skip to Main Content

020 Saat Isra’ Mi’raj, Apakah Rasulullah SAW Melihat Allah – Jam’-ul-Jawaami’

SAAT ISRĀ’ MI‘RĀJ, APAKAH RASŪLULLĀH S.A.W. MELIHAT ALLAH Tentang hal ini, para shahabat berbeda pendapat. Pendapat shaḥīḥ, bahwa Rasūl memang benar melihat Allah. Pendapat ini dikemukakan Ibnu ‘Abbās, Abū Dzarr, al-Ḥasan dan lainnya r.a., sebagaimana diriwayatkan oleh al-Qādhī ‘Iyādh, dan dibenarkan oleh an-Nawawī (481). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Ḥākim, dari Ibnu ‘Abbās r.a., bahwa beliau berkata: “Nabi Muḥammad s.a.w. telah melihat Tuhannya”. ‘Ikrimah r.a. berkata kepada Ibnu ‘Abbās: “melihat…

  • 02/17/2018

018-19 Melihat Allah SWT Dalam Keadaan Terjaga dan Mimpi – Jam’-ul-Jawaami’

MELIHAT ALLAH DALAM KEADAAN TERJAGA. Dalam permasalahan mungkin tidaknya hal ini terjadi, ada dua pendapat dari Imām al-Asy‘ariy. Pendapat pertama, bahwa melihat Allah saat terjaga adalah mungkin terjadi. Pendapat ini di-shaḥīḥ-kan oleh al-Qādhī ‘Iyādh. Karena Nabi Mūsā a.s. pernah meminta agar dapat melihat Allah. Sedangkan Nabi Musa tidaklah bodoh dalam masalah-masalah yang mungkin dan tidak mungkin terjadi. Pendapat kedua, bahwa melihat Allah saat terjaga itu tidak mungkin terjadi. Karena kaum…

  • 02/15/2018

017 Menyaksikan Allah SWT Di Akhirat – Jam’-ul-Jawaami’

يَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. و اخْتُلِفَ هَلْ تَجُوْزُ الرُّؤْيَةُ فِي الدَّنْيَا وَ فِي الْمَنَامِ. Allah dapat dilihat oleh orang-orang mu’min di hari Kiamat. Dan masih diperdebatkan, apakah mungkin melihat Allah di dunia, dan di saat dalam mimpi.   MENYAKSIKAN ALLAH S.W.T. DI AKHIRAT. Orang-orang mu’min akan dapat melihat Allah kelak di hari kiamat, sebelum maupun sesudah masuk surga. Sebagaimana keterangan dalam hadits-hadits shahih, di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Abū…

  • 02/13/2018

015-16 Siksaan Atas Ketaatan Dan Pahala Atas Kemaksiatan – Jam’-ul-Jawaami’

SIKSAAN ATAS KETAATAN DAN PAHALA UNTUK KEMAKSIATAN. Sebaliknya, Allah berhak menyiksa pelaku ketaatan, dan mengganjar pahala pelaku kemaksiatan. Yakni, bahwa hal tersebut mungkin, dan tidak tercegah secara sekali akal, meskipun hal ini tidak terjadi. Permasalahan ini adalah permasalahan yang menjadi bahan perdebatan antara kalangan Ḥanafiyyah dan Asy‘ariyyah. MENCICIPKAN RASA SAKIT PADA BINATANG DAN ANAK-ANAK. Allah juga berhak mencicipkan rasa sakit pada anak-anak dan binatang, meski tidak ada dosa yang mereka…

  • 02/10/2018

014 Balasan Pahala Atas Ketaatan – Jam’-ul-Jawaami’

BALASAN PAHALA ATAS KETAATAN. Balasan berupa pahala atas ketaatan adalah sesuatu yang telah disepakati para ulama’. Akan tetapi hal ini semata-mata atas dasar kemurahan dan anugerah dari Allah, bukan atas dasar kewajiban yang harus dilaksanakan-Nya. Rasūlullāh bersabda: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِعِلْمِهِ قَالُوْا وَ لَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ وَ لَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ مِنْهُ بِرَحْمَتِهِ وَ فَضْلِهِ. (رواه الشيخان) “Tak seorangpun dari kalian yang…

  • 02/04/2018

013 Al-Qur’an Bukan Makhluq – Jam’-ul-Jawaami’

AL-QUR’ĀN BUKAN MAKHLŪQ Al-Qur’ān bukanlah makhlūq (yang diciptakan). Karena kalām adalah sifat Allah, dan mustahil jika dzāt yang qadīm menyandang sifat yang ḥādits (baru). Allah menuturkan lafazh “insān” di 18 tempat dan menyatakan bahwa manusia itu diciptakan. Dan Allah menuturkan lafazh “al-Qur’ān” di 54 tempat dan Dia tidak menyatakan bahwa al-Qur’ān itu diciptakan. Dan tatkala Allah mengumpulkan penyebutan keduanya dalam satu tempat, Allah mengingatkan dengan firman-Nya:   الرَّحْمنُ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ،…

  • 02/02/2018
Back To Top