Bait 2 – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam (2/2)

وَ هُوَ أَنْ تَجْتَمِعَ كُلُّهَا فِيْ مَادَةٍ وَ يَنْفَرِدُ أَحَدُهَا فِيْ مَادَةٍ أُخْرَى كَمَا فِيْ شَجِرِ أَرَاكٍ وَ لَا عَكْسَ. Ketiganya itu dapat berkumpul (menjadi satu) dalam satu unsur dan salah satu dari tiga itu dapat memiliki ma‘nā yang mandiri dalam bentuk (mādah) yang lain seperti dalam contoh, kayu arāk (kayu siwak), dan tidak sebaliknya. فَتَجْتَمِعُ كُلُّهَا فِي الشُّكْرِ الْاِصْطِلَاحِيِّ لِأَنَّهُ أَخَصُّ مِنَ الْجَمِيْعَ كَمَا قَدْ عَرَفْتَ تَصْوِيْرَهُ. Maka semua…

Bait 2 – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam (1/2)

(فَالْحَمْدُ للهِ الْقَدِيْمِ الْأَوَّلِ وَ الْآخِرِ الْبَاقِيْ بِلَا تَحَوُّلِ.)(Puji bagi Allah, Yang Dahulu dan Awal, dan Yang Akhir Yang Kekal tanpa berubah).   أَيْ فَأُثْنِيْ عَلَى اللهِ بِلِسَانِيْ عَلَى هذِهِ النِّعْمَةِ مَعَ تَعْظِيْمِيْ إِيَّاهُ وَ أُقِرُّ وَ أَعْتَقِدُ أَنَّ كُلَّ ثَنَاءٍ ثَابِتٌ لَهُ. Maksudnya, lalu aku memuji Allah dengan lisanku atas ni‘mat ini disertai pengagunganku kepada-Nya, dan aku menyatakan (ikrar) dan berkeyakinan bahwa sesungguhnya setiap pujian tetap kepunyaan-Nya. اِفْتَتَحَ

Bait 1 – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam

(اَبْدَأُ بِاسْمِ اللهِ وَ الرَّحْمنِ وَ بِالرَّحِيْمِ دَائِمِ الْإِحْسَانِ.)(Aku mulai dengan menyebut nama Allah dan Yang Maha Kasih, Maha Penyayang, Yang selalu berbuat baik).   أَيْ اَبْدَأُ فِيْ تَأْلِيْفِ هذِهِ الْمَنْظُوْمَةِ مُسْتَعِيْنًا بِمُسَمَّى اسْمَ اللهِ كَمَا فَسَّرَ بِذلِكَ الْبَيْجُوْرِيُّ. Yakni aku memulai dalam menyusun kitab nazham ini dengan memohon pertolongan kepada Dzāt Yang Dia dinamai dengan nama Allah, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Syaikh Baijūrī. وَ الْإِتْيَانِ بِالْبَسْمَلَةِ مَنْظُوْمَةً

Muqaddimah – Nur-uzh-Zhalam – Syarah ‘Aqidat-ul-‘Awam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمن الرَّحِيْمِ Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang   الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْعِرْفَانِ وَ أَكْرَمَهُمْ مِنْ مَزِيْدِ فَضْلِهِ بِرُؤْيَتِهِ فِي الْجِنَانِ. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ni‘mat-Nya kepada hamba-hambaNya yang beriman dengan kearifan dan memuliakan mereka berupa limpahan anugrah-Nya dengan melihat-Nya di surga. وَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْعَلَّامُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ عَبْدُهُ وَ

Hukum Sumpah dengan Selain Allah – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

HUKUM SUMPAH DENGAN SELAIN ALLAH Apa hukum sumpah dengan selain Allah?Para ‘ulamā’ berbeda pendapat mengenai sumpah dengan orang yang memiliki kehormatan seperti nabi, wali, dan semacamnya. Sebagian dari mereka mengatakan hukumnya makruh dan sebagian lainnya mengatakan hukumnya haram. Pendapat masyhur dari Madzhab Imām Aḥmad bin Ḥanbal adalah dibolehkan sumpah dengan Rasūlullāh s.a.w. dan berdosa jika menyelisihi beliau. Sebab itu (implementasi) salah satu dari dua rukun syahadat dan Allah s.w.t.…

Penyembelihan di Pintu Para Wali dan Penyampaian Nazar Bagi Mereka – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

PENYEMBELIHAN DI PINTU PARA WALI DAN PENYAMPAIAN NAZAR BAGI MEREKA Apa hukum penyembelihan di pintu para wali?Para ‘ulamā’ raḥimahumullāh menyatakan bahwa dalam hal ini ada perincian:Jika seseorang melakukan itu dengan nama wali (bukan dengan nama Allah), atau agar dengan itu ia dapat mendekatkan diri kepadanya, maka ia seperti orang yang menyembelih untuk selain Allah. Dengan demikian, yang disembelih adalah bangkai dan yang menyembelih berdosa. Perbuatan itu tak menjadikan…

Menalqin Mayit – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

MENALQĪN MAYIT Apa hukum menalqīn mayit?Tiada perbedaan di antara ‘ulamā’ dalam anjuran talqīn pada orang yang menghadapi kematian, yaitu dengan menuntunnya agar mengucapkan (لَا إلهَ إلَّا اللهُ.), berdasarkan hadits shaḥīḥ: لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ: لَا إلهَ إلَّا اللهُ.Talqīnkan orang yang menghadapi kematian di antara kalian (dengan kalimat): “Lā ilāha illallāh – Tidak ada tuhan selain Allah.” (1). Adapun menalqīn mayit setelah dimaqamkan, ‘ulamā’ Madzhab Syāfi‘ī, kebanyakan…

Hukum Tulisan dan Bangunan di Atas Kuburan – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

HUKUM TULISAN DAN BANGUNAN DI ATAS KUBURAN   Generasi terdahulu menghindari pendirian bangunan dan pembuatan tulisan di atas kuburan. Namun kemudian dipandang baik oleh generasi kemudian dengan maksud-maksud yang baik, di antaranya; agar mayit diketahui apakah sudah usang atau belum, karena yang masyhur di antara mereka mayit tidak akan usang kecuali setelah empat puluh tahun atau sekitarnya. Maksud lainnya adalah agar penghuni kuburan diketahui supaya dapat diziarahi dan digunakan untuk…

Mengapuri Kuburan dan Membuat Bangunan di Atasnya – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

MENGAPURI KUBURAN DAN MEMBUAT BANGUNAN DI ATASNYA Apa hukum mengapuri (mewarnai/mengecat) makam (maqām) dan membuat bangunan di atasnya?Hukum mengapuri kuburan adalah makruh menurut kebanyakan ‘ulamā’. Abū Ḥanīfah r.a. mengatakan hukumnya tidak makruh dan tidak ada dalil dalam syariat yang menyatakan itu dilarang. Mengenai hadits larangan mengapuri kuburan dan membuat bangunan di atasnya serta duduk di atasnya, mayoritas ‘ulamā’ sepakat bahwa larangan ini untuk antisipasi bukan sebagai pengharaman. Dengan demikian,…