Menciptakan Kebaikan dan Kejelekan adalah Ja’iz bagi Allah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Menciptakan Kebaikan dan Kejelekan adalah Jā’iz bagi Allah   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata: وَ جَائِزٌ عَلَيْهِ خَلْقُ الشَّرِّ وَ الْخَيْرِ كالْإِسْلَامْ وَ جَهْل ِالْكُفْرِ. “Dan jā’iz bagi Allah s.w.t. menciptakan kejelekan dan kebaikan seperti Islam dan kejahilan yakni kekafiran.” Lafazh (جَائِزٌ) merupakan khabar muqaddam, sedang lafazh (خَلْقُ الشَّرِّ) menjadi mubtada’ mu’akhkhar. Arti bait ini adalah Allah boleh menjadikan seseorang kufur ataupun beriman, taat ataupun bermaksiat. Ini…

Tidak ada Suatu Kewajiban bagi Allah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Tidak ada Suatu Kewajiban bagi Allah   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī meneruskan pembahasan dengan menjelaskan pendapat madzhab Mu‘tazilah yang sesat. Beliau berkata: وَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الصَّلَاحَ وَاجِبٌ عَلَيْهِ زُوْرٌ مَا عَلَيْهِ وَاجِبُ. “Pendapat Mu‘tazilah: “Sesungguhnya berbuat baik wajib bagi Allah” adalah bohong. Tidak ada sesuatu yang wajib bagi Allah.” Madzhab Mu‘tazilah berpendapat: “Berbuat baik wajib bagi Allah, seperti menciptakan iman.” Ucapan ini adalah sebuah kebohongan dan kebatilan. Tidak ada kewajiban apapun…

Anugerah dan Keadilan Allah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Anugerah dan Keadilan Allah   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī meneruskan pembahasan dengan memerinci bait sebelumnya. Beliau berkata: فَإِنْ يُثِبْنَا فَبِمَحْضِ الْفَضْلِ وَ إِنْ يُعَذِّبْ فَبِمَحْضِ العَدْلِ. “Maka jika Dia memberi pahala, itu adalah semata-mata dengan karunia-Nya, dan jika Dia meng‘adzab (menyiksa) kita, itu adalah semata-mata dengan keadilan-Nya.” Jika aku diberi pahala atas amal ibadah yang aku lakukan, itu murni karena anugerah Allah. Sebab, aku tidak bisa menciptakan sendiri amal baikku, semua…

Sumber Kekufuran – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Sumber Kekufuran   ‘Ulamā’ Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah menyatakan bahwa akar dan pohon kekufuran ada 6 (enam) perkara. Seorang muslim wajib mengetahui, menjauhi, dan mencegahnya agar tidak ada orang yang terjerumus ke dalam kekufuran. Adapun 6 hal tersebut adalah: (76), (77). Ijāb dzāt (78). Ini adalah penyebab kufurnya ahli filsafat yang berkeyakinan bahwa Allah s.w.t. menciptakan sesuatu karena tuntutan pasti dari dzāt. Wujudnya alam raya ini merupakan efek dari wujudnya Allah, bukan…

Kasb – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Kasb (74)   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata: وَ عِنْدَنَا لِلْعَبْدِ كَسْبٌ كُلِّفَا وَ لَمْ يَكُنْ مُؤَثِّرًا فَلْتَعْرِفَا. “Dan menurut kami (Ahl-us-Sunnah) hamba itu mempunyai kasab yang (dengannya) dia terkena taklif dan tidaklah (kasab itu) sebagai yang memberi bekas maka hendaklah engkau mengetahui.” Kata (كَسْبٌ) berkedudukan menjadi mubtada’, sedangkan lafazh (عِنْدَنَا) menjadi khabar. Adapun makna dari bait ini adalah: “Menurut kami, ‘ulamā’ Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah, semua makhluk memiliki…

Bahagia dan Celaka – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Bahagia dan Celaka   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata: فَوْزُ السَّعِيْدِ عنْدَهُ فِي الْأَزَلِ كَذَا الشَّقِيُّ ثُمَّ لَمْ يَنْتَقِلِ. “Keberuntungan orang yang bahagia itu ditaqdirkan pada zaman azali di sisi Allah s.w.t. Begitu juga orang yang celaka, kemudian tidaklah dia berpindah-pindah.” Keberuntungan orang yang bahagia telah ditetapkan sejak zaman azali, ilmu Allah telah mengetahuinya sebelum manusia diciptakan. Begitupula celakanya orang yang celaka, juga telah ditetapkan sejak zaman azali sebagaimana keberuntungan orang…

Keesaan Allah dalam Penciptaan – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Keesaan Allah dalam Penciptaan   Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī melanjutkan pembahasan tentang keesaan Allah dalam penciptaan, tidak ada selain Allah yang mampu menciptakan apapun. Beliau berkata: فَخَالِقٌ لِعَبْدِهِ وَ مَا عَمِلْ مُوَفِّقٌ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَصِلْ. “Maka Allah-lah yang menciptakan hamba-Nya dan apa-apa yang dia perbuat, serta memberikan taufiq kepada siapapun yang Dia kehendaki untuk sampai (kepada ridha-Nya).” Allah s.w.t. adalah Dzāt yang menciptakan semua hambanya sekaligus perbuatan mereka, perbuatan baik…

Bait 20 – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam

(عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ وَ آلِهِمْ مَا دَامَتِ الْأَيَّامُ.) Bait #20: (Atas mereka shalawat keselamatan, keluarga mereka sepanjang zaman.)   فَضَمِيْرُ عَلَيْهِمْ وَ آلِهِمْ رَاجِعٌ لِلْمُرْسَلِيْنَ. Dhamīr pada kata ‘alaihim dan ālihim kembali pada kata mursalīna. وَ قَوْلُهُ مَا دَامَتِ الْأَيَّامُ مَا ظَرْفِيَّةٌ مَصْدَرِيَّةٌ وَ دَامَ تَامَّةٌ بِمَعْنَى بَقِيَتْ. Ucapan Nāzhim (Syaikh Aḥmad Marzūqi) mā dāmat-il-ayyāmu, mā-nya (disebut dengan) mā mashdariah zharfiyyah (mā yang menyimpan zharaf dan mashdar). Dan kata…

Bait 16-19 – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam (2/2)

ثُمَّ أَخَذَ النَّاظِمُ فِيْ بَيَانِ أَسْمَائِهِمْ فِيْ أَرْبَعَةِ أَبْيَاتٍ فَقَالَ: Kemudian Nāzhim (Syaikh Aḥmad Marzūqi) menjelaskan nama-nama mereka menurut urutan masa kehidupan yang diberi nama, dalam empat bait, Lalu beliau berkata (dalam sya‘ir): (هُمْ آدَمُ إِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُوْدُ مَعْ صَالِحْ وَ إِبْرَاهِيْمُ كُلٌّ مُتَّبَعْ.) (لُوْطٌ وَ إِسْمَاعِيْلُ اسْحَاقُ كَذَا يَعْقُوْبُ يُوْسُفُ وَ أَيُّوْبُ احْتَذَى) (شُعَيْبُ هَارُوْنَ وَ مُوْسَى وَ الْيَسَعْ ذُو الْكِفْلِ دَاوُدْ سُلَيْمَانُ اتَّبَعْ) (إِلْيَاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيَّا يَحْيَ عِيْسَى