Hati Senang

001-1-5 Qadar Bukan Hakim Atas Kehendak Allah – Memilih Takdir Allah (Bagian 2)

5. Qadar Bukan Hakim atas Kehendak Allah, Perbuatan Allah dan Kebebasan Manusia. Dua kelompok – Jabariyyah dan Mu‘tazilah sama-sama meriwayatkan dari Rasūlullāh s.a.w., bahwasanya beliau bersabda: “Penganut Qadariyyah adalah Majusinya umat ini.” Namun masing-masing kelompok ini saling menuding lawannya sebagai penganut Qadariyyah. Kelompok Jabariyyah mengatakan bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan mereka adalah kelompok Mu‘tazilah, yang berkeyakinan bahwa manusia memiliki kebebasan sepenuhnya dan terlepas dari takdir (qadar), dengan alasan…

001-1-4 Kemungkinan Terjadinya Naskh – Memilih Takdir Allah (Bagian 2)

Allah juga memberikan jawaban kepada mereka tentang kemungkinan terjadinya naskh dalam takwīn pada ayat berikut ini: (أَ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ الأَرضِ وَ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصِيرٍ) “Tidakkah engkau tahu bahawasanya Allah-lah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan kamu tidak mempunyai pengawal dan penolong selain Allah”. (2: 107). Ayat tersebut menunjukkan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah;…

001-1-4 Kemungkinan Terjadinya Naskh – Memilih Takdir Allah (Bagian 1)

4. Kemungkinan Terjadinya Naskh dan Bantahan terhadap Anggapan Orang Yahudi. Seperti diketahui, orang Yahudi menolak adanya Naskh (penghapusan) di dalam hukum. Bahkan lebih dari itu, mereka menafikannya sama sekali, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan agama (tasyrī‘). Mereka mengajukan berbagai alasan sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab ushūl, antara lain sebagai berikut: “Sebenarnya naskh itu tidak lain berarti hilangnya hikmah nāsikh (yang menghapus) atau tidak adanya hikmah (pada pembuat hukum). Hal…

001-1-3 Al-Qur’an & as-Sunnah Sering Menggunakan Kiasan – Memilih Takdir Allah

3. Al-Qur’ān dan as-Sunnah Sering Menggunakan Kiasan. Al-Qur’ān al-Karīm dan para ahli bahasa sering menggunakan kiasan dan kata jadian. Anda lihat, al-Qur’ān menisbatkan kepada Allah perbuatan “makar”, “tipu daya”, “kebohongan”, “lupa”, dan “kelemahan.” Allah berfirman: (إِنَّهُم يَكِيدُونَ كَيدًا وَ أَكِيدُ كَيدًا) “Sesungguhnya mereka benar-benar membuat tipu daya, dan Aku (Allah) akan benar-benar membuat tipu daya pula.” (86: 15, 16). (إِنَّ المُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَ هُوَ خَادِعُهُم) “Sesungguhnya orang-orang munafik itu…

001-1-2 Kutipan Pendapat Para Ulama Ahl-ul-Bayt – Memilih Takdir Allah

2. Kutipan Pendapat Para Ulama Ahl–ul-Bayt. Para ulama Ahl-ul-Bayt—termasuk tokoh-tokoh mereka terdahulu—sepakat bahwa Allah s.w.t. mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Bagi-Nya, tiada sesuatu pun yang tersembunyi, baik di bumi maupun di langit, sebagaimana firman-Nya: (إِنَّ اللهَ لا يَخفَى عَلَيهِ شَيءٌ فِي الأَرضِ وَ لا فِي السَّمَاءِ) “Sesungguhnya Allah, tiada tersembunyi bagi-Nya apa yang ada di bumi maupun di langit.” (3:…

001-1-1 Penafsiran Kata al-Bada’ – Memilih Takdir Allah

1. Penafsiran Kata al-Badā’. Dari segi bahasa, al-Badā’ berarti “muncul”; sesuatu yang sebelumnya tidak tampak. Ar-Rāghib menjelaskan arti kata ini: “Sesuatu yang muncul dengan jelas, atau sesuatu yang tampak dengan jelas sekali.” Allah s.w.t. berfirman: (وَ بَدَا لَهُم مِنَ اللهِ مَا لَم يَكُونُوا يَحتَسِبُونَ وَ بَدَا لَهُم سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا) “Dan muncullah bagi mereka dari Allah apa-apa yang tidak mereka sangka sebelumnya, dan muncullah bagi mereka kejelekan dari apa-apa yang…

001-0 Definisi al-Bada’ – Memilih Takdir Allah

BAGIAN PERTAMA: DEFINISI AL-BADĀ’   BAB 1 PERBEDAAN SEMANTIK (MAKNA KATA)TENTANG AL-BADĀ’. Bila orang membicarakan masalah al-Badā’ dalam suasana tenang, terlepas dari emosi dan kefanatikan, maka mereka akan mengetahui adanya “kesatuan akidah” dalam masalah tersebut. Dan tentu mereka pun akan tahu bahwa perbedaan pendapat yang ada hanyalah perbedaan semantik belaka, bukan dalam hal isi dan hakikat al-Badā’. Syaikh Al-Mufīd (338-413), telah menunjukkan hakikat al-Badā’ ini. Sesungguhnya perbedaan yang terjadi antara…

05-2 Manusia – Desain Ilahi

BAB LIMA MANUSIA (Bagian 2 dari 5)INDRA DAN DEPRIVASI? Perhatikanlah bagaimana organ penglihatan sebagai sarana jiwa manusia memahami benda, ditempatkan di kepala seperti lampu yang ditempatkan di atas mercusuar. Mata tidak ditaruh pada tandan dan kaki. Karena jika demikian, mata akan terluka ketika tangan dan kaki itu berkerja atau bergerak. Mata juga tidak ditempatkan di bagian tengah tubuh, seperti perut atau punggung, karena hal ini akan meyulitkan mata untuk…

05-1 Manusia – Desain Ilahi

BAB LIMA MANUSIA (Bagian 1 dari 5)   DARI RAHIM HINGGA PUBERTAS Kini saya akan beralih ke penciptaan manusia. Saya akan mengungkap bukti adanya kebijaksanaan, perencanaan, dan tindakan Tuhan. Pertama, rancangan sistem pendukung buat janin dalam rahim; ketika janin tidak bisa mencari makanan atau melindungi dirinya sendiri, darah ibulah yang memberinya makan sebagaimana air menghidupi tanaman. Kontraksi yang mengguncang janin untuk terlahir ke dunianya yang baru terjadi ketika janin sudah…

04-4 Binatang – Desain Ilahi

BAB EMPAT BINATANG (Bagian 4 dari 4)   TEMBOLOK, BULU, KAKI, DAN LEHER BURUNG Pikirkanlah tujuan di balik tembolok burung. Jalur makanan ke empedal burung sangatlah sempit. Sehingga, hanya potongan kecil yang bisa sekali telan. Jika hendak mematuk biji kedua, sang burung harus menunggu sampai biji pertama mencapai empedal. Karena itu, proses makan akan sangat lama. Bagaimana cara mendapatkan cukup pasokan makanan secara cepat dan tidak berbahaya? Tembolok difungsikan seperti…
Lewat ke baris perkakas