Hati Senang

1-5

Kegaiban dan Ilusi Manusia

 

Allah s.w.t. telah menyebutkan hakikat-hakikat yang tetap di dalam al-Qur’ān untuk kita ketahui. Karena manusia telah menemukan bahwa dengan menaburkan suatu dzat kimia pada awan maka akan turunlah hujan, lalu muncullah orang yang mengaku bahwa dirinya dapat menurunkan hujan. Itu berarti salah satu dari kelima kegaiban yang dipisahkan Allah telah ditemukan oleh manusia. Lima kegaiban yang dimaksud adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَ يَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَ مَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَ مَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34).

Karena itu kita katakan: (kepada mereka yang mengaku bahwa dia dapat menurunkan hujan): Seberapa besar peranan anda dalam menurunkan hujan? Sesungguhnya menurunkan hujan adalah proses yang sangat berat dan sangat besar; mulai dengan menguapkan air hingga turun menjadi air hujan. Walaupun semua ilmuwan bersatu dan bahu-membahu untuk menurunkan hujan, mereka tidaklah dapat. Seandainya manusia dapat membuat hujan, tentu mereka akan menurunkan hujan di padang pasir yang gersang sehingga memungkinkan untuk ditanami. Atau kalau memang memungkinkan saat turunnya hujan deras di suatu tempat tentu akan digeserlah awan ke tempat lain sehingga tidak menimbulkan banjir dan menenggelamkan tempat tersebut. Hanya Allah-lah yang menurunkan hujan dari langit, dan dari situlah semua manusia meminumnya, termasuk ternak-ternak mereka dan semua makhluk hidup lainnya. Allah-lah yang telah menciptakan sungai-sungai ribuan kilometer panjangnya. Dapatkah ilmu menciptakan satu danau kecil di tengah-tengah padang pasir?

Sangat ironis sekali, bukannya manusia menggunakan ilmu pengetahuan dengan penggunaan yang benar untuk menjembatani ke arah keimanan, malah sebaliknya mereka menggunakannya untuk menyebarkan kekufuran dan penentangan. Bukannya mereka menyatakan semua itu dari Allah, malah mereka mengakui bahwa semua itu berkat kekuasaan dan kemampuan mereka sendiri.

Ringkasnya, semua alam ini adalah makhluk Allah yang diciptakan untuk mengabdi kepada manusia, dan bahwasanya alam ini adalah tetap dan tidak berubah. Sedangkan manusia berubah-ubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dengan norma-norma yang tidak kita ketahui dengan pasti. Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menjadikan semua tanda-tanda dalam alam ini untuk menjembatan kepada keimanan, tapi manusia telah menjadikannya sebagai alasan untuk kekufuran dan penantangan.

Bagikan:

001-5-6

Kewajiban Kelima

Pantangan Keenam.

 

Pantangan keenam: tafrīq; memisah-misahkan hal yang terhimpun. Sebagaimana tidak boleh menggabungkan yang terpisah, jangan pula memisahkan yang sudah terhimpun. Karena setiap kata memiliki kata pendahulu dan kata lanjutan yang memiliki pengaruh dalam pemahaman maknanya secara mutlak dan preferensi kemungkinan yang lebih kuat darinya. Jika dipecah-pecah dan dipisah-pisahkan, maka makna (dalālah)-nya menjadi hilang. Misalnya firman Allah:

Dan Dia Maha Perkasa di atas hamba-hambaNya.” (QS. Al-An‘ām [6]: 18).

Jangan putus ayat di atas misalnya dengan hanya mengatakan “Dia di atas”, karena penyebutan kata “al-Qāhir” (Yang Maha Perkasa) sebelum kata “di atas” menunjukan makna “atas” di sini sebagai “ketinggian” yang dimiliki oleh penguasa atas orang yang dikuasainya. Atau dengan kata lain “atas” di sini adalah atas posisional, dan ini ditunjukkan oleh kata “Yang Maha Perkasa.” Boleh juga menyebut “Dia di atas yang lain-Nya,” namun seyogianya kita menyebut: “Dia di atas hamba-hambaNya” sebab penyebutan “hamba” dalam mensifati “keatasan” Allah lebih menegaskan kemungkinan “keatasan otoritas,” karena tidak baik menyebut “Si A di atas si B” tanpa menyebutkan perbedaan makna antara majikan-hamba, menguasai-dikuasai, ayah-anak, atau dalam masalah keluarga.

Masalah-masalah seperti ini banyak dilupakan oleh para ulama, apalagi orang awam. Lalu bagimana bisa menuntut orang awam untuk melakukan penggabungan dan pemisahan, juga tafsīr dan ta’wīl, serta segala macam perubahan. Karena detail-detail inilah kaum Salaf sampai berlebih-lebihan dalam mendiamkan dan membatasi diri hanya pada apa adanya lafal. Ini merupakan bentuk kehati-hatian mereka untuk tidak terjebak pada kesalahan, apalagi menyangkut Dzāt Allah dan sifat-sifatNya, karena kesalahan dalam hal ini akan menyeret pelakunya dalam kekafiran. Lalu adakah bahaya yang lebih besar daripada bahaya kekafiran?!

Bagikan:

001-5-5

Kewajiban Kelima

Pantangan Kelima.

 

Pantangan kelima: jam‘; menggabungkan hal yang terpisah. Banyak orang yang menyusun kitab kumpulan hadits yang telah jauh dari akselerasi penggabungan dengan membuat bab-bab khusus bagi setiap organ (tubuh), misalnya “Bab Tentang Kepala,” “Bab Tentang Tangan” dan sejenisnya, untuk kemudian menamakannya sebagai Kitāb-ush-Shifāt. Penggabungan yang tidak akseleratif ini disebabkan karena bab-bab tersebut lebih merupakan kalimat-kalimat berbeda yang diucapkan oleh Rasūl secara sporadis dan terpisah menurut situasi dan kondisi yang berbeda-beda demi memahamkan audiens akan makna yang shaḥīḥ. Jika disebutkan misalnya kumpulan penciptaan manusia.

Bagikan:

001-5-4

Kewajiban Kelima

Pantangan Keempat.

 

Pantangan keempat: tafrī‘ (mengembangkan sebuah obyek dengan partisi-partisi atau sub-subnya, – penj.). Misalnya ketika disebut kata “tangan,” tidak boleh lalu mencantumkan lengan bawah, lengan atas dan pundak dengan alasan hal tersebut merupakan organ-organ tangan. Begitu pula ketika disebut kata “jari”, tidak boleh lalu mencantumkan juga ujung jari, atau menyebutkan daging, tulang dan urat, meskipun pengertian tangan yang umum tidak lepas dari komponen-komponen tersebut. Penambahan lebih jauh adalah mencantumkan “laki-laki” ketika disebutkan kata tangan, atau mencantumkan mulut ketika disebutkan kata mata, atau saat disebutkan kata tertawa, atau lagi mencantumkan telinga dan mata ketika disebutkan kata mendengar dan melihat. Semua itu adalah kebohongan kalangan awam dan bodoh yang terjebak melakukan hal ini, kami merasa penting untuk mencamkan hal ini.

Bagikan:

001-5-3

Kewajiban Kelima

Pantangan Ketiga.

 

Pantangan ketiga: tashrīf; yaitu melakukan pengubahan kata. Artinya jika ada firman Allah misalnya: “Istawā ‘alal-‘Arsy,” (istawā merupakan fi‘l mādhī/past tense, – penj.), maka tidak boleh dikatakan mustawī (berupa fā‘il/subyek) atau yastawī (berupa fi‘l mudhāri‘/present tense), sebab maknanya akan bisa berbeda dan berubah. Signifikansi istawā dalam firman tersebut, yang menunjuk pengertian bersemayam (istiqrār), lebih lugas daripada firman:

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 2)

bahkan ia lebih seperti firman Allah:

Dialah Allah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kamu sekalian, dan Dia berkehendak menuju langit.” (QS. Al-Baqarah [2]: 29).

Ini menunjukkan bahwa istiwā’ (kebersemayaman) ditarik dari arah makhluk-Nya atau mengatur makhluk-Nya atau mengendalikan kerajaan melaluinya. Perubahan akan rentan menjebak pada perubahan signifikansi dan kemungkinan. Maka jauhilah tashrīf sebagaimana menjauhi penambahan, sebab tashrīf sendiri berimplikasi menambahi dan mengurangi.

Bagikan:

001-5-2

Kewajiban Kelima

Pantangan Kedua. (Bagian 2 dari 2)

 

Jawaban kami merujuk pada dua aspek:

1. Para Tābi‘īn sudah mengetahui betul dari dalil-dalil Syara‘ yang mereka terima bahwa tidak boleh menuduh orang adil sebagai pembohong, apalagi dalam wacana sifat-sifat Allah. Jika Abū Bakr ash-Shiddīq meriwayatkan sebuah khabar (hadits) dan menuturkan: “Saya mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda demikian,” kemudian ada orang yang menyatakannya sebagai telah berbohong dalam meriwayatkan, atau memalsukan hingga alpa, mereka (kaum Tābi‘īn) akan tetap menerimanya. Para Tābi‘īn meriwayatkan misalnya: “Abū Bakar berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda” atau Anas berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda” Dan begitu seterusnya hingga Tābi‘īn.

Sekarang, jika memang sudah menjadi ketetapan tersendiri pada mereka dengan dasar dalil-dalil Syar‘ī bahwa tidak ada jalan untuk menuduh perawi yang adil dan bertaqwa dari kalangan seluruhnya, lalu dari mana kewajiban untuk tidak menuduh sangkaan-sangkaan ḥadīts āḥād yang mendudukkan zhann pada posisi naql adil, padahal sebagian zhann adalah dosa. Jika Sang Legilator (Rasūlullāh) mengatakan: “apa-apa yang diinformasikan oleh orang yang adil, maka benarkan dan terimalah, lalu sebarkan dan tampakkanlah,” maka tidak bisa dikatakan sembarangan bahwa “apa yang diinformasikan oleh dirimu berdasarkan sangkaan-sangkaanmu, maka terima, tampakkan dan riwayatkanlah apa yang dikatakan berdasarkan atas sangkaan dari nurani dan jiwa mereka.” Hal terakhir ini jelas tidak semakna dengan teks Nabi s.a.w. di atas. Karena itu harus dinyatakan bahwa apa yang diriwayatkan oleh orang yang bukan ‘adil dalam jenis ini maka haruslah ditolak, dan seyogianya tidak diriwayatkan dan harus waspada dengan pesan-pesan dan amtsal serta sejenisnya yang dikandungnya.

2. Khabar-khabar tersebut diriwayatkan oleh para sahabat karena mereka mendengarnya sendiri dengan segala keyakinan, maka apa yang mereka informasikan pastilah sudah mereka yakini betul, dan para Tābi‘īn hanya menerima dan meriwayatkannya. Para Tābi‘īn tidak mengatakan langsung: “Rasūlullāh bersabda”, melainkan “Fulan (dari kalangan Shahabat, – penj.) berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda begini.” Mereka ini bersikap jujur dan tidak pernah mengabaikan riwayatnya (Shahabat), karena setiap hadits memuat faedah-faedah.

Adapun lafal hadits yang masih wahm dan ambigu (zhann) bagi orang awam, bagi orang yang tahu adalah makna hakiki dan bukan zhann. Misalnya, riwayat seorang shahabat dari Rasūlullāh:

Allah s.w.t. turun setiap malam ke langit dunia, kemudian bertitah: “Siapa saja yang berdoa, maka akan Kupenuhi dan siapa saja yang meminta ampun, akan Kuampuni.

Hadits itu dapat diukur sebagai puncak persuasi (nihāyat-ut-targhīb) untuk menjalankan salat malam, serta mempunyai pengaruh yang besar dalam menggerakkan motivasi untuk tahajjud yang merupakan ibadah yang paling utama. Jika hadits ini dibatalkan (hanya karena memuat lafal nuzūl yang masih ambigu maknanya, – penj.) maka akan hilang pula faedah besar ini, padahal tidak ada jalan untuk mengabaikannya. Lafal nuzūl (turun) yang dikandungnya hanya berpengertian ambigu bagi anak kecil atau orang awam yang seperti anak kecil, toh merupakan hal yang sepele bagi orang yang berakal (al-bashīr) untuk menanamkan di dalam hati orang awam taqdīs dan pensucian tentang gambaran “turun” tersebut, misalnya dengan mengatakan padanya: “Jika memang turun-Nya (Allah) ke langit dunia demi memperdengarkan pada kita seruan dan titahnya, sementara kita tidak bisa mendengarkannya, tentu turunnya Allah di sini tidak mempunyai faedah apa-apa. Toh Dia mampu-mampu saja menyeru kita dari atas singgasana ‘Arsy atau di atas langit tertinggi. (Jadi turunnya Allah ke langit dunia tidak boleh dipahami secara harfiah sebagaimana turunnya kita, – penj.).

Penjelasan ini akan menyadarkan pada orang awam bahwa pemahaman eksoterik (lahir) atas lafal “turun” jelas bāthil. Pemahaman zhāhir-un-nashsh seperti ini bahkan akan sama seperti keinginan orang yang berada di belahan bumi bagian timur untuk memperdengarkan seruan memanggil orang yang berada di belahan bumi bagian barat, kemudian ia berjalan ke barat dengan langkah kaki yang bisa dihitung dan mulai menyerunya, padahal ia tahu bahwa orang yang dipanggilnya tidak akan mendengarkan seruannya. Jelas ini perbuatan yang batil dan sia-sia seperti kelakuan orang gila. Lalu, bagaimana pemahaman seperti ini akan bisa menetap di hati orang yang berakal. Jelas, penjelasan kadar ini juga akan memaksa setiap orang awam untuk menafikan segala gambaran turun (secara lahiriah). Segala bentuk jismiyyah adalah kemustahilan bagi Allah. Dengan demikian, faedah menyebarluaskan khabar-khabar (hadits) ini tetap besar, sementara bahayanya sangat remeh dan kecil. Lalu, mana persamaan hadits ini dengan hikayat zhunūn (yang masih dalam tataran persangkaan, – penj.) yang tersembunyi di dalam diri.

Inilah jalan-jalan yang menarik metodologi ijtihad untuk membolehkan atau melarang penyebutan ta’wīl mazhnūn. Tidak perlu disebutkan di sini aspek ketiga, yaitu melihat indikasi-indikasi (qarīnah) kondisi penanya dan pendengar, meski sebenarnya hal itu bila disebutkan akan bermanfaat dan akan membawa mudarat jika tidak menyebutnya. Betapa banyak orang yang tidak tergerak impuls dalam dirinya untuk mengetahui makna-makna ini dan tidak berpengaruh di dalam dirinya masalah aspek luarannya. Namun banyak juga orang, yang membekas dalam dirinya masalah aspek luaran, sehingga hampir luntur kepercayaannya para Rasūlullāh s.a.w. Ia mengingkari sabda Nabi s.a.w. yang muwahham (mengandung lafal ambigu, – penj.) Orang seperti ini jika disebutkan kemungkinan mazhnūn, meski hanya sekadar kemungkinan yang muncul dari lafal, ia tetap akan mengambilnya. Maka terhadap orang ini tidak apa-apa menyebutkan ta’wil mazhnūn, sebab hal itu akan menjadi obat bagi penyakitnya ini, meski hal itu merupakan racun bagi yang lain. Tapi yang harus dicamkan, si ‘alim seyogianya tidak membeberkannya di atas mimbar publik karena hal itu akan menggerakkan impuls yang diam pada kebanyakan pendengar yang sebelumnya tidak mengubrisnya bahkan mengabaikan aspek-aspek luarannya. Mengingat periode pertama Salaf adalah periode ketenangan hati, maka mereka mampu mencegah untuk tidak mempublikasikan ta’wīl karena kekhawatiran akan menggerakkan impuls-impuls dan mengganggu hati. Generasi di belakang merekalah yang menggerakkan fitnah dan melemparkan keraguan-keraguan ini di hati rakyat awam, padahal hal itu tidak perlu, sehingga mewabahlah dosa. Sekarang, hal itu sudah menyebar di beberapa negeri, sehingga upaya untuk menampakkan hal tersebut dengan harapan akan menghilangkan hal tersebut dengan harapan akan menghilangkan sangkaan-sangkaan (wahm) yang batil dari dalam hati menjadi sebuah kebutuhan.

Selanjutnya, jika ada yang mengatakan: Kamu membedakan antara ta’wīl yang pasti dan ta’wīl yang masih sangkaan, lalu dengan apa kamu memperoleh kepastian akan ke-shaḥīḥ-an ta’wīl?” maka akan kami jawab: dengan dua hal:

Pertama, makna, ketetapannya harus definitif (maqthū‘) dari Allah s.w.t. sebagai ketinggian tingkatan.

Kedua, lafalnya hanya mengandung dua kemungkinan pengertian, di mana salah satunya harus gugur demi yang kedua. Misalnya firman Allah:

Dan Dia Maha Perkasa di atas hamba-hambaNya.” (QS. Al-An‘ām [6]: 18).

Secara zhahir, lafal “di atas” mengandung pengertian ketinggian tempat atau ketinggian tingkatan. Selanjutnya keginggian tempat jelas gugur mengingat hal tersebut mustahil bagi Allah, sehingga hanya menyisakan pengertian ketinggian tingkatan sebagaimana pengertian “fawq” dalam diksi “tuan di atas budak”, “suami di atas istri,” atau “sultan di atas menteri.” Maka paralel dengan hal tersebut, Allah berada di atas hamba-hambaNya. Ini sudah seperti pengertian definitif bagi lafal fawq (di atas), karena dalam bahasa ‘Arab lafal ini hanya digunakan untuk dua pengertian di atas. Beda dengan lafal istiwā’ yang pengertiannya tidak seringkas ini (lebih dari dua pengertitan makna, – penj.). Jika dari tiga pengertian lafal, hanya dua pengertian saja yang boleh (jā’iz) bagi Allah,  sementara makna yang satu batil (gugur demi taqdīs Allāh), maka penentuan salah satu dari dua makna yang ja’iz ini menjadi zhann atau “kemungkinan an-sich.”

Demikianlah pandangan lengkap mengenai pelarangan dan pembatasan ta’wīl.

Bagikan:

001-5-2

Kewajiban Kelima

Pantangan Kedua. (Bagian 1 dari 2)

 

Pantangan kedua: ta’wīl; yaitu menjelaskan maknanya setelah menghilangkan eksoterisnya. Hal ini bisa berlaku pada orang awam sendiri, orang alim dengan orang awam, atau orang alim sendiri dan orang alim dengan Tuhannya. Berikut pemaparannya:

Pertama: pena’wilan orang awam dengan jalan menyibukkan diri di dalamnya. Aktivitas ini haram dan terlarang sebagaimana ketidakbolehan menyelami dasar samudera yang mahadalam bagi orang yang tidak bisa berenang. Apalagi samudera pengetahuan Allah lebih dalam dan lebih banyak jebakan dan bahayanya daripada samudera air, maka jelas dan tidak diragukan lagi keharaman penyelamannya bagi orang awam yang tidak cakap berenang. Ketenggelaman dan kehancuran dalam samudera ini tidak menyisakan asa kehidupan lagi setelahnya, dengan kata lain menghilangkan kehidupan abadi, sementara kehancuran di lautan dunia hanya menghilangkan kehidupan fanā’. Betapa jauhnya perbedaan antara keduanya!

Kedua: pena’wilan orang alim untuk konsumsi orang awam. Hal ini juga diharamkan sebagaimana dilarang kerasnya seorang perenang menyelam lautan bersama orang yang tidak bisa berenang dan menyelam, karena hal itu rentan terhadap resiko kematian. Si perenang ahli tidak akan kuat menjaga si perenang yunior di tengah kedalaman samudera. Meskipun ia mampu menjaganya saat di dekat pantai, namun jika ia menyuruh si yunior untuk berhenti di situ saja, ia pasti tidak mau. Dan jika misalnya si ahli menyuruhnya untuk tetap diam dan bertahan menghadapi deburan ombak dan buaya-buaya, tetap saja ketika si buaya membuka mulutnya bersiap menelan, hati dan badan si yunior akan berguncang. Ia tetap tidak bisa diam sebagaimana yang diinginkan karena keterbatasan energi dan kemampuannya.

Ini adalah permisalan yang benar bagi seorang alim ketika ia membuka pintu pena’wilan dan bertindak menyelisihi lahiriah (eksoteris) untuk orang awam. Semakna dengan orang awam di sini adalah sastrawan, ahli nahwu, pakar hadits, mufassir, teolog, bahkan termasuk juga setiap orang alim selain kalangan yang memang mendalami teknik berenang di lautan samudera pengetahuan dan menghabiskan umurnya hanya untuk mempelajari teknik tersebut, hingga mereka berpaling dari keduniaan dan syahwat, menolak harta, tahta, makhluk, dan segenap subyek (dzāt), ikhlash semata-mata demi Allah dalam berilmu dan beramal, menerapkan semua batasan-batasan dan norma syariah dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran, mengosongkan hati dari selain Allah hanya demi Allah, menyisihkan keduniaan, bahkan Akhirat dan Surga Firdaus yang tertinggi demi meraih asmara Allah. Merekalah orang-orang yang ahli menyelam dalam samudera pengetahuan. Meski begitu, mereka tetap juga rentan terhadap bahaya besar yang bisa menghancurkan 9 dari 10 orang seperti mereka, dan hanya satu orang yang selamat menggapai rahasia yang terpendam. Yang terakhir inilah yang pertama diprioritaskan mendapat segala kebaikan Allah, dan merekalah orang-orang yang menang:

Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (di dalam dada mereka) dan apa yang mereka tampakkan.” (QS. Al-Qashash [28]: 69)

Ketiga: pena’wilan orang ‘arif (‘ārif) dengan dan untuk dirinya sendiri, dan ia menyimpannya sebagai rahasia hati antara dirinya dan Allah semata. Di sini terdapat 3 level maksud lafal yang mutasyābihāt, istiwā’ dan fawq misalnya, yang mungkin membekas dalam kerahasiaan diri seseorang antara “yang sudah pasti” (maqthū‘ bīh), “masih diragukan” (masykūk fīh), dan “besar sangkaan” (mazhnūn). Terhadap pengertian lafal mutasyābih yang sudah pasti, maka ia harus meyakininya. Namun jika masih diragukan, maka ia harus berusaha menjauhinya dan jangan sekali-kali ia menentukan maksud dari statemen Allah dan Rasūl-Nya karena masih adanya kemungkinan sepadan yang bertentangan dengannya tanpa bisa ia prioritaskan (tarjīh). Bahkan orang yang masih ragu dalam hal ini wajib berhenti (tawaqquf). Sementara itu, jika pengertiannya atas maksud lafal mutasyābihāt ini masih dalam tataran “besar sangkaan,” maka harus dilihat, pertama apakah pengertian yang telah ia gali dari lafal tersebut boleh diterapkan (jā’iz) bagi konteks Allah ataukah muḥāl diterapkan? Dan kedua setelah mengetahui kepastian kebolehannya, mungkin ia masih ragu apakah hal itu merupakan maksud yang diinginkan atau bukan?

Contoh pertama dari pengertian yang bersifat zhanniyyah ini adalah ketika menafsiri lafal fawq (atas) sebagai “ketinggian immaterial” (al-‘uluww al-ma‘nawī) sebagaimana maksud statemen: sultan di atas menteri. Dengan pengertian ini, kita tidak meragukan lagi ketetapan maknanya bagi Allah, tapi mungkin kita masih meragukan makna lafal fawq dalam firman:

Mereka takut pada Allah (yang berada) di atas mereka.” (QS. An-Naḥl [16]: 50).

Apakah yang dimaksudkan di sini “ketinggian immaterial” ataukah pengertian lain yang sesuai dengan kebesaran Allah yang juga di luar “ketinggian tempat” yang muḥāl bagi Dzāt yang tiada ber-jisim atau atribut dalam jisim.

Contoh kedua adalah pena’wilan lafal istiwā’ di atas ‘Arsy sebagai nisbat afiliatif tertentu yang hanya khusus untuk konteks ‘Arsy, yaitu bahwa Allah berkuasa atas seluruh alam dan mengatur urusan dari langit ke bumi dengan sarana ‘Arsy. Karena tidak akan muncul gambaran selama tidak terjadi di ‘Arsy. Hal ini sebagaimana seorang pemahat dan penulis yang tidak akan menghasilkan gambaran dan kalimat di atas kertas putih selama tidak tercipta di dalam otak. Bahkan seorang tukang bangunan tidak memperoleh gambaran bangunan selama belum tergambar di dalam otak. Dari pusat otak inilah hati mengatur urusan dunianya, yaitu badan. Mungkin kita masih bimbang apakah penetapan nisbat afiliatif ‘Arsy ini pada Allah boleh (jā‘iz) atau tidak, bisa karena alasan keberadaan ‘Arsy itu sendiri (dalam konteks Allah), atau karena alasan diberlakukannya sunnah dan aturan tradisinya pada konteks Allah, meskipun menyelisihi hukum tersebut sebenarnya juga bukan kemuhalan (bagi Allah). Hal terakhir ini seperti kasus diberlakukannya hukum kendali ini pada hati manusia bahwa tidak mungkin hati mengendalikan badannya tanpa medium otak, meskipun sebenarnya Allah Maha Kuasa untuk mewujudkannya (kemampuan hati mengendalikan badan, – penj.) tanpa otak, kalau saja hal itu tidak didahului oleh penetapan kehendak azali dan kalimah qadīmah-Nya yang sudah merupakan ilmu-Nya, sehingga menyelisihinya menjadi hal terlarang, bukan karena keterbatasan esensi kekuasaan Allah, melainkan lebih karena kemustahilan menyelisihi irādah qadīmah dan ilmu azal-Nya sendiri. Allah berfirman:

Dan kamu tidak sekali-kali akan mendapati perubahan pada ketentuan sunnatullah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]L 62, QS. Al-Fatḥ [48]: 23).

Sunnatullah ini tidak berubah-ubah karena kewajibannya, dan kewajiban ini dikarenakan asalnya dari kehendak azali yang wajib. Konsekuensi wajib adalah wajib dan sebaliknya berarti muḥāl. Dengan catatan bahwa kemuhalan Allah untuk merubah sunnah ini bukanlah kemuhalan dalam dzāt-Nya, melainkan lebih merupakan muḥāl li ghayrih (kemustahilan karena faktor eksternal), yaitu hasilnya yang bisa mengubah ilmu azali dan mencegah kekuasaan kehendak azali.

Dengan demikian, meskipun penetapan penisbatan ini pada Allah bahwa Dia mengatur kerajaan alam dengan medium ‘Arsy boleh secara akal (jā’iz ‘aqlī), namun apakah hal itu terjadi dalam wujud? Inilah yang banyak membuat bimbang para penelaah. Mungkin ia menyangka wujudnya ini seperti sangkaannya dalam esensi makna yang shaḥīḥ dan boleh, namun ada perbedaan antara keduanya. Tapi masing-masing sangkaan jika membekas di dalam diri dan menyesak di dalam dada, maka ia tidak boleh terjebak memilih dengan dorongan jiwa, juga tidak boleh menyangka-sangka, sebab zhann mempunyai sebab-sebab dharūrī (keharusan ada) yang tidak mungkin ditolak, toh Allah tidak membebani jiwa seseorang kecuali dalam batas kemampuannya. Dalam hal ini, ia mempunyai dua tugas:

Pertama: tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam meyakininya secara pasti tanpa perasaan akan kemungkinan keliru di dalamnya. Ia juga tidak seyogianya menghukumi sendiri atas dasar sangkaannya dengan hukum yang pasti (ḥukm jāzim).

Kedua: jika memang harus menyebut, maka jangan ucapkan pernyataan pasti bahwa yang dimaksud istiwā’ adalah ini dan yang dimaksud fawq adalah ini, sebab hal itu adalah bentuk menghukumi sesuatu yang tidak ia ketahui. Allah berfirman:

Jangan kau sikapi hal yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36).

Akan tetapi sebaiknya ia berkata saja: “Saya hanya menyangka bahwa maksudnya adalah demikian.” Dengan begitu ia telah berlaku jujur dalam menginformasikan tentang diri dan nuraninya, dan bukan pula hal itu bentuk penghukuman atas sifat Allah, juga bukan atas maksud pernyataan-Nya, melainkan lebih merupakan hukum atas dirinya dan informasi tentang nuraninya.

Jika ada yang bertanya, bolehkah menyebutkan dan membincangkan sangkaan ini pada publik sebagaimana yang terkandung di dalam batin nuraninya, begitu juga yang sudah pasti, apakah ia wajib membeberkannya? Maka kami katakan:

Perbincangan tentangnya boleh dilakukan dalam 4 level: pada dirinya sendiri; pada orang yang selevelnya dalam istibshār (pengetahuan); pada orang yang bersiap memasuki jenjang istibshār dengan kecerdasan, kepintaran, dan kesahajaannya dalam menuntut makrifat Allah, atau terakhir pada orang awam.

Dalam tataran pengertian muksud yang sudah pasti (qath‘ī), maka ia boleh memperbincangkannya dengan dirinya sendiri dan orang yang selevel dengannya dalam tataran istibshār atau pada orang yang berniat menuntut makrifat Allah dan bersiap untuknya, kosong dari segala kecenderungan pada keduniaan, syahwat, fanatisme pada madzhab, ambisi kedudukan dengan ma‘rifatnya, dan pamer pada orang awam. Terhadap orang-orang yang mempunyai kualifikasi sifat-sifat ini, maka tidak apa-apa memperbincangkan masalah tersebut dengannya, sebab kecerdasan yang selalu kehausan akan pengetahuan adalah semata demi pengetahuan, dan bukan untuk tujuan lain yang bisa menyesakkan di dalam dadanya segala bentuk lahir dan mungkin malah bisa melemparkannya juga ke pena’wilan-pena’wilan yang sesat lantaran nafsunya untuk lari dari implikasi lahiriah (muqtadā-zh-zhawāhir). Sedangkan untuk orang awam tidak seyogianya ia memperbincangkan hal ini dengannya. Termasuk kategori orang awam ini adalah setiap orang yang tidak mempunyai sifat-sifat seperti tersebut di atas, bahkan mereka lebih seperti anak kecil yang masih menyusu yang tidak boleh diberi makanan berat yang belum ia mampu.

Sementara untuk pengertian yang masih mazhnūn (indefinitif), mendiskusikannya dengan dirinya sendiri adalah sebuah urgensi (idhtirār). Karena apa yang terkandung di dalam dirinya dari sangkaan, kebimbangan dan kepastian terus membuntuti dirinya dan ia pun tidak bisa lepas darinya, maka hal itu tidak terlarang. Namun untuk membeberkannya pada orang awam hal itu jelas-jelas dilarang, bahkan lebih terlarang daripada membeberakannya pengertian yang sudah pasti (maqthū‘). Adapun memperbincangkannya dengan orang yang sederajat dengannya dalam taraf pengetahuan atau dengan orang yang bersiap ke sana, maka terdapat beberapa pertimbangan dan pandangan. Bisa jadi hal itu dibolehkan (jā’iz), yaitu ketika ia tidak lebih dari menyatakan dengan segala kejujuran: “aku sangka demikian”. Dan bisa juga hal itu dilarang dengan pertimbangan ia mampu meninggalkannya, karena dengan menyebutkan berarti ia telah melakukan sangkaan pada sifat Allah atau pada maksud pernyataan-Nya, dan ini jelas menyimpan bahaya. Kemampuan meninggalkan ini dapat ditilik dari nashsh, konsensus ulama, atau qiyās nonteks atas manshūsh (yang berteks). Allah berfirman:

Dan jangan kamu menyikapi hal-hal yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36).

Kalangan yang menyatakan bahwa memperbincangkan pengertian yang mazhnūn (indefinitif) dalam konteks sifat-sifat Allah dan firman statemen-Nya boleh-boleh saja dan tidak terlarang berargumentasi dengan tiga hal sebagai berikut:

Pertama, bukti yang menunjukkan kemubahan bertindak shidq (jujur) adalah shidq (kejujuran), karena toh ia telah menyatakan sebelumnya bahwa ia hanya menginformasikan sesuatu berdasarkan sangkaannya.

Kedua, statemen-statemen kalangan mufassir al-Qur’ān lebih berdasarkan intuisi dan sangkaan, karena semua yang mereka paparkan belum pernah dinyatakan oleh Rasūlullāh sebelumnya, melainkan lebih merupakan istinbāth berdasarkan ijtihad. Karena kenyataan inilah, banyak statemen-statemen yang beredar saling bertentangan dan berbeda satu sama lain.

Ketiga, konsensus pada Tābi‘īn (kalangan pasca Shahabat, – penj.) atas ) dibolehkannya) mentransfer data dan khabar-khabar (hadits) yang mutasyābihāt (mengandung pengertian ambigu, – penj.) yang hanya diriwayatkan oleh satu orang  Shahabat (ḥadīts aḥad) dan bukan termasuk mutawātir, serta meriwayatkan hadits shaḥīḥ yang mengandung pengertian seperti ini yang diriwayatkan dari dan oleh orang adil. Padahal masalah ‘adl ini lebih diperoleh dari persepsi dan sangkaan semata, tapi nyatanya mereka membolehkan juga.

Jawaban dan bantahan kami: pertama; mubah memang sebuah kejujuran yang tidak perlu ditakutkan bahayanya, namun menyebarkan hal-hal zhanniyyah tidak sepi dari blunder yang berbahaya. Sangat mungkin orang yang menyimaknya menerima dan meyakininya dengan mentah-mentah untuk kemudian menghukumi sifat-sifat Allah tanpa berdasarkan ilmu. Hal ini sangat membahayakan. Ia membuat jiwa lari dan berpaling dari bentuk-bentuk lahir (eksoterik), sehingga jika ada kandungan makna yang mengena di hatinya, ia akan begitu saja menerima sebagai sebuah kepastian, padahal hal itu hanyalah sangkaan, bahkan bisa juga malah keliru. Dengan begitu, ia telah terjebak meyakini sifat-sifat Allah yang batil (salah), atau lancang menemukan maksud dari statemen firman-Nya yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh-Nya.

Menjawab dalih kedua, kita tidak boleh menerima begitu saja statemen-statemen indefinitif yang dilontarkan oleh para mufassir ihwal sifat-sifat Allah, seperti istiwā’, fawq, dan lain-lain. Termasuk statemen indefinitif lain yang tidak boleh diterima begitu saja adalah hukum-hukum fiqh, hikayat-hikayat pada nabi dan orang kafir, petuah-petuah maw’izhah, contoh-contoh aforisma, dan hal-hal yang rentan bahaya dan kesalahan.

Dan tentang yang ketiga, bahwa banyak kalangan yang menyatakan tidak bolehnya berpegangan pada sesuatu dalam diskusi ini kecuali yang memang ada dan berlaku di dalam al-Qur’ān, dan mutawātir dari Nabi Muḥammad s.a.w. Adapun khabar āḥād (yang diriwayatkan satu orang dan tidak mutawātir), dalam hal ini tidak bisa diterima, juga dilarang bersibuk mena’wīlkannya di hadapan orang yang cenderung pada ta’wīl, serta tidak boleh juga meriwayatkannya pada orang yang minus kriteria dalam periwayatan. Sebab hal itu adalah mengukumi sesuatu berdasarkan sangkaan. Apa yang mereka paparkan memang tidaklah jauh beda dengan pendapat kaum Salaf, namun bertentangan dari aspek eksoteris saja, di mana menerima hadits dari perawi yang adil, lalu meriwayatkan dan men-shaḥīḥ-kannya.

Bagikan:

001-5-1

Kewajiban Kelima

Pantangan Pertama.

 

Kewajiban keempat: imsāk (mencegah diri) untuk memperlakukan lafal-lafal yang ada. Kaum awam wajib bersikap “stagnan” dalam menanggapi lafal hadits-hadits dalam konteks ini, dan mencegah diri juga untuk mengutak-atik dan memperlakukannya dari 6 aspek: tafsīr, ta’wīl, tashrīf, tafrī‘, jam‘, dan tafrīq.

Pantangan pertama: tafsīr, maksudnya menggubah redaksi bahasanya dengan redaksi bahasa lain, baik yang sama kedudukannya dalam bahasa ‘Arab, atau sepadan pengertiannya dalam bahasa asing (Persia atau Turki). Tidak boleh melafalkannya kecuali dengan redaksi bahasa yang asli, sebab banyak lafal-lafal ‘Arab yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Persia atau Turki. Kalaupun ada padanan dalam bahasa Persia, dalam tradisi Persia tidak berlaku sistem metafor atas makna (penggunaan makna kiasan) sebagaimana yang berlaku dalam bahasa ‘Arab. Begitu juga banyak lafal-lafal yang musytarak dalam bahasa ‘Arab, namun tidak berlaku demikian dalam bahasa lain.

Kasus diskoneksi pertama misalnya dapat dirujuk pada lafal istiwā’, tidak ada dalam bahasa Persia padanan lafal yang pengertiannya sama persis seperti pengertian istiwā’ di kalangan orang ‘Arab. Dan kalau pun dipaksakan, maka hal itu malah akan semakin menambah blunder. Misalnya istiwā’ dalam bahasa Persia diterjemahkan sebagai “rāsta bastān.” Ini sendiri tersusun dari 2 kata. Kata pertama (rāsta) menunjukkan ketegakan dan kelurusan dalam hal yang sebenarnya dipersepsikan menunduk dan membungkuk. Sedangkan kata kedua (bastān) berpengertian diam dan tetap dalam hal yang sebenarnya dipersepsikan harus bergerak dan berguncang. Terlihat bahwa indefinitas istiwā’ dengan makna-makna ini dan isyarat indikatifnya dalam bahasa non-‘Arab lebih vulgar daripada lafal istiwā’ dan indikasinya (dalam bahasa ‘Arab).

Maka, jika memang ada distingsi pada aspek signifasi (dalālah) dan indefinitas (isy‘ār), maka kata bentukan kedua (gubahan redaksi baik dalam bahasa ‘Arab maupun bahasa asing) tidak bisa dianggap sebagai kata asal. Penggubahan sebuah kata dengan sinonim kata padanannya memang dibolehkan sebatas tidak bertentangan dengan kata pertama dalam satu aspek dari ragam aspek yang ada, juga tidak menyelisihi dan berbeda dengannya meski sekecil, sesedikit dan sesamar bagaimanapun juga.

Kasus kedua, kata “jari” dalam bahasa ‘Arab digunakan untuk kiasan pengertian nikmat, misalnya jika Fulan berkata: “Aku mempunyai jari,” maka artinya adalah saya sedang dianugerahi nikmat. Makna demikian ini tidak ditemukan dalam bahasa Persia dan tidak lazim pula penggunaan metafor ini dalam bahasa asing. Orang ‘Arab lebih banyak menggunakan bahasa metafor daripada porsi penggunaan hal serupa oleh kalangan non-‘Arab, bahkan malah tidak bisa diperbandingkan secara prosentatif antara keleluasaan penggunaan metafor oleh bangsa ‘Arab dan stagnasi bangsa non-‘Arab dalam hal ini. Maka, jika memang pengertian makna metafor dalam bahasa ‘Arab ini sudah halus, sementara pengertian serupa dalam bahasa non-‘Arab masih kasar, maka orang malah akan lari dan tidak mau mendengar pengertian yang kasar tersebut. Dengan demikian, jika memang keduanya berbeda, maka tafsir di sini bukanlah penggubahan sepadan, melainkan kontradiktif, padahal tidak boleh melakukan penggubahan kecuali dengan yang sepadan.

Kasus ketiga, adalah al-‘ayn. Orang yang menafsirkannya secara ekstrinsik akan memunculkan makna bahwa mata adalah jisim. Padahal dalam bahasa ‘Arab, kata tersebut berpengertian musytarak antara organ yang menang (al-‘udw an-nātsir) dengan air, emas, dan perak. Pengertian yang sama juga terdapat dalam kasus kata al-janb dan al-wajh.

Merujuk kenyataan-kenyataan di atas, kami berpendapat menolak setiap bentuk penggubahan dan mendorong pembatasan pengertian dalam bahasa ‘Arab. Jika ada yang menyanggah: “Kesenjangan ini tidak bisa kamu pukul-ratakan secara serampangan pada seluruh kata. Ini tidak benar, sebab tidak ada beda antara engkau berkata roti dan nān, dengan saat engkau berkata daging dan kūsytā. Jika memang kamu mengakui bahwa kesenjangan pengertian terjadi dalam beberapa kasus, maka cegahlah penggubahan yang sumbang saja, jangan cegah penggubahan yang memang sepadan.” Maka akan kami jawab: “Benar bahwa kesenjangan memang terjadi pada beberapa kasus mikro, dan bukan makro.” Anggap saja misalnya kata al-yadd dan ad-dast mempunyai kesamaan dalam bahasa, isytirāk, metafor dan segenap aspek lain, namun jika lafal ini terbagi atau “yang boleh” dan “yang tidak boleh” tanpa adanya perbedaan yang jelas, maka akan sangat susah menentukan rincian kesenjangannya bagi manusia biasa, bahkan hal itu malah menjadi blunder tersendiri bagi orang awam. Mereka tidak bisa membedakan lagi titik-titik kesenjangan dengan titik-titik kesepadanan. Kalau dihadapkan pada dua opsi menutup pintu rapat-rapat sebagai tindakan preventif, karena toh penggubahan tidak mempunyai urgensi yang signifikan, atau membukanya lebar-lebar untuk orang awam dan melibatkan mereka dalam lingkaran bahaya, maka di sini tidak perlu dipertimbangkan lagi mana yang lebih aman dalam membahas Dzāt Allah dan sifat-sifatNya. Menurut saya, orang yang berakal dan beragama tentunya tidak akan menganggap masalah ini membahayakan, tapi bila ada bahaya yang mengancam dari penafsiran sifat-sifat ketuhanan ini, maka ia wajib dijauhi (untuk tidak diutak-atik dan dipertanyakan sebagai tindakan preventif – penj.). Syariat misalnya mewajibkan ‘iddah (masa tunggu dalam jangka waktu tertentu, – penj.) bagi seorang isteri yang berstatus telah disenggamai (yang ditinggal mati atau diceraikan suaminya) demi mengetahui kesucian rahimnya (dan benih si suami) serta untuk menjauhkan campur-aduk nasab sebagai tindakan preventif dalam hukum kewalian dan warisan, serta kasus-kasus hukum lain yang memperhatikan status nasab. Namun orang-orang malah ada yang mengatakan bahwa kewajiban ‘iddah seharusnya juga berlaku bagi istri yang mandul, menopause, anak kecil, dan istri yang menggunakan sistem KB, sebab kandungan rahim mampu dilihat oleh Sang Maha Tahu segala keghaiban. Allah mengetahui semua yang tersimpan di dalam rahim. Maka jika kita membuka pintu diskusi dalam hal-hal yang rinci, berarti kita telah menyusuri jalan yang berbahaya. Sebab ‘iddah hanya diwajibkan demi memastikan tidak ada kehamilan. Berpegang pada hukum global ini lebih mudah daripada harus menempuh bahaya perincian yang macam-macam. Sama halnya dengan kewajiban hukum ‘iddah, pengharaman penggubahan bahasa ‘Arab (dalam konteks nas al-Qur’ān dan Ḥadīts – penj.) juga merupakan hukum legal syar‘i yang dikukuhkan berdasarkan ijtihad dan tarjīḥ. Jelas bahwa bersikap hati-hati dalam menyikapi informasi tentang Allah dan sifat-sifatNya, juga informasi tentang pengertian yang dimaksudkan oleh lafal-lafal al-Qur’ān lebih penting dan urgen daripada unsur kehati-hatian dalam hukum ‘iddah serta semua hal yang diberi marka hati-hati oleh kalangan fuqahā’.

Bagikan:

001-4

Kewajiban Keempat.

 

Kewajiban keempat: as-sukūt (diam) dan tidak bertanya macam-macam. Hal ini wajib bagi orang awam karena dengan banyak pertanyaan ia dapat terjebak pada hal di luar jangkauan kemampuannya dan bergulat di arena yang bukan keahliannya. Jika ia bertanya pada orang bodoh, jawaban itu hanya akan menambah kebodohannya bahkan malah bisa melihatkannya dalam kekafiran tanpa disadarinya. Dan jika ia bertanya pada orang ‘ārif, orang ‘ārif ini juga akan susah memahamkannya sebagaimana kelemahan seorang bapak untuk memberi pengeritan kepada anaknya tentang maslahah yang kembali pada si anak jika bapaknya bepergian ke kantor. Sebagaimana juga kelemahan seorang tukang emas untuk memberi pengertian kepada tukang kayu tentang seluk beluk pekerjaannya. Karena meskipun si tukang kayu tahu pekerjaannya, ia tidak akan bisa mengetahui seluk-beluk pekerjaan tukang emas, sebab sepanjang hidupnya ia hanya mempelajari dan menggeluti pertukangan kayu. Hal ini sama dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan keduniaan atau kalangan yang berkecimpung dalam disiplin pengetahuan yang tidak termasuk ma‘rifat Allah, maka mereka akan lemah untuk mengetahui masalah-masalah ilāhiah (ketuhanan) sebagaimana kelemahan para penolak keterampilan untuk memahami keterampilan tersebut, bahkan sama halnya dengan kelemahan seorang balita yang masih menyusu untuk mengkonsumsi roti dan daging karena kelemahan-kelemahan dalam fitrah si anak dan bukan karena tidak adanya roti dan daging, atau keduanya kurang cocok baik untuk konsumsi yang kuat, melainkan karakter si lemahlah yang menghalanginya untuk mengkonsumsinya. Jika seorang memberi makan anak kecil yang masih lemah dengan menu daging dan roti, meski ia mampu menelannya, maka ia malah akan mematikan si anak. Begitu juga kaum awam, jika mereka bersikeras bertanya tentang makna-makna ini, mereka harus dicegah dan dipukul. Hal inilah yang dilakukan oleh ‘Umar r.a. pada setiap orang yang mempertanyakan ayat-ayat mutasyābihāt (masih ambigu makna dan pengertiannya, – penj.). Rasūlullāh s.a.w. juga mencela kaum yang beliau lihat berkutat mempertanyakan masalah takdir, di mana ketika mereka bertanya ihwal hal tersebut, beliau bersabda seraya mengingkari:

Sesungguhnya telah binasa orang sebelum kalian lantaran banyak bertanya-tanya,”

atau dengan bahasa yang semakna sebagaimana termasyhur dalam khabar (hadits).

Berlandaskan hal ini, saya menfatwakan bahwa haram hukumnya bagi para penceramah agama di mimbar-mimbar umum untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menjurus pada ta’wi dan rinci, bahkan wajib bagi mereka membatasi diri dengan hal-hal yang telah kami sebutkan, dan telah digariskan pula oleh kaum Salaf, yaitu memperbanyak porsi taqdīs dan menafikan tasybīh karena sesungguhnya Allah s.w.t. tersucikan dari jismiyyah dan implikasi-implikasinya. Misalnya ia bisa saja berkata: “Tentang semua yang terbetik dalam benak kalian, terbisik dalam nurani kalian, dan terbentuk persepsi dalam pikiran kalian, maka (ketahuilah) sesunggunya Dialah Sang Penciptanya. Tentu saja Dia tersucikan darinya dan dari penyama-nyamaan dengannya. Tidak ada maksud dan pengertian di dalam informasi hadits-hadits yang mengarah pada hal tersebut. Lebih lanjut mengenai esensinya, kalian bukanlah ahlinya untuk mengetahui dan mempertanyakannya. Kalian cukup menyibukkan diri dengan taqwa. Lakukan dan ‘amalkan saja apa-apa yang telah diperintahkan Allah pada kalian, serta jauhi juga semua yang dilarang oleh-Nya. Jangan bertanya apa pun ihwal hal ini. Dan kalau kalian mendengar sesuatu tentang hal tersebut bagaimana pun, diamlah dan katakan saja: “Kami beriman dan membenarkan. Kami hanya dianugerahi sedikit ‘ilmu dan ini tidak termasuk hal yang diajarkan pada kami.”

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas