Hati Senang

[163] وَ نَتْبَعُ السُّنَّةَ وَ الْـجَمَاعَةَ، وَ نَجْتَنِبُ الشُّذُوْذَ وَ الْـخِلَافَ وَ الْفُرْقَةَ.

Kami mengikuti as-Sunnah dan al-Jamā‘ah, dan meninggalkan sikap menyelisihi jamā‘ah (asy-Syudzūdz), perselisihan (al-Khilāf), dan perpecahan (al-Furqah).”

[164] وَ نُحِبُّ أَهْلَ الْعَدْلِ وَ الْأَمَانَةِ وَ نُبْغِضُ أَهْلَ الْـجَوْرِ وَ الـْخِيَانَةِ.

Kami mencintai orang-orang yang adil dan amanah, dan membenci orang-orang yang zhalim dan berkhianat.”

[165] وَ نَقُوْلُ اللهُ أعْلَمُ فِيْمَا اشْتَبَهَ عَلَيْنَا عِلْمُهُ.

Kami mengatakan: “Allah yang lebih tahu”, dalam masalah yang tidak jelas bagi kami.

[166] وَ نَرَى الْـمَسْحَ عَلَى الْـخُفَّيْنِ فِي السَّفَرِ وَ الْـحَضَرِ كَمَا جَاءَ فِي الْأَثَرِ.

Kami juga berpandangan bolehnya mengusap dua khuff, ketika sedang safar (bepergian jauh) ataupun ketika bermukim, sebagaimana disebutkan di dalam atsar.”

[167] وَ الْـحَجُّ وَ الْـجِهَادُ مَاضِيَانِ مَعَ أُوْلِي الْأَمْرِ مِنَ الْـمُسْلِمِيْنَ بَرِّهِمْ وَ فَاجِرِهِمْ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ لَا يُبْطِلُهُمَا شَىْءٌ وَ لَا يَنْقُضُهُمَا.

Haji dan jihad tetap berlaku bersama pemimpin dari kaum Muslimin, yang shalih maupun yang durjana dari mereka, sampai Hari Kiamat, dan (kedua syari‘at tersebut) tidak dapat dibatalkan dan digugurkan oleh apa pun.”

[168] وَ نُؤْمِنُ بِالْكِرَامِ الْكَاتِبِيْنَ، فَإِنَّ اللهَ قَدْ جَعَلَهُمْ عَلَيْنَا حَافِظِيْنَ،

Kami juga beriman kepada para malaikat penulis, di mana Allah menjadikan mereka sebagai penjaga bagi kita.”

[169] وَ نُؤْمِنُ بِمَلَكِ الْـمَوْتِ الْـمُوَكَّلِ بِقَبْضِ أَرْوَاحِ الْعَالَمِيْنَ،

Kami juga beriman kepada malaikat maut, yang ditugaskan untuk mencabut ruh semua makhluk.”

[170] وَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ لِمَنْ كَانَ لَهُ أَهْلًا، وَ سُؤَالِ مُنْكَرٍ وَ نَكِيْرٍ فِيْ قَبْرِهِ عَنْ رَبِّهِ وَ دِيْنِهِ وَ نَبِيِّهِ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ وَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ.

Dan (kami juga beriman) kepada ‘adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kuburnya tentang Rabbnya, Agamanya dan Nabinya, sebagaimana kabar-kabar yang datang dari Rasūlullāh s.a.w., dan juga dari para sahabat yang mulia r.a.

[171] وَ الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْـجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ.

Kubur adalah kebun indah di antara kebun-kebun surga, atau (sebaliknya) ia adalah salah satu lubang neraka.”

[172] وَ نُؤْمِنُ بِالْبَعْثِ وَ جَزَاءِ الْأَعْمَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ الْعَرْضِ وَ الْـحِسَابِ وَ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ وَ الثَّوَابِ وَ الْعِقَابِ وَ الصِّرَاطِ وَ الْـمِيْزَانِ.

Kami juga beriman kepada Hari Kebangkitan (al-Ba‘ts), pembalasan ‘amal perbuatan pada Hari Kiamat, berdiri menghadap Allah di padang Mahsyar, perhitungan ‘amal, pembacaan kitab cacatan ‘amal, pahala dan ‘adzab, jembatan (ash-Shirāth), dan juga timbangan ‘amal (al-Mīzān).”

[173] وَ الْـجَنَّةُ وَ النَّارُ مَخْلُوْقَتَانِ لَا تَفْنَيَانِ أَبَدًا وَ لَا تَبِيْدَانِ،

Surga dan neraka adalah makhluk, yang keduanya tidak akan fanā’ dan tidak akan musnah.”

[174] وَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ الـْجَنَّةَ وَ النَّارَ قَبْلَ الْـخَلْقِ وَ خَلَقَ لَهُمَا أَهْلًا،

Dan bahwasanya Allah ta‘ālā telah menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan makhluk lain, dan menciptakan penghuni bagi keduanya.”

[175] فَمَنْ شَاءَ مِنْهُمْ إِلَى الْـجَنَّةَ فَضْلًا مِنْهُ وَ مَنْ شَاءَ مِنْهُمْ إِلَى النَّارِ عَدْلًا مِنْهُ،

Barang siapa yang dikehendaki-Nya dari mereka, maka ia akan masuk surga sebagai karunia dari-Nya, dan barang siapa yang dikehendaki-Nya dari mereka, maka ia akan masuk neraka sebagai suatu keadilan dari-Nya.

[176] وَ كُلٌّ يَعْمَلُ لِمَا قَدْ فُرِغَ لَهُ وَ صَائِرٌ إِلَى مَا خُلِقَ لَهُ.

Setiap orang ber‘amal sesuai dengan apa yang ditaqdirkan untuknya, dan akan mudah kepada (ketetapan) yang untuk itu dia diciptakan.”

[177] وَ الْـخَيْرُ وَ الشَّرُّ مُقَدَّرَانِ عَلَى الْعِبَادِ.

Kebaikan dan keburukan ditaqdirkan atas hamba-hamba.”

[178] وَ الْاِسْتِطَاعَةُ الَّتِيْ يَجِبُ بِهَا الْفِعْلُ مِن نَحْوِ التَّوْفِيْقِ الَّذِيْ لَا يَجُوْزُ أَنْ يُوْصَفَ الْـمَخْلُوْقُ بِهِ فَهِيَ مَعَ الْفِعْلِ، وَ أَمَّا الْاِسْتِطَاعَةُ مِنْ جِهَةِ الصَّحَّةِ وَ الْوُسْعِ وَ التَّمَكُّنِ وَ سَلَامَةِ الْآلَاتِ فَهِيَ قَبْلَ الْفِعْلِ، وَ بِهَا يَتَعَلَّقُ الْـخِطَابُ، وَ هِيَ كَمَا قَالَ تَعَالَى:{لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهُا}.

Kesanggupan yang menjadi sebab terjadinya suatu perbuatan, yang bersumber dari taufik Allah yang mana makhluk tidak boleh disifati dengannya; adalah kesanggupan yang menyertai (setiap) perbuatan. Sedangkan kesanggupan seperti kesehatan, kelapangan materi, kapabelitas dan bagusnya peralatan, semua itu adalah sebelum perbuatan tersebut. Dan dengan kesanggupan jenis inilah perintah (syari‘at) bergantung erat, sebagaimana Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286).”

[179] وَ أَفْعَالُ الْعِبَادِ خَلْقُ اللهِ وَ كَسْبٌ مِنَ الْعِبَادِ.

Perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk Allah, sekaligus perolehan dari hamba.”

[180] وَ لَمْ يُكَلِّفْهُمُ اللهُ تَعَالَى إِلَّا مَا يُطِيْقُوْنَ،

Allah ta‘ālā tidak membebani mereka kecuali dengan (kewajiban) yang mampu mereka (laksanakan).”

[181] وَ لَا يُطَيَّقُوْنَ إِلَّا مَا كَلَّفَهُمْ،

Dan mereka (manusia) tidak akan sanggup (melaksanakan) kecuali apa yang Allah bebanikan kepada mereka.” (7).

[182] وَ هُوَ تَفْسِيْرُ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. نَقُوْلُ: لَا حِيْلَةَ لِأَحَدٍ، وَ لَا حَرَكَةَ لِأَحَدٍ وَ لَا تَحَوُّلَ لِأَحَدٍ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلَّا بِمَعُوْنَةِ اللهِ، وَ لَا قُوَّةَ لِأَحَدٍ عَلَى إِقَامَةِ طَاعَةِ اللهِ وَ الثَّبَاتِ عَلَيْهَا إِلَّا بِتَوْفِيْقِ اللهِ.

Dan itulah tafsir kalimat (لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ) Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.” Kami katakan, bahwa tidak ada alasan, gerakan dan tidak ada perubahan bagi seseorang dari maksiat kepada Allah, kecuali karena pertolongan Allah. Dan tidak ada kekuatan bagi seseorang untuk menegakkan ketaatan kepada Allah dan teguh atasnya, kecuali dengan taufik dari Allah.”

[183] وَ كُلُّ شَىْءٍ يَجْرِيْ بِمَشِيْئَةِ اللهِ تَعَالىَ وَ عِلْمِهِ وَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ.

Segala sesuatu berjalan dengan kehendak Allah ta‘ālā, ilmu, Qadhā’ dan Qadar-Nya.

[184] غَلَبَتْ مَشِيْئَتُهُ الْـمَشِيٍئَاتِ كُلَّهَا،

Kehendak-Nya mengalahkan semua kehendak.”

[185] وَ غَلَبَ قَضَاؤُهُ الْـحِيَلَ كُلَّها.

Ketetapan-Nya (Qadhā’-Nya) mengalahkan semua daya (makhluk).”

[186] يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَ هُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ أَبَدًا، تَقَدَّسَ عَنْ كُلِّ سُوْءٍ وَ حَيْنٍ، وَ تَنَـزَّهَ عَنْ كُلِّ عَيْبٍ وَ شَيْنٍ

Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan Dia sama sekali tidak bernah berbuat zhalim. Allah Maha Suci dari semua keburukan dan kebinasaan, dan Maha Suci dari setiap ‘aib dan kekurangan.”

[187] {لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَ هُمْ يُسْأَلُوْنَ}.

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (al-Anbiyā’: 23).

[188] وَ فِيْ دُعَاءِ الْأَحْيَاءِ وَ صَدَقَاتِهِمْ مَنْفَعَةٌ لِلْأَمْوَاتِ،

Dalam doa orang-orang yang masih hidup dan sedekah-sedekah mereka terdapat manfaat bagi orang-orang yang telah mati.”

[189] وَ اللهُ تَعَالَى يَسْتَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَ يِقْضِي الْـحَاجَاتِ،

Allah ta‘ālā mengabulkan doa-doa dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan.”

[190] وَ يَمْلِكُ كُلَّ شَىْءٍ وَ لَا يَمْلِكُهُ شَىْءٌ،

Allah memiliki segala sesuatu, dan Dia tidak dimiliki oleh sesuatu pun.”

[191] وَ لَا غِنَى عَنِ اللهِ تَعَالَى طَرْفَةَ عَيْنٍ،

Walaupun sekejap mata, tidak mungkin bagi makhluk untuk tidak membutuhkan Allah.

[192] وَ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ اسْتَغْنَى عَنِ اللهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَقَدْ كَفَرَ وَ صَارَ مِنْ أَهْلِ الْـحَيْنِ.

Barang siapa yang merasa tidak membutuhkan Allah walaupun sekejap mata, maka dia telah kafir dan dia termasuk di antara orang-orang yang binasa.”

[193] وَ اللهُ يَغْضَبُ وَ يَرْضَى لَا كَأَحَدٍ مِنَ الْوَرَى.

Allah marah dan ridhā, (tapi) tidak seperti (marah dan ridhā-nya) seseorang dari makhluk.

[194] وَ نُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ،

Dan kami mencintai para sahabat Rasūlullāh s.a.w.

[195] وَ لَا نُفْرِطُ فِيْ حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ،

Dan kami tidak berlebihan (ifrāth) dalam mencintai seseorang di antara mereka.”

 

Catatan:

أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ وَ أَنَامُ، وَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، وَ أَصُوْمُ وَ أَفْطِرُ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ.

Adapun saya, saya shalat dan tidur, saya menikahi wanita, saya juga puasa dan berbuka, barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim).

Maka Allah tidak membebankan sesuatu yang sulit atas mereka, dan seandainya Allah membebankan mereka niscaya mereka mampu, akan tetapi Allah tidak ridha mereka mendapatkan kesukaran dan kesulitan. (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

Bagikan:

[138] وَ الْإِيْمَانُ هُوَ الْإِقْرَارُ بِاللَّسَانِ وَ التَّصْدِيْقُ بِالْـجَنَانِ.

Iman adalah: Pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati.” (5).

[139] وَ جَمِيْعُ مَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنَ الشَّرْعِ وَ الْبَيَانِ كُلُّهُ حَقٌّ.

Apa saja yang (telah diriwayatkan secara) shahih dari Rasūlullāh s.a.w. berupa syari‘at dan penjelasan, semuanya adalah ḥaqq (benar) adanya.”

[140] وَ الْإِيْمَانُ وَاحِدٌ، وَ أَهْلُهُ فِيْ أَصْلِهِ سَوَاءٌ

Iman adalah satu, dan orang-orang yang beriman adalah sama.” (6)

[141] وَ التَّفَاضُلُ بَيْنَهُمْ بِالْـخَشْيَةِ وَ التُّقَى وَ مُخَالَفَةِ الْـهَوَى وَ مُلَازَمَةِ الْأَوْلَى.

Perbedaan tingkatan keutamaan di antara mereka adalah dengan rasa takut dan ketaqwaan (kepada Allah), melawan hawa nafsu, dan senantiasa mencari yang paling utama.”

[142] وَ الْـمُؤْمِنِيْنَ كُلُّهُمْ أَوْلِيَاءُ الرَّحْمنِ، وَ أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللهِ أَطْوَعُهُمْ وَ أَتْبَعُهُمْ لِلقُرْءَانِ.

Orang-orang Mu’min semuanya adalah para wali-wali (kekasih-kekasih) Allah Yang Maha Pengasih, dan yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah yang paling taat dan paling mantap mengikuti al-Qur’ān.”

[143] وَ الْإِيْمَانُ هُوَ الْإِيْمَانُ بِاللهِ، وَ مَلَائِكَتِهِ، وَ كُتُبِهِ، وَ رُسُلِهِ، وَ الْيَومِ الْآخِرِ، وَ الْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ، وَ حُلْوِهِ وَ مُرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى.

Iman adalah: beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir dan Qadar yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, (semuanya) adalah dari Allah ta‘ālā.”

[144] وَ نَحْنُ مُؤْمِنُوْنَ بِذلِكَ كُلّهِ،

Dan kita beriman kepada itu semua.”

[145] لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِن رُسُلِهِ وَ نُصَدِّقُهُمْ كُلُّهُمْ عَلَى مَا جَاءُوْا بِهِ.

Kita tidak membedakan seorang pun dari para rasūl-Nya, dan kita wajib membenarkan mereka semua atas apa yang mereka bawa.”

[146] وَ أَهْلُ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي النَّارِ لَا يَخْلُدُوْنَ إِذاَ مَاتُوْا وَ هُمْ مُوَحِّدُوْنَ

Para pelaku dosa-dosa besar dari umat Nabi Muḥammad s.a.w. tidak dikekalkan (dalam neraka), apabila mereka mati dalam keadaan bertauhid.”

[147] وَ إِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا تَائِبِيْنَ بَعْدَ أَنْ لَقُوا اللهَ عَارِفِيْنَ مُؤْمِنِيْنَ، وَ هُمْ فِيْ مَشِيْئَتِهِ وَ حُكْمِهِ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ وَ عَفَا عَنْهُمْ بِفَضْلِهِ، كَمَا ذَكَرَ عَزَّ وَ جَلَّ فِيْ كِتَابِهِ: {وَ يِغْفِرُ مَا دُوْنَ ذلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ}، وَ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ فِي النَّارِ بِعَدْلِهِ

Jika mereka tidak bertaubat, setelah (nanti) mereka bertemu Allah sebagai orang-orang yang mengetahui lagi beriman, maka mereka berada di bawah kehendak (Masyī’ah) dan ketentuan hukum-Nya, jika Allah menghendaki, Dia (bisa) mengampuni mereka dengan karunia-Nya, sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan di dalam Kitāb-Nya: “….. dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisā’: 48). Dan jika Dia menghendaki, Dia (bisa) mengadzab mereka di dalam neraka dengan keadilan-Nya.”

[148] ثُمَّ يُخْرِجُهُمْ مِنْهَا بِرَحْمَتِهِ وَ شَفَاعَةِ الشَّافِعِيْنَ مِنْ أَهْلِ طاَعَتِهِ

Kemudian Allah ta‘ālā mengeluarkan mereka darinya dengan Raḥmat-Nya dan syafa‘at para pemberi syafa‘at dari orang-orang yang taat kepada-Nya.”

[149] ثُمَّ يَبْعَثُهُمْ إِلَى جَنَّتِهِ،

Kemudian Allah akan mengirim mereka ke surga-Nya.”

[150] وَ ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى تَوَلَّى أَهْلَ مَعْرِفَتِهِ وَ لَمْ يَجْعَلْهُمْ فِي الدَّارَيْنِ كَأَهْلِ نُكْرَتِهِ الّذِيْنَ خَابُوْا مِنْ هِدَايَتِهِ وَ لَمْ يَنَالُوْا مِنْ وِلَايَتِهِ.

Hal itu karena Allah ta‘ala mencintai orang-orang yang berma‘rifat terhadap-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya), dan tidak menjadikan mereka di dunia dan akhirat (sama) seperti orang-orang yang ingkar kepada-Nya, yaitu orang-orang yang gagal mendapatkan Hidāyah-Nya, dan tidak dapat meraih kecintaan-Nya.

[151] اللَّهُمَّ يَا وَليَّ الْإِسْلَامِ وَ أَهْلِهِ ثَبِّتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ حَتَّى نَلْقَاكَ بِهِ.

Ya Allah, Wali (pembela) Islam dan orang-orang yang memeluknya, teguhkan kami atas Islam hingga kami bertemu Engkau dengannya.

[152] وَ نَرَى الصَّلَاةَ خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَ فَاجِرٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ، وَ عَلَى مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ.

Kami juga berpandangan bahwa shalat (boleh) dilaksanakan di belakang setiap (imām) yang shahih maupun yang pendosa dari Ahl-ul-Qiblah (kaum Muslimin), juga (boleh menshalatkan yang shāliḥ dan yang pendosa) yang meninggal dunia di antara mereka.”

 [153] وَ لَا نُنَـزِّلُ أَحَدًا مِنْهُمْ جَنَّةً وَ لَا نَارًا،

Dan kami tidak memastikan tempat seseorang dari mereka di surga ataupun di neraka.”

[154] وَ لَا نَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِكُفْرٍ وَ لَا بِشِرْكٍ وَ لَا بِنِفَاقٍ، مَا لَمْ يَظْهَرْ مِنْهُمْ شَىْءٌ مِنْ ذلِكَ،

Dan kami juga tidak mempersaksikan atas diri mereka dengan kekufuran, kesyirikan, ataupun kemunafikan, selama hal itu tidak tampak pada diri mereka.”

[155] وَ نَذَرُ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى.

Dan kami menyerahkan rahasia-rahasia (hal-hal yang tidak terlihat) pada diri mereka kepada Allah ta‘ālā.”

[156] وَ لَا نَرَى السَّيْفَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَّا مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ السَّيْفُ.

Dan kami juga tidak berpandangan bolehnya mengangkat senjata terhadap seorang pun dari umat Nabi Muḥammad s.a.w., kecuali orang yang memang wajib dihadapi dengan senjata.

[157] وَ لَا نَرَى الْـخُرُوْجَ عَلَى أَئِمَّتِنَا وَ وُلَاةِ أَمُوْرِنَا

Kami juga tidak berpandangan bolehnya memberontak kepada para penguasa dan pemimpin kami.”

[158] وَ إِنْ جَارُوْا،

Sekalipun mereka zhalim.”

[159]  وَ لَا نَدْعُوْ عَلَيْهِمْ،

Dan kami juga tidak mendoakan mereka agar mendapatkan bencana atau kebinasaan.”

[160] وَ لَا نَنْـزِعُ يَدًا مِنْ طَاعَتِهِمْ،

Dan kami juga tidak (membolehkan) mencabut tangan (bai‘at) dari kewajiban taat kepada mereka.”

[161] وَ نَرَى طَاعَتَهُمْ مِنْ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ فَرِيْضَةً، مَا لَمْ يَأْمُرُوْا بِمَعْصِيَةٍ،

Kami berpandangan bahwa menaati mereka yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan perbuatan maksiat.”

[162] وَ نَدْعُوْ لَهُمْ بِالصَّلَاحِ وَ الْـمُعَافَاةِ.

Kami berdoa bagi mereka agar mendapatkan keshāliḥan dan dianugerahi keafiatan.

 

Catatan:

5). Ini adalah definisi Murji‘ah, yang membatasi Iman hanya pada pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati.

Pandangan yang benar: Iman adalah ucapan dengan lisan, i‘tiqad dengan hati, dan ‘amal dengan anggota badan. Maka ‘amal masuk dalam hakikat Iman, dan bukan sesuatu yang lebih dari Iman. Barang siapa yang membatasi definisi Iman hanya pada ucapan dengan lisan dan pembenaran dengan hati, dan tidak menyertakan ‘amal, maka dia tidak termasuk dalam ahli Iman yang benar. Iman, sekali lagi, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama adalah: ucapan dengan lisan, pembenaran (i‘tiqād) dengan hati, dan ‘amal dengan anggota badan, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Allah berfirman:

وَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ إِيْمَانًا وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ.

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah Iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.” (al-Anfāl: 2).

Dan juga berfirman:

فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا.

Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah Imannya.” (at-Taubah: 124).

Juga firman-Nya:

وَ يَزَدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِيْمَانًا.

“…. supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (al-Muddatstsir: 31).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Iman itu dapat bertambah dan berkurang, sebagaimana juga dalam sabda Nabi s.a.w.:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ.

Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia mencegahnya dengan tangannya, jika tidak mampu mak dengan lisannya, jika tidak mampu (juga) maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah Iman.” (HR. Muslim).

Ini jelas menunjukkan bahwa Iman itu bisa berkurang.

Dalam riwayat lain dari hadits yang sama:

وَ لَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الْإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

“….dan dibalik itu tidak ada lagi Iman, sekalipun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).

Ini juga jelas bahwa Iman itu dapat berkurang, sampai sekecil biji sawi.

Juga sebagaimana disebutkan di dalam hadits shaḥīḥ:

أَخْرِجُوْا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.

Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada Iman, sekalipun sebesar biji sawi yang paling kecil.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim).

Maka Iman adalah: ucapan dengan lisan, i‘tiqād dengan hati, dan ‘amal dengan anggota badan, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Inilah definisi yang shaḥīḥ yang bersumber dari al-Qur’ān dan as-Sunnah.

Bukan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Ḥanafiyyah: Iman adalah ucapan dengan lisan dan i‘tiqād dengan hati saja.

Bukan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Karamiyyah: Iman adalah ucapan dengan lisan saja.

Bukan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Asyā‘irah: Iman adalah i‘tiqād dengan hati saja. Dan bukan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Jahmiyyah: Iman itu adalah ma‘rifat dengan hati semata. Murji‘ah ada empat kelompok, yang paling jauh adalah al-Jahmiyyah, dan berdasarkan pandangan mereka, Fir‘aun adalah seorang Mu’min, karena dia mengenal (Allah), iblis juga Mu’min; karena dia mengenal (Allah) dengan hatinya.

Dan berdasarkan pandangan al-Asyā‘irah – yaitu pembenaran dengan hati mereka semata – Abū Lahab, Abū Thālib, Abū Jahal dan semua kaum musyrikin adalah orang-orang Mu’min, karena mereka yakin dengan hati mereka dan membenarkan Nabi s.a.w. di dalam hati mereka, akan tetapi mereka dihalangi oleh rasa angkuh dan dengki untuk mengikuti Nabi s.a.w.

Orang-orang Yahudi juga mengakui bahwasanya beliau adalah Rasūl Allah dalam hati mereka, akan tetapi sifat angkuh dan dengki (menghalangi mereka untuk mengikuti Rasūlullāh s.a.w.). (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

6). Ini keliru; karena Iman bukan satu, dan orang-orang yang beriman tidaklah sama, akan tetapi Iman saling mengungguli, dapat bertambah dan berkurang, kecuali dalam pandangan golongan Murji‘ah.

Manusia tidak sama dalam membenarkan dengan hati. Iman Abū Bakar ash-Shiddīq tidak sama dengan Iman seorang yang fasik dari kaum Muslim; karena orang yang fasik dari kaum Muslim Imannya sangat lemah, sedangkan keimanan Abū Bakar ash-Shiddīq seimbang (bahkan lebih kuat) dari Iman semua umat ini. Maka manusia pada dasarnya tidak sama (dalam tingkat keimanan). Ini pada dasarnya (dari segi keimanannya).

Demikian juga dari segi ‘amal, manusia saling mengungguli dalam ‘amal. Di antara mereka ada yang sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا، فمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ.

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Fāthir: 32).

Orang yang maksiat (dalam ayat) ini, yaitu yang kemaksiatannya selain syirik, dia tentu saja zhalim terhadap dirinya; karena dengan demikian dia telah membawa dirinya kepada bahaya.

وَ مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ.

“…. dan di antara mereka ada yang petengahan”, ialah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

وَ مِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ.

“…. dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.”

Ini adalah orang yang melakukan ‘amal-‘amal wajib dan ‘amal-‘amal sunnah, meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan yang dimakruhkan, serta meninggalkan pula berbagai hal yang pada dasarnya mubāḥ (boleh) sebagai tindakan kehati-hatian.

Maka umat ini tidak sama (dalam hal keimanan), dan paling tidak ada tiga tingkatan: pertama, orang yang zhalim atas dirinya, kedua, orang yang tengah-tengah, dan ketiga, orang yang telah lebih dahulu (segera dan berlomba) berbuat segala kebaikan. Ini semua menunjukkan bahwa Iman itu berbeda-beda tingkatannya. (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

Bagikan:

[105] وَ نُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَ الْقَلَمِ وَ بِجَمِيْعِ مَا فِيْهِ قَدْ رُقِمَ.

Dan kita beriman dengan al-Lauḥ-ul-Maḥfūzh, pena (al-Qalam) dan segala yang telah tertulis padanya.”

[106] فَلَوِ اجْتَمَعَ الْـخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَى شَىْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ أَنَّهُ كَائِنٌ لِيَجْعَلُوْهُ غَيْرَ كَائِنٍ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ. وَ لَوِ اجْتَمَعُوْا كُلُّهُمْ عَلَى شَىْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ لِيَجْعَلُوْهُ كَائِنًا لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهِ.

Maka jika semua makhluk bersepakat terhadap sesuatu yang telah Allah ta‘ālā tetapkan untuk terjadi agar tidak terjadi, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan jika mereka semua bersepakat terhadap sesuatu yang tidak Allah ta‘ālā tetapkan untuk terjadi agar terjadi, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.

[107] جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَ مَا أَخْطَأَ الْعَبْدَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ، وَ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ.

Pena telah kering (setelah menuliskan) semua apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat. Dan apa yang (ditaqdirkan) luput dari seorang hamba tentu tidak akan menimpanya, dan apa yang (ditaqdirkan ) menimpanya, tentu tidak akan luput darinya.

[108] وَ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِيْ كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِ،

Seorang hamba hendaklah mengetahui bahwasanya Allah telah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu yang terjadi dari (dan pada) makhluk-Nya.”

[109] فَقَدَّرَ ذلِكَ تَقْدِيْرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًا

Allah men-taqdir-kan hal itu dengan taqdir yang pasti dan baku (mubram).”

[110] لَيْسَ فِيْهِ نَاقِضٌ وَ لَا مُعَقَّبٌ وَ لَا مُزِيْلٌ وَ لَا مُغَيّرٌ وَ لَا مُحَوَّلٌ وَ لَا نَاقِصٌ وَ لَا زَائِدٌ مِنْ خَلْقِهِ فِيْ سَمَاوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ.

Tidak ada yang dapat membatalkan, tidak ada yang menyalahkan, tidak ada yang dapat menghapuskan, dan tidak ada yang bisa merubah (semua ketetapan-Nya). Tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih dari makhluk-Nya, baik di langit maupun di bumi-Nya.”

[111] وَ ذلِكَ مِنْ عَقْدِ الْإِيْمَانِ وَ أُصُوْلِ الْـمَعْرِفَةِ

Itu adalah di antara ikatan iman dan pokok ma‘rifat.”

[112] وَ الْاِعْتِرَافِ بِتَوْحِيْدِ اللهِ تَعَالَى وَ رُبُوْبِيَّتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ: {وَ خَلَقَ كُلَّ شَـْئٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا} وَ قَالَ تَعَالَى: {وَ كَانَ أَمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا}.

Dan pengakuan terhadap tauhid dan Rububiyyah Allah, sebagaimana Firman Allah ta‘ālā di dalam Kitāb-Nya: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan taqdir-taqdirnya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqān: 2). Dan Dia ta‘ālā juga berfirman: “Dan ketetapan Allah itu adalah suatu qadar (ketetapan) yang pasti berlaku.” (al-Aḥzāb: 38).

[113] فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلّهِ تَعَالَى فِي الْقَدَرِ خَصِيْمًا،

Celakalah bagi orang yang menjadi penentang Allah dalam (masalah) Qadar.”

[114] وَ أَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيْهِ قَلْبًا سَقِيْمًا،

Dan menghadirkan hati yang sakit untuk mengkaji di dalamnya (Qadhā’ dan Qadar).

[115] لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِيْ فَحْصِ الْغَيْبِ سِرًّا كَتِيْمًا،

Sungguh dia telah (berkutat) mencari dengan keragu-raguannya dalam meneliti perkara ghaib yang merupakan rahasia yang tertutup rapat.”

[116] وَ عَادَ بِمَا قَالَ فِيْهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًا.

Dan orang tersebut (hanya akan) kembali dengan apa saja yang dikatakannya tentang (Qadhā’ dan Qadar) sebagai seorang pendusta yang penuh dosa.”

[117] وَ الْعَرْشُ وَ الْكُرْسِيُّ حَقٌّ،

‘Arasy dan kursi adalah benar adanya.”

[118] وَ هُوَ مُسْتَغْنٍ عَنِ الْعَرْشَ وَ مَا دُوْنَهُ،

Allah tidak membutuhkan ‘Arasy dan semua yang di bawahnya.”

[119] مُحِيْطٌ بِكُلِّ شَىْءٍ وَ فَوْقَهُ،

Allah meliputi segala sesuatu dan Dia di atas segala sesuatu.”

[120] وَ قَدْ أَعْجَزَ عَنِ الْإِحَاطَةِ خَلْقَهُ.

Dan Allah menantang (yang membuktikan kelemahan) makhluk-Nya untuk meliputi (segala sesuatu).”

[121] وَ نَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلًا، وَ كَلَّمَ مُوْسَى تَكلِيْمًا إِيـْمَانًا وَ تَصْدِيْقًا وَ تَسلِيْمًا.

Kami (Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah) juga berpandangan: Sesungguhnya Allah telah menjadikan Ibrāhīm a.s. sebagai kesayangan(-Nya), dan Allah juga telah berbicara kepada Nabi Mūsā a.s. secara langsung; sebagai suatu keimanan, pembenaran, dan penyerahan (diri kepada Allah).

[122] وَ نُؤْمِنُ بِالـْمَلَائِكَةِ وَ النَّبِيّيْنَ

Kami (Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah) juga beriman terhadap para malaikat dan para nabi.

[123] وَ الكُتُبِ الْـمُنَـزَّلَةِ عَلَى الْـمُرْسَلِيْنَ، وَ نَشْهَدُ أَنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْـحَقِّ الْـمُبِيْنَ.

(Dan kami juga beriman) kepada kitab-kitab suci yang diturunkan (Allah) kepada para rasul, dan kami bersaksi bahwa mereka berada di atas kebenaran yang nyata.”

[124] وَ نُسَمِّيْ أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِيْنَ مُؤْمِنِيْنَ،

Dan kami menamakan orang-orang yang (shalat menghadap) Qiblat kami, sebagai orang-orang Muslim, orang-orang yang Mu’min.

[125] مَا دَامُوْا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مُعْتَرِفِيْنَ، وَ لَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَ أَخْبَرَ مُصَدِّقِيْنَ (غَيْرَ مُنْكِرِيْنَ).

Selama mereka mengakui apa yang dibawa oleh Nabi s.a.w. dan membenarkan setiap yang beliau sabdakan dan beliau kabarkan.”

[126] وَ لَا نَخُوْضُ فِي اللهِ وَ لَا نُمَارِيْ فِيْ دِيْنِ اللهِ.

Kita tidak boleh berbicara terlampau dalam tentang Allah, dan tidak boleh juga mendebat (yang tidak punya makna) dalam Agama Allah.”

[127] وَ لَا نُجَادِلُ فِي الْقُرْءَانِ، وَ نَشْهَدُ أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّ الْعَالـَمِيْنَ،

Kita tidak boleh berdebat tentang al-Qur’ān, dan kita wajib bersaksi bahwasanya al-Qur’ān adalah Kalām (Firman) Rabb alam semesta.”

[128] نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ ، فَعَلَّمَهُ سَيِّدَ الْـمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ،

Al-Qur’ān dibawa turun oleh ar-Rūḥ-ul-Amīn (Jibrīl), lalu dia mengajarkannya kepada penghulu para rasul Muḥammad s.a.w.

[129] وَ هُوَ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى، لَا يُسَاوِيْهِ شَىْءٌ مِنْ كَلَامِ الْـمَخْلُوْقِيْنَ،

Dia (al-Qur’ān) adalah Kalām (Firman) Allah ta‘ala yang sedikit pun tidak sama dengan perkataan makhluk-makhluk.”

[130] وَ لَا نَقُوْلُ بِخَلْقِهِ، وَ لَا نُخَالِفُ جَمَاعَةَ الْـمُسْلِمِيْنَ.

Kami tidak berpandangan bahwasanya al-Qur’ān adalah makhluk, dan kami juga tidak menyelisihi (menentang) jamā‘ah kaum Muslimin.”

[131] وَ لَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِذَنْبٍ مَا لَمْ يَسْتَحِلَّهُ،

Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahl-ul-Qiblah (kaum Muslimin) karena dosa (yang dilakukannya), selama dia tidak menghalalkannya.”

[132] وَ لَا نَقُوْلُ لَا يَضُرُّ مَعِ الْإِيْمَانِ ذَنْبٌ لِمَنْ عَمِلَهُ.

Dan kami juga tidak berpandangan bahwa suatu dosa tidak membahayakan keimanan orang yang melakukannya.”

[133] نَرْجُوْ لِلْمُحْسِنِيْنَ مِنَ الْـمُؤْمِنِيْنَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَ يُدْخِلَهُمُ الْـجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَ لَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَ لَا نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْـجَنَّةِ،

Kami berharap bagi orang-orang Muḥsin (yang senantiasa berbuat kebajikan) dari orang-orang Mu’min agar Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga dengan Raḥmat-Nya, tapi kami tidak menjamin bagi mereka, dan kami juga tidak mempersaksikan mereka dengan surga.”

[134] وَ نَسْتَغْفِرُ لِمُسِيْئِهمْ وَ نَخَافُ عَلَيْهِمْ وَ لَا نُقَنِّطُهُمْ.

Kita memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berbuat buruk dari mereka, kita mengkhawatirkan mereka, dan kita tidak boleh memutuskan harapan (ampunan) bagi mereka.”

[135] وَ الْأَمْنُ وَ الْإِيَاسُ يَنْقُلَانِ عَنْ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ،

Rasa aman (dari ‘adzab neraka) dan putus asa (dari Rahmat Allah); keduanya dapat mengeluarkan (pelakunya) dari Agama Islam.”

[136] وَ سَبِيْلُ الْـحَقِّ بَيْنَهُمَا لِأَهْلِ الْقِبْلَةِ.

Jalan kebenaran adalah ia antara keduanya bagi Ahl-ul-Qiblah (kaum Muslimin).”

[137] وَ لَا يَخْرُجُ الْعَبْدُ مِنَ الْإِيْمَانِ إِلَّا بِجُحُوْدِ مَا أَدْخَلَهُ فِيْهِ.

Seorang hamba tidak keluar dari iman, kecuali karena mengingkari apa yang telah memasukkan dirinya ke dalam iman itu sendiri.” (4).

 

Catatan:

4). Perkataan ini mengandung kritik; karena membatasi kekufuran hanya karena mengingkari adalah pandangan golongan Murji‘ah. Sedangkan hal-hal yang membatalkan Islam sangat banyak, di antaranya adalah: pengingkaran (al-Juhud), menyekutukan Allah (asy-Syirk), mengolok-olok atau menghina Agama atau sesuatu dari Agama sekalipun tidak mengingkarinya, dan lain-lain yang sangat banyak ayang disebutkan oleh para ulama dan fuqaha’ dalam bab ar-Riddah (murtad). Dan di antara yang membatalkan Islam adalah: menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Syaikh-ul-Islām Muḥammad bin ‘Abd-il-Wahhāb menyebutkan bahwa di antara yang membatalkan Islam ada sepuluh, dan itu adalah yang paling penting, karena hal-hal yang dapat membatalkan Islam, selain itu masih sangat banyak. Sekali lagi, membatasi hal yang membatalkan Islam pada pengingkarang semata adalah suatu kekeliruan. Sejumlah penulis yang sok intelek dewasa ini berusaha untuk memunculkan dan membela pandangan ini dengan asumsi bahwa ini akan membuat orang lebih leluasa dalam Agama; yaitu bahwasanya selama seseorang tidak mengingkari maka dia tetap seorang Muslim dalam pandangan mereka. Apabila dia bersujud kepada berhala misalnya, lalu mengatakan: saya tidak mengingkari, bahkan saya tetap mengakui tauhid; yang seperti ini hanya merupakan suatu dosa dari dosa-dosa. Atau menyembelih untuk selain Allah, atau mencaci-maki Allah, atau menghina Rasūlullāh s.a.w., atau mencela Islam; mereka mengatakan, orang ini tetap seorang Muslim, karena dia tidak mengingkari. Ini adalah kesalahan yang besar, dan hal seperti ini adalah penyia-nyiaan Agama secara total, sehingga tidak ada yang tersisa dari Islam. Maka wajib untuk selalu berhati-hati dari bahaya yang besar seperti ini. (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

Bagikan:

[67] فَمَنْ رَامَ عِلْمَ مَا حُظِرَ عَنْهُ عِلْمُهُ وَ لَمْ يَقْنَعْ بِالتَّسْلِيْمِ فَهْمُهُ، حَجَبَهُ مَرَامُهُ عَنْ خَالِصِ التَّوْحِيْدِ، وَ صَافِي الْـمَعْرِفَةِ، وَ صَحِيْحِ الْإِيْمَانِ،

Barang siapa yang ingin mengetahui sesuatu yang tidak diperlihatkan ilmu tentangnya dan pemahamannya tidak puas dengan sikap menyerahkan diri, maka dia akan dihalangi oleh keinginannya tersebut dari tauhid yang murni dan ma‘rifat yang bersih serta iman yang shaḥīḥ.”

[68] فَيَتَذَبْذَبُ بَيْنِ الْكُفْرِ وَ الْإِيْمَانِ وَ التَّصْدِيْقِ وَ التَّكْذِيْبِ، وَ الْإِقْرَارِ وَ الْإِنْكَارِ،

Sehingga dia ragu-ragu antara kufur dan iman, antara membenarkan dan mendustakan, antara menetapkan dan mengingkari.”

[69] مُوَسْوِسًا تَائِهًا شَاكًّا، لَا مُؤْمِنًا مُصَدِّقًا، وَ لَا جَاحِدًا مُكَذِّبًا.

Dia senantiasa waswas, kehilangan arah, dan ragu-ragu; tidak sebagai seorang Mu’min yang membenarkan tapi juga tidak sebagai seorang yang mengingkari lagi mendustakan.”

[70] وَ لَا يَصِحُّ الْإِيْمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنْ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ

Tidak sah keimanan terhadap ar-Ru’yah (akan dilihatnya Allah) oleh penduduk negeri keselamatan (surga) bagi orang yang mengibaratkan dengan sangkaan atau mentakwilkannya dengan daya pemahamannya.”

[71] إِذْ كَانَ تَأْوِيْلُ الرُّؤْيَةِ وَ تَأْوِيْلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوْبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيْلِ وَ لُزُوْمِ التَّسْلِيْمِ،

Karena menakwilkan ar-Ru’yah dan semua makna yang disandarkan kepada ar-Rubūbiyyah adalah dengan meninggalkan takwil dan berpegang kepada sikap berserah diri.

[72] وَ عَلَيهِ دِيْنُ الْـمُسْلِمِيْنَ.

Berdasarkan itulah agama kaum Muslimin.”

[73] وَ مَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَ التَّشْبِيْهَ زَلَّ وَ لَمْ يُصِبِ التَّنْـزِيْهَ.

Dan barang siapa yang tidak menjauhi sikap menafikan dan menyerupakan, dia akan terperosok dan tidak akan benar dalam menyucikan (Allah).”

[74] فَإِنَّ رَبَّنَا جَلَّ وَ عَلَا مَوْصُوْفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِ،

Karena sesungguhnya Rabb kita yang Maha Agung lagi Maha Tinggi menyandang sifat-sifat keesaan.”

[75] مَنْعُوْتٌ بِنُعُوْتِ الْفَرْدَانِيَّةِ، لَيْسَ فِيْ مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِ.

Allah tersifati dengan sifat-sifat yang tak tertandingi (an-Nu‘ut-ul-Fardaniyyah), yang tidak seorang pun dari makhluk-Nya yang menyandang makna sebanding dengannya.

[76] وَ تَعَالَى عَنِ الْـحُدُوْدِ وَ الْغَايَاتِ، وَ الْأَرْكَانِ وَ الْأَعْضَاءِ وَ الْأَدَوَاتِ،

Allah Maha Tinggi (tidak dibatasi oleh) batas-batas dan ujung akhir, dan (tidak membutuhkan) bagian-bagian, anggota-anggota, maupun perangkat-perangkat.” (2).

[77] لَا تَحْوِيْهِ الْـجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْـمُبْتَدَعَاتِ.

Allah tidak dilingkupi oleh arah yang enam sebagaimana semua makhluk ciptaan-Nya.” (3)

[78] وَ الْـمِعْرَاجُ حَقٌّ، وَ قَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ

Mi‘rāj adalah ḥaqq adanya, dan Nabi s.a.w. telah diisrā’kan (Allah).”

[79] وَ عُرَجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقَظَةِ إِلَى السَّمَاءِ،

Beliau dimi‘rājkan ke langit dengan diri (jasmani)nya dalam keadaan terjaga.”

[80] ثُمَّ إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللهُ مِنَ الْعُلَى، وَ أَكْرَمَهُ اللهُ بِمَا شَاءَ،

Kemudian ke tempat yang paling tinggi sesuai dengan kehendak Allah. Dan Allah memuliakannya dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

[81] وَ أَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى، { مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى}،

Dan Allah mewahyukan kepada Rasūlullāh s.a.w. apa yang telah Dia wahyukan: “Hati (fu’ād)nya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (an-Najm: 11).

[82] فَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ فِي الْأَخِرَةِ وَ الْأُوْلَى.

Maka shalawat dan salam semoga selalu Allah curahkan kepada beliau di akhirat dan di dunia.

[83] وَ الْـحَوْضُ الَّذِيْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِهِ – غِيَاثًا لِأُمَّتِهِ – حَقٌّ.

Dan telaga Ḥaudh (telaga milik Rasūlullāh s.a.w. di Hari Kiamat) yang dengannya Allah memuliakan beliau dan sebagai air minum bagi umat beliau adalah benar adanya.”

[84] وَ الشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّ، كَمَا رُوِيَ فِي الْأَخْبَارِ.

Syafā‘at yang beliau simpan (tangguhkan) bagi mereka adalah benar adanya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam banyak hadits.”

[85] وَ الْـمِيْثَاقُ الَّذِيْ أَخَذَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ ءَادَمَ وَ ذُرِّيَّتِهِ حَقٌّ.

Perjanjian yang Allah ta‘ālā ambil dari Ādam a.s. dan keturunannya adalah benar adanya.

[86] وَ قَدْ عَلِمَ اللهُ تَعَالَى فِيْمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْـجَنَّةَ، وَ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَلَا يُزَادُ فِيْ ذلِكَ العَدَدِ وَ لَا يَنْقُصُ مِنْهُ،

Dan sesungguhnya Allah ta‘ālā telah mengetahui sejak zaman azali jumlah orang yang akan masuk surga dan jumlah orang yang masuk neraka secara keseluruhan, maka jumlah itu tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang.”

[87] وَ كَذلِكَ أَفْعَالَهُمْ فِيْمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوْهُ،

Demikian juga ‘amal perbuatan mereka (hanya berkutat) pada apa yang Allah ketahui dari mereka yang akan mereka kerjakan.”

[88] وَ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ.

Dan setiap orang dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan.”

[89] وَ الْأَعْمَالُ بِالْـخَوَاتِيْمِ.

‘Amal perbuatan tergantung pada ‘amal-‘amal penutup (di akhir hidup).”

[90] وَ السَّعِيْدُ مَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالَى، وَ الشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالَى.

Orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dengan ketentuan Allah, dan orang yang sengsara adalah orang yang sengsara dengan ketentuan Allah.”

[91] وَ أَصْلُ الْقَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِيْ خَلْقِهِ،

Pokok dasar (masalah) Qadar merupakan rahasia Allah ta‘ālā terhadap makhluk-Nya.

[92] لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى ذلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَ لَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ.

Rahasia-rahasia tersebut tidak diketahui oleh seorang malaikat yang dekat dengan Allah dan tidak pula seorang nabi yang diutus.”

[93] وَ التَّعَمُّقُ وَ النَّظَرُ فِيْ ذلِكَ ذَرِيْعَةُ الْـخِذْلَانِ، وَ سُلَّمُ الـْحِرْمَاِن، وَ دَرَجَةُ الطُّغْيَانِ،

Mendalami dan meneliti terlalu jauh dalam masalah itu adalah jalan kehinaan, tangga yang terlarang dan derajat orang-orang yang angkuh.”

[94] فَالْـحَذَرَ كُلَّ الْـحَذَرِ مِنْ ذلِكَ نَظَرًا وَ فِكْرًا وَ وَسْوَسَةً،

Maka haruslah sangat berhati-hati dari masalah tersebut; dari segi cara pandang, pikiran, dan waswas.”

[95] فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى طَوَى عِلْمَ الْقَدَرِ عَنْ أَنَامِهِ

Karena sesungguhnya Allah ta‘ālā menutup ilmu tentang Qadar dari (pengetahuan) makhluk-Nya.”

[96] وَ نَهَاهُمْ عَنْ مَرَامِهِ

Dan Allah melarang mereka dari keinginan mereka untuk mengetahuinya.”

[97] كَمَا قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ:{ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَ هُمْ يُسْأَلُوْنَ}.

Sebagaimana Firman Allah ta‘ālā di dalam Kitāb-Nya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (al-Anbiyā’: 23).

[98] فَمَنْ سَأَلَ لِمَ فَعَلَ فَقَدْ رَدَّ حُكْمَ الْكِتَابِ،

Maka barang siapa yang bertanya: “Kenapa Allah berbuat demikian?” Berarti dia telah menolak hukum al-Qur’ān.”

[99] وَمَنْ رَدَّ حُكْمَ الكِتَابِ كَانَ مِنَ الكَافِرِينَ.

Dan barang siapa yang menolak (membantah) hukum al-Qur’ān, maka dia termasuk di antara orang-orang kafir.”

[100] فَهذِهِ جُمْلَةُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مَنْ هُوَ مُنَوَّرٌ قَلْبُهُ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى،

Semua ini adalah sejumlah (prinsip dasar) yang dibutuhkan oleh seseorang yang diterangi hatinya dari para kekasih Allah ta‘ālā.”

[101] وَ هِيَ دَرَجَةُ الرَّاسِخِيْنَ فِي الْعِلْمِ،

Inilah derajat orang-orang yang mendalam ilmu-Nya (ar-Rāsikhūna fil-‘Ilm).”

[102] لِأَنَّ الْعِلْمَ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْـخَلْقِ مَوْجُوْدٌ، وَ عِلْمٌ فِي الْـخَلْقِ مَفْقُوْدٌ،

Karena ilmu itu dua macam: ilmu syari‘at yang diajarkan Allah kepada manusia (al-‘Ilm-ul-Maujūd) dan ilmu yang tidak dapat diketahui oleh malaikat (al-‘Ilm-ul-Mafqūd).”

[103] فَإِنْكَارُ الْعِلْمِ الْـمَوْجُوْدِ كُفْرٌ، وَ ادِّعَاءُ الْعِلْمِ الْـمَفْقُوْدِ كُفْرٌ،

Mengingkari al-‘Ilm-ul-Maujūd adalah suatu kekufuran, dan sebaliknya, mengklaim mengetahui al-‘Ilm-ul-Mafqūd juga suatu kekufuran.”

[104] وَ لَا يَثْبُتُ الْإِيْمَانُ إِلَّا بِقَبُوْلِ الْعِلْمِ الْـمَوْجُوْدِ وَ تَرْكِ طَلَبِ الْعِلْمِ الْـمَفْقُوْدِ.

Tidak akan tetap (sah) keimanan seseorang kecuali dengan menerima al-‘Ilm-ul-Maujūd dan meninggalkan pencarian al-‘Ilm-ul-Mafqūd.”

 

Catatan:

2). “Batas-batas”. Ini sangat umum. Jika yang dimaksud ath-Thaḥāwī adalah batas-batas yang bersifat makhluk, maka Allah memang Maha Suci (tidak dibatasi) oleh batas-batas tersebut dan Maha Suci untuk bertempat pada makhluk-makhluk-Nya. Namun jika yang dimaksud ath-Thahawi adalah batas-batas yang bukan bersifat makhluk, yaitu arah atas (al-‘Uluw), maka ini tsābit (tetap) bagi Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah tidak boleh disucikan dari sifat al-‘Uluw (bersemayam di ketinggian), karena itu adalah haqq. Dan ini bukan termasuk dalam batas-batas dan arah-arah yang bersifat makhluk.

Tujuan-tujuan” (al-Ghāyāt) juga terlalu umum, yang mengandung kemungkinan ḥaqq dan kemungkinan batil. Jika yang dimaksud adalah hikmah diciptakannya makhluk-makhluk, yaitu bahwasanya Allah menciptakannya untuk suatu hikmah, maka ini adalah ḥaqq. Akan tetapi, (seharusnya) dikatakan hikmah, bukan tujuan. Allah berfirman:

وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ.

Dan Aku tidak menciptakan jinn dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzāriyāt: 56).

Jika yang dimaksud dengan tujuan-tujuan (al-Ghayat) adalah: hajat kepada makhluk-makhluk maka benar, ini adalah peniadaan yang shahih. Karena Allah tidak menciptakan makhluk karena hajat dan kebutuhannya kepada makhluk tersebut. Dia Maha Kaya dari (membutuhkan) alam semesta.

Bagian-bagian, anggota-anggota, dan perangkat-perangkat” juga terlalu umum. Jika yang dimaksud adalah: sifat-sifat Dzāt (ash-Shifat-udz-Dzātiyyah) seperti “Wajah” dan “Dua Tangan”, maka ini adalah ḥaqq, dan menafikannya adalah batil. Dan jika yang dimaksud adalah menafikan anggota-anggota yang menyerupai anggota-anggota dan perangkat-perangkat makhluk, maka Allah Maha Suci dari hal semacam itu. Maka masalah “Bagian-bagian dan anggota-anggota” ini memiliki rincian-rincian sebagai berikut:

Pertama: Apabila yang dimaksud dengannya adalah menafikan ash-Shifat-udz-Dzātiyyah dari Allah, seperti “Wajah” dan “Dua Tangan” serta sifat-sifat yang tsabit bagi Allah, maka ini adalah batil.

Kedua: Sedangkan jika yang dimaksud adalah bahwasanya Allah Maha Suci dari terserupakan dengan bagian-bagian, anggota-anggota, dan perangkat-perangkat (jasmani) manusia, maka benar; Allah Maha Suci dari penyerupaan semacam itu, karena Allah tidak terserupakan oleh seorang pun (sesuatu pun) dari makhluk-makhluk-Nya; tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam nama-namaNya, dan tidak dalam sifat-sifatNya.

Ringkasannya: Bahwa lafazh-lafazh yang dibawakan oleh mu’allif mengandung keumuman, akan tetapi perkataannya tersebut dapat dimaknai secara ḥaqq. Karena beliau r.h. adalah di antara ulama-ulama Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah, juga karena beliau adalah di antara ulama Ahli Ḥadīts, sehingga tidak mungkin beliau memaksudkan makna-makna yang buruk, akan tetapi (dengan sangat yakin) bahwa yang beliau maksudkan makna-makna yang shaḥīḥ. Dan andai saja beliau lebih merinci masalah tersebut dan menjelaskannya (tentu akan lebih baik) daripada menyebutkannya secara global dan umum (seperti ini, yang dapat menimbulkan dualisme penafsiran). (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

3). Kami katakan: Ini juga mengandung keumuman. Jika yang dimaksud adalah arah-arah yang bersifat makhluk, maka Allah Maha Suci dari hal itu. Allah tidak mungkin dilingkupi oleh sesuatu pun dari makhluk-makhlukNya. Dan jika yang dimaksud adalah arah atas (al-‘Uluw) dan bahwasanya Allah di atas semua makhluk-makhlukNya, maka ini adalah haqq, dan menafikannya adalah batil. Zhahir yang dimaksud ath-Thahawi dengan arah yang enam adalah arah-arah yang bersifat makhluk; bukan al-‘Uluw (aras atas), karena beliau adalah ulama yang menetapkan sifat al-‘Uluw dan sifat al-Istiwā’ (Allah bersemayam di atas ‘Arasy). (At-Ta‘līqāt-ul-Mukhtasharatu ‘Alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān).

Bagikan:

[28] خَلَقَ الْـخَلْقَ بِعِلْمِهِ،

Allah menciptakan makhluk dengan Ilmu-Nya.”

[29] وَ قَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًا،

Dan telah menetapkan segala ketetapan taqdir bagi mereka.”

[30] وَ ضَرَبَ لَهُمْ آجَالًا،

Dan menetapkan ajal bagi mereka.”

[31] وَ لَمْ يَخْفَ عَلَيْهِ شَىْءٌ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ،

Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka.”

[32] وَ عَلِمَ مَا هُمْ عَامِلُوْنَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ،

Mengetahui apa yang mereka perbuat sebelum Dia menciptakan mereka.”

[33] وَ أَمَرَهُمْ بِطَاعَتِهِ وَ نَهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ.

Memerintahkan mereka untuk taat kepada-Nya dan melarang mereka dari berbuat maksiat terhadap-Nya.

[34] وَ كُلُّ شَىْءٍ يَجْرِيْ بِتَقْدِيْرِهِ، (وَ مَشِيْئَتِهِ،)

Segala sesuatu berjalan (terjadi) dengan taqdir-Nya.”

[35] وَ مَشِيْئَتُهُ تَنْفُذُ، لَا مَشِيْئَةَ لِلْعِبَادِ إِلَّا مَا شَاءَ لَهُمْ، فَمَا شَاءَ لَهُمْ كَانَ، وَ مَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ.

Kehendak-Nya pasti terlaksana, tidak ada kehendak bagi hamba-hamba kecuali yang dikehendaki Allah bagi mereka. Maka apa yang dikehendaki-Nya bagi mereka, pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya bagi mereka, pasti tidak akan terjadi.

[36] يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ، وَ يَعْصِمُ وَ يُعَافِيْ فَضْلًا، وَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ، وَ يَخْذُلُ وَ يَبْتَلِيْ عَدْلًا.

Dia memberikan hidayah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya, kemudian memberikan perlindungan dan keafiatan sebagai suatu karunia, dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menghinakan serta memberikan cobaan sebagai suatu keadilan.”

[37] وَ كُلُّهُمْ يَتَقَلَّبُوْنَ فِيْ مَشِيْئَتِهِ بَيْنَ فَضْلِهِ وَ عَدْلِهِ.

Semua makhluk hanya berkutat di dalam kehendak-Nya; antara karunia dan keadilan-Nya.”

[38] وَ هُوَ مُتَعَالٍ عَنِ الْأَضْدَادِ وَ الْأَنْدَادِ.

Dia Maha Tinggi dari lawan-lawan dan tandingan-tandingan.”

[39] لَا رَادَّ لِقَضَائِهِ، وَ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ، وَ لَا غَالِبَ لِأَمْرِهِ.

Tidak ada yang dapat menentang ketentuan-Nya, tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya, dan tidak ada yang dapat mengalahkan perintah-Nya.”

[40] ءَامَنَّا بِذلِكَ كُلِّهِ، وَ أَيْقَنَّا أَنَّ كُلًّا مِنْ عِنْدِهِ.

Kita beriman dengan semua itu, dan kita yakin bahwasanya semua itu adalah dari sisi-Nya.

[41] وَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَبْدُهُ الْـمُصْطَفَى، وَ نَبِيُّهُ الْـمُجْتَبَى، وَ رَسُوْلُهُ الْـمُرْتَضَى،

Dan bahwasanya Nabi Muḥammad s.a.w. adalah hamba pilihan, Nabi-Nya yang terpilih, dan Rasūl-Nya yang diridhai.”

[42] وَ أَنَّهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، وَ إِمَامُ الْأَتْقِيَاءِ، وَ سَيِّدُ الْـمُرْسَلِيْنَ، وَ حَبِيْبُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،

Beliau juga penutup para nabi, Imām orang-orang yang bertaqwa, penghulu para rasul, dan kekasih Rabb alam semesta.”

[43] وَ كُلُّ دَعْوَةِ نُبُوَّةٍ بَعْدَ نُبُوَّتِهِ فَغَيٌّ وَ هَوًى.

Setiap klaim kenabian setelah beliau adalah kesesatan dan hawa nafsu semata.

[44] وَ هُوَ الْـمَبْعُوْثُ إِلَى عَامَّةِ الْـجِنِّ وَ كَافَّةِ الْوَرَى بِالْـحَقِّ وَ الْـهُدَى وَ بِالنُّوْرِ وَ الضِّيَاءِ.

Beliau adalah utusan kepada bangsa jinn dan manusia secara umum dengan membawa kebenaran dan hidayah, juga dengan membawa cahaya dan sinar terang.

[45] وَ أَنَّ القُرْءَانَ كَلَامُ اللهِ،

Al-Qur’ān adalah Firman Allah (Kalāmullāh).

[46] مِنْهُ بَدَا بِلَا كَيْفِيَّةٍ قَوْلًا، وَ أَنْزَلَهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَحْيًا،

Al-Qur’ān muncul dari-Nya tanpa menetapkan (menyatakan) cahaya sebagai Firman, dan Dia menurunkannya kepada Rasūl-Nya sebagai wahyu.”

[47] وَ صَدَّقَهُ الْـمُؤْمِنُوْنَ عَلَى ذلِكَ حَقًّا،

Orang-orang Mu’min membenarkan hal itu (bahwasanya al-Qur’ān adalah Firman Allah).

[48] وَ أَيْقَنُوْا أَنَّهُ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى بِالْـحَقِيْقَةِ

Dan mereka meyakini bahwasanya al-Qur’ān adalah Firman Allah secara hakiki.”

[49] لَيْسَ بـِمَخْلُوْقٍ كَكَلَامِ الْبَرِيَّةِ،

(Al-Qur’ān) bukan makhluk sebagaimana perkataan makhluk.”

[50] فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلَامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ،

Barang siapa mendengarnya dan menganggap bahwa itu adalah ucapan manusia, maka dia telah kafir.

[51] وَ قَدْ ذَمَّهُ اللهُ وَ عَابَهُ وَ أَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ :{سَأُصْلِيْهِ سَقَرَ}.

Allah telah mencela, mengecam, dan mengancam (orang yang menganggap firman Allah sebagai perkataan manusia) dengan Neraka Saqar, di mana Allah ta‘ālā berfirman: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.” (al-Muddatstsir: 26).

[52]  فَلَمَّا أَوْعَدَ اللهُ بِسَقَرَ لِمَنْ قَالَ:{ إِنْ هذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ}، عَلِمْنَا وَ أَيْقَنَّا أَنَّهُ قَوْلُ خَالِقِ الْبَشَرِ،

Ketika Allah mengancam dengan Neraka Saqar bagi orang yang berkata: “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. (al-Muddatstsir: 25). Maka kita menjadi tahu dan meyakini bahwa al-Qur’ān itu adalah firman Sang Pencipta manusia.”

[53] وَ لَا يُشْبِهُ قَوْلَ الْبَشَرِ.

(Firman-Nya) tidak menyerupai perkataan manusia.”

[54] وَ مَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ،

Dan barang siapa yang menyifati Allah dengan suatu makna dari makna-makna (sifat yang disandang) manusia, maka dia telah kafir.

[55] فَمَنْ أَبْصَرَ هذَا اعْتَبَرَ،

Barang siapa yang melihat ini dengan seksama, dia pasti dapat mengambil pelajaran.

[56] وَ عَنْ مِثْلِ قَوْلِ الْكُفَّارِ انْزَجَرَ،

Dan dia terhalang dari (kebatilan) seperti perkataan orang-orang kafir.”

[57] وَ عَلِمَ أَنَّهُ بِصِفَاتِهِ لَيْسَ كَالْبَشَرِ.

Dan dia pasti mengetahui bahwasanya Allah dengan segala sifat-Nya bukan seperti manusia.”

[58] وَ الرُّؤْيَةُ حَقٌّ لِأَهْلِ الْـجَنَّةِ بِغَيْرِ إِحَاطَةٍ وَ لَا كَيْفِيَّةٍ

Ar-Ru’yah (melihat Allah bagi orang-orang Mu’min di Hari Kiamat) adalah haqq (benar adanya) bagi penduduk surga, tanpa meliputi dan tanpa menentukan cara (atau seperti apa adanya).”

[59] كَمَا نَطَقَ بِهِ كِتَابُ رَبِّنَا :{ وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}،

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Kitab Rabb kita: “Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (al-Qiyāmah: 22-23).

[60] وَ تَفْسِيْرُهُ عَلَى مَا أَرَادَهُ اللهُ تَعَالَى وَ عَلِمَهُ،

Dan tafsirnya adalah sebagaimana yang dikehndaki Allah ta‘ālā dan diketahui oleh-Nya.”

[61] وَ كُلُّ مَا جَاءَ فِيْ ذلِكَ مِنَ الْـحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ عَنِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَهُوَ كَمَا قَالَ

Semua (dalil) yang ada tentang hal itu yang terdapat dalam hadits shaḥīḥ dari Rasūlullāh s.a.w., maka hal itu sebagaimana yang beliau sabdakan.”

[62] وَ مَعْنَاهُ عَلَى مَا أَرَادَ،

Dan maknanya adalah sebagaimana yang beliau kehendaki.”

[63] لَا نَدْخُلُ فِيْ ذلِكَ مُتَأَوِّلِينَ بِآرَائِنَا وَ لَا مُتَوَهِّمِيْنَ بِأَهْوَائِنَا،

Kita tidak boleh masuk dalam permasalahan tersebut dengan menakwilkan berdasarkan (asumsi) pandangan-pandangan kita, dan tidak menerka-nerka berdasarkan (keinginan) hawa nafsu kita.”

[64] فَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِيْ دِيْنِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ للهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Karena sesungguhnya tidak ada orang yang selamat dalam agamanya kecuali orang yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasūl-Nya s.a.w.

[65] وَ رَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ.

Dan mengembalikan apa yang tidak jelas baginya kepada yang mengetahuinya.”

[66] وَ لَا تَثْبُتُ قَدَمٌ فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا عَلَى ظَهْرِ التَّسْلِيْمِ وَ الْاِسْتِسْلَامِ.

Tidak tsābit (tetap secara benar) keislaman (seseorang) kecuali berdasarkan sikap berserah diri dan kepasrahan sepenuhnya.”

Bagikan:

العقيدة الطحاوية

للإمام أبو جعفر الطحاوي رحمه الله

MATAN AL-‘AQĪDAH ATH-THAḤĀWIYYAH

 

بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

قَالَ العَلَّامَةُ حُجَّةُ الْإِسْلَامِ أَبُوْ جَعْفَرٍ الوَرَّاقِ الطَّحَاوِيِّ السَّلَفِيِّ (239 هـ – 321 هـ) -الْمِصْرِيِّ- رَحِمَهُ اللهُ:

Al-‘Allāmah Ḥujjat-ul-Islām Abū Ja‘far al-Warrāq ath-Thaḥāwī r.h. – di Mesir – berkata:

[1] هذَا ذِكْرُ بَيَانِ عَقِيْدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَ الْجَمَاعَةِ عَلَى مَذْهَبِ فُقَهَاءِ الْـمِلَّةِ: أَبِيْ حَنِيْفَةَ النُّعْمَانِ بْنِ ثَابِتٍ الْكُوْفِيِّ، وَ أَبِيْ يُوْسُفَ يَعْقُوْبَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ الْأَنْصَارِيِّ، وَ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ الـْحَسَنِ الشَّيْبَانِيِّ، رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ وَ مَا يَعْتَقِدُوْنَ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ، وَ يَدِيْنُوْنَ بِهِ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Ini adalah penjelasan akidah Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah berdasarkan madzhab para ulama fikih agama ini: Abū Ḥanīfah an-Nu‘mān bin Tsābit al-Kūfī, Abū Yūsuf Ya‘qūb bin Ibrāhīm al-Anshārī, dan Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin al-Ḥasan asy-Syaibānī – semoga Allah meridhai mereka semua –, berikut apa yang mereka yakini dari pokok-pokok agama ini dan mereka anut sebagai agama bagi Rabb alam semesta.

[2] نَقُوْلُ فِيْ تَوْحِيْدِ اللهِ مُعْتَقِدِيْنَ بِتَوْفِيْقِ اللهِ: إِنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيْكَ لَهُ.

Kami mengatakan tentang tauhid kepada Allah dengan yakin akan taufik Allah: “Sesungguhnya Allah adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

[3] وَ لَا شَىْءَ مِثلُهُ،

Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.”

[4] وَ لَا شَىْءَ يُعْجِزَهُ،

Tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya.”

[5] وَ لَا إِلهَ غَيْرُهُ.

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selian Dia.”

[6] قَدِيْمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ،

Maha Dahulu tanpa permulaan, Maha Abadi tanpa berkesudahan.” (11)

[7] لَا يَفْنَى وَ لَا يَبِيدُ،

Dia tidak akan fana’ dan tidak akan punah.”

[8] وَ لَا يَكُوْنُ إِلَّا مَا يُرِيْدُ،

Tidak akan terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki.”

[9] لَا تَبْلُغُهُ الْأَوْهَامُ وَ لَا تُدْرِكُهُ الْأَفْهَامُ،

Tidak dijangkau oleh angan-angan dan tidak pula oleh nalar (daya pikir manusia).

[10] وَ لَا يُشْبِهُ الْأَنَامَ،

Tidak serupa dengan makhluk.”

[11] حَيٌّ لَا يَمُوْتُ،

Maha Hidup dan tidak akan mati.”

[12] قَيُّوْمٌ لَا يَنَامُ،

Maha mengurusi makhluk-Nya terus-menerus dan tidak pernah tidur.”

[13] خَالِقٌ بِلَا حَاجَةٍ، رَازِقٌ بِلَا مُؤْنَةٍ،

Maha Pencipta tanpa membutuhkan (ciptaan-Nya), Maha Pemberi rizki tanpa pernah kekurangan.”

[14] مُمِيْتٌ بِلَا مَخَافَةٍ،

Maha mematikan tanpa “takut” (pada mereka).

[15] بَاعِثٌ بِلَا مَشَقَّةٍ.

Maha membangkitkan kembali (makhluk yang telah Dia matikan) tanpa kesulitan.”

[16] مَا زَالَ بِصِفَاتِهِ قَدِيْمًا قَبْلَ خَلْقِهِ،

Dia tetap dan senantiasa dengan sifat-sifatNya, Maha mendahului sebelum makhluk-Nya.”

[17] لَمْ يَزْدَدْ بِكَوْنِهِمْ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ قَبْلَهُمْ مِنْ صِفَتِهِ.

Allah sedikit pun tidak bertambah (Sifat-Nya) dengan keberadaan mereka, yang sebelum keberadaan mereka memang bukan Sifat-Nya.”

[18] وَ كَمَا كَانَ بِصِفَاتِهِ أَزَلِيًّا، كَذلِكَ لَا يَزَالُ عَلَيْهَا أَبَدِيًّا،

Dan sebagaimana Dia dengan Sifat-sifatNya adalah azali, maka Dia senantiasa dengan Sifat-sifatNya tersebut selamanya.”

[19] لَيْسَ بَعْدَ خَلْقِ الـخَلْقِ اسْتَفَادَ اسْمَ (الـْخَالِقِ)،

Bukan setelah menciptakan makhluk, Allah mendapat nama al-Khāliq (Pencipta).

[20] وَ لَا بِإِحْدَاثِهِ الْبَرِيَّةِ اسْتَفَادَ اسْمَ (الْبَارِئِ).

Bukan pula karena membuat makhluk (al-Bariyyah) Allah mendapatkan nama al-Bāri’ (Pencipta).

[21] لَهُ مَعْنَى الرُّبُوْبِيَّةِ وَ لَا مَرْبُوْبَ، وَ مَعْنَى الْـخَالِقِ وَ لَا مَخْلُوْقَ.

Allah (telah) memiliki Sifat Rubūbiyyah semenjak makhluk yang bertuhan belum ada, dan memiliki sifat mencipta sebelum ada ciptaan (mukhluk).

[22] وَ كَمَا أَنَّهُ مُحْيِي الْـمَوْتَى بَعْدَ مَا أَحْيَا، اِسْتَحَقَّ هذَا الْاِسْمَ قَبْلَ إِحْيَائِهِمْ، كَذلِكَ اسْتَحَقَّ اسْمَ الْـخَالِقِ قَبْلَ إِنْشَائِهِمْ.

Sebagaimana Allah (menyandang Nama) Maha menghidupkan yang telah mati, setelah Dia menghidupkan, Allah telah berhak menyandang nama itu sebelum menghidupkan mereka, demikian pula Dia berhak menyandang Nama Yang Maha mencipta sebelum menciptakan mereka.”

[23] ذلِكَ بِأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ،

Semua itu adalah karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

[24] وَ كُلُّ شَىْءٍ إِلَيْهِ فَقِيْرٌ،

Dan segala sesuatu fakir (butuh) kepada-Nya.

[25] وَ كُلُّ أَمْرٍ عَلَيْهِ يَسِيْرٌ،

Dan segala perkara bagi-Nya adalah mudah.”

[26] لَا يَحْتَاجُ إِلَى شَىْءٍ،

Allah tidak butuh kepada sesuatu pun.

[27] {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ}.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syūrā: 11).

 

Catatan:


  1. 1). (الْقَدِيْمُ) bukan termasuk nama-nama Allah. Di antara nama-namaNya adalah, (الْأَوَّلُ) “Yang Maha Awwal”; karena (الْقَدِيْمُ) “Yang Maha Dahulu” memiliki kemungkinan didahului oleh sesuatu, sedangkan (الْأَوَّلُ) “Yang Maha Awwal” tidak ada kemungkinan didahului oleh sesuatu pun. Rasālullāh s.a.w. bersabda: أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ.Engkaulah Yang Maha Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu.” Akan tetapi Imām ath-Thaḥāwī r.h. bersikap hati-hati. Beliau mengatakan: “Yang Maha Dahulu tanpa permulaan.” Seandainya beliau hanya mengatakan “Yang Maha Dahulu” lalu beliau diam sampai di situ, maka ini tidak benar dari segi makna. (at-Ta‘liqāt-ul-Mukhtasharah ‘alā Matn-il-‘Aqīdat-ith-Thaḥāwiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan). 

Bagikan:

Bab 2

Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Diampuni Karenanya

 

Firman Allah ta‘ālā:

(الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ لَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَ هُمْ مُّهْتَدُوْنَ.)

Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman [11] mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (al-An‘ām [6]: 82).

Dari ‘Ubādah bin ash-Shāmit r.a. ia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، وَ أَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ وَ كَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَ رُوْحٌ مِنْهُ، وَ الْجَنَّةُ حَقٌّ، وَ النَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.

Barang siapa bersyahadat [22] bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muḥammad adalah hamba dan Rasūl-Nya, dan bahwa ‘Īsā adalah hamba Allah dan Rasūl-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, dan (bersyahadat) surga itu adalah hak (ada), dan neraka itu juga hak (ada), niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal yang dia kerjakan.” (HR. Bukhārī dan Muslim).

Dan Bukhārī-Muslim meriwayatkan juga hadits ‘Itbān:

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِيْ بِذلِكَ وَجْهَ اللهِ.

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan: “Lā ilāha illallāh” (tiada sesembahan yang hak selain Allah) dengan mengharapkan (melihat) wajah Allah.

Dan dari Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a., Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

قَالَ مُوْسَى: يَا رَبِّ، عَلِّمْنِيْ شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَ أَدْعُوْكَ بِهِ. قَالَ: يَا مُوْسَى قُلْ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ. قَالَ: يَا رَبِّ، كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هذَا. قَالَ: يَا مُوْسَى لَوْ أَنَّ السَّموَاتِ السَّبْعِ وَ عَامِرَهُنَّ غَيْرِيْ، وَ الْأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِيْ كَفَّةٍ، وَ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ فِيْ كَفَّةٍ، مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ.

Mūsā ‘alaihis salām berkata: Wahai Rabbku, ajari aku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman: “Katakanlah hai Mūsā: “Lā ilāha illallāh”.” Mūsā ‘alaihis salām berkata: “Wahai Rabbku semua hamba-Mu mengucapkan ini.” Allah berfirman: “Hai Mūsā, apabila tujuh langit dan penghuninya selain Aku, dan tujuh bumi diletakkan pada satu daun timbangan, sedang “Lā ilāha illallāh” pada daun timbangan yang lain, niscaya lebih berat timbangan “Lā ilāha illallāh”.” (HR. Ibnu Ḥibbān, dan al-Ḥākim men-shaḥīḥ-kannya).

Dan Tirmidzī meriwayatkan hadits dan di-ḥasan-kan olehnya, dari Anas.

“Aku mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقَيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَبِهَا مَغْفِرَةً.

Allah ta‘ālā berfirman: “Hai anak Ādam, jikalau kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.

 

KANDUNGAN BAB

1. Luasnya karunia Allah.

2. Banyaknya pahala tauhid di sisi Allah.

3. Tauhid bisa menghapuskan dosa-dosa.

4. Tafsir ayat 82 pada surat al-An‘ām.

5. Merenungkan kelima masalah yang terdapat dalam hadits ‘Ubādah.

6. Apabila engkau menyatukan antara hadits ‘Ubādah, hadits ‘Itbān dan hadits yang sesudahnya, akan jelas bagimu makna kalimat “Lā ilāha illallāh”. Dan akan jelas juga bagimu kesalahan orang-orang yang tertipu (orang-orang yang salah dalam memahami “Lā ilāha illallāh”.

7. Peringatan tentang persyaratan yang terdapat dalam hadits ‘Itbān.

8. Keadaan para nabi yang membutuhkan teguran akan keutamaan “Lā ilāha illallāh”.

9. Peringatan tentang beratnya “Lā ilāha illallāh” mengungguli beratnya seluruh makhluk (pada timbangan), padahal banyak yang mengucapkan kalimat itu namun ringan timbangannya.

10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh sebagaimana halnya langit.

11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.

12. Penetapan sifat-sifat Allah, berbeda dengan pendapat Asy‘ariyyah.

13. Sesungguhnya engkau jika memahami hadits Anas, engkau akan tahu bahwa sabda Rasūlullāh s.a.w. pada hadits ‘Itbān:

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِيْ بِذلِكَ وَجْهَ اللهِ.

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan: Lā ilāha illallāh dengan mengharapkan (melihat) wajah Allah.

Maksudnya adalah dengan meninggalkan syirik, bukan hanya ucapan dengan lisan saja.

14. Merenungkan perpaduan antara keadaan Nabi ‘Īsā a.s. dan Nabi Muḥammad s.a.w. sebagai hamba Allah dan Rasūl-Nya.

15. Mengetahui keistimewaan kekhususan ‘Īsā sebagai kalimat Allah.

16. Mengetahui bahwa Nabi ‘Īsā adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.

17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.

18. Mengetahui sabda Rasūlullāh s.a.w.:

عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.

…. bagaimanapun amal yang ia kerjakan.

19. Mengetahui bahwa mīzān (timbangan) memiliki dua daun.

20. Mengetahui adanya Wajah Allah.

Catatan:


  1. 1). Īmān dalam ayat ini adalah tauhid. 
  2. 2). Syahādat ialah: bersaksi, mengakui, dan meyakini. 

Bagikan:

Bab 1

At-Tauhid

 

Firman Allah ta‘ālā:

 

(وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.)

Dan tidakkah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah [1] kepada-Ku.” (adz-Dzāriyāt [51]: 56).

Dan firman-Nya:

(وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ.)

Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat itu seorang rasul (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah taghut [2]”.” (an-Naḥl: 36).

Dan firman-Nya:

(وَ قَضى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا إِيَّاهُ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَ لَا تَنْهَرْهُمَا وَ قُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا. وَ اخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَ قُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا.)

Dan Rabbmu telah memerintahkan: janganlah kalian menyembah selain Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu, maka jangan kamu katakan “ah” kepada keduanya, dan jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan merendah dirilah terhadap mereka berdua dengan penuh kasih-sayang, dan doakan mereka: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil.” (al-Isrā’ [17]: 23-24).

Dan firman-Nya:

(وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا…. )

Beribadahlah kalian kepada Allah, dan jangan berbuat syirik, [1] kepada-Nya.” (an-Nisā’: 36).

Dan firman-Nya:

(قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ لَا تَقْتُلُوْا أَوْلَادَكُمْ مِّنْ إمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَ إِيَّاهُمْ وَ لَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ وَ لَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ. وَ لَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ إِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ حَتّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَ أَوْفُوا الْكَيْلَ وَ الْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَ إِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَ لَوْ كَانَ ذَا قُرْبى وَ بِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوْا ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَ اَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَ لَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.)

Katakanlah: “Kemarilah, akan kubacakan perkara yang diharamkan Rabbmu terhadap kalian, yaitu: jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan jangan membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami yang akan memberi rezeki untukmu dan anak-anakmu; dan jangan mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun tersembunyi; dan jangan membunuh jiwa yang Allah haramkan (untuk membunuhnya) kecuali karena alasan yang benar.” Itulah wasiat Allah kepadamu agar kamu memahami(nya). Dan jangan kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata maka berkatalah dengan adil, meskipun terhadap kerabat(mu); dan penuhilah janji Allah. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepada kalian agar kalian ingat. Itulah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah; dan jangan kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan lain itu akan memisahkan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah perintah Allah kepada kalian agar kalian bertaqwa.” (al-An‘ām [6]: 151-153).

Ibnu Mas‘ūd r.a. berkata:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى وَصِيَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الَّتِيْ عَلَيْهَا خَاتَمُهُ فَلْيَقْرَأْ قَوْلَهُ تَعَالَى (قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا) إِلَى قَوْلِهِ (وَ أَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا) الآية.

“Barang siapa ingin melihat wasiat berstempel cincin (kenabian) Muḥammad s.a.w., maka hendaknya ia membaca firman Allah ta‘ālā: “Qul ta‘ālau atlu mā ḥarrama rabbukum ‘alaikum allā tusyrikū bihi syai’an” sampai firman-Nya: “Wa anna hādzā shirāthī mustaqīman.” (yaitu QS al-An‘ām ayat 151-153).”

Dari Mu‘ādz bin Jabal r.a. ia berkata:

كُنْتُ رِدِيْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِيْ: “يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَ مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ فَقُلْتُ: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَ لَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَ حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: “لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا.”

Suatu ketika aku diboncengkan Nabi s.a.w. di atas seekor keledai. Beliau bersabda kepadaku: “Wahai Mu‘ādz! Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab: “Allah dan Rasūl-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah para hamba mengibadahi-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikitpun. Dan hak hamba atas Allah adalah, bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” Aku berkata: “Ya Rasūlullāh, tidakkah aku sebarkan saja kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab: “Jangan kamu sebarkan, nanti mereka akan bersikap pasrah saja.” (HR. Bukhārī dan Muslim dalam Shaḥīḥ mereka).

 

KANDUNGAN BAB.

1. Hikmah penciptaan jin dan manusia.

2. Ibadah itu adalah tauhid. Karena pertentangan yang terjadi (antara Rasūlullāh s.a.w. dengan orang kafir) adalah dalam masalah tauhid ini.

3. Barang siapa tidak melaksanakan tauhid ini, berarti belum mengibadahi Allah. Itulah makna ucapan Allah (Surat al-Kāfirūn [109]: 3).

(وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ).

Dan kalian bukanlah penyembah Dzāt yang aku sembah.”

4. Hikmah diutusnya para rasul.

5. Diutusnya para rasul telah mencakup seluruh umat manusia.

6. Agama para nabi adalah satu (yaitu tauhid, pent.).

7. Permasalahan yang besar, bahwa: ibadah kepada Allah tidak akan dapat terwujud kecuali dengan kufur atau mengingkari thaghut. Inilah makna firman Allah [Surat al-Baqarah [2]: 256).

(…. فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَ يُؤْمِنْ….)

“…. Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah….”

8. Thaghut itu mencakup semua yang disembah selain Allah.

9. Dalam pandangan as-Salaf, ketiga ayat muḥkamāt (yang jelas) di surat al-An‘ām memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalam ketiga ayat itu ada sepuluh perkara. Yang pertama adalah larangan terhadap syirik.

10. Ayat-ayat muḥkamāt pada surat al-Isrā’. Padanya terdapat delapan belas perkara, dimulai dengan firman Allah (Surat al-Isrā’ [17]: 22).

(لَا تَجْعَلْ مَعَ اللهِ إِلهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُوْمًا مَّخْذُوْلًا.)

Janganlah kamu adakan Ilah yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).”

dan diakhir dengan firman-Nya (Surat al-Isrā’ [17]: 39):

(وَ لَا تَجْعَلْ مَعَ اللهِ إِلهًا آخَرَ فَتُلْقى فِيْ جَهَنَّمَ مَلُوْمًا مَّدْحُوْرًا.)

Dan janganlah kamu mengadakan Ilah yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Dan Allah s.w.t. mengingatkan kita akan agungnya perkara-perkara ini, dengan firman-Nya (Surat al-Isrā’: 39).

(ذلِكَ مِمَّا أَوْحى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ.)

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabbmu kepadamu.”

11. Ayat dalam surat an-Nisā’ yang dinamai dengan ayat “Hak-hak yang sepuluh”. Dimulai Allah dengan firman-Nya (Surat an-Nisā’ [4]: 36).

(وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا… )

Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

12. Peringatan terhadap wasiat Rasūlullāh s.a.w. diakhir hayat beliau.

13. Mengetahui hak Allah atas kita.

14. Mengetahui hak para hamba atas Allah jika para hamba melaksanakan hak-Nya.

15. Bahwasanya perkara ini tidak diketahui oleh mayoritas para shahabat.

16. Bolehnya menyembunyikan ilmu untuk suatu kemaslahatan.

17. Dianjurkan menyampaikan kepada sesama muslim suatu berita yang menggembirakannya.

18. Kekhawatiran Rasūlullāh s.a.w. terhadap sikap pasrah kepada keluasan rahmat Allah.

19. Ucapan orang yang ditanya sedangkan dia tidak tahu adalah: “Allāh wa Rasūluhu a‘lam” (Allah dan Rasūl-Nya lebih mengetahui),

20. Bolehnya mengkhususkan memberikan ilmu kepada sebagian orang tanpa yang lainnya.

21. Ketawadhu‘an Rasūlullāh s.a.w. karena mau menunggang himar (keledai) dengan memboncengkan orang lain.

22. Bolehnya memboncengkan orang lain di atas binatang.

23. Keutamaan Mu‘ādz bin Jabal.

24. Sangat agungnya perkara (tauhid) ini.

 

Catatan:

 

Bagikan:

KALIMAT PEMBUKA (MUQADDIMAH)

AL-IMAM AL-MUZANI

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

عَصَمَنَا اللهُ وَ إِيَّاكُمْ بِالتَّقْوَى وَ وَفَّقَنَا وَ إِيَّاكُمْ لِمُوَافَقَةِ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّكَ أَصْلَحَكَ اللهُ سَأَلْتَنِيْ أَنْ أُوْضِحَ لَكَ مِنَ السُّنَّةِ أَمْرًا تُصَبِّرُ نَفْسَكَ عَلَى التَّمَسُّكِ بِهِ وَ تَدْرَأُ بِهِ عَنْكَ شُبَهَ الْأَقَاوِيْلِ وَ زَيْغَ مُحْدَثَاتِ الضَّالِّيْنَ وَ قَدْ شَرَحْتُ لَكَ مِنْهَاجًا مُوْضِحًا مُنِيْرًا لَمْ آلُ نَفْسِيْ وَ إِيَّاكَ فِيْهِ نُصْحًا بَدَأْتُ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ ذِي الرُّشْدِ وَ التَّسْدِيْدِ.

Dengan Nana Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Semoga Allah menjaga kita dengan taqwa memberikan taufiq kepada kita untuk (berjalan) sesuai petunjuk. Amma Ba‘du. Sesungguhnya anda – semoga Allah memperbaiki keadaan anda – meminta kepada saya untuk menjelaskan as-Sunnah dengan penjelasan yang membuat jiwa anda bisa bersabar dan berpegang teguh kepadanya, dan dengan penjelasan itu bisa menolak ucapan-ucapan yang mengandung syubhat (kerancuan), dan penyimpangan orang-orang yang mengada-ada lagi sedat. Saya akan jelaskan (sebentar lagi) manhaj (metode) yang jelas terang benderang dengan sepenuh jiwa pemberian nasehat untuk diri saya maupun anda. Saya mulai dengan memuji Allah yang memiliki petunjuk dan pengokohan (di atas kebenaran).

 

PENJELASAN

Al-Imām al-Muzanī memulai tulisannya dengan basmalah (Bismillāh-ir-Raḥmān-ir-Raḥīm). Hal itu adalah sesuai dengan Sunnah Nabi s.a.w. Tulisan-tulisan dari Nabi yang dikirim kepada para pembesar-pembesar di negeri lain, sebagai dakwah kepada Islam, selalu diawali dengan Bismillāh-ir-Raḥmān-ir-Raḥīm.

Contohnya adalah surat yang dikirim oleh Rasūlullāh s.a.w. kepada Hiraqla pembesar Romawi:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيْمِ الرُّوْمِ سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّيْ أَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامش أَسْلِمْ تَسْلِمْ وَ أَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمِ الْأَرِيْسِيِّيْنَ وَ {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوْاءٍ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللهَ وَ لَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَ لَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ فَإِنْ تُوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِأَنَّا مُسْلِمُوْنَ}.

Bismillāh-ir-Raḥmān-ir-Raḥīm.

Dari Muḥammad Rasūlullāh kepada Hiraqla pembesar Romawi. Semoga keselamatan untuk (orang-orang) yang mengikuti petunjuk. Amma ba‘du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. (Masuk Islamlah), Allah akan memberikan pahala dua kali kepadamu. Jika engkau berpaling, engkau juga akan menanggung dosa al-‘Arīsiyyīn (rakyat jelata yang mengikutimu). Wahai Ahl-ul-Kitāb, marilah kita bersatu pada kalimat yang sama di antara kita, yaitu agar kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak mensekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan janganlah kita menjadikan orang di antara kita sebagai Tuhan selain Allah. Jika kalian berpaling, ucapkanlah: persaksikanlah bahwa kami adalah kaum muslimin.

(H.R. al-Imām al-Bukhārī no. 4188 dan al-Imām Muslim no. 3322).

Pada muqaddimah ini juga Al-Imām al-Muzanī mendoakan agar Allah menjaga beliau dan orang yang membaca risalah beliau tersebut dengan ketaqwaan dan agar semuanya mendapatkan hidayah Allah. Ini adalah salah satu kebiasaan Ulama Ahl-us-Sunnah yang menunjukkan kasih sayang mereka kepada kaum muslimin. Mereka mendoakan dan memberikan pengajaran yang benar kepada umat.

Beliau mengatakan:

وَ قَدْ شَرَحْتُ لَكَ

Kalimat ini bisa mengandung 2 penafsiran, yaitu:

1. Aku telah menjelaskannya kepadamu.” Jika ini yang dimaksud, berarti beliau telah menulis semua ini risalah dan memberi muqaddimah setelahnya.

2. Aku akan menjelaskan kepadamu sebentar lagi.

Kata “qad” dalam bahasa ‘Arab jika diikuti kata kerja lampau (fi‘il mādhī) kebanyakan memang berarti “telah/sudah”, namun kadangkala juga bermakna akan mengerjakan perbuatan dalam waktu dekat. Seperti ucapan seseorang yang mengumandangkan iqamah sebelum shalat: Qad qāmat-ish-shalāh, yang artinya: shalat akan ditegakkan sebentar lagi.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas