Manusia adalah Pelaku, Allah-lah Pencipta Perbuatan Manusia – Aqidah Imam al-Muzani

Manusia adalah Pelaku, Allah-lah Pencipta Perbuatan Manusia   Manusia adalah pelaku perbuatannya, sedangkan Pencipta perbuatan adalah Allah. Karena itu, untuk bisa beribadah kepada Allah dengan baik, seseorang butuh pertolongan Allah. Seorang muslim mengulang permohonan itu dalam setiap raka‘at shalatnya. Iyyāka na‘budu wa Iyyāka nasta‘īn… Hanya kepada-Mu kami menyembah, Ya Allah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada-Mu. Segala sesuatu telah ditaqdīrkan, sampai-sampai kita meletakkan tangan…

Empat Tahapan Iman terhadap Taqdir – Aqidah Imam al-Muzani

Empat Tahapan Iman terhadap Taqdīr   Para ‘Ulamā’ menjelaskan 4 tahapan keimanan terhadap taqdīr. Barang siapa yang mengimani keempat tahapan tersebut dengan benar, maka telah benarlah keimanannya terhadap taqdīr. Empat tahapan itu adalah: ‘Ilmu Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang akan terjadi di alam semesta ini secara detail. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya. إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ. “…..Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.…

Ketentuan Taqdir Allah – Aqidah Imam al-Muzani

KETENTUAN TAQDĪR ALLAH   فَالْخَلْقُ عَامِلُوْنَ بِسَابِقِ عِلْمِهِ وَ نَافِذُوْنَ لِمَا خَلَقَهُمْ لَهُ مِنْ خَيْرٍ وَ شَرٍّ لَا يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَ لَا يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ الْمَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا. Para makhluk adalah para pelaku perbuatan (yang terjadi) sesuai ‘Ilmu-Nya (yang mendahului terjadinya perbuatan tersebut), dan para makhluk itu melaksanakan apa yang telah diciptakan oleh-Nya berupa kebaikan atau keburukan. Mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan.…

Akidah Para Sahabat Nabi tentang Allah Berada di Atas – Aqidah Imam al-Muzani

Akidah Para Sahabat Nabi tentang Allah Berada di Atas 1). Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. Ketika Rasūlullāh s.a.w. meninggal, Abū Bakr ash-Shiddīq r.a. menyatakan: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنْ كَانَ مُحَمَّدٌ إِلهَكُمَ الَّذِيْ تَعْبُدُوْنَ، فَإِنَّ إلهَكُمْ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَ إِنْ كَانَ إِلهَكُمَ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ، فَإِنَّ إِلهَكُمْ لَمْ يَمُتْ، ثُمَّ تَلَا: (وَ مَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ، أَفَإِنْ مَاتَ، أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ) حَتَّى خَتَمَ الْآيَةَ. Wahai

Allah Tinggi Di Atas ‘Arsy, Sekaligus Dekat Dengan Hamba-Nya – Aqidah Imam al-Muzani (3/3)

Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’ān: أَأَمِنْتُمْ مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُوْرُ. أَمْ أَمِنْتُمْ مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ “Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit, bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang…

Allah Tinggi Di Atas ‘Arsy, Sekaligus Dekat Dengan Hamba-Nya – Aqidah Imam al-Muzani (2/3)

Kedua: Penyebutan al-Fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah: وَ هُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ. “dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya.” (QS. al-An‘ām [6]: 18).   Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, ‘amal shalih) menuju Allah. Lafazh “naik” yang disebutkan dalam al-Qur’ān dan al-Hadits bisa berupa al-‘Urūj atau ash-Shu‘ūd. Seperti dalam firman Allah: مِّنَ اللهِ ذِي الْمَعَارِجِ. تَعْرُجُ الْمَلآئِكَةُ وَ الرُّوْحُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ

Allah Tinggi Di Atas ‘Arsy, Sekaligus Dekat Dengan Hamba-Nya – Aqidah Imam al-Muzani (1/3)

ALLAH TINGGI DI ATAS ‘ARSY SEKALIGUS DEKAT DENGAN HAMBA-NYA   Al-Imām al-Muzanī r.h. menyatakan: عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ مَجْدِهِ بِذَاتِهِ وَ هُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِالْأُمُوْرِ وَ أَنْفَذَ فِيْ خَلْقِهِ سَابِقَ الْمَقْدُوْرِ وَ هُوَ الْجَوَّادُ الْغَفُوْرُ (يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَ مَا تُخْفِي الصُّدُوْرِ). Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dalam Kemuliaan-Nya dengan Dzāt-Nya. Dia dekat dengan ilmu-Nya dari hamba-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala perkara. Dan Dia mewujudkan dalam penciptaan-Nya (sesuai)…

Allah Maha Mencegah dan Maha Tinggi – Aqidah Imam al-Muzani

Allah Maha Mencegah dan Maha Tinggi   Al-Imām al-Muzanī r.h. menyatakan: الْمَنِيْعُ الرَّفِيْعُ Yang Maha Mencegah lagi Maha Tinggi. Al-Manī‘ bukanlah Nama Allah. (Tapi al-Māni‘ – Yang Maha Pencegah/Maha Pelindung – lihat list 99 nama Allah – SH.). Al-Imām al-Muzanī dalam penyataannya ini sekedar mengabarkan tentang Allah atau penafsiran terhadap salah satu sifat, bukan menyebutkannya sebagai salah satu Nama Allah. Maksud dari “Yang Maha Mencegah” adalah: Maha Mencegah segala macam…

2-8 Allah Maha Berilmu dan Maha Mengetahui Secara Detail – Aqidah Imam al-Muzani

Allah Maha Berilmu dan Maha Mengetahui Secara Detail   Al-Imām al-Muzanī r.h. menyatakan: الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ Dia (Allah) Yang Maha Berilmu lagi Maha Mengetahui secara detail. Al-‘Alīm adalah Maha Mengetahui segala sesuatu, sedangkan al-Khabīr memiliki makna lebih khusus yaitu Maha Mengetahui sesuatu yang: tersembunyi, detail, hakikat dan akibatnya. Jika al-Lathīf digandengkan dengan al-Khabīr maka al-Lathīf untuk pengetahuan yang detail sedangkan al-Khabīr untuk pengetahuan terhadap hal-hal yang samar atau tersembunyi (Syarḥ Kitāb…