِ.

Allah dapat dilihat oleh orang-orang mu’min di hari Kiamat. Dan masih diperdebatkan, apakah mungkin melihat Allah di dunia, dan di saat dalam mimpi.

 

MENYAKSIKAN ALLAH S.W.T. DI AKHIRAT.

Orang-orang mu’min akan dapat melihat Allah kelak di hari kiamat, sebelum maupun sesudah masuk surga. Sebagaimana keterangan dalam hadits-hadits shahih, di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a. sebagai berikut:

قَالَ أُنَاسٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لَا، يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُوْنَهُ سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذلِكَ. (رواه البخاري).

Orang-orang bertanya: “Wahai Rasūlullāh, apakah kami akan melihat Tuhan kami di hari kiamat?” Rasūl bersabda: “Apakah kalian kesulitan melihat matahari yang tak terhalang mendung?” Mereka menjawab: “Tidak wahai Rasūlullāh”. Rasūl bertanya lagi: “Apakah kalian kesulitan melihat bulan purnama yang tak terhalang mendung?” Mereka menjawab: “Tidak wahai Rasūlullāh” Rasūl bersabda: “Maka kalian akan melihat-Nya pada hari kiamat sejelas itu.” (HR. Bukhārī).

Hadits di atas sesuai dengan firman Allah:

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رِبِّهَا نَاظِرَةٌ. (القيامة: 22-23)

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (al-Qiyāmah: 22-23).

Hadits dan ayat di atas tidak bertentangan dengan ayat berikut:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأْبْصَارَ وَ هُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ (الأنعام: 103).

Dia (Allah) tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An‘ām: 103).

Karena yang dikehendaki dengan idrāk yang dinafikan dalam ayat ini adalah iḥāthah (memandang secara menyeluruh). Idrāk lebih khusus maknanya daripada ru’yah (melihat). Dan, tidak serta-merta, menafikan yang lebih khusus berarti menafikan yang lebih umum. Arahan idrāk dengan makna semacam ini lebih baik daripada mengarahkan idrāk semakna dengan ru’yah, lalu men-takhshīsh-nya. (461).

Kemudian, dengan melihat Allah, dicapai sebuah inkisyāf (terbukanya pengetahuan) secara sempurna, dengan praktik yang terbebas (munazzah) dari unsur berhadap-hadapan, arah dan tempat (472). Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak dapat melihat Allah. Sebagaimana firman Allah:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوْبُوْنَ. (المطففين: 15)

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dair Tuhan mereka.” (al-Muthaffifīn: 15).

Pembahasan di atas terkait dengan melihat Allah di akhirat. Bagaimana halnya melihat Allah di dunia, dalam keadaan terjaga ataupun dalam mimpi? Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama’, dalam masing-masing kasus.

Catatan:


  1. 46). Jalāl as-Suyūthī, Syarḥ-ul-Kawkab-is-Sāthi‘, vol II, hal. 533. 
  2. 47). Ibid

Bagikan:

SIKSAAN ATAS KETAATAN DAN PAHALA UNTUK KEMAKSIATAN.

Sebaliknya, Allah berhak menyiksa pelaku ketaatan, dan mengganjar pahala pelaku kemaksiatan. Yakni, bahwa hal tersebut mungkin, dan tidak tercegah secara sekali akal, meskipun hal ini tidak terjadi. Permasalahan ini adalah permasalahan yang menjadi bahan perdebatan antara kalangan Ḥanafiyyah dan Asy‘ariyyah.

MENCICIPKAN RASA SAKIT PADA BINATANG DAN ANAK-ANAK.

Allah juga berhak mencicipkan rasa sakit pada anak-anak dan binatang, meski tidak ada dosa yang mereka punya. Dan hal semacam ini tidak dapat disebut sebagai tindakan zhālim (kesewenang-wenangan). Karena zhālim adalah orang yang bertindak terhadap sesuatu yang menjadi milik orang lain tanpa izin. Padahal, Allah-lah pemilik mutlak segala sesuatu, maka Dia berhak melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Karena itu, zhālim adalah sesuatu yang mustaḥīl bagi Allah.

Bagikan:

BALASAN PAHALA ATAS KETAATAN.

Balasan berupa pahala atas ketaatan adalah sesuatu yang telah disepakati para ulama’. Akan tetapi hal ini semata-mata atas dasar kemurahan dan anugerah dari Allah, bukan atas dasar kewajiban yang harus dilaksanakan-Nya. Rasūlullāh bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِعِلْمِهِ قَالُوْا وَ لَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ وَ لَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ مِنْهُ بِرَحْمَتِهِ وَ فَضْلِهِ. (رواه الشيخان)

Tak seorangpun dari kalian yang dapat masuk surga karena amalnya”. Para shahabat bertanya: “Tidak juga anda wahai Rasūlullāh?” Rasūl menjawab: “Tidak juga aku, kecuali Allah mencurahkan rahmat dan anugerah-Nya padaku.” (HR. Bukhārī dan Muslim).

Sebagian di antara argumen yang dapat diajukan, sebagaimana dinyatakan oleh Imām ar-Rāzī, adalah bahwa ketaatan para hamba tidak cukup sebanding dengan kenikmatan-kenikmatan yang tercurah secara sempurna dan berkelanjutan. Maka, bagaimanakah akal bisa menyimpulkan adanya hak atas pahala dari ‘amal yang menjadi kompensasi ganti dari nikmat-nikmat yang telah diberikan pada hamba saat di dunia?

Adapun siksa atas perbuatan maksiat, maka hal tersebut bukanlah sebuah keniscayaan, menurut pandangan kita. Akan tetapi siksa bergantung atas kehendak Allah. Jika menghendaki, Allah bisa menyiksa; dan jika menghendaki, Allah bisa mengampuni segala dosa kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah). Maka dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرِكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (النساء: 48).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisā’: 48).

Dalam hadits riwayat Bukhārī dan Muslim, Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِكَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَ إِنْ زَنَى وَ إِنْ سَرَقَ قَالَ وَ إِنْ زَنَى وَ إِنْ سَرَقَ. (رواه البخاري).

Jibrīl datang padaku, lalu berkata: “Barang siapa dari umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, maka ia masuk surga.” Aku bertanya: “Meskipun ia berzina? Meskipun ia mencuri?” Jibrīl menjawab: “Meskipun ia berzina. Meskipun ia mencuri.” (HR. Bukhārī dan Muslim).

Bagikan:

AL-QUR’ĀN BUKAN MAKHLŪQ

Al-Qur’ān bukanlah makhlūq (yang diciptakan). Karena kalām adalah sifat Allah, dan mustahil jika dzāt yang qadīm menyandang sifat yang ḥādits (baru). Allah menuturkan lafazh “insān” di 18 tempat dan menyatakan bahwa manusia itu diciptakan. Dan Allah menuturkan lafazh “al-Qur’ān” di 54 tempat dan Dia tidak menyatakan bahwa al-Qur’ān itu diciptakan. Dan tatkala Allah mengumpulkan penyebutan keduanya dalam satu tempat, Allah mengingatkan dengan firman-Nya:

 

الرَّحْمنُ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ. (الرحمن: 1-3)

(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur’ān. Dia menciptakan manusia.” (QS. Ar-Raḥmān: 1-3).

Imām asy-Syāfi‘ī berkata: “Bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu dengan ucapan (كُنْ) (artinya: jadilah). Maka seandainya ucapan (كُنْ) itu tercipta, pastilah akan terjadi makhluk menciptakan makhluk.”

Sufyān bin ‘Uyainah tatkala ditanya tentang al-Qur’ān, apakah ia makhluk? Beliau menjawab dengan menampilkan firman Allah:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَ الْأَمْرُ. (الأعراف: 54)

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (al-A‘rāf: 54).

“Tidakkah kau lihat, bagaimana Allah membedakan antara menciptakan dan memerintah, sedangkan memerintah adalah kalām Allah. Kalau saja kalām Allah itu tercipta, pastilah Allah tidak membedakan di antara keduanya”, demikian komentar Sufyān bin ‘Uyainah.

Argumentasi lain dipaparkan oleh Imām Aḥmad bin Ḥanbal. Beliau ber-istidlāl dengan hadits berikut:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ. (رواه أبو داود و غيره).

Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah qalam.” (HR. Abū Dāūd dan yang lain).

Sesungguhnya kalām telah ada sebelum penciptaan qalam. Maka hal ini menunjukkan bahwa kalām bukanlah sesuatu yang diciptakan. (441).

Kemudian, jika dikatakan “al-Qur’ān terbaca melalui lisan kita, tertulis di mushḥaf kita, terjaga dalam dada kita”, maka penyandaran ini benar, dan merupakan ḥaqīqat syar‘iyyah, bukan majāz, bukan pada ḥaqīqat ‘aqliyyah. Termasuk dalam penyandaran semacam ini adalah hadits berikut:

لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْجُنُبُ، وَ لَا الْحَائِضُ. (ابن ماجة).

Janganlah orang junub dan wanita haidh membaca al-Qur’ān.” (HR. Ibnu Mājah).

Jika dijanggalkan, al-Qur’ān yang telah dinyatakan sebagai sifat yang qadīm, bagaimana mungkin dapat ditulis, dibaca, dan dihafal? Jawabannya adalah sebagai berikut: Bahwa al-Qur’ān dilabeli sifat berdasar wujūd dari maujūdāt yang ada empat. Karena setiap sesuatu yang maujūd, ada wujūd dalam kenyataan luarnya (fil-khārij), wujūd dalam pikiran (fidz-dzihni), wujūd dalam ungkapan (fil-‘ibārat), dan wujūd dalam tulisan (fil-kitābah). Dan al-Qur’ān dengan memandang wujūdnya dalam kenyataan luar adalah qadīm dan menetap pada dzāt; memandang wujūdnya dalam pikiran, al-Qur’ān itu dihafal dalam dada; memandang wujūdnya lisāniy, al-Qur’ān itu dibaca; memandang wujūd banāniy (lewat ukiran, tulisan ujung jari), al-Qur’ān itu ditulis di mushḥaf-mushḥaf. Tulisan menunjukkan atas ungkapan, ungkapan menunjukkan atas apa yang ada dalam pikiran, dan apa yang ada dalam pikiran menunjukkan atas apa yang ada dalam kenyataan luar. (452).

Catatan:


  1. 44). Jalāl as-Suyūthī, Syarḥ-ul-Kawkab-is-Sāthi‘, vol II, hal. 525. 
  2. 45). Jalāl as-Suyūthī, Syarḥ-ul-Kawkab-is-Sāthi‘, vol II, hal. 526 dan Jalāl-ud-Dīn al-Maḥaliy, Syarḥu Jam‘-il-Jawāmi‘, vol. II, hal. 410. Hanya saja, tatkala al-Qur’ān dilabeli dengan sifat “dibaca” atau “ditulis”, atau “dihafal”, maka yang obyek-obyek tersebut bersifat ḥādits (baru). Meski demikian, selayaknya tidak melabeli al-Qur’ān sebagai “yang tercipta” dan “yang baru” di saat dinamai dengan sebutan “al-Qur’ān” karena akan menimbulkan kesan pernyataan yang berpotensi besar disalahpahami. 

Bagikan:

الْقُرْآنُ كُلَامُهُ غَيْرُ مَخْلُوْقٍ عَلَى الْحَقِيْقَةِ لَا الْمَجَازِ مَكْتُوْبٌ فِيْ مَصَاحِفِنَا مُحْفُوْظٌ فِيْ صُدُوْرِنَا مَقْرُوْءٌ بِأَلْسِنَتِنَا.

Al-Qur’ān adalah kalām Allah, bukan makhluk ciptaan. Secara hakikat, bukan majāz, al-Qur’ān tertulis di mushḥaf-mushḥaf kita, tersimpan di dada-dada kita, terbaca melalui lisan-lisan kita.

 

AL-QUR’ĀN KALĀM ALLAH S.W.T..

Al-Qur’ān adalah kalam Allah ta‘ālā. Tentang sifat kalām bagi Allah ini, ada beragam pendapat:

1. Pendapat kalangan Asy‘ariyyah, bahwa kalām adalah sifat yang qadīm yang menetap pada dzāt Allah, yang bukan berupa huruf dan suara.

2. Pendapat Mu‘tazilah, mereka mengingkari sifat kalām;

3. Pendapat golongan Karāmiyyah, bahwa kalām Allah tersusun dari huruf dan suara yang ḥādits (baru, tidak qadīm) yang menetap pada dzāt Allah;

4. Pendapat kalangan Ḥanābilah, bahwa kalām Allah tersusun dari huruf dan suara yang qadīm.

Perbedaan ini bermula dari dua qiyās yang berbeda. (431):

Qiyās pertama:

Muqaddimah sughrā       : Kalām adalah sifat Allah.

Muqaddimah kubrā        : Setiap sesuatu yang merupakan sifat Allah adalah qadīm.

Natījah                           : Kalām Allah adalah qadīm.

Qiyās kedua:

Muqaddimah sughrā       : Kalām Allah tersusun dari huruf dan suara.

Muqaddimah kubrā        : Setiap sesuatu yang tersusun dari huruf dan suara adalah ḥādits (baru).

Natījah                           : Kalām Allah adalah ḥādits (baru).

Terkait perdebatan dengan kedua qiyās di atas, serta kebenaran muqaddimah-muqaddimah-nya, berikut penjelasannya:

  • Kalangan Ḥanābilah menyangkal pernyataan bahwa setiap yang tersusun dari huruf dan suara adalah ḥādits (baru).

  • Kalangan Mu‘tazilah menyangkal bahwa setiap sesuatu yang tersusun dari suara adalah sifat Allah.

  • Kalangan Karāmiyyah menyangkal bahwa setiap sesuatu yang merupakan sifat Allah adalah qadīm.

Selanjutnya, antara Kalangan Asy‘ariyyah dan Mu‘tazilah tidak ada perbedaan pendapat bahwa kalām lafzhiy adalah sesuatu yang ḥādtis. Perselisihan di antara keduanya terletak pada penetapan adanya kalām nafsiy. Asy‘ariyyah mengakui adanya kalām nafsiy, sedangkan Mu‘tazilah tidak mengakui keberadaannya.

Catatan:


  1. 43). Ḥasan bin Muḥammad al-‘Aththār, Ḥāsyiyah al-‘Aththār vol. II hal. 459. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas